Sabtu, April 04, 2009

Perpustakaan Daerah Sumatera Selatan

(Perpusda Sumsel tampak depan. Tempatnya asri dan teduh, meski sayang karena agak masuk dari jalan besar, jadi tidak terlalu kelihatan keberadaannya)

Dunia membaca merupakan dunia yang paling menarik. Dengan membaca, kita seolah memasuki dunia lain yang berbeda dari yang kita jalani saat ini. Membaca juga merupakan salah satu kegemaran saya, terlebih ketika kuliah dulu. Terang saja, karena ini merupakan kegiatan menyenangkan paling murah meriah.

Suka membaca bukan berarti sok jadi kutu buku. Kadang dulu, kalo lagi di kereta Prameks (Prambanan Ekspress) perjalanan dari Yogya-Solo atau Solo-Yogja, saya pasti harus membawa satu buah buku untuk saya baca. Lumayan, daripada ngeliatin orang tidur, kan mending baca. Entah baca buku bahan kuliah atau baca buku fiksi.

(Fasilitas "Free Hotspot Area" menjadi salah satu alasan banyak pengunjung yang datang ke Perpusda Sumsel)

Saya suka baca buku sejak kecil, dimulai dari mengkonsumsi Majalah Bobo milik tetangga. Baru kemudian berurusan dengan perpustakaan itu sejak duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Berikut ini nama-nama perpustakaan yang selalu dengan setia menemani saya dalam menjalani hobi melahap kata-kata, hee... :
  1. Perpustakaan Sekolah SMP Negeri 19 Palembang (1996-1999): Lupus, Detektif Tiga Serangkai, Lima Sekawan, dll
  2. Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan (1996-1999): Komik, buku cerita, dll. Lanjut lagi (23 Januari 2009-sekarang): Buku cerita, novel, buku-buku bisnis, buku-buku kepemimpinan, dll
  3. Perpustakaan Sekolah SMU Plus Negeri 17 Palembang (1999-2002): Majalah, buku cerita, dll
  4. Perpustakaan Fisipol UGM Yogyakarta (2002-2005), lanjut lagi sebagai anggota luar biasa (2007-2008): Buku-buku kuliah, dll
  5. UPT 2 UGM Yogyakarta: Buku kuliah, buku motivasi, dll
  6. Perpustakaan FISIP UNS Solo: Buku kuliah, skripsi, buku tentang komputer, dll
  7. Perpustakaan Pusat UNS Solo: Buku kuliah, skripsi, dll
(Mobil perpustakaan keliling Perpusda Sumsel. Kapan nih, keliling ke Super Bimbel GSC Sudirman? :))

Nah, beberapa waktu yang lalu, tepatnya 23 Januari 2009, saya kembali menjadi anggota Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan yang beralamat di Jl. Demang Lebar Daun 47 Palembang 30137 setelah vakum selama 10 tahun. Wow! Lama juga ya? Dulu, pernah menjadi anggota Perpusda Sumsel ketika masih SMP. Inget banget, kalo ke sana setiap pulang sekolah di hari Rabu. Dibela-belain banget, jalan kaki dari SMPN 19 sampai ke jalan besar (200 meter) untuk naik angkutan kota (angkot) Wayhitam-Talang Betutu. Nanti stop di persimpangan Jalan Way Hitam (Istana Gubernur Sumsel), trus jalan lagi sampe Perpusda Sumsel. Tuh, mungkin sampe 350 meter. Ntar kalo mo pulang ke rumah, jalan lagi dari Perpusda sampe persimpangan Jalan Way Hitam untuk kembali naik angkot Wayhitam-Talang Betutu. Habis itu stop di simpang jalan mo ke rumah, Jl. Mandi Api. Yups, benar! Jalan lagi sekitar 200 meter, baru kemudian sampe rumah! Jadi sekarang, bersyukur banget udah ada Mio Biruku yang bisa membawaku kemana-mana. Jadi gak perlu jalan kaki lagi, yang gara-gara itu bikin kakiku gede! Hahaha...

Oya, ada banyak hal yang berubah dari Perpusda Sumsel ketika aku kembali menjadi anggotanya 3 bulan yang lalu. Dulu ketika aku masih SMP, mereka masih pake sistem manual, alias tulis tangan kalo mo pinjam atau mengembalikan koleksi. Nah, sekarang, semuanya pake sistem komputerisasi. Meski sayang, mungkin cuma kartuku yang bermasalah, tapi code numberku selalu gak terbaca kalo dilaser. Alhasil, tetap ngetik ke komputer berapa nomor anggotanya. Hee!

(Waktu layanan Perpusda Sumsel, yakni Senin s/d Jumat 08.00 - 15.30 WIB, Sabtu 08.30 - 15.00 WIB, dan Istirahat Jumat 11.00 - 13.30 WIB)

Nah, kalo di perpusda, setiap kali pinjam kita bisa meminjam sebanyak 3 buah buku. Lama waktu pinjamnya adalah 1 minggu, dan bisa diperpanjang sebanyak 3 kali. Aku pernah telat, lho! Hohoho! Kena dendanya Rp 200,- per buku/hari. Untung cuma pinjam 1 buku waktu itu, dan cuma telat 1 hari. Jadi cuma kena denda Rp 200,- Tapi tetap pake kwitansi komputer lho ketika membayar denda yang cuma 200 perak itu. :)

Pengalaman ngilangin buku itu pernah ketika jadi anggota Perpustakaan Pusat UNS. Gak salah-salah, aku ngilangin novel Biru-nya Fira Basuki. Alhasil, aku harus mengganti buku dengan judul yang sama. Untung gak tambah diberatkan dengan keterlambatan pengembalian. Cukup adillah, ngilangin buku, yah gantinya juga buku yang diilangin. Untungnya juga masih dijual di pasaran, jadi masih bisa dibeli.

(Beberapa pengunjung Perpusda Sumsel yang memanfaatkan fasilitas free hotspot)

Selain perpustakaan, aku juga suka jadi anggota rental komik/novel/majalah. Maklumlah, kalo lagi gak ada budget untuk beli buku, meminjam buku itu bukan suatu hal yang salah kan? Hm, kapan ya, Palembang ada bazar buku kayak di Yogya dan di Solo? Pengen banget ada toko buku sejenis Toga Mas Yogya di Palembang ini. Tuh toko buku mo franchisee gak sih? Kalo iya, aku mau jadi franchiseenya! Hahaha! Pasti bakal rame, deh! Orang Palembang kan, walau emang doyan belanja baju ma makan, tapi mereka juga suka baca buku lho! Like me... Hue'e'e...
Well, gimana dengan kamu, suka ke perpustakaan juga gak???

Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan
Jl. Demang Lebar Daun 47 Palembang 30137
Telp. 0711-357175, Faks. 0711-317342
Email: banpustaka@yahoo.com, Website: www.banpustaka.com

Minggu, Maret 29, 2009

Sinetron Cinta Fitri Season 3

Hehehe... Harus saya akui memang, saya termasuk penggemar sinetron Cinta Fitri Season 3. Tapi, harus dicatat juga lho, hanya Season 3. Yang 1 sama 2 emang pernah nonton, tapi gak terlalu mengikuti. Awalnya suka emang gak sengaja. Awalnya aku malah suka nonton sinetron Alisa di RCTI, secara ada Christian Sugiono. Huekekek! Nah, tuh sinetron kan barengan ma Cinta Fitri, dan ibuku adalah penggemarnya. Jadi, kalo Alisa iklan, pasti langsung ganti Cinta Fitri. Awalnya selalu begitu, mentingin Alisa dulu, baru Cinta Fitri.
Nah, makin ke sini, awalnya ketika adegan Pak Hutama meninggal yang penuh haru biru itu, aku jadi semakin dibuat penasaran sama ceritanya. Akhirnya sekarang urutannya kebalik, Cinta Fitri nomor 1, Alisa di nomor 2. Abis, nonton Alisa, bawaannya kesel terus. Gitu-gitu aja aktingnya, gak bikin penonton penasaran. Alisa pasti selalu ngalah *ngalah ato bodoh sih?*, trus si Natasya pasti marah-marah aja kerjaannya. Gak capek apa ya, marah-marah trus? Kurang kreatif deh, sutradaranya... :P
Makanya, sekarang aku jadi suka nonton Cinta Fitri Season 3. Seru banget kalo udah liat Farrel (Teuku Wisnu) dan Oma (Ida Kusumah) akting! Tapi, aku gak suka liat permasalahan si Mozza-Aldo-Tristan. Tahu ya, gak tertarik aja, kalo nonton sinetron, konfliknya orang ketiga gitu. Trus, gak suka juga liat si Bemo! Norak banget lucunya. Lebih suka liat Yoga sama dulu ada anak cewek yang kecil itu. Coz lucu, sama-sama cadel.
(Teuku Wisnu. Hm, cool banget ya gayanya? Hee...)

Cinta Fitri Season 3 adalah sinetron stripping yang diputar di SCTV pukul 21.00 - 22.30 WIB. Malem banget ya? Tapi, walau malem, aku tetep ngikutin, kok! Hee... Para pemeran Cinta Fitri itu, ada:
Shireen Sungkar (FITRI)
Teuku Wisnu (FARREL EMMERALD HUTAMA)
Ida Kusumah (OMA)
Ahmad Adly Fairuz (ALDO)
Donita (MOZZA)
Iqbal Pakula (BRAM)
Verlita Evelyn (MAYA)
Dinda Kanya Dewi (MISCHA)
Elsye Virgita (AMALIA HUTAMA)
Nuri Maulida (KAYLA)
Lian Firman (HADI)
Boy Tirajoh (HUTAMA)
Sandy Syarief (FAIZ)
Anbo Ontocheno (YOGA)
Cerita/Skenario: Hilman Hariwijaya
Sutradara: H. Encep Masduki
(Dinda Kanya Dewi. Pemeran si ular cobra, si ular sanca, si blekok, hehehe, di Cinta Fitri Session 3)

Menangnya sinetron Cinta Fitri Season 3 di ajang Panasonic Award ke-12 tahun 2009 ini jelas saya dukung sekali. Hohoho! Di blog/web lain banyak yang kontra sih... Tapi, saya nggak. Walau gak ikutan ngirim polling sms di ajang itu *pulsa mahal, om/tante*, tapi saya setuju dengan keputusan itu. Hee...
Nih, daftar kemenangan Cinta Fitri Season 3:
Program Drama Seri Terfavorit:
1. Cinta Fitri Season 3 (Pemenang)
2. Azizah
3. Soleha
4. Cinta Bunga
5. Cahaya
Aktor Terfavorit :
1. Teuku Wisnu (Pemenang)
2. Rezky Aditya
3. Dude Herlino
4. Christian Sugiono
5. Adly Fairuz
Aktris Terfavorit:
1. Shireen Sungkar (pemenang)
2. Chelsea Olivia Wijaya
3. Alyssa Soebandono
4. Naysila Mirdad
5. Luna Maya
(Shireen Sungkar. Moga awet aja ya sama Adly Fairuz-nya. Nice couple, deh!)

Kalo nonton sinetron ini, pasti suka banget ketika adegan Oma nampar Mischa (Dinda Kanya Dewi). Hohoho! Ato ketika Mischa dikerjain sama Oma! Hohoho lagi... Tahu ya, udah tahu nih cuma sinetron, tapi tetep aja emosi pas lagi nonton. Beda banget kalo pas nonton Alisa ato sinetron laen. Yaa, perbandingan aku cuma Alisa sih. Cos aku cuma suka nonton 2 sinetron ini. Yang laen, gak mau nonton! Hee...
Oya, nih suka sebel tentang perubahan di akhir tayangan Cinta Fitri. Biasanya kan suka ada cuplikan untuk episode mendatang, tapi sekarang udah gak ada lagi. Pada belum syuting kali ya? Tapi, yang bikin tambah sebel, malah diganti cuplikan sinetron Terlanjur Cinta. Yaelah, kayak bagus aja nih sinetron... :P
Well, saya sebagai penonton cuma berharap ending terbaik tuk sinetron yang diproduksi sama MD Entertainment ini. Kalo mo liat ketakutan orang-orang kalo nih sinetron bakal jadi Tersanjung kedua yang ceritanya babak belur, kayaknya gak gitu-gitu banget deh! Ceritanya tetap bagus! Tapi, ya itu tadi jangan sampe keluar dari logika, dan akhirnya happy ending. Hohoho, coz I like happy ending!!!

Sabtu, Maret 28, 2009

I Love This Movie: The Kite Runner

1) Identitas Singkat Film
Pemeran The Kite Runner : 
- Khalid Abdalla (Amir Dewasa)
- Atossa Leoni (Soraya)
- Shaun Toub (Rahim Kahn)
- Zekeria Ebrahimi (Amir Kecil)
- Ahmad Khan Mahmodzada (Hassan Kecil) 
Sutradara : Marc Forster 
Durasi : 2 jam 25 menit 
Distributor : Paramount Vantage 
Tanggal Rilis : 14 Desember 2007 (US), Februari 2008 (Indonesia)

2) Alur Cerita Film yang Menarik
I love this movie!!! Aku paling suka lihat aktingnya si Hassan kecil (Ahmad Khan Mahmodzada), sang peraih "Best Young Actor" di ajang anugerah film versi Critics Choice Award. The Kite Runner adalah sebuah film produksi Paramout Picture yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Khaled Hosseini. Film ini sendiri diproduksi tahun 2007 yang lalu. Sementara novel aslinya terbit tahun 2003. Untuk novelnya yang berada dalam Bahasa Indonesia, penerbit Mizan sudah menerbitkannya tahun 2008. Tapi harganya cukup mahal sih, Rp 63.000,-

(Adegan Hassan Kecil ketika mendapatkan hadiah ulang tahun dari tuannya, sebuah layang-layang)

Film ini dimulai dari adegan kota pinggiran Amerika yang didiami oleh para imigran Afganistan. Amir dewasa yang tinggal di Amerika itu tiba-tiba mendapat telfon dari rekan ayahnya di Afganistan. Negara asalnya, yang ia tinggalkan bertahun-tahun. Usai adegan telfon itu, barulah film bergerak mundur, yakni bercerita tentang masa kecil Amir dan sahabat kentalnya, Hassan. Diceritakan bila Amir adalah anak seorang politikus di Afganistan, dan Hassan adalah anak pembantu di rumah Amir. Namun, persahabatan mereka sangat kental. Perlombaan layang-layang menjadi ajang tahunan menjadi bukti betapa kompaknya persahabatan mereka. Apalagi ketika mereka memenangkan perlombaan tersebut. Adegan dimana layangan melayang-layang di udara sangat fantastis. Sangat artistik kalau aku boleh membandingkannya dengan anak-anak yang main di dekat rumahku. Hee... Mereka hampir seperti menari! Seru banget!
  
(Adegan ketika Hassan dengan jelas dapat menentukan kemana layangan akan jatuh ke tanah)

Namun sayang, persahabatan itu tidak berlangsung lama. Ketika Hassan berjanji untuk membawakan layangan yang berhasil diputus Amir dari lawannya, Hassan dihadang oleh 3 orang anak berandalan. Aku benci banget adegan ini! Hik, hik, hik, habis, bikin mataku jadi banjir. Walau gak diberikan adegan yang vulgar, meski itu sebuah hal yang vulgar... *apa ini? hehehe!* Tapi adegan darah menetes di tanah itu cukup menggambarkan semuanya. Sumpah deh, pengen aku tinju aja rasanya muka Amir itu. Bukannya nolongin, tapi dia pura-pura gak tahu ketika Hassan memberikan layangan yang dengan hal paling rendah itu ia pertahankan. Amir pun malah ingin Hassan yang pergi dari kehidupannya karena tidak kuat menahan rasa bersalah. Gak salah-salah, Hassan ia fitnah dengan menaruh jam tangannya di kamar Hassan.
  
(Hassan kiri yang memegang ketapel. Ia sangat mahir menggunakan ketapel, dengan ketapellah ia melindungi Amir dari gerombolan berandalan. Di adegan lain, nanti Sohrab, anak Hassan, juga akan menolong Amir dari kelompok garis keras Afganistan) 

Cerita di film ini memang mengalir dengan bagusnya. Tapi, aku emang terbuai dengan adegan ketika mereka masih kecil, bukan ketika mereka sudah besar dan didewasakan oleh waktu. Ketika kecil, Amir yang bercita-cita ingin menjadi penulis selalu membacakan karyanya kepada Hassan. Dan itu adalah hal yang terbaik! Sebuah ajaran tentang pendidikan. Meski Hassan tidak mengikuti sekolah formal, tapi dengan tekadnya ingin menulis surat untuk Amir, ia pun belajar membaca dan menulis. Kesalahan Amir ia tebus ketika ia sudah dewasa. Karena peperangan di Afganistan, maka ketika kecil mereka pun terpisah. Amir mengungsi ke Amerika bersama ayahnya. Dan Hassan tetap di Afganistan. Oya, sebelumnya ada adegan Hassan pergi dari rumah Amir. Dan ini pun kembali menguras air mataku. :)
  
(Adegan ketika Hassan dan Amir tengah bersiap-siap menuju arena perlombaan layang-layang) 

3) Nilai Pesan Film yang Berharga
Lalu, film pun kembali ke masa kini. Sebuah telfon dari Afganistan untuk Amir yang menyuruhnya kembali ke Afganistan. Demi menebus kesalahannya, ia pun pergi menemui sang paman yang sebenarnya rekan kerja ayahnya. Di usia yang tua, sang rekan ayah Amir itu menceritakan bila Hassan sudah meninggal. Dan ternyata terungkap bahwa Hassan sebenarnya adalah adik tiri Amir. Hassan sudah menikah dan mempunyai anak bernama Sohrab. Namun kini, Sohrab tengah ditawan oleh kelompok garis keras di Afganistan. Singkat cerita, Amir berhasil menemukan Sohrab. Dan ia pun membawa anak Hassan yang sudah menjadi bulan-bulanan para anggota kelompok garis keras itu ke Amerika untuk tinggal bersama Amir dan istrinya. Awalnya, Sohrab lebih banyak bersikap diam. Namun, ketika mereka ada di lapangan dan bermain layang-layang, Amir pun bisa memecahkan kebekuan suasana di antara mereka dengan menceritakan kembali tentang Hassan yang sangat mahir bermain layang-layang. "Untukmu, aku akan mengejarnya 1000 kali," ujar Amir menirukan perkataan Hassan, ketika ia mengejar layang-layang yang sudah berhasil diputus oleh Sohrab.

Catatan Tentang Stretch Mark

(Sumber gambar: www.italkbeauty.com)

Stretch mark adalah guratan-guratan putih di paha, perut, bokong, lengan atas dan payudara yang terjadi akibat peregangan kulit yang melampaui batas elastisitasnya. Secara medis, ia disebut "striae". Stretch mark rentan muncul pada wanita saat ia hamil atau saat badan mengalami kegemukan yang awalnya kurus. "Tapi memang paling sering terjadi pada wanita hamil, hampir 90% wanita hamil terkena stretch mark," kata dr. Nanden S. Prabu, SpKK dari Obagi Dermatologi Medical Clinics.
Dari segi penampilan, hal ini memang sangat mengganggu. Meski keberadaannya memang bisa ditutupi, namun kalau suatu ketika bagian tubuh itu harus diperlihatkan kepada orang lain, suami misalnya, tentu bikin stress sendiri.
Sebenarnya, terjadinya stretch mark ini dapat diminimalkan dengan cara:
1) Menghindari kenaikan berat badan berlebihan.
2) Meningkatkan elastisitas kulit. Dengan cukup asupan vitamin mineral (sayur, buah), minum cukup, perawatan dengan pelembab (sebaiknya alami, contohnya minyak zaitun).
3) Mengoleskan krim anti stretch mark sejak awal kehamilan. Krim ini dapat membantu "menyembuhkan" jaringan kulit yang robek, meremajakan sel-sel kulit, serta melembabkan kulit agar tidak mudah "robek" jika teregang. Namun, ada baiknya tanyakan dulu ke dokter sebelum mempergunakannya supaya aman.
4) Operasi laser. Menurut beberapa ahli, operasi ini ringan dan tidak berbahaya. Namun, agar tidak kecewa, untuk diketahui bahwa operasi ini tidak menjamin dapat menghilangkan seluruh stretch mark yang ada. Hal ini tergantung pada seberapa parah robekan kulit yang terjadi. Beberapa wanita mengaku bahwa stretch mark ini bisa hilang dengan sendirinya, namun ada juga yang mengaku bahwa stretch mark yang dimilikinya terus bertahan hingga bertahun-tahun.
Kenapa saya tertarik untuk menulis tentang stretch mark? Orang bilang, pengalaman pribadi adalah guru terbaik. Namun, pengalaman orang lain juga bisa menjadi guru paling baik kalau kita bisa memilah makna di balik itu. Dulu, sering bingung membedakan antara selulit dan stretch mark. Semakin ke sini, jadi lumayan mengerti. Di bawah ini, saya meng-upload sebuah gambar tentang stretch mark. Menurut saya, kalau yang warna merah dan menonjol, itu selulit. Selulit ini lebih mudah dihilangkan daripada stretch mark. Kalau stretch mark, itu berwarna putih, dan biasanya sulit dihilangkan.
(Sumber gambar: www.squidoo.com)

Kalau dari pengalaman pribadi, munculnya stretch mark lebih dikarenakan oleh kegemukan. Yups, jujur, dulu pernah sampai memiliki berat hingga 55 kg dengan tinggi badan 155 cm. Sempet diet ketat, dan berhasil turun hingga 47 kg. Sekarang, konstan 50 kg. Rencana mo diet lagi, apalagi mo menjelang hari H. Namun, beda juga rasanya diet pas kuliah dan pas kerja. Kerja yang diharuskan mobile ke sana-sini membuat saya cuma bisa menjalani 50% keketatan seperti diet di era saya kuliah dulu. :)
Namun, bagusnya, dampak diet dulu, bisa membebaskan saya dari selulit. Namun, sayangnya masih menyisakan stretch mark untuk terus diperjuangkan biar hilang. Hehehe! Sebenarnya, kalau gak diperhatikan banget, stretch mark yang ada itu gak ketahuan. Tapi memang sih, tetap saja mengganggu. Hik, hik, hik...
(Gambar: Salah satu produk krim anti stretch mark yang dijual di pasaran)

Nah, ini ada tips buat menghindari stretch mark. Jadi, buat kamu-kamu yang belum kena, jangan sampe kena yaa... Susah ngilanginnya, masalahnya...
1) Mengurangi kekeringan kulit.
a. Gunakan sabun yang tidak terlalu banyak mengandung soda.
b. Banyak minum agar kebutuhan konsumsi air tubuh terpenuhi.
c. Jangan terlalu sering mandi ketika udara kering (kelembaban rendah).
2. Pakai pelembab tubuh, misal krim pelembab, minyak zaitun, hand and body lotion.
3. Segera periksa ke dokter kalau ada pembengkakan di bawah kulit.
4. Hindari kegemukan atau timbunan lemak berlebihan di bawah kulit.
5. Makan lebih banyak sayur dan makan berserat, buah-buahan, yang banyak mengandung air dan protein agar diperoleh struktur kulit yang baik.
6. Mengurangi ekposur langsung dari matahari ke permukaan kulit.
Karena struktur kulit pada stretch mark berubah dari normal, maka tidak ada cara lagi untuk menghilangkan stretch mark yang sudah terjadi (meskipun banyak yang menawarkan dengan harga berjuta-juta). Bila dilakukan justru akan merusak lapisan kulit yang sehat, yaitu justru kulit yang sehat ditipiskan setebal yang mengalami stretch mark. Satu-satunya cara hanya dengan mencegah, atau menjaga agar bagian kulit yang rusak tidak menjadi lebih luas atau parah.

Selasa, Maret 17, 2009

Suka Nonton Film?

Yups! Aku suka banget nonton film. Setelah sekian lama mencari tempat rental film original di Palembang, akhirnya aku menemukannya juga: Video Ezzy yang ada di Jl. Veteran Palembang. Tau ya, kayaknya di Palembang gak ngasih peluang besar untuk bisnis ini. Padahal setahuku dulu cukup banyak rental-rental film. Ada Odiva di Jl. Mayor Salim Batubara, tapi sekarang tutup. Juga Video Ezzy yang ada di Patal, sekarang juga tutup. Fiuh, kenapa ya?
Ini pun, bisa ketemu Video Ezzy di Veteran juga karena gak sengaja! Tempatnya kurang strategis, tertutup sama pepohonan. Emang, kalo orang yang gak gila banget nonton film, rasanya sayang banget buang-buang duit cuma untuk minjem 2 VCD untuk menghibur diri. Yeah, aku perhatiin, orang Palembang itu lebih sukanya nonton ke bioskop! Padahal kalo dihitung-hitung jatuhnya lebih mahal. Dan bioskop kadang gak muter film-film new release alias udah lama banget!
Sistem peminjaman di rental original emang tergolong agak memberatkan, coz peminjam harus pake uang jaminan segala. Di Video Ezzy sendiri jaminannya Rp 50.000,- Udah gitu pake sistem pulsa. Jadi, kita isi duit dulu, trus kalo mo pinjem, tinggal ngurangi pulsa kita tadi. Satu film biaya pinjamnya Rp 5.000,- Tapi ada paket-paket lain yang bisa bikin 1 film cuma Rp 2.500 s/d Rp 3.000 sih...
Trus, yang memotivasi sebenarnya ada sistem poinnya. Jadi makin banyak poin, bisa ditukar dengan hadiah-hadiah menarik. Hahaha! Di UGM, aku member Odiva. Trus, di UNS, aku member Moviezone. Dan di Palembang sekarang, aku member Video Ezzy! Sebenarnya masih ada beberapa rental film lain, tapi gak terlalu loyal. Hue'e'e....
Aku suka berbagai jenis film. Tapi paling suka emang drama, baru kemudian komedi, trus thriller, baru action, baru Indonesia. Hm... Aku gak terlalu suka horor, juga film India, ato film Taiwan. Gak banget deh! Terakhir aku suka banget nonton film Sex and the City Movie sama Eagle Eye. Hueee... Gak nyesel nonton film itu. Nilai yang terkandung di kedua film itu, bisa bikin aku merenung sampe berjam-jam... :)
Well, nih, aku sebentar lagi mo ke Video Ezzy! Balikin film. Harus on time memang, kalo nggak bisa kena denda. Makanya, kalo belum sempet ditonton filmnya, suka disimpan dulu di laptop. Hee... Oke, aku pergi dulu yaa... Bye! :)

Senin, Maret 16, 2009

Dunia Pendidikanku

(Fotoku di kelas 6 SD Muhammadiyah 14 Palembang. Aku yang mana hayoo??? Hehehe...)

Sudah lama aku ingin menulis tentang ini, "Dunia Pendidikanku". Tentang dimana aku mengenyam pendidikan hingga saat ini, pendidikanlah yang mengubah namaku menjadi lebih panjang: Sumarni Bayu Anita, S.Sos.
Aku dilahirkan di sebuah kota administratif Sumatera Selatan, Prabumulih, 25 tahun yang lalu. Di sana tempat almarhum bapakku ditugaskan karena ia seorang TNI-AD. Tak lama menetap di sana, setelah sebelumnya sempat di Lahat, kami sekeluarga pun pindah ke Sekojo, Palembang. Kami tinggal di asrama tentara, dan memang selalu begitu.
Baru ketika bapak dipindahkan lagi ke Korem 044/GAPO Palembang dan kami pun tinggal di asramanya, aku baru sekolah. Merasakan dunia pendidikan untuk yang pertama kalinya.
Pertama kali sekolah, aku masuk kelas 0 Besar TK Aisyiyah Bustanul Anfal 4 Balayudha. Hanya jalan kaki dari rumah. Tentu saja, selalu diantar dan dijemput oleh ibu. Pernah suatu ketika ibu lupa menjemputku. Yeah, bisa ditebak, aku menangis sejadi-jadinya di TK itu... Hehehe!
Lalu, SD langsung ke sebelah TK itu juga, apalagi kalo bukan SD Muhammadiyah 14 Palembang. Aku banyak bertemu guru-guru luar biasa di sini, seperti Pak Wardan - Wali Kelas 1 & 2, Bu Rosdiana - Wali Kelas 3, Bu Bainur - Wali Kelas 4 & 5 (sekarang Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 14 Palembang), Pak Zakaria - Wali Kelas 6 (sekarang Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 10 Palembang). Di SD juga aku udah tahu cinta monyet lho! Hahaha! Tapi di SD juga aku dapet kenangan pahit, dan untunglah sekarang aku sudah gak jadi anak SD lagi. Hee...
Tahu yaa, kenapa ketika SD aku sering berantem, SD juga karena sering rangking 1, jadi tempat temen-temen nyontek, kalo gak dikasih tahu, mereka jadi gak suka padaku. Huh... Tapi, untung ada sahabatku Rizka. Jadi, aku bisa ngobrol sama dia!(Fotoku di SMPN 19 Palembang. Itu aku lagi memenangkan Lomba Menggambar Tingkat SMP se-Kota Palembang. Kalo gak salah lombanya di SMPN 1 Palembang)

SMPku adalah SMP Negeri 19 Palembang. Saat itu yang menjadi wali kelasku adalah Bu Restu (Kelas Unggulan I.5), Bu Jumainah (Kelas Unggulan II.2), dan Bu Misnarti (Kelas III.2). SMP adalah masa-masa aku getol di kegiatan Pramuka. Sering ikut kemah, dan sempat menjadi Pemimpin Regu Putri Inti SMPN 19 Palembang. Nama reguku dulu: Lili. Kalau putranya: Cobra. Hohoho... Seru banget pokoknya! Pas SMP langganan jadi ketua kelas dan pemimpin upacara bendera. Fiuh, kelihatan banget ya bakat leaders-nya? Nih, masa-masa SMP-lah saatnya aku dilatih terus untuk memimpin. Kalo SD kemarin, paling dikuatin di segi akademisnya aja, kalo SMP, ekskulnya juga jalan.
Masa akhir SMP adalah masa terindah. Coz, tanpa disangka-sangka, aku menjadi peringkat NEM tertinggi di SMP-ku. Saat itu, NEM-ku 47,58. Pokoknya, mengalahkan 2 kandidat siswi kelas lain yang langganan juara umum. Wih, seneng banget deh, pokoknya! Rasanya ini adalah sebuah tonggak paling bersejarah dalam hidupku. Iya, karena masalahnya, pas di caturwulan duanya (dulu sistem cawu bukan semester), nilaiku merosot. Bahkan aku kalah oleh sahabatku sendiri yang selalu belajar bareng. Fiuh, di akhir cerita, ternyata happy ending. Puas banget!
(Foto bersama teman-teman kelas unggulan I.5 dan Kepsek SMU Plus Negeri 17 Palembang, Bu Wien Sukarsi)

Lepas dari SMP, aku pun masuk SMU Unggul Negeri 17 Palembang. Dulu namanya itu, baru kemudian berganti menjadi SMU Plus Negeri 17 Palembang. Aku masuk di Angkatan 3, dan ini adalah angkatan pertama yang menyandang predikat "plus". Coz, untuk masuknya, kami diseleksi berdasarkan NEM. Jadi waktu itu, NEM terendah adalah 42,50. Awal masuk, kami sudah digembleng dengan masa orientasi selama 10 hari yang dibina oleh para tentara Korem 044/GAPO. Gila-gilaan deh, pokoknya!
Aku banyak mendapatkan pembelajaran dari sekolah ini. Aku juga akrab dengan Kepala Sekolahnya, Ibu Dra. Wien Sukarsi. Abis, sering kena marah sih... Hahaha! Gak ding, kan dulu aku pengen banget bikin majalah sekolah, tapi Bu Wien agak kurang percaya dengan itu. Akhirnya, dengan cerita yang cukup dramatis (huekekek!), majalah sekolah SMU Plus Negeri 17 Palembang itu pun terbit! Namanya Marella 17 (Majalah Realis Andalan 17). Tuh, pernah diplesetin dengan berbagai nama lho... Tapi, yah, untung semangat itu tetap ada! Dan akhirnya, majalah itu pun jadi! Nah, itu momen terbesar dalam hidupku! I love Marella 17... Semoga majalah ini masih terus eksis sampai sekarang. Ayo, crew Marella 17, semangat!!! Hee...
Di SMA, juga aktif di OSIS, Kirana 17 (Kelompok Ilmiah Remaja Andalan 17), Rohis 17, Jurnalistik 17. Pengalaman seru lainnya pas SMA, yaa pas jadi Finalis LPIR 2001. Coz, aku selama 10 hari bisa jalan-jalan gratis ke Jakarta, berkumpul dengan teman-teman SMA seluruh Indonesia. Aku bisa dapet pengalaman ikut upacara 17-an di Istana Negara, ke gedung MPR, ke kantor menteri Depdikbud, Dufan, LIPI, dll. Andai bisa terulang lagi... Hee!
(UGM terkenal dengan minggu pagi boulevard-nya. Nih, aku abis jalan-jalan minggu pagi, dan mampir di Masjid Kampus UGM yang view-nya oke punya!)

Sama seperti hidup yang ada siang dan malam, begitu pula hidupku. Kegagalan itu juga pernah aku alami. Apa? Yups, aku gak tembus SPMB. Dulu, emang punya alasan, ya karena emang gak fokus ikut SPMB. Maunya itu awalnya masuk STPDN. Huahaha! Nih, sebenarnya almarhum bokap yang pengen banget! Tapi u know, aku mengundurkan diri di tengah-tengah tes kesehatan berlangsung. Hee... Aku gak mau ikut tes yang satu itu... Ogah banget! Ya udah, pas di rumah, bilangnya gak lulus karena kurang tinggi. Huahaha!
Tes SPMB tetap ikut, tapi yups, gak masuk! Sempet nangis lho, seharian di kamar! Nyokap sampe ngeri liat kondisi aku saat itu. Nih, anak kok begini??? Jadi, pas semangat kembali ada, esok hari setelah aku tahu gagal SPMB, aku mengajak ibuku untuk ke Yogya! "Bu, kata temenku (Mbak Irrin) di UGM masih ada bukaan untuk program D3-nya. Aku ambil itu aja, Bu! Ayo, kita berangkat! Aku gak mau di Palembang!"
Dan lucunya, besoknya, kami langsung berangkat naik mobil pribadi. Hee... Aku sempet ambil bimbel khusus belajar soal-soal tes masuk D3 UGM. Akhirnya, aku lulus D3 Public Relations UGM, juga lulus di S1 Hubungan Internasional UMY. Tapi, aku lebih memilih yang D3 PR UGM-nya... Hee! Masih mikir branded! :)
Masuk di angkatan 2002, lulus di tahun 2005 dengan nilai cumlaude (3,62). Bangga juga, gak sia-sia perjuangan selama ini. Hee... Aku sempet magang di Badan Tenaga Nuklir Nasional di Jakarta, dan di Fortune PR juga di Jakarta. Selama kuliah di UGM, aku aktif di Koperasi "Kopma UGM" dan di Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (Sekolah Ekonomi Rakyat). Di sini, aku lebih mengenal idealisme ekonomis! Kenal dengan almarhum Prof. Mubyarto, sang pencetus Ekonomi Pancasila, Revrisond Baswir, dll.
(Foto dengan cah VISI UNS, sesaat sebelum mo berangkat Diklat Jurnalistik di Tawangmangu.)

Nah, ini yang terakhir untuk saat ini. Hee... Pengennya lanjut S2. Pengen!!! Hahaha! Tapi, pengennya ke LN, kayak Australia gitu... Sambil mo ngelancarin bahasa Inggris. Hehehe! Yups, ini Dunia Pendidikanku setelah D3, yakni S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Solo. Aku memang merasa D3 tidak cukup, jadi harus langsung lanjut S1. Motivasi awalnya, lucu, hahaha, aku pengen diundanganku nanti, bukan Sumarni Bayu Anita, A.Md tapi Sumarni Bayu Anita, S.Sos. Hahaha! Gak banget deh, alasannya, yaa...
Kuliah di sini dapet kelas sore sampe malem. Lingkungan kampusnya bener-bener untuk belajar. Beda dengan UGM, yang sisip sedikit bisa langsung ngeceng ke sana-sini. Hohoho! Di sini aku aktif di Lembaga Pers Mahasiswa VISI FISIP UNS. Jadinya, kembali belajar tentang lay out, desain majalah, editing, leadership, dll.
Pas kuliah S1 ini juga, aku sempet magang di TRANS7, tepatnya di divisi kreatif program Empat Mata. Yups, berharga banget, jadi tahu gimana rasanya kerja di stasiun TV. Fiuh, asli capek! Hahaha... Tapi, mungkin menyenangkan juga karena selalu ada yang baru. Kerjanya jadi gak monoton, itu-itu aja... Trus, bisa ketemu artis trusss... Hehehe! Gara-gara magang di TV, koleksi foto bareng artisku tambah banyak. Hee... Tapi, sebenernya, magang di TRANS7, tetap untuk menyelesaikan skripsiku saat itu yang berjudul "Talk Show Komedi di Televisi".
Well, thats my story about my education. Aku lulus UNS sebenernya Desember 2007, tapi baru bisa ikut wisudanya pas di hari ulang tahunku yang ke-24, 8 Maret 2008. Walau IPK-ku juga 3,62, tapi aku gak dapet gelar Cumlaude! Hik, hik, hik, katanya karena udah lebih dari 4 taon kuliahnya, jadi gak lulus spesifikasi untuk dapet gelar itu. Ya udahlah, gak pa-pa... Hee!
Dan sekarang, I'm here now! Lulus UNS, langsung hijrah lagi ke kampung halaman: Palembang! I miss my family... Trus, akhirnya, dapet kerjaan di bidang education juga... Hohoho... Well, maju terus Pendidikan Indonesia! Semangat!!! Hehehe!

Jumat, Maret 13, 2009

Rakha Maen Bola



Nih, video Rakha lagi main bola karet ungu di rumah. Anak itu walo baru berumur 7 bulan tapi udah pinter banget. Pertama kali dikasih bola, trus diajarin untuk nendang bola. Gak lama dari situ, setiap bola didekatkan ke kakinya, pasti langsung dia tendang. Ato kalo dikasih bola ke tangannya, pasti langsung dia lempar. Hii... Lucu banget sih, kamu Kha... :)
Pipinya yang tembem bikin orang yang melihatnya gemas. Gak jarang lho, kalo diajak ke mall, mesti banyak orang yang menghampiri untuk sekedar bilang, "Eh, adek ini lucu banget" ato megang pipinya, ato mencium pipinya. Pernah ada yang sampe nyubit pipinya, hehehe, bundanya pasti langsung garang! Hahaha...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...