Tampilkan postingan dengan label Cerpen Nita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Nita. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 05, 2014

Bulan, Mentari dan Aku (Cerita Malam Ini #4)

Malam yang dingin, Bulan… Kau masih di situ? Sendirian, seperti biasa. Ya, aku tahu. Sama sepertiku, sendirian. Mungkin juga kesepian. Dan miris, melihat bintang-bintang itu asyik berkelap-kelip ke sesama mereka. Sedangkan kita, tetap sendirian. Sok tegar, mencoba untuk menerangi malam dengan kesempurnaan yang kita punya.

Apa yang kau cari, Bulan? Senyum Mentari pagi yang selalu kau sambut dengan mengunci diri di balik belahan bumi yang lain? Apa yang kau nantikan, Bulan? Tatapan Mentari senja yang tak urung berlari saat kau berani menampakkan diri. Sulitkah untuk menemui pujaan hatimu? Satu-satunya itu?

Kau tanya sejuta mengapa kepada pencipta-Mu yang kau rasa begitu lucu dalam menggariskan takdir. Bahwa kau sudah berani mencintai namun selalu kondisi membuatmu kembali menahan diri, tak ingin memaksakan gegap gempita rasa sayang yang begitu merekah di hatimu. Kau mencintainya. Kau ingin selalu ada di sampingnya. Menemaninya. Menatap kasihnya yang semakin lama semakin dalam. Tak peduli tentang jarak yang memisahkan, kau tetap menyayanginya. Dia pilihanmu. Sejatimu.

Selasa, Januari 07, 2014

Cerita Malam Ini #Bagian 3

Malam semakin larut, Ta.. Punya cerita apa sekarang? / *tersenyum* Iya, aku punya. Cerita tentang permen karet… Mau dengar??

Permen karet? / …..

***

Permen Karet

Tidak ada awalnya, semua terjadi begitu saja sampai akhirnya hati ini menyadari bahwa telah jatuh hati padanya.

Selasa, Desember 17, 2013

Cerita Malam Ini #Bagian 2

Ada cerita apalagi malam ini, sayang? / Tidak ada cerita. Semua berjalan datar seperti hatimu.
Ah, bercanda kamu! Kata siapa hatiku datar? Hatiku ini selalu berbunga, untukmu… / Hahaha… Nah, sekarang kamu yang bercanda.

Dear hati yang terkunci rapat,
Apa kabarmu di sana? Masih nyaman dengan kesunyianmu? Masih mencoba menenangkan diri? Sampai kapan kamu tidak peduli dengan tawaran cinta ini?

Selasa, November 05, 2013

Cerita Malam Ini

Belum tidur, Ta? / Belum…

Kenapa belum tidur? Belum ngantuk ya? / *senyum sebisanya*

Kok, senyumnya gak ikhlas gitu? / *nyengir kuda*

Duuuh, malah nyengir sekarang… Hehehe… / Apaan sih… Gak usah ganggu orang! Lagi bĂȘte, nih… Ntar, tak makan lho, kamu…

Udaaah, gpp… Makan aja, aku Ta. Aku rela, ikhlas, ridhoooo… Monggooo dimaeeem… / Iiiih…. Hobinya itu, lhooo… Godain orang aja. Aku bener-bener lagi sebel, nih…

Kenapa sih, cah ayuuu… Jangan sebel, dong… Kalo sebel, cantiknya hilang lhooo… / Biarin, emang gak cantik ini. Kalo cantik, gak mungkin aku ditinggalin…

Eelaaah… Omonganmu itu… Jangan bilang begitu. Gak baik, Nita…  / *beringsut pergi*

Hey!!! Tunggu… / …

Dan dekapan hangat itu terasa menyamankan.

***

Rabu, Maret 31, 2010

Bunga Mimpi

Pagi ini, pendar-pendar kantuk masih kurasakan di mataku. Sesekali geliat kecil kulakukan agar semangat itu masih tetap menempel di tubuhku untuk menemaniku beraktifitas hari ini. Satu, dua kali kesempatan, tiba-tiba senyum terkembang di bibirku. Hm, kenapa? Apa ada yang aneh. Bangun kesiangan, badan masih tak berdaya, namun senyum tiba-tiba muncul. Fiuh... aku ternyata masih bisa ingat penyebabnya. Ini karena mimpiku tadi malam. Mungkin bukan ketika malam. Karena biasanya mimpi yang mampu kuingat hanya mimpi menjelang bangun tidur.

Yah... serasa aku kembali di masa sekolah. Masa SD. Saat ketakutan untuk menyapa orang yang kita taksir melanda. Namun di mimpi itu, sebuah momen, aku berani menyapanya dengan biasa. Bahkan memegang lengannya, lalu bicara seakan semuanya normal. Luar biasa. Aku pikir ini memang luar biasa. Ketakutan itu kulawan melalui mimpiku. Walau hanya melalui mimpi, aku sungguh berterima kasih atas malaikat mimpi yang menghadirkan bulir mimpi padaku tentang itu.

Selasa, Februari 24, 2009

Perempuan Bertanduk Setan

Tiba-tiba sebuah sms tentang cinta masuk di sms Nana. Bunyinya lumayan bikin hati melambai-lambai seperti daun nyiur di pantai. Tapi karena si pengirim hanya nomor, belum ada di phone book, Nana langsung membalas, "Siapa nih?"
Lalu, sang pengirin sms romantis membalas, menyebutkan namanya yang selama ini sangat dihindari Nana, "Devil Girl".
Nana menghindar untuk membalas setiap sms masuk dari si Devil Girl bukan karena takut, tapi ia tidak ingin mengetahui hal-hal yang tidak perlu diketahui. Baginya, sakit hati hanya untuk hal yang diketahui. Maka, andai ia tidak tahu, tak ada sakit hati.
Terlanjur membalas, jadi Nana meladeni sms si Devil Girl malam itu. Sampai akhirnya, dering telfon Nana berbunyi. Si Devil Girl belum puas men-sms, jadi dia menelfon! Nana mengangkatnya.
Whatsss.... Inilah si Perempuan Bertanduk Setan sebenarnya. Ia mencari banyak cara untuk menghancurkan Nana. Termasuk membolak-balikan hati Nana tentang kekasih hati yang nun jauh di sana. Hati Nana geram, tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk terus membiarkan si Devil Girl berceloteh tentang kehidupannya di neraka.
Akhirnya, telefon usai. Nana menarik nafas berat dan panjang. Hatinya, pikirannya, pandangannya jauh menerawang. Ia lihat foto kekasihnya, Toni, di dinding kamarnya. "Gak, gak mungkin dia tega melakukan itu..."
Nana beringsut dari kamarnya, menuju kamar mandi. Ia mengambil wudhu. Waktu sholat Isya sudah masuk dari tadi. Perlahan, ia melakukan gerakan-gerakan sholat, hatinya masih terbawa suasana yang serba berantakan.
"Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Benarkah semua perkataan Perempuan Bertanduk Setan itu? Atau ia hanya ingin menggodaku, menjauhkan niat tulusku untuk mengabadikan cinta atas nama-Mu dengan Toni... Tuhan, kuserahkan saja semua takdirku pada-Mu. Andai Toni memang untukku, tolong jagalah dia... Aku mencintainya, selamanya..."
Nana terdiam lama di atas sajadahnya usai sholat. Tak tahan memendamnya sendirian, Nana pun menelfon orang yang paling ia percaya dalam hidupnya, Toni.
Nada suara Nana begitu lembut, sangat berbeda dari biasanya. Ia berkata dan bertanya... Toni hanya meminta kepercayaan dan kepercayaan.
Ternyata menjelang hari keabadian duniawi yang begitu sakral, para setan dalam segala bentuk seolah selalu datang menggoda. Pun tak cukup hanya itu, ia ingin menghancurkan!
Malam itu, Nana tak bisa tidur. Ia hanya terfikir Toni. Begitu besar rasa rindunya kini membuncah, seolah sama besarnya dengan rasa kesalnya terhadap Perempuan Bertanduk Setan yang ingin dibunuhnya!
Tangis Nana pecah melalui telefon itu... Toni hanya berusaha menenangkan, "Cantik, jangan menangis. Aku sangat mencintaimu. Tunggulah, saat itu akan datang sebentar lagi."
Nana tahu, semua hanya tentang rasa. Saat sampah yang ia masukkan, maka sampah juga yang akan dia keluarkan. Nana tidak mau hidupnya berantakan hanya karena ulah tolol sang Perempuan Bertanduk Setan.
Nana telah memilih kini. Ya, dia memilih untuk mencuci otaknya atas memori kehadiran Devil Girl. Mungkin baik ia dan Toni bukanlah manusia paling sempurna yang tinggal di bumi. Tapi setidaknya, dia sadar, hanya bersama Toni, ia tahu artinya kedamaian dunia yang diselimuti cinta. Setidaknya, dogma itu yang ia yakini saat ini, dan semoga Tuhannya pun mengangguk untuk gadis cantik berselendang biru itu.

Rabu, Desember 10, 2008

Mutiara Cinta

“Menjadi Mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.”
* * *
“Hallo! Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam. Alfin?! Fin, ini Dodi. Fin, aku butuh bantuanmu. Aku bener-bener lagi di dalam masalah besar sekarang! Tolong aku, Fin!”
Suara berat, terbata-bata, dan berbalur kebingungan mengalir dari ujung handphone Sony Ericsson P990i Alfin yang diangkatnya sambil menyetir mobil sedan Mitsubishi Grandis yang baru ia beli dari dealer tiga hari yang lalu. Prakteknya sebagai dokter ahli kandungan di kota besar, Jakarta menuai keuntungan yang lumayan.
“Dodi? Dodi si ‘Jempol Besar’? Hey, Dod! Apa kabar nih? Udah hampir dua tahun ya, kita nggak silahturahmi. Tumben nelfon. Minta bantuan apa, Dod?” sambut Alfin ceria. Selintas berkelabat kenangan masa lalunya bersama Dodi, sobat kentalnya ketika mereka sama-sama masih duduk di bangku SMU terfavorit di Palembang. Terlebih mereka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sama, Paskibra. Ironisnya mereka pun menyukai gadis yang sama, meski dengan status yang berbeda.
“Gila! Kacau! Aku bener-bener di ujung tanduk sekarang!”
“Hey! Hey! Apanya di ujung tanduk, sih? Kamu bikin aku bingung!”
“Fin, kamu di Jakarta kan sekarang?” tanya Dodi mendesak untuk segera dijawab.
“Iya, kamu juga tahu aku buka praktek di Jakarta.”
“Nggak, aku tahu kamu di Jakarta. Tapi mungkin saja kamu lagi tugas luar kota atau mudik ke Palembang,” balas Dodi sambil berjalan mondar-mandir di atas bungalow sebuah apartemen mewah di kawasan Pondok Indah Jakarta. Matanya nanar, sesekali menatap gadis yang sedari tadi duduk tak jauh dari tempatnya berdiri, memperhatikannya.
“Nggak, kok! Aku di Jakarta. Ada apa emangnya?”
“Aku nggak tahu harus mulai ngomong darimana, Fin!”
Suara Dodi terdengar semakin memburu. Lagi, ia menatap gadis yang kini malah berdiri dari duduknya, masuk ke dalam apartemen, meninggalkannya sendiri bak orang linglung.
“Susah banget kelihatannya, kamu kayak abis ngehamilin anak orang aja…” Alfin mencoba mencairkan suasana, mencoba menerka, meski gambaran orang kecelakaan, kematian dan perampokan sudah berkelebat memasuki pikirannya.
“………”
“Hallo…? Dod, hallo?”
“I… iya, Fin. Aku menghamili anak orang,” jawab Dodi akhirnya.
Seharusnya, Alfin tak perlu heran atas pernyataan sobatnya barusan. Sejak SMU, Dodi selalu dikerubungi fans-fans wanita yang tertarik dengan wajah Arabnya, tinggi badannya yang seimbang, sikap patriotiknya maupun gaya militerismenya yang begitu kental dengan nada suaranya yang berat dan tegas. Julukan ‘Jempol Besar’ pun bukan dimaksudkan untuk melecehkan, malah mungkin sebaliknya. Kamu tahu kan, mitos ‘Jempol Besar’ yang identik dengan ukuran ‘milik’ para lelaki Timur Tengah? Yah, tidak seperti Alfin yang justru dijuluki ‘Introvert Boy’. Namun tak urung, respons Alfin pun menjadi mirip sebuah histeria.
“Hah! Apaaa?? Innalilllahi… Ya udah, nikahi aja! Sebagai lelaki kamu harus tanggung jawab, Dod! Lagian umurmu sekarang kan, sudah pantas untuk memasuki jenjang rumah tangga!”
Ya, umur mereka sama-sama sudah menginjak 28 tahun. Pengejaran karier mimpi mereka tampaknya sudah sama-sama tergapai. Dodi kini bertugas sebagai salah satu anggota pasukan infantri batalyon bagian rohis di sebuah Kodim kawasan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan dengan pangkat Letnan Satu. Usai dari masa perkuliahannya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia memutuskan untuk ikut perekrutan Sekolah Pertama Perwira Prajurit Karier TNI (Semapa PK), salah satu program penyediaan Perwira TNI yang bersumber dari lulusan Perguruan Tinggi untuk pengisian jabatan dalam organisasi TNI. Dua jurusan yang tak searah mungkin, namun Dodi dapat mengkolaborasikan keduanya. Dua minggu yang lalu ia mendapat tawaran untuk pindah tugas sebagai asisten sekretaris Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam II/Sriwijaya di Palembang dari calon mertuanya yang masuk dalam jajaran Perwira Menengah (Pamen) di sana. Sebuah jenjang karir yang melesat terlalu cepat memang, namun Dodi pasti tak akan melepaskan kesempatan emas itu. Meski artinya, ia akan benar-benar berada di bawah pengaruh calon mertuanya, ayah Vita, gadis Solo nan ayu yang sudah enam bulan lalu dijodohkan dengannya.
“I… iya. Aku tahu, Fin. Tapi masalahnya, dia bukan Vita, tunanganku yang sekaligus anak atasanku.”
“Hah? Kok bisa gitu? Lalu maumu apa?” Alfin ikut berpikir keras. Bayangan Dodi di antara masa SMU yang penuh romantisme itu, juga merupakan salah satu aktifis rohis. Wajah khas ayibnya benar-benar mendukung posisinya sebagai koordinator bidang syiar. Ketika momen-momen perayaan hari besar Islam, Dodi tak pernah ketinggalan menjadi salah satu pendukung acara, minimal menjadi seorang pembaca doa penutup. Tapi mengapa sekarang…?
“Salahku, Fin! Aku mengaku salah. Aku berdosa, aku sadar itu. Aku tidak bisa menjaga kehormatan kami. Entah bisikan setan seperti apa, sehingga aku jadi kebablasan begini. Cuma sekali, Fin, dan aku menggunakan pengaman, tapi 24 jam setelah itu, dan dicek… Positif! Tolong aku, Fin… Sungguh, demi Allah, aku akan bertobat, namun bantulah aku dulu untuk menyelesaikan dilema ini.”
“Astagfirullah hal adzhim. Kamu mau mengaborsi anak perempuan yang kamu hamili itu?” Syaraf kepala Alfin serasa ikut menegang hebat. Tak percaya Dodi dapat melakukan kesalahan seperti itu. Berzinah, lalu mau mengaborsi? Dodi yang aktifis rohis, alumni UIN?
Kecerdasan spiritual memang berbeda arahnya dengan sikap religius. Kuantitas berlebih ibadah yang dilakukan nyatanya bukan jaminan seseorang memiliki kualitas kecerdasan spritual, sebuah jalan dalam meraih kebahagiaan dan memahami makna dari kehidupan. Hanya kecerdasan emosional yang selalu mencekik erat manusia untuk mengarah pada keinginan meraih sukses dalam hidup. Yah, hanya tentang hidup, dan tentunya lagi hanya di dunia bukan di akherat.
“I… iya, Fin. Hanya kamu yang bisa menolongku. Aku takut ketahuan keluargaku. Keluarga tunanganku. Aku bisa dibunuh kalau mereka sampai tahu… Karierku bisa hancur! Bahkan, aku pun bisa dikeluarkan dari kesatuanku.”
“Kamu seharusnya lebih takut dengan Allah! Dan kenapa harus aku yang kamu libatkan? Kamu pasti punya kenalan lain di Jakarta. Aku tidak mau ikut menanggung dosa! Kamu seharusnya lebih bertanggung jawab atas segala perbuatanmu!”
Alfin berkata dengan emosi yang sudah tak tertahan untuk meluber. Ia tahu masalah ini adalah sebuah dilema besar! Tak disangka sahabat karibnya itu tiba-tiba menghubunginya dan langsung menyampaikan berita mengejutkan ini. Ia ingin langsung menolak permintaan itu. Ia cukup mengerti bahwa meski dengan sekedar menolong memberi tahu jalan saja, ia sudah akan terlibat dosa yang tidak bisa dibilang kecil.
“Jadi kamu tidak mau menolongku, Fin? Kamu kan dokter. Pasti kamu bisa melakukannya dengan baik. Atau kenalkan aku dengan dokter lain yang bisa melakukannya?” paksa Dodi.
“Maaf, Dod! Justru karena kamu temanku, maka aku tak bisa menolongmu. Satu-satunya solusi adalah kamu harus menikahi perempuan itu. Biarkan anakmu lahir. Jangan berbuat dosa lagi!”
Dodi menghapus peluh yang terus bercucuran di dahinya. Ia memilih duduk di tempat yang sebelumnya diduduki sang gadis yang kini tengah membuka laptopnya, membaca sebuah file.
“Kami sama-sama tidak menginginkan anak itu lahir, Fin…”
“Cukup! Tidak menginginkan bukan berarti kalian harus membunuhnya. Kalian bisa menaruhnya di panti asuhan atau berikan kepada orang lain yang menginginkan…”
“Tidak bisa, Fin. Terlalu beresiko. Lagipula, usia kandungan itu baru dua hari! Ia belum berwujud apa-apa! Dan, kamu tahu siapa perempuan itu???”
“Aku tidak peduli siapa dia…” jawab Alfin dingin.
“Kamu harus peduli! Karena dia yang menyuruhku minta bantuanmu. Dia… dia… Anna, Fin…”
Pikiran Alfin benar-benar ikut berputar hebat sekarang. Pekik klakson menghujani telinganya. Ya Allah, ia hampir saja menabrak seorang penyeberang jalan, seorang perempuan yang tengah hamil besar. Mobilnya berhenti mendadak. Handphonenya terjatuh. Lalu lintas yang ramai tampak benar-benar lengang di matanya sekarang. Anna. Sebuah nama yang sangat berarti baginya. Dulu, ketika masa SMU itu ada, atau mungkin hingga kini, nama itu pun masih tersimpan manis di salah satu sudut hatinya. Anna… Anna sang jurnalis. Anna si ‘Senyum Bidadari’…
* * *
“Menjadi Mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.”
Anna merenungi sekumpulan kalimat yang pernah muncul di salah satu paragraf email dari Alfin untuknya. Kalimat itu jadi begitu menggugah perasaannya saat ini. “Menjadi mutiara…” Indah sekali. Tapi, kenapa harus menjadi mutiara? Mungkin ada benda berharga lain yang tak kalah nilainya namun tak harus bersusah payah seperti menjadi mutiara, diam sendirian teronggok di dasar lautan. Sampai akhirnya mutiara dianggap berharga pun, ketika ia telah diolah dulu oleh tangan-tangan manusia. Menjadi mata cincin atau liontin misalnya. Ia pun harus mau disandingkan dengan elemen lainnya. Seperti emas, perak, benang penguntai, atau apalah… Mutiara tak cukup indah jika dibiarkan hanya di dalam tiram, dan tersembunyi di antara karang. Masa yang mendebarkan adalah ketika ia merubah dirinya menjadi mutiara yang cantik. Kau tahu kan, sesungguhnya ia hanya berasal dari serpihan pasir yang tak sengaja masuk ke dalam tiram? Sejumpil kotoran. Ia bermula dari bukan apa-apa menjadi punya apa-apa.
Namun ia memang dibiarkan untuk tumbuh menjadi cantik…
Ia memang dibiarkan untuk berada di dasar lautan…
Ia memang dibiarkan untuk tak tersentuh sampai waktunya tiba…
“Lalu aku?” Anna menggenggam erat laptop Toshiba Qosmio F20-P540-nya yang memuat tulisan itu. Matanya terpejam, seolah membayangkan dirinya terhisap ke dalam pusaran arus samudera yang luas dan dalam perubahan dimensi waktu wujudnya berubah menjadi serpihan pasir dan masuk ke dalam sebuah tiram. Tiram itu tertutup, dan ia terperangkap di dalamnya…
Sekejap saja mata Anna membuka. Berat hatinya saat mengakui bahwa segenap harapan tak sesuai kenyataan. Ia tak bisa membiarkan dirinya menjadi mutiara.
Ia tetap Anna, meski ia hanya tergambar sebagai kaleng rombeng yang tak ada gunanya. Ia tetap Anna, meski kehadirannya justru menimbulkan malapetaka bagi manusia lainnya. Dan ia tetap Anna, meski senyum manisnya akan dianggap nista…
* * *
“Ayo, pergi!”
Anna pura-pura tak mendengar ucapannya. Matanya masih lekat ke tengah Sungai Musi. Pasat, memperhatikan riak air berwarna kuning yang selalu berlalu ke tepi. Mereka dapat menikmati semua aktivitas di sekitar Sungai Musi dari dermaga di depan Benteng Kuto Besak, sebuah benteng peninggalan sejarah ketika masa Kesultanan Palembang Darussalam ada. Berbagai jenis kapal, jungkung, maupun sekoci tertambat dan melaju di atasnya. Jembatan Ampera yang dibangun indah ketika periode penjajahan Jepang itu pun berdiri kokoh menyambung kawasan Ilir dan Ulu Kota Palembang, sebuah kota metropolitan yang kaya akan sumber energi dan pangan.
“An, ayo pergi…”
Anna menoleh sejenak. Lalu kembali memandang kosong ke tengah sungai. “Pulang saja duluan, aku tidak memintamu menemani aku seharian kan?” katanya ketus.
Laki-laki itu pun kemudian duduk di atas tembok pembatas dermaga dengan sungai. Kakinya berguntai, riak sungai seolah ingin menariknya ke bawah. Mata lelaki itu memperhatikan Anna, sejenak, lalu ikut memandang lurus ke depan, diam. Cukup lama kebisuan itu tercipta. Mereka hanya berada di situ dalam diam, tapi bagi Anna itu sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup.
Dipayungi senja yang bergelayut di hulu Sungai Musi, mata Anna kian terasa panas. Tak lama, sekumpulan air sudah menganak sungai di sana, lalu bulir-bulir permata kebekuan itu pun pecah. Isak itu kemudian memancing perhatian lelaki di sebelahnya. Ia mendekat, lalu melihat wajah muram Anna.
“An…”
“Maaf, Fin. Seharusnya kamu nggak usah mempedulikan aku. Aku tuh selalu nyusahin kamu ya? Aku ini memang nggak pantas untuk dicintai. Dodi saja selalu pergi meninggalkanku.”
“Jangan ngomong begitu, An? Kalau kamu memang mencintainya, percayalah padanya. Tapi kalau hatimu sudah tidak yakin lagi, jangan pula menutupnya terlalu rapat.”
Anna menatap Alfin lembut, lalu tersenyum. “Mengapa Allah menghadirkan cinta dalam hati kita, Fin? Cinta yang kadang menyenangkan, lalu menyesakkan. Adakah tujuannya?”
Alfin ikut tersenyum. “Tentu saja, ada. Kamu tahu, menurut Victor Hugo, cinta adalah penciutan alam jagad menjadi eksistensi tunggal dan pemekaran eksistensi tunggal mencapai Tuhan. Cinta itu memang secara gamblang terlihat pada hubungan sesama manusia, lawan jenis. Namun tentu kita tidak boleh melupakan cinta yang paling utama kan, kepada Allah SWT dan rosul-Nya.”
“Iya, terutama untuk Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Tapi, yang aku tanyakan…” sambung Anna cepat, air mukanya mengeras.
Alfin tersenyum lagi. “Allah pasti menghadirkan cinta dengan berjuta manfaat agar manusia memahami arti kebahagiaan. Kamu sepakat? Tapi tentu setiap manusia ingin memiliki cinta yang lengkap pada satu sosok pasangannya, ada pandangan yang sama tentang agama, ada persahabatan sebagai teman berbagi suka duka, ada komitmen bersama dalam upaya membangun rumah tangga, dan yaa… kamu tahu kan yang terakhir.” Ujung kelopak mata Alfin mengerling.
Anna tampak mulai melupakan kegundahannya, “Apa yang terakhir?”
“Tuh!” dagu Alfin mendongak, menunjuk sepasang remaja yang sedang berangkulan di salah satu pojok dermaga.
“Apa itu?” Anna pura-pura tak mengerti.
“Yaaa, kebutuhan biologis yang terjaga geloranya. Ha ha ha…”
“Ah, dasar cowok! Ujung-ujungnya pasti itu…” pipi Anna bersemu merah.
Kenangan dua tahun yang lalu itu tiba-tiba tergambar jelas di benak Alfin. Hari keempat lebaran, ketika Anna dan Alfin sama-sama mudik ke kampung halaman mereka, Palembang. Sekalian untuk hadir dalam reuni tahunan angkatan SMU mereka yang ke-6 di salah satu hotel bintang 4, Hotel Swarna Dwipa. Saat reuni itu, Dodi hadir berseragam dinas sambil menggandeng seorang gadis yang ia perkenalkan sebagai kekasihnya, Vita. Anna yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa terdiam. Ia benar-benar tidak tahu, sebagai apa dia di hati Dodi saat ini. Yah, pacaran jarak jauh yang selama ini mereka lakukan sudah lama ditentang Dodi. Tapi Anna-lah yang ingin selalu bertahan. Disadari atau tidak, perlahan namun pasti hubungan Anna dan Dodi pun kemudian menjadi mati rasa.
“An…”
“Ya?”
Alfin menatap lekat perempuan bermata indah dengan bulu mata lentik itu. Tubuhnya yang sintal tetap saja terlihat jelas, meski ia tutupi dengan baju panjang biru bermanik-manik khas Turki, dan celana panjang putih. Jilbab biru transparan yang membuatnya terlihat semakin religius-eksotis itu sesekali melayang mengikuti angin. Tak dapat dipungkiri, sejak dulu Alfin telah menaruh hati pada jurnalis manis yang telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas di berbagai surat kabar terkemuka Indonesia itu.
“An, kamu mau nggak menikah denganku?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Alfin. Ia sendiri agak terkejut telah mengucapkannya. Ia hanya melihat sebuah peluang bahwa Anna kini sedang sendiri, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, ada Dodi yang selalu mendampinginya.
Mata hitam sang gadis membulat, tak percaya. “Apa? Kamu nggak lagi salah minum obat, Fin?”
“Aku serius, An. Aku ingin membangun sebuah rumah tangga yang… kamu tahu, sakinah mawaddah warrohmah, dan kusadari bahwa kamulah pasangan yang tepat sebagai calon istriku itu.”
Tanpa pikir panjang Anna segera menggeleng kuat. “Kenapa begitu tiba-tiba begini? Kamu sahabat terbaikku, Fin. Kamu laki-laki yang baik, sangat baik. Aku ini nggak pantes untuk kamu. Aku… aku… bukanlah Anna seperti mutiara yang kamu bayangkan.”
“Aku yang baik atau sangat baik kupikir itu berlebihan. Pantas atau tidak kamu untukku, biarkan aku yang menilainya. Aku sungguh-sungguh, An! Aku mencintai kamu sejak dulu.”
Mata Anna membelalak, mencoba menalari bahwa benar Alfin sedang tidak main-main. Namun, setelah berpikir lagi, ia makin meragukan dirinya sendiri, “Aku nggak bisa, Fin! Apa yang kamu lihat dariku? Dodi saja ingin selalu pergi dariku, meski akhirnya dia memang benar-benar pergi...”
“An, maafkan aku, jika ini terlalu tiba-tiba. Tapi percayalah padaku, aku mencintaimu. Bagiku kamu adalah perempuan terbaik yang pernah kutemui. Kamu muslimah yang pintar mengaji, jurnalis yang penuh dengan pemikiran kritis-idealis, kamu mandiri, dan lagipula kamu adalah ‘Senyum Bidadari’-ku. Lupakanlah semua tentang masa lalu kita, An. Kita buka lembaran yang baru.”
Anna menatap Alfin, lelaki itu memang selalu baik padanya. Pendengar yang setia. Selama ini, Anna pun tidak pernah mendengar Alfin dekat dengan perempuan lain. Ia hanya terkonsentrasi dengan pendidikan dokternya, hingga tak pelak, dalam usia muda ia pun sudah mengantongi izin praktek sebagai dokter ahli. Namun demikian, hati Anna tetap terguncang kuat, tak kuasa untuk bisa menerima cinta itu. Ia pun teringat masa-masa pacarannya dengan Dodi yang sudah terlampau jauh. Jauh… Tak pantas rasanya ia masih menggunakan jilbab di kepalanya bila ia mengingat apa yang telah diperbuatnya.
“Jangan, Fin… Aku bukan orang yang pantas untuk kamu sayangi. Aku bukan mutiara! Aku tidak bisa menjadi mutiara. Dan, maaf… sepertinya ini akan menjadi hari terakhir pertemuan kita, Fin. Hiduplah dengan bahagia dengan perempuan yang benar-benar pantas untukmu. Maaf bila aku selalu mengganggumu…”
Anna sempat memberikan senyum manis yang aneh, baru kemudian berlari meninggalkan Alfin tanpa pernah menoleh lagi.
“An, tunggu! Aku tidak peduli dengan masa lalumu! Allah saja Maha Pemaaf… An, tunggu…” Alfin mencoba meraih Anna., namun yang ingin digapai terus berlari jauh, dan jauh, meninggalkannya…
Anna membuka cepat Honda Jazz hitam kesayangannya, menstarter, lalu melaju di Jalan Jenderal Sudirman, salah satu jalan utama di Palembang. Al-Quran surah An Nur ayat 26 terngiang-ngiang di telinga Anna, menghujam kuat, dan ia semakin mempercepat laju mobilnya menembus senja, menyambut pekatnya malam yang menggelayuti pikirannya.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
* * *
Ruang kerja Alfin tampak rapi. Serangkaian bunga lili segar tersusun di pojok ruangan, menambah putihnya suasana. Hari ini praktek Alfin libur, namun ia telah berada di sana sejak satu jam yang lalu. Ia sedang menunggu.
“Dok, Pak Dodi dan Ibu Anna sudah datang.”
“Ya, suster. Suruh saja mereka masuk.”
Pintu itu terbuka, sesosok lelaki berbadan tinggi berambut cepak khas militer masuk duluan. Ia menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna coklat, merk ternama. Di belakangnya, sosok yang semalaman membayangi benaknya pun masuk. Sosok itu tak berubah, ia masih seperti bidadari. Saat pandangan itu bertemu, senyum manis namun aneh itu kembali hadir, tak ayal langsung merenggut keseimbangan Alfin hingga beberapa detik.
Mereka bersalaman, bertukar pandangan, lalu saling menanyakan kabar. Tiga sahabat lama yang pernah terlibat jalinan kuat itu saling senyum penuh arti untuk sekian lama. Mereka sudah terbilang mampu meraih impian hidup masing-masing. Tak diduga mereka dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini.
Detik-detik berlalu dengan seribu tekanan dan rasa bersalah. Mereka bertiga di ruangan itu, tengah berusaha menggagalkan hadirnya sesosok manusia yang tak bersalah, yang sesungguhnya tak minta dihadirkan. Anna telah berada di meja operasi saat itu. Dodi di sampingnya, terus menyakinkannya bahwa ini adalah pilihan yang terbaik yang harus mereka ambil.
“Percayalah pada Alfin, An… Dia pasti melakukannya tanpa resiko. Kita sudah memutuskan ini bersama kan? Kamu pasti juga tidak ingin menghancurkan kariermu sebagai editorial secretary Cosmo-Life yang baru terpilih. Ingat kesempatanmu untuk kuliah S-2 di London. Percayalah bahwa ini benar, An…”
Anna terus menangis. Teringat bahwa ia sudah berusaha menjaga hatinya selama dua tahun ini dari segalanya tentang Dodi dan Alfin, tentang cinta kepada lawan jenis. Hanya konsen pada pekerjaannya. Menjadi seorang wanita karier. Hanya kerja dan kerja. Namun empat hari yang lalu, saat perjumpaan tak sengaja dengan Dodi di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Tak percaya bahwa pertemuan itu berakhir di apartemennya sendiri yang kemudian menghadirkan permasalahan pelik ini.
“An, kamu sudah siap? Kamu ingin berdoa dulu, atau apa?” Alfin bertanya kaku. Alat-alat aborsi itu sudah siap dipergunakan. Tinggal menunggu persetujuan dari Anna untuk memulainya, memulai proses pengerokan dinding rahim, melepas nutfah yang menempel kuat di sana.
Anna menatap Alfin takut. Sangat takut… Tiba-tiba, Anna merasa bahwa di matanya tampak sebersit cahaya melintasi. Entah sinar apa itu, ia pun tak tahu. Namun usai itu, ia berteriak-teriak tak terkendali, menghapus raut bidadari yang ada di wajahnya. Matanya terlalu sembab, dan kulit putih halusnya, bertambah pucat dan layu. Ia seperti mayat hidup.
“Hentikan!!! Jangan dimulai! Hentikan! Aku menginginkan anak ini. Biar aku yang memeliharanya sendirian. Aku akan menanggung resikonya sendiri. Allahuakbar! Ampuni aku, ya Allah… Fin, turunkan kakiku! Cepat!!! Aku mau pergi. Aku tidak mau lebih berdosa lagi. Fin, turunkan aku, sekarang!!!”
“Anna, apa yang kamu lakukan?” Dodi mencoba menenangkan Anna.
“Diam kamu, Dod! Kamu laki-laki brengsek!! Makan semua jabatan yang kamu inginkan. Kamu tak akan mendapatkan arti cinta yang sesungguhnya sampai kapan pun! Fin, bantu lepaskan aku! Aku mau pergi!”
Alfin merasa ada yang terbang dari hatinya dalam sekejap. Ya, perasaan lega tiba-tiba hadir di dalam dirinya. Anna telah melakukan pilihan yang tepat di saat-saat genting. Ia menurunkan meja operasi ke posisi normal. Menurunkan posisi kaki Anna yang tadi sempat menggempur keprofesionalan dalam relung hatinya sebagai seorang dokter ahli kandungan.
Berhasil turun dari meja operasi, Anna bergegas memakai mantel dan kaca mata hitamnya. Cepat ia meninggalkan ruangan itu. Alfin dan Dodi hanya berdiri kaku. Tak saling memandang, hanya mencoba memahami apa yang tengah terjadi. “Ya Allah, ampuni kami…” bisik masing-masing hati, lirih.
Namun hanya sejenak saja kebekuan nan hening itu tercipta, ia langsung buyar tatkala terdengar bunyi berdebam keras dari luar. Belum sempat Alfin dan Dodi berlari keluar, suster telah masuk ke dalam ruangan praktek Alfin, terengah-engah, berusaha mengeluarkan serangkaian kata-kata, “Dok, Ibu Anna jatuh.”
* * *
“An, Anna! Bangun, An! Anna…”
Kurasakan tubuhku diangkat oleh kedua tangan hangat itu. Lalu pikiranku melayang begitu jauh. Semakin jauh, dan tak tergapai…
Sepasang mata yang menggendong Anna hanya bisa memancarkan sinar lemah. Berdoa keras, mengharap keajaiban dari Tuhannya akan terbukanya sebuah pintu lautan maaf dan ampunan bagi sang mutiara. Mutiara cinta.
“Menjadi apapun dirimu… bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakin kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang, melati yang senantiasa mewangi, kupu-kupu yang gemulai, mutiara yang indah, atau apapun yang kau mau. Hanya tetaplah sadari siapa dirimu? Dan tetaplah sadari kehambaanmu…?”

Surakarta, 29 September 2006

Jumat, Desember 05, 2008

Rambut Batre

“Hentikan, James!” Selorohku, lalu menghempaskan tangannya yang tak henti-hentinya memegang rambutku. “Ntar, rontok semua!” sambungku.
Dia hanya tersenyum usil. “Aku suka rambutmu! Meski tak sebagus seperti model iklan shampo di TV. Rambutmu memberiku energi…”
Aku melotot. “Emangnya rambutku batre?”
“Yeah, tebakanmu tepat. Rambutmu seperti batre, batre yang bisa membangkitkan gairahku untuk selalu mencintaimu…”
“Iih, gombal banget sih! Gak cocok tau ngomong kayak gitu di zaman sekarang.”
James hanya menatapku. Aku tersipu, aku tak pernah tahan dengan sorotan matanya yang kelam, penuh kekuatan untuk menjatuhkanku. Sehingga tak sadar, dadanya telah menopang kepalaku. Lagi-lagi ia memegang rambutku. Kulit kepalaku terasa gatal. Tapi sudahlah, dia memang keras kepala…
*
Belanjaanku terasa berat. Aku hampir melepaskan sebuah kresek yang berisi persediaan pembalutku untuk bulan depan. “Ups!”, lalu aku berhasil menggenggamnya lagi. Aku tak bisa membayangkan bila pembalut itu tiba-tiba meluncur, apalagi bila ada cowok yang melihatnya.
Ya, walau bagaimanapun “hal” itu tetap tabu. Meski ada iklan TV yang membuat itu se”biasa” mungkin. Itu wagu.
Kakiku kembali melangkah. Beberapa langkah lagi aku akan bertemu eskalator yang akan membawaku turun. He he, eskalator yang lucu!
“Lucu?!”
Tiba-tiba saja, semua kresek yang kupegang terlepas dari genggamanku. Termasuk pembalutku yang malah keluar lebih dulu.
Aku hanya menoleh ke arahnya. Pada orang yang berada di eskalator yang berlawanan. “James..???”
Dia menoleh, terkejut menatapku. “Rambut batre?” ujarnya.
Gadis yang mirip model iklan shampo itu pun menoleh, melihatku sinis, entah apa yang ia ucapkan selanjutnya, kami sudah terlanjur saling menjauhi…
Kakiku mati rasa. Aku hanya bisa duduk sesampainya di bawah, huk, menahan sesak di dadaku.
Biarkan aku menangis. Biarkan orang mengasihani aku atau menganggap aku bodoh karena menangisi salah satu dari sekian banyak pria yang bisa dimiliki. Biarkan aku…
Aku terus menangis, tersedu-sedu. Aku tak peduli dengan belanjaanku yang buyar atau mungkin sudah hilang diambil orang.
Entah sudah berapa lama aku menangis. Aku tak sadar.
Aku sendiri merasa aneh, mengapa tidak ada orang yang turun dari eskalator di atasku. Aku menoleh. Semuanya antri menggunakan lift.
Aku mencoba bangkit. Bangkit dari jatuhku, lalu mulai melangkah…
“Maaf, ini belanjaan Anda..”
Aku menoleh. Kresekku?
Hingga akhirnya, laki-laki itu mengantar aku pulang. Usai mengucapkan terima kasih, aku menutup gerbang, entah apakah juga menutup pintu hatiku…
*
James tak pernah menghubungiku lagi setelah itu. Aku pun sudah terlalu muak untuk mencari tahu akan keberadaannya. Aku tidak peduli!!
Entah, apakah dia sekarang sudah jadi raja minyak, sudah jadi presiden, atau sudah jadi mayat juga, aku tetap tidak peduli.
Dia benar-benar tidak menghargai keberadaanku selama ini. Selama ini… tiba-tiba semua terhempas begitu saja. Terlalu banyak mosi tidak percaya dalam jiwaku hingga pada akhirnya aku lihat bukti itu. Aku takkan pernah memaafkanmu lagi, James…
*
Sore itu aku tengah tidur-tiduran, mendengar lagi alunan Shiva yang sangat penuh derita tapi menyimpan berjuta harapan untuk bertahan. Lalu, suara bel terdengar. Meski terasa terusik, aku pun membuka pintu.
“Kamu?” aku merasa lupa-lupa ingat pada sosok dihadapanku. “Aku Freddy yang di mall…”
“Oh ya, aku ingat!” Aku tertawa, tertawa atas ketololanku malam itu. “Ada keperluan apa nih?”
“Saya hanya mengantarkan manajer saya untuk bertemu Anda?” Freddy melangkah ke samping lalu sosok di belakangnya menatapku.
Aku tergagap…
Tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Michael???”
Ia tersenyum penuh arti padaku. “Masih butuh pelukanku, Fa?”
Aku hanya menggeleng tak percaya, lalu aku berlari ke dalam pelukannya. Semua terasa hangat. Beban dan semua tekananku tadi entah sudah hilang ke mana. Pergi…
*
Freddy menunggu di luar. Sedangkan Michael berada di dalam rumah bersamaku.
“Patuh sekali dia… kok gak mau disuruh masuk?” Ujarku heran melihat Freddy betah diselimuti dinginnya udara malam.
“Dia pegawai yang setia, Fa” jawab Michael.
“Oh… Eh, kok kamu tahu kalo aku yang ditolong Freddy?”
Michael tersenyum.
Aku tahu segalanya tentangmu, Fa. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk masuk dalam kehidupanmu. Aku hanya tidak mau kau terganggu akan kehadiranku.
“Maksudmu?”
“Apa perlu kukatakan lagi, apa kehadiranku di sini tidak cukup untuk membuatmu bahagia?”
Aku tidak mengerti kata-kata Michael tapi aku memang sangat bahagia melihatnya ada di hadapanku sekarang.
Kami saling bercerita mengingat masa lalu, tertawa…
*
Kulihat album tua di kamarku. Masa kuliah di Rotterdam… Ada aku berdiri di antara James dan Michael. James, pacarku sejak di kuliah itu, kami selalu putus, dan menyambung, hingga akhirnya seperti ini. Putus atau tidak, aku pun tidak tahu…
Aku tak mengerti mengapa, mengapa kehadiran James selalu membuatku memberinya kesempatan-kesempatan… Luka-luka itu berulang karena hal yang sama, sumpah yang sama…
Dan Michael adalah sahabatku. Dia selalu hadir saat aku terluka… Dia sangat mengerti aku, hingga akhirnya dia pergi saat aku memutuskan untuk menjalin lagi hubunganku dengan James untuk yang kesekian kalinya…
“Semoga kau bahagia, Fa. Aku harus belajar di negeri yang jauh. Sampai jumpa…” ujarnya saat itu.
Tapi, ternyata dia tak pernah pergi jauh dariku, hanya aku yang tak menyadari kehadirannya.
‘Michael, aku sayang kamu…” ucapku tak sadar lalu memeluk album itu.
*
Siang ini, aku akan ke mall lagi, menemui Michael.
Aku melangkah perlahan, satu, dua…
‘Hai, Michael…” seruku sambil tersenyum ceria. Michael beranjak dari belakang mejanya yang besar, lalu orang yang berada di kursi tamunya pun menoleh padaku.
“Fa! Kejutan sekali, kamu gak ada acara hari ini? Kita lihat-lihat apartemen aja, gimana?”
Aku terdiam.
“Fa? Ada apa?” Michael mengikuti sorot mataku. “Oh iya, kenalin Fa. Ini Coreen, calon model untuk produk shampo yang akan aku keluarkan. Dan Coreen, ini Vardhefa, gadis yang paling aku sayangi. Fa, kamu udah kenal?”
Aku hanya menggigit kuat gigiku. Ingin kutendang perempuan itu. Ingin sekali… dia perempuan yang bersama James di eskalator itu. Tapi, yah aku tetap berjabat tangan dengannya…
Kemudian, perempuan itu pun pergi. Michael memutuskan untuk melanjutkan urusan mereka di hari lain.
“Bukankah itu urusan yang penting? Kenapa bukan aku saja yang disuruh pergi…” sungutku.
Michael tertawa. “Mereka semua tidak ada apa-apanya dibanding kamu Fa..” Lalu, Michael merengkuhku, menghembuskan rona jingga yang memaksa mataku untuk tertutup, hingga rasa itu kualami… Michael telah memasangkan sebuah cincin perak di jari manisku.
*
Pagi ini terasa berbeda, saat kubuka mataku Michael sudah menyambutku dengan senyum. “Kau kini milikku seutuhnya, Fa. Aku takkan melepaskanmu. Kau juga takkan pergi dariku kan? Percayalah, aku akan selalu membuatmu bahagia…”
Aku percaya. Percaya pada Michael, suamiku. Suamiku? Yah, kami sudah menikah tadi malam dan tak salah kan bila kini ia memegang rambutku, dan melakukan “hal” lain yang ia inginkan…
Michael menatapku, menyentuh kerinduanku… tak kan pernah terlintas dalam benakku bila semua itu ia dapatkan dengan mengorbankan uang sebesar 20.000 Guilder…
***

Kisah Bakery Tua

“Gus, laper banget, nih…”
“Hah?” Konyol pacarnya yang baru terjalin satu minggu itu.
“Iya, laper! Tuh, denger… cacing-cacing dalam perutku udah pada cekikikan…”
“Hah?” Cueknya lagi.
Venty mendelik kesal. Pacarnya yang satu itu emang asli cuek. Nggak ada romantis-romantisnya, apalagi care-care-nya. Heran, kok mereka bisa jadian.

Mereka masih menonton pertandingan Liga SMU itu dengan menahan lapar. Sampai akhirnya, tim yang mereka dukung tak kunjung menciptakan gol, dan rasa lapar pun makin meraja lela.
“Yuk, cari makan!” Ajak Agus tiba-tiba.
Venty menoleh. “Apa?”
“Makan! Makan! Yuk!” Agus yang telah berdiri duluan itu mengulurkan tangannya.
Masih dengan rasa terkejut melihat uluran tangan itu yang selama ini tidak pernah dilakukan, Venty lalu menyambutnya.
Mereka berjalan ke luar stadion yang pengap dengan orang-orang.
Sampai di luar, mereka tidak bisa menemukan tempat makan satu pun. Akhirnya, mereka berjalan menyusuri dinding luar stadion.
Setelah hampir mengelilingi stadion itu, di ujung jalan tampak sebuah toko kecil dengan tulisan “BAKERY” besar di atasnya.
“Ven, kamu mau roti?” Tanya Agus.
“Mana yang jual?” Venty terdengar kesal ditambah rintihan perutnya yang kelaparan.
“Itu!” Tunjuk Agus.
Mereka lalu berlari menuju bakery itu. Tapi tiba-tiba, langkah Venty terhenti.
“Gus, aneh. Kok ada bakery di tempat sepi begitu. Eh, nggak jadi aja, yuk. Aku nggak jadi lapar nih…”
Agus melihat Venty ragu. Saat itu Venty terlihat benar-benar kelaparan. Kasihan sekali.
“Udah, tenang aja. Biar aku yang ke sana. Kamu di sini aja, ya…”
Venty hanya diam. Entah mengapa rasa takut tiba-tiba mendera perasaannya. Ia hanya menatap punggung Agus khawatir yang kini telah memasuki bakery itu.
Venty menanti Agus dengan cemas. Sudah setengah jam lebih ia menunggu. Tidak mungkin selama itu. Apa yang terjadi sama Agus?
Di antara rasa takutnya, Venty pun akhirnya memberanikan diri untuk memasuki bakery itu…

Bunyi lonceng pintu bergemericing, saat Venty masuk ke dalam. Pemandangan aneh di dalam ruang bakery itu makin menakuti Venty. Ia memandang sekeliling. Kursi-kursi tua dan berdebu tersusun di pinggir outlet kue dan roti.
Saat melihat outlet kue dan roti itu, Venty makin tercengang. Jenis kue dan roti itu pernah dilihatnya tapi yang pasti sangat tidak mirip seperti yang biasa ia temui di mall-mall.
Venty terus mengingat.
“Astaga! Kue-kue itu seperti majalah di perpustakaan sekolah. Tapi, majalah itu majalah tertua yang ada… terbitan tahun 70-an.” Venty makin tidak mengerti, apa yang terjadi.
Ia melihat kue-kue yang beraneka ragam itu. Bentuk-bentuk yang unik dengan warna-warna tua dan buram. Meski begitu, memang masih terlihat enak untuk dimakan.
Tiba-tiba, ia teringat apa tujuan utamanya memasuki bakery itu, Agus…
Dimana Agus? Ia tidak melihat Agus di sudut ruangan mana pun. Hanya seorang penjaga toko dengan baju seragam kotak-kotak biru putih yang terus memandangi Venty. Venty lalu mendekatinya.
“Mbak, lihat cowok yang kira-kira masuk setengah jam yang lalu nggak?”
Yang dipanggil mbak hanya memandang Venty bingung.
“Saya menunggu dia tadi di luar, dan herannya dia tidak ada di sini. Mbak tahu ke mana dia?”
Penjaga toko itu kembali bingung, lalu melangkah mendekati outlet kue. “Do you want buy bread or cookies?”
“Hah?” Venty tercengang. “Kenapa make bahasa Inggris segala, ini kan Yogya, Mlangi-Yogya. Kenapa bahasa Inggris? Kalau bahasa Jawa atau Arab masih masuk di akal.” Batinnya.
“No, I just looking for my friend. Do you see him?”
“Your friend? Sorry, I don’t know.” Jawabnya.
Venty curiga. Tapi ia terlalu letih dan kelaparan. Namun, ia tidak mau membeli kue atau pun minuman. Ia hanya menuju sudut ruangan, menunggu Agus…
Sore sudah berganti malam. Venty malah tertidur di ruangan aneh itu. Tiba-tiba, ada yang membangunkannya.
“Mbak! Mbak! Maaf, tokonya mau tutup.”
Venty langsung terbangun. “Hah? Mau tutup ya?”
Venty beranjak, tapi saat menoleh pada orang yang membangunkannya, ia sumringah seperti orang gila.
“Agus!!? Kamu kemana aja? Aku tungguin dari tadi. Yuk, kita pulang…” Venty meraih tangan Agus dan mengajaknya keluar.
Tapi yang terjadi kemudian adalah hal yang lebih mengejutkan lagi. Agus tidak mengenali Venty!
“Maaf Mbak, saya tidak mengenali anda. Kok mau mengajak saya pulang?”
“Agus, kamu kenapa sih?”
“Hah?”
Kebiasaan Agus yang dulu dibenci Venty itu, kini malah membuat Venty senang. Iya, dia benar-benar Agus yang disayanginya, tapi ada apa dengan dia sekarang.

Venty tetap meraih tangan Agus dan menyeretnya keluar. “Ayo pulang, sudah malam, nanti Pakde marah…”
Dengan kasar, Agus malah melepaskan tangan Venty. Venty terkejut bukan main. Apa yang terjadi pada Agus?
Tadi, adalah hal yang mustahil terjadi. Meski Agus orangnya cuek tapi ia tahu bila cowok itu sangat mencintainya. Iya, tidak perlu dikatakan lagi, Agus memang sangat mencintai Venty sejak beberapa tahun yang lalu.
“Gus… Kamu kenapa?”
“Maafkan saya. Tapi kami harus tutup sekarang.”
Dia lalu bahkan menyeret Venty untuk keluar. Venty meronta.
“Gus, kamu kenapa sih?”
Agus hanya menatap Venty dengan tatapan kosong. Lalu kembali menyeretnya keluar. Sampai di depan pintu, Venty yang hampir didepak ke luar berhasil melepaskan tangannya.
“Aagh, kamu kenapa sih, Gus?”
Tiba-tiba mata Venty terasa panas. Ia menangis. Agus masih menatapnya kosong dan tidak mengerti.

“Gus, ini aku… Venty, pacar kamu. Kenapa kamu tidak mengenali aku? Katamu, hanya aku yang ada di hati kamu sejak 6 tahun yang lalu. Sebenarnya, aku juga sangat mencintaimu Gus. Sama… sejak 6 tahun yang lalu. Tapi sebagai cewek, aku hanya bisa menunggu… Akhirnya, Indra datang… dengan berat hati aku menerimanya karena kupikir kamu tidak punya perasaan apa-apa padaku…”
Venty terus berbicara, meski Agus tetap tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
“Dan akhirnya, aku dikecewakan Indra dengan orang ketiga, dan saat itu kamu pun sudah punya pacar… Gus, kamu ingat ini?”
Venty mengeluarkan liontinnya yang berbentuk diamond yang bermakna Agus dan Venty.
“Kamu memberikan ini padaku… satu minggu yang lalu. Kamu ingat? Secara tidak sengaja liontin ini terlepas dari leher kamu dan jatuh di hadapan aku… Simbol ini kan? Yang dibuat teman-teman saat menjodohkan kita di SMP dulu. Yang kamu benci… tapi ternyata kamu malah membuatnya dan selalu memakainya…”
Mata Agus mengerjap-kerjap. Dia seolah-olah mulai kembali normal. Saat begitu, tiba-tiba penjaga toko bakery itu mendekati mereka.
“What happen? I’m sorry Miss. We must close now. Please, leave this place.” Ia mendorong Venty hingga keluar. Venty terkejut sampai akhirnya ia nekat.
“Tidaaakkkk!!!!!”
“Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Gus… Aku mencintai kamu!!”
Didorongnya kembali pintu itu dengan kuat, hingga penjaga toko itu jatuh terjengkang. Ia berlari menuju Agus yang memandangnya heran dan bingung.
Venty memeluk erat Agus…

Agus hanya diam.
Venty kemudian menatap Agus… Memegang pipinya, lalu mencium bibir orang yang sangat disayanginya itu. Lama… dan tidak mau berhenti.
Venty tidak peduli pada apapun yang terjadi, yang penting ada Agus di sisinya. Perlahan Agus pun membalas ciuman itu…
“Venty?” Ujarnya.
Venty menatap Agus, terkejut.
Tapi belum selesai terkejutnya, kini Agus yang aktif menghujani Venty ciuman…
Perlahan, sekeliling mereka dipenuhi cahaya kembang api, lalu gelap. Keduanya masih berciuman, saat tiba-tiba…
“Adik-adik, ini tempat umum lho..!”
Venty dan Agus membuka mata mereka yang terasa silau. Sampai akhirnya, teriakan keras kembali mengejutkan mereka.
“Goolll!!!!”
Tepukan meriah memenuhi stadion. Agus tak berhenti menatap Venty sambil tersenyum…

TAMAT

Cinta di SMU Plus N 17 Palembang

“HH… Aku pulang, Jok!”
“Ni, nggak ikutan makan model? Ini urusan perut, ntar kamu nyesel.”
Aku menggeleng, “Bagian aku buat kamu aja. Aku lagi nggak nafsu…”
Bejok memandangku kesal. Sejak pertama, dia memang tidak suka bila aku masih memikirkan lelaki itu. Aku terlalu bermimpi katanya. Aku tidak cocok dengan dia, dengan temanku yang paling istimewa sejak di SMP, Saphoe. Dia menyuruhku untuk mencari yang lain. “Kan banyak Ni yang suka sama kamu. Kenapa sih masih nungguin dia?” ujarnya suatu ketika.
Tapi, aku cuma bisa menggeleng lemah. Aku sudah pernah mencoba tapi sia-sia. Aku masih memikirkannya. Dia begitu berarti dalam hidupku. Tak ada yang kan mengerti akan perasaan ini.
Aku urung untuk pulang, aku menuju kelas perwalianku, sekedar duduk, sekedar mendiamkan diri sejenak.
Aku terus memandangi tumpukan buku-buku di ruang Tata Negara itu. Sesekali memandang keluar kelas. Sepi, sebagian besar anak-anak sudah pulang. Aku masih menyendiri. Aku agak syok dengan kejadian ketika jam istirahat tadi.

* * *

Semula, aku akan ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Tapi gara-gara kebelet, jadinya aku ke WC terlebih dahulu. Satu, dua, kulangkahkan kakiku perlahan. Sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan, aku melihatnya.
Di bawah kerindangan pohon beringin sekolah, kulihat tiga orang adik kelas I putri menghampiri sekelompok anak-anak putra kelas III IPA yang biasa nongkrong di sana. Klise, di antara ketiganya ada yang terlihat malu-malu, sedang yang lain terlihat genit memberikan semangat. Sok jadi Mak Comblang yang profesional.
Semula ingin kuanggap angin lalu. Namun, aku terkesima saat melihat cowok yang didorong-dorong untuk menerima sebuah amplop berwarna pink itu. Dia, dia… “Saphoe”.
“Jangan terima! Jangan terima!” teriak hatiku saat melihat Saphoe bimbang, memandang ragu untuk mengambil surat itu.
Sampai akhirnya, hatiku hancur berkeping dan tak bersisa saat menatapnya dengan menahan ribuan rasa kecewa dan cemburu yang membara.
Yah, Saphoe mengambil surat itu yang serta merta diikuti sorakan seluruh anak-anak.
Muak, muak, aku sungguh muak. Tapi, itu kan artinya aku sudah terbebas dari janjiku… Sayang, saat itu aku masih sangat terkejut. Buku yang kupegang, tiba-tiba jatuh dan menimpa sebuah gelas yang tergeletak begitu saja di ujung lorong WC sekolahku.
“Praaang!”
Aku terkejut, tak cuma aku, semua mata itu pun menatapku. Aku ingin berlari, namun tak bisa. Aku harus membuang pecahan gelas itu terlebih dahulu.
“Oh..!” Jeritku tertahan. Telunjukku berdarah, tergores pecahan kaca saat aku memungutnya. Bergegas aku menyelesaikannya, lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Tapi sebelumnya, refleks aku melihat ke arah Saphoe berdiri.
Ia semula tidak melihatku, namun saat itu secara refleks ia pun melihatku. Aku diam, lalu mencoba tersenyum manis padanya. Dia kaku, tak berekspresi. Lalu, aku pun berlalu dari situ.

* * *

“Hei, ngelamun aja. Belum pulang, Ni?” Ozzy menegurku tiba-tiba, ia masuk ke dalam kelas.
“Masih ada keperluan sedikit,” ujarku sambil membuang muka, menghapus air mata yang tak kusadari mengalir begitu saja.
“Kamu kenapa, Ni?”
“Ah, nggak apa-apa, kok. Ehm, kayaknya keperluanku udah selesai. Zy, aku pulang duluan ya..?” Segera, setelah memanggul tas punggung yang terasa berat, aku keluar dari kelas itu.
Tapi, tangan itu tiba-tiba menarik tanganku.
“Kalau kuantar, bagaimana?” tawarnya.
“Oh, nggak usah. Terima kasih, Zy.”
“Ni, kamu kenapa sih. Masih marah ya?”
“Nggak, kok!” jawabku datar.
“Aku cuma ingin mengantar kamu. Nggak ada salahnya kan, Ni? Dulu kamu juga sering kuantar kan!”
“Bukankah aku selalu bilang, kalau di sekolah, kita harus jaga sikap, Zy. Keadaannya udah nggak sama kayak dulu,” ujarku.
“Nggak sama gimana, Ni. Kita kan udah jadi temen sekarang. Kok kamu jahat gitu sih. Kamu nggak ikhlas maafin aku ya?” kejarnya.
Aku tersentak, mendengar Ozzy tiba-tiba ngomong seperti itu. Aku tak percaya, dia masih berani menyalahkanku.
“Sebenarnya, apa sih mau kamu?” tanyaku.
“Yah, aku ingin kita kayak dulu lagi. Bisa cerita-cerita, maen, saling curhat…”
“Stop, kamu mimpi, Zy!” teriakku, lalu melangkahkan kaki keluar. Ozzy, tiba-tiba menarik tanganku lagi.
“Maksud kamu apa, Ni?”
“Kamu keterlaluan!”
“Keterlaluan bagaimana, sih. Jelasin dong!”
Aku diam, menatap Ozzy sebentar, lalu menggelengkan kepala. “Kamu seharusnya bersyukur sudah kumaafkan dan masih kuanggap ada di dunia ini.”
Ozzy tersentak mendengarku berbicara seperti itu.
“Kamu masih ingat, siapa sih yang sudah menyebabkan adanya keadaan ini? Bukankah kamu yang menginginkan aku untuk pergi. Kamu membuang aku, bukan untuk kali pertama tapi sudah untuk yang kedua kalinya. Kamu pikir aku apa Zy? Apa? Aku masih punya harga diri,” lanjutku.
“Tapi, Ni… bukankah kita sudah sepakat untuk melupakan masa lalu yang buruk, cukup mengingat yang baiknya saja…”
“Huh, tentu saja bagi kamu mudah, karena semua masa lalu yang buruk itu kamulah penyebabnya. Apa sih yang mesti dibanggakan dari hubungan kita. Dua kali, Zy. Dua kali… kamu mutusin aku gara-gara orang ketiga. Kamu pikir aku cewek nggak laku apa. Dasar playboy brengsek! Udah, kalau kamu nggak nerima perlakuanku sekarang. Silahkan benci aku dan nggak usah temuin aku lagi!”
Aku bergegas melangkahkan kaki keluar. Hampir, hampir aku mencapai pintu. Ozzy lagi-lagi menarik tanganku. Tidak berhenti sampai di situ, tiba-tiba ia memelukku. Erat.
Aku meronta.
“Aku sangat mencintaimu, Ni. Aku kehilangan kamu. Maafin aku…”
“Lepasin aku, Zy! Kamu gila ya?”
“Aku tahu, kamu pasti masih mencintaiku juga kan?”
“Lepasin, brengsek!” teriakku. Tapi, pelukan itu makin erat.
“Aku tahu, kamu setia padaku seperti dulu. Kamu belum punya penggantiku karena kamu masih menantikan aku kembali kan?”
Aku tertawa. Ini lucu.
“Kenapa kamu tertawa? Aku benar kan?”
“Ha.. ha.. ha.. Kamu nggak cuma brengsek tapi juga bodoh. Lepasin aku, dan aku akan jawab, apakah aku masih menantikan kamu, apa tidak!”
Perlahan Ozzy melepaskan pelukannya. Aku merasa lega sekali, meski tubuhku masih terasa sakit karenanya. Lalu, aku mulai mengatakan padanya semua apa yang ada dalam isi hatiku.
“Zy, aku sudah mengubur semua masa laluku tentang kamu. Sedikit pun, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padamu. Jika ingat betapa setianya aku menjaga cinta kita dulu, sungguh aku semakin jijik kenapa aku pernah merasakannya. Asal kamu tahu, Zy.. aku tidak punya pacar sekarang karena aku sudah berjanji dengan seseorang. Aku berjanji untuk tidak pacaran sampai aku tahu bila dia sudah punya pacar. Atau mungkin, sampai dia… dia… menjadi pacarku.”
Ozzy sangat terkejut mendengar ucapanku. Ada kecewa yang bergelayut di matanya. Sedikit banyak aku merasa puas dengan keadaan kami sekarang, memang sudah terbalik jika dibandingkan dulu.
“Udah puas? Dan sekarang, jangan halangi aku untuk pulang!”
“Marni! Tolong katakan siapa dia?”
Aku menatapnya kasihan.
“Untuk apa kamu tahu, sekarang kita tak punya kepentingan untuk saling mengurusi. Kita sudah berjalan di alur kita masing-masing. Kalau pun aku kini kembali ke terminal tempat aku memulai perjalanan cinta ini, itu karena aku tahu, di sanalah tempat aku berlindung. Dia menghargai kehadiranku meski ia selalu diam. Aku tidak akan bisa melupakannya, sekalipun ia tak pernah menjadi pacarku.”

* * * * *

Bayu-dee Long Hair

Tok.. Tok..
“Cek Niii…”
Terdengar suara dari balik pintu kamar kostku. Aku menutup komik Madoki! yang kubaca untuk kedua kalinya, meletakkannya di atas bantal, lalu membuka pintu. Ketika pintu kubuka ada Noang, adik kost lucu asal Bengkulu. Kepalanya melongok masuk, “Ada si gondrong…”
Haa??
Belum habis rasa terkejutku, Noang dengan senyum jahilnya mulai menghiasi tirai telapak kaki pintu kamarku yang memang sudah meriah. Akhirnya aku mengucapkan terima kasih, lalu kembali menutup pintu.
Whats!?
Aku bergegas mengganti pakaian rumahku dengan pakaian muslim. Ada tamu cowok di luar, seperti biasa aku harus menyesuaikan dengan kewajibanku. Memakai jilbab, meski pakaianku memang tidak seformal saat kuliah. Aku mengenakan celana hitam ‘popok’, sweater pink, dan jilbab langsungan favoritku. Agak lama menyakinkan diri untuk keluar, menahan debar yang tiba-tiba hadir, menghembuskan nafas sekali, lalu aku membuka pintu…
Di sana, di atas bangku panjang hijau, dia menoleh dan menatapku…
“Hai, Yud…” ujarku terbata, tak bisa menyembunyikan raut bahagiaku karena kemunculannya di kostku malam ini.
Aku hanya tersenyum aneh. Masih tak percaya dia ada di hadapanku sekarang. Begitu jelas dengan rambut gondrongnya dan gayanya yang begitu khas. Kurasakan mataku pasti tengah berbinar menatapnya. Dan tak sungkan aku untuk menutup mulutku sambil menatapnya tak percaya, dia datang ke kostku…
Aku tak terbiasa dengan kebahagiaan. Semua itu begitu indah…
“Hai, Nith… Lagi apa? Hey, kok malah senyum-senyum…” ujarnya manis.
“Ee, tidak lagi apa-apa,” masih dengan nada senang yang tidak bisa kututupi. “Yud, kok bisa ke sini? Ee… karena sms-ku ya?”
“Ah, gak juga. Aku cuma ingin urusan tugas kita cepat selesai. Gimana, gak bisa dibuka ya? Padahal ada yang di Corel Draw 11 lho.”
Oh… kurasakan dia sangat peduli dengan tugas kelompok mata kuliah Produksi Multimedia kami. Tepatnya aku, dia, Devi dan Inus. Mata kuliah yang aneh tapi malah menciptakan masa-masa bahagia buatku. Masa-masa duduk di komputer bersebelahan, makan besar di Pizza Hut, juga telfonan itu.
Sebelum melanjutkan obrolan lebih panjang, dia yang hadir bersama temannya, Ivan kuajak untuk duduk di ruang TV. Kami lalu ngobrol di situ.
“Ya, gitu Yud. Tadi sepulang kuliah, aku langsung buka disketnya. Tapi gak bisa. Aku malah buka yang lain-lain.”
“Mm, kok gak bisa dibuka ya? Ya udah, sekarang catat aja nama-nama kelompok kita. Ntar aku desain lagi dan langsung aku print.” Jawabnya.
Aku masuk lagi ke kamar mengambil notes dan spidol. Aku menulis nama-nama itu di hadapannya. “Nama siapa aja nih?” Kataku bermaksud menarik perhatiannya.
“Nama kamu lah, trus Devi, dan yang laen”
“Nama kamu?”
“Oya, gak perlulah masa aku gak ingat namaku sendiri.”
Hehehe… aku sedikit terkekeh, lalu mulai menulis…

Sumarni Bayu Anita (03030)
Devi Oktavia HN (02996)
Yustinus W. Wea (03129)
Yudi Apriliansyah (03011)

“Nih!” Kataku sambil menyodorkan robekan notes IM3 itu.
Yudi mengambilnya, “Jadi aku semua yang mendesainnya ya? Ntar kalo jelek ya terima aja kan?”
Aku tersenyum, “Aku yakin bagus kok!”
Sesekali aku mengajak Ivan ngobrol, sekedar mengalihkan sejenak pandanganku dari Yudi. Yah, mataku memang gak bisa melepasnya lama. Aku suka menatapnya…
“Yud, kamu ke sini karena sms-ku ya? Bener kan isi sms itu…” ujarku akhirnya yang sejak awal menahan pertanyaan itu untuk mengalir dari bibirku.
“Ah, gak. Kamu gak ada salah kok. Tadi itu, aku buru-buru bangun tidur, mandi trus mau ngerjain company profile yang baru 8 lembar. Aku juga mesti mbantuin Mbak Indah. Jadi pas ketemu, aku maunya langsung ke lab. Yah, gitulah…”
“Ah, bohong. Aku mesti ada salah…”
Lalu, setelah hampir tiga kali bermain-main dengan kalimat itu, lagi-lagi dengan gaya khasnya, ia berujar, “Ya udah, kalo kamu mau bilang diri kamu bersalah. Oke, kamu bersalah…”
Toew!!! Dramatis banget…
Aku tersenyum geli. “Tapi Yud, kok kamu gak nelfon pas malam Senin itu…”
Yudi menatapku sebentar, “Nomor telepon kostmu hilang, Nith. Kan banyak sms masuk jadi kehapus..”
“Wah, kamu terkenal ya banyak terima sms,” sindirku.
Eh, dia malah tergelak mengiyakan. Lalu sigap ia mengeluarkan hp Nokia hitam-putihnya, “Berapa Nith nomor kostmu?”
Aku menatapnya.
Dia balik menatapku. “Ya, berapa?” ujarnya serius.
Deg!
Yah, diantara rasa jengkelku harus memberitahu nomor telepon kostku untuk yang kedua kalinya, ternyata masih tersimpan harapan dan rasa penghargaan yang tulus dalam hatiku. Laki-laki ini gak jahat, kok…
“55.. 79.. 29..”
“Yud, berarti kemarin aku sempet su’uzon ama kamu. Abis, kamu kan udah janji kalo aku sms, kamu nelfon… Tapi…”
“Nah, itu. Kamu gak boleh begitu. Gak baik itu…” Sekilas ia berceramah, bikin aku tertawa lagi. Bisa-bisanya ia begitu menarik minatku untuk mengenalnya lebih jauh.
Yah, kubiarkan ia mendominasi pembicaraan yang ada. Aku selalu bertanya dan ia menjawab. Kuakui diantara kami memang masih sangat kaku. Dudukku saja begitu sopan, tingkahku begitu tertata, senyumku tak pernah lepas. Aku ingin membuat kesan yang baik. Hh, apakah ia berpendapat sama? Aku tak tahu…
Hingga pertanyaan tentang tugas proposal riset kehumasan yang kuajukan karena hasil tugasnya yang sempat kulihat di disket cukup oke, ia menjawab bahwa ia berkonsultasi terlebih dulu dengan Maya sebelum dikumpulkan. Ada yang bergolak. Ia berkata dengan nada datar. Tapi saat masuk ke telingaku terasa begitu keras. Ia menyebutkan sebuah nama…
Huh, apa mauku? Apa salahnya ia menyebutkan satu nama, bahkan sejuta nama perempuan lain di hadapanku. Apa peduliku? Apa yang ada di antara kami? Tak lebih dari sekedar sobat kan?
Benarkah aku tulus dengan kata ‘sobat’ yang kutawarkan padanya? Well, aku terbukti mampu menarik perhatiannya. Langkah awalku kurasa sudah tepat, tapi langkah berikutnya? Harus kuakui aku begitu takut menjalaninya. Akan jauh lebih mudah bila aku berlari mundur dengan sembunyi di balik bantalku. Menciptakan mimpi-mimpi semu seperti yang selama ini aku lakukan. Huhuhu… Memprihatinkan…
Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB saat aku mengantarkan Yudi pulang. Dari belakang gerbang aku seraya berkata, “Hati-hati ya, Yud..” Lalu dijawabnya dengan senyum dan anggukan. “Pulang dulu ya, Nith… Assalamualaikum…”
“Wa’alaikumsalam,” balasku. Lalu melangkah perlahan ke kamar.
Oh, God! Makasih… Kau bikin aku bahagia malam ini…
Aku masuk kamar masih dalam senyum. Aku bercermin, menyakinkan diri bahwa yang kualami bukan mimpi. Ini nyata, nyata bahwa orang yang perlahan tapi pasti memasuki relung hatiku ini barusan saja hadir di kostku.
Jengah harus kutahan perasaanku agar tak terlalu berbunga-bunga. Ngeri bila kuingat suatu masa aku telah merasa terhempas gara-gara Yudi untuk pertama kalinya. Yah, gara-gara dia tidak menelfonku, padahal ia janji kalau aku sms minta ditelfon, dia pasti nelfon… Aku merasa dibohongi. Itu sakit juga ternyata…
Kubuka sms yang kukirim buatnya jam 18.24 WIB tadi. Kuyakin, meski Yudi berdalih ia ke kostku karena arah yang sama dengan rumah temannya. Atau bahkan menyatakan ia berspekulasi untuk kehadirannya yang tanpa pemberitahuan ini. Tetap kuyakin, sms inilah yang membuatnya datang.

“Yud,jd gmn dong?Coverny?Yud,knp sih km dingin gt?Ak ad slh y?Ak cm pngn sobatan aj,kok..Ak pkr bs.Trnyt gk bs,y?Ak mmp y km mo ke kos,nlfn aj ogah..Hh,gpp sih.”

Kukirim dengan sisa-sisa keyakinan perasaan sukaku akan bertahan. Kukirim dengan doa terakhir semoga masih ada harapan. Namun aku pun kemudian sibuk menekuni komik Madoki! yang begitu menarik perhatianku. Lalu, hingga 45 menit kemudian Noang mengetuk pintuku. Aku benar-benar melonjak. Ternyata kasih Tuhan itu masih ada. Lihat, aku yang sebelumnya begitu tak mengakui masih ada kisah menarik dalam hidupku, tiba-tiba saja halusinasi itu hilang. Adrenalin beserta hatiku mulai bergerak bersama lagi.
Namun semua masalah tak selesai begitu saja. Resah itu kemudian juga menyergapku kembali. Menghantui asa yang ada di dalam hatiku. “Betulkah aku menyukai Yudi?”
Setelah agak lama mendekam di dalam kamar, kubuka pintu kamarku, ada Noang duduk di ruang TV. Dia melihatku dengan gaya usilnya, “Cek Niii, gimana tadi si gondrong. Ayo dong cerita-cerita…”
Hah? Apa yang harus kuceritakan? Bisakah hal yang biasa ini kuceritakan ulang menjadi cerita yang luar biasa?
“Cerita apa Noang?” ujarku akhirnya lalu duduk juga di kursi.
“Yang tadi Cek. Wah, tau gak Molen tadi dia duduk di tempatmu sekarang lho…” Noang berujar semangat kepada Molen, adik kostku yang satu SMU dengan Noang.
“Yah, gitulah. Banyak hal yang diobrolin tapi aku gak tau… Kayaknya aku gak bisa terlalu berharap, kita cuma bisa sobatan deh. Banyak yang suka dia… Tadi aja dia menyebut nama Maya yang selama ini membantu dia bikin tugas.”
“Yaaaa…. Cek Niii, kok cak itu sih. Ngapain peduli dengan pendapat orang lain, toh yang ngerasain kita. Mereka gak tahu apa-apa Cek. Ayolah, jangan cuma gara-gara Maya lalu Cek mundur. Rugi Cek… membunuh perasaan yang ado di hati Cek sekarang.”
Ah, lagi-lagi kusebutkan nama itu. Nama pertama yang diceritakan Ayu sebagai orang yang menyukai Yudi. Well, haruskah kujadikan sainganku? Ah, bila aku seperti Yamazaki Tanpopo, pemeran utama di Madoki! pasti aku akan senang hati malah menjadikannya sebagai teman baik. Tapi apakah aku setulus itu?
Di lain pihak, kembali pertanyaan besarku menggantung, “Benarkah aku menyukai Yudi? Seberapa besar?”
Tiba-tiba Noang mengajukan pertanyaan yang mengejutkanku…
“Cek, siapa sih yang menciptakan cinta?”
Aku terdiam sejenak, “Yang Di Atas” jawabku kemudian.
“Lalu, pantaskah kita membunuh cinta? Cinta yang agung karena diciptakan oleh Sang Maha Agung.”
Perlahan aku menggeleng.
“So, biarkanlah cinta itu ada, tumbuh dan berkembang di hati Cek. Dan karena begitu agungnya cinta itu maka akuilah. Pengakuan itu untuk cinta itu sendiri bukan untuk diri Cek…”
Yah, aku mengakui apa yang dikatakan Noang benar. Aku jadi tersipu, selama ini aku selalu ketakutan bila cinta itu mulai tumbuh. Aku begitu berperang dengan harga diriku untuk mengakuinya.
Aku tak punya keyakinan. Aku begitu ragu dan bimbang…

“Ta, kalau kau memang suka padanya, kau harus punya keyakinan!”
“Kalau berjuang sekuat tenaga dan tetap percaya diri, kau pasti akan meraih apa yang kau inginkan!”

Perlahan kutarik tanganku menutupi mukaku. Dalam doa usai sholat Isya’ku, aku kini berharap semoga Tuhan membantuku menggapai cintaku.
Sejuta angan bermain di benakku. Aku tak ingin mengubah dirinya, aku suka dia apa adanya, meski ia gondrong, perokok, cuek dan sangat ‘santai’. Mungkin justru karena itulah yang menjadi kekhasannya. Yah, beri aku kesempatan untuk mencintai lagi, Ya Allah… Siapapun dia, asal ia peduli padaku... (Kamis, 17 Juni 2004; 02:18 WIB)

Catatan: Hohoho, nih kutulis sebelum pdkt ma Rud2, pokoknya abis putus dg yg SMA, trus nyoba deket lagi ma seorang sahabat tp gak bisa, baru ktemu Yudi, tp akhirnya ud tw kan, g bs jg, eh trus deket ma Rud2, pacaran deh smp skrg... Hee!

Robot Cinta

“Taruh di mana mawar-mawar putih ini?” Pewee sedikit berteriak padaku.
“Di sana saja, sudut kamar. Aku ingin ketika Hocney masuk ia akan langsung melihatnya. Oh ya, mana Fsodez? Aku tidak melihatnya sejak tadi?” mataku keluar jendela, mencoba untuk mencari Fsodez.
Pewee mendekatiku usai meletakkan belasan mawar putih itu. Ia memegang tanganku dan memaksaku untuk melihat ke arahnya.
“Geysee, apa kau bahagia saat ini?” tanyanya mengejutkanku.
“Ada apa Pewee? Mengapa pertanyaanmu aneh? Tentu aku bahagia. Hocney akan pulang dari kuliahnya, dan kami akan segera menikah, lalu menempati rumah ini,” jawabku dengan mata berbinar.
Mata Pewee meredup.
“Coba aku mampu membeli rumah sebesar ini, hingga kau mau menikah denganku…”
“Pewee?? Kamu bilang apa? Kemarilah…” Lalu aku memeluknya.
Entah mengapa, Pewee menangis dan serasa tak mau lepas dari tubuhku.
“Hey, kenapa hanya aku yang jadi penonton. Pewee lepaskan tanganmu, kau pikir hanya kau yang kehilangan Geysee…” Sebuah suara mengejutkan aku dan Pewee.
Aku melepaskan diri dari Pewee. Mendekati Fsodez yang tiba-tiba datang dari beberapa jam ini menghilang dari hadapanku.
“Aku ingin bicara denganmu,” ujarku, lalu kami menuju taman belakang. Kami duduk di kursi teras yang berwarna putih. Rumah ini memang penuh nuansa putih, bersih. Mendamaikan hatiku untuk menyambut hari jadiku dengan Hocney. “Fsodez, terima kasih kau mau datang hari ini. Bagaimana kabarmu dengan Futta?” Aku membuka pembicaraan.
Fsodez menoleh padaku, ia hanya menatapku lekat, lalu seperti Pewee, ia pun menangis. Aku tercengang. Ia tak perlu bersikap begitu untukku. “Aku tak menyangka kau akan benar-benar dimiliki oleh orang lain, aku menyesal meninggalkanmu… Kau begitu berharga. Kau seperti malaikat…”
“Fsodez???”
“Kau seperti malaikat, beruntung lelaki yang bisa memilikimu seutuhnya…”
Aku hanya bisa menggeleng perlahan. Aku menatap Fsodez.
“Please, detik ini aku ingin kau mulai belajar tegar. Pikirkan Futta, gadis yang pernah menolongmu dari kelumpuhan, sehingga ia yang harus menanggungnya. Pikirkan juga perasaanku.. Detik itu, kau meninggalkanku atas perasaan bersalahmu. Begitu mudah melupakan janji yang telah kita bina selama enam tahun. Detik itu, kau biarkan aku merasa terbuang atas rasa galaumu. Begitu saja lupa atas kenangan yang ada… Detik itu, aku sangat terluka…”
Fsodez beranjak dari tempatnya duduk, bersimpuh, “Maafkan aku, maafkan aku… Aku benar-benar kalut, dan aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk membalas kebaikan Futta padaku hingga harus meninggalkanmu…”
Aku menarik nafas sesak.
“Yah, tetaplah begitu. Aku pun kini akan meraih bahagiaku… Lupakan semua cintamu untukku, Futta lebih memerlukannya. Jangan sesali semua yang sudah terjadi. Percuma.”
“Tapi, Geysee kau mengambil keputusan ini terlalu cepat. Kita berpisah baru sebulan, tapi kau sudah memutuskan untuk menikah dengan Hocney…”
Aku melihat Pewee yang gelisah di dalam rumah, tak enak juga meninggalkannya sendirian. “Pewee, tolong bawa pizza di atas meja, kita makan bersama di sini!” Teriakku.
Aku beralih pada Fsodez, lalu tersenyum.
“Aku sudah tidak tahan untuk selalu membagi perasaanku…”
“Maksudmu?”
Pewee membawa sekotak pizza keju, meletakkannya di atas meja lalu duduk di sebelahku.
“Kalian lapar? Ayo, kita makan pizzanya sama-sama!” ujarku lalu mengambil satu potong.
Pewee menatap kosong, tatapannya sendu.
“Hey, Pewee! Apa yang kau pikirkan?”
Pewee menatapku.
“Fsodez benar, Gey! Kau terlalu cepat memutuskan untuk menikah.”
Aku mencoba menahan sesak di jiwaku. Jahat sekali, mereka membiarkan aku di dalam tanda tanya, suatu kepengecutan. Aku wanita, aku butuh pegangan.
“Kenapa kalian berdua? Pewee, kau dulu yang mengajarkanku untuk setia pada Fsodez, kau pun selalu menghindari pembicaraanku tentang perasaanmu terhadapku. Kau bilang kita hanya sahabat. Kedekatan kita dalam pengertian itu. Kau terlalu mengagungkan persahabatanmu dengan Fsodez kan? Hingga menahan perasaanmu sendiri? Dan akhirnya, aku bukan berakhir dengan Fsodez tapi orang lain…”
Pewee terlalu mengatur perasaannya.
Fsodez terlalu plin-plan.
Cinta mereka padaku terlalu besar, tapi mengapa tak tulus untuk menyerahkannya secara nyata padaku?
Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Aku beranjak untuk membuka pintu.
Saat kubuka pintu, Hocney sudah tersenyum.
“Hocney?!!”
Aku menyerbunya. Memeluknya.

*

Entah, bagaimana aku bisa tersadar.
Saat itu, di mataku, entah, di sebelahku ada Pewee bertelanjang dada.
“Apa yang kau lakukan di atas tempat tidurku, Pewee?” aku tak yakin dengan pandanganku.
Pewee hanya menatapku bingung.
“Kamu kenapa, Gey? Mimpi apa tadi?”
Aku mencoba mengingat, bagian mana yang sebenarnya menjadi mimpiku.
“Gey, apa perlu kita lakukan sekali lagi, sampai kau siap menemui Hocney dan Fsodez hari ini untuk makan pizza?”
“Apa?” Aku tambah bingung.
“Supriseee!!!”
Teriakan itu memenuhi ruang kamar.
Lalu, Hocney mendekatiku.
Aku menatapnya. “Apa yang terjadi Hocney?”
Hocney tersenyum. “Dokter bilang hari ini kau akan sadar dari komamu.”
“Koma?”
“Yah, kau lupa ya sudah menyelamatkan Fsodez dari truk itu, yang membuat dirimu sendiri terluka.”
“Apa? Hocney, apakah aku lumpuh?” tanyaku dengan nafas tertahan.
“Coba kau gerakkan tubuhmu.”
Aku menggerakkannya, untunglah semua bisa digerakkan. Tapi ada satu yang kurasakan tak berfungsi, ia lumpuh…
“Hocney… mengapa aku merasa tanpa kasih?”
Hocney tersentak.
“Apa maksudmu? Aku di sini mengasihimu…”
“Aku juga, Gey…” Pewee mendekatiku.
“Mana Fsodez?” tanyaku.
Hocney mengerutkan dahi. “Sebaiknya kau lupakan dia…”
“Kenapa, ada hubungannya dengan gadis yang bernama Futta?” tebakku.
Raut Hocney nampak gusar, “Mungkin…”
Aku mulai marah. Begitu teganya Fsodez melakukan semua itu.
“Geysee, kau percaya dengan mereka?” Suara Fsodez memasuki pendengaranku.
Aku mendongak.

*

“Geysee, bangun sayang sudah pagi.”
Aku tersentak. Hocney menatapku. Kepalaku terasa pening. Hocney mendekatkan bibirnya ke bibirku. Lalu menyentuhnya. Ups!
“Pagi ini kita keliling komplek yuk!”
“Kamu sudah sarapan?” tanyaku sekenanya.
“Belum, aku menunggumu.”
Aku bangun dari tempat tidur, Hocney memegang tanganku hingga meja makan. Sesaat aku tak bisa berkata apa-apa, di meja makan sudah ada Fsodez dan Pewee. Aku hanya menatap mereka. Mereka menikmati pizza di atas meja, aku tak berminat sedikit pun. Hingga akhirnya, Hocney yang lulusan elektro Jerman itu membuka piyamaku, baru aku sadari bahwa aku adalah seorang robot. Tubuhku hancur saat menolong Fsodez tapi hatiku masih bisa terselamatkan…

* * *

Kamis, Desember 04, 2008

Tentang Malam


Malam Pertama
“Udah dong, Din… Buka kadonya. Ini kan malam pertama kita. Kamu gak ingin…” Aldo menggantungkan kalimatnya. Wajahnya terlipat, agak kesal karena wanita cantik yang tadi pagi ia ikat dengan tali perkawinan itu tidak mengerti keinginannya.
“Din! Udah dong… Kan masih ada besok pagi,” Aldo berkata lagi dari atas tempat tidur yang masih menggunakan seprai dan sarung bantal khusus pengantin itu. Ada serangkaian mawar putih menghiasi setiap sudut ruangan, menambah keromantisan dan keeksotisan suasana. Dinding kamarpun masih dibungkus tirai putih dan manik-manik kristal biru, warna kesukaan Aldo dan Dina.
Dina masih saja diam, dia terus membuka ratusan kado yang diterima di hari pernikahannya dengan lelaki yang sebelumnya telah menjadi pacarnya selama tiga tahun itu. Ya, sejak Dina masih kuliah. Tapi entah apa yang ia rasakan sekarang, ada sesuatu yang tidak biasa untuk berdua di dalam kamar dengan Aldo malam itu. Malam pertama mereka.
Aldo beranjak dari tempat tidur, mendekati Dina yang duduk membelakanginya.
“Kamu kenapa sih? Kamu menyesal dengan pernikahan ini?” tanya Aldo lembut.
Dina menggeleng.
“Lalu, kenapa?” tanya Aldo lagi. Kedua tangannya mulai merengkuh pinggang kecil milik Dina. Ia memeluknya dari belakang.
“Aku takut, Do…” ujar Dina akhirnya.
“Takut? Takut kenapa? Bukannya selama pacaran, kamu yang selalu berharap adanya malam ini?”
“Iya… Tapi bagaimana bila nanti aku tidak bisa membahagiakan kamu? Bagaimana bila aku tidak bisa melayanimu dengan sempurna? Kamu pasti akan menyesal menikahiku… Tubuhku gak sempurna, kamu pasti…”
Serentetan ucapan Dina beku seketika, saat Aldo mencium tengkuk Dina lembut. Mengelilingi leher jenjang dan putih itu dengan lidahnya yang basah. Dina menghembuskan nafas dalam dan perlahan. Leher memang titik sensitif tubuhnya, dan Aldo sangat tahu itu.
“Do… Aku masih mau bicara…”
Aldo menutup mulut Dina cepat dengan tangan kanannya sambil terus menciumi leher Dina. “Aku sedang tidak ingin berdialektika dengan otakmu, Din…”
Mata Dina terpejam, meski tangannya berusaha melepas tangan Aldo yang menghalangi kedua bibirnya yang merah untuk berkata-kata.
“Lagipula, aku pun tidak memintamu untuk melayaniku. Untukmu, aku yang akan melayani kamu malam ini…” ujar Aldo sambil terus menyakinkan Dina dengan sentuhan-sentuhannya yang lembut.
Dina pun menjadi luluh, dan malam itu, ia menjadi milik Aldo sepenuhnya. Atau mungkin malah Aldo yang bertubuh macho itu yang menjadi milik Dina seutuhnya.

100 Hari Sebelum Malam Pertama
Kala malam telah datang, kutahu waktu kan segera berganti…
Namun kala malam telah datang, aku pun jadi tahu arti sendiri…
Kutahu arti manusia yang tidak bisa sendiri…
Saat Hawa butuh Adam, Juliet butuh Romeo,
dan seorang Dina pun ternyata butuh seorang Aldo…
Sahabat bercerita, rekan berbagi, kekasih bercinta…
Aku tak butuh apapun kini, cukup kamu, memeluk aku…
(15 Juni 2006, 20:36:26)


“Hallo, Do! Udah terima sms puisiku? Hee, gimana, bagus gak?”
“Bagus.”
“Hh, kok gitu aja responnya? Itu sudah melalui proses editing yang cukup melelahkan lho!”
“Habis, mo gimana? Aku tetap saja gak bisa pulang sekarang ke Solo untuk bertemu dengan kamu. Masih ada beberapa urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan di Jakarta.”
“Yaa… Do! Padahal…”
“Kenapa? Lagi pengen ya?”
“He-eh…”
“Maaf ya sayang, ya… Aku belum bisa pulang. Kamu maen sendiri dulu aja, ya?”
“Ah, gak mau! Gak enak. Mending aku puasa aja…”
“Ya, udah. Puasa dulu aja, ya? Hehehe…”
“Ah, Aldo jelek! Aldo gak pengertian! Dina benci Aldo!” teriak Dina, sambil memutuskan hubungan telefon dari HP Nokia 5300-nya.

1000 Hari Sebelum Malam Pertama
Diary “White” Dina 1#
Tuhan! Aldo menciumku. Di sini, di bibirku. Lama… Lihat saja, sampai membekas. Aku kan gak pernah ciuman begituan! Aduh, gak bisa keluar kost nih besok. Gimana kalau teman-temanku pada tahu aku ciuman? Kalau ibuku sampai tahu? Ah, Aldo jelek banget! Aku kan pacaran bukan untuk ciuman! Aku cuma butuh temen ngobrol, temen curhat.
Gak mau! Gak mau lagi! Pokoknya cukup sekali ini aja. Aku benci Aldo. Aku gak mau ketemu dia satu minggu ini…
Diary “White” Dina 2#
Udah 2 hari gak ketemu Aldo. Kangen juga ya? Tadi pas curhat ke Karen, dia malah ngetawain aku. Masa udah 21 tahun gak pernah ciuman? Iih, Karen kan malah lebih muda 3 tahun dari aku. Karen bilang, “Cinta tanpa ciuman itu palsu. Dan ciuman tanpa cinta itu nafsu.” Bener juga ya? Tapi, ciuman itu kan dosa… Gimana kalau aku nanti masuk neraka??
Diary “White” Dina 3#
Kenapa aku harus menghukum Aldo dengan tidak bertemu? Apa kesalahannya? Karena sesungguhnya ini adalah hubungan yang paling sempurna yang pernah ada. Bukankah Tuhan juga yang menghadirkan cinta? Lalu kenapa perwujudan cinta dengan tindakan itu dilarang?
Ya, hari ini aku sudah bertemu dengan Aldo, tersenyum lagi. Kubilang padanya, “Kalau kamu cinta aku, tolong jaga aku sampai malam pertama itu ada.” Dan dia mengangguk, tapi kemudian dia juga bilang, “Kujaga yang paling utama, tapi boleh latihan kan untuk foreplay-nya?”
Aku cuma terdiam.

Malam Kedua
“Din, lagi yuk?” ujar Aldo dari tempat tidur.
“Aku capek, Do. Tadi pertemuan dengan klien menghabiskan waktu seharian. Belum lagi aku harus ke rumah mama mengembalikan beberapa piring dan gelas bekas acara kita kemarin,” jawab Dina yang ada di sisinya sambil menutup laptopnya.
“Nanti capeknya hilang, kok! Kamu siap-siap dulu, gih…”
“Tapi, aku mau tidur, Do… Kita kemarin kan udah habis-habisan. Masa kamu belum puas juga sih? Ituku juga masih sakit…”
“Itumu sakit?”
Dina mengangguk pelan.
Aldo memandang Dina dalam, mendekati wajahnya ke wajah Dina, lalu tiba-tiba mencium kening Dina. “Maaf ya, kalau sudah membuatmu sakit. Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Aku juga mau istirahat. Besok di kantorku juga ada event penting.”
Aldo kemudian kembali ke sisi tempat tidurnya, masuk ke dalam selimut, mematikan lampu meja tempat tidur yang berada di sebelah kanannya, tertidur. Dina membuntuti gerak-gerik Aldo dari kedua sudut matanya. Ada perasaan sedih menyeruak di hatinya. Tak tega melihat Aldo tertidur hampa seperti itu, tapi untuk melakukannya…

100 Hari Setelah Malam Kedua
Dina, Dina, Dina…
Kepala Aldo hanya dipenuhi oleh Dina, istrinya yang sejak malam pertama mereka seolah menjauhinya. Ia selalu mendorong Dina untuk bercerita kenapa dia bersikap dingin seperti itu. Yah, sikap Dina memang sangat berbeda dengan saat dulu mereka masih berpacaran. Justru ketika masih belum menikah, Dina yang kadang merayu Aldo untuk menciumnya, melewati malam berdua, meski memang tidak sampai berhubungan badan seperti hakikatnya. Tapi tentang mengetahui lekuk tubuh Dina, Aldo memang sudah paham jauh hari sebelum mereka menikah.
“Do, aku juga bingung kenapa aku begini,” ujar Dina suatu ketika. “Tampaknya aku kehilangan sesuatu itu, Do…”
“Sesuatu apa, Din?” kejar Aldo.
Dina diam.
“Din, jawab!!!”
“Aku kehilangan suatu alasan kenapa aku harus bercinta denganmu.”
“Apa? Kamu tidak mencintaiku lagi? Kamu sudah punya laki-laki lain ya?”
“Enggak… Aku masih mencintai kamu kok! Kamu adalah soulmate-ku, gak akan ada yang bisa merubah itu.”
“Lalu?”
“Baiklah, aku cerita, tapi kamu jangan ketawa ya?”
Aldo mengangguk cepat, tak sabar mendengar penjelasan Dina.
“Dulu aku selalu diliputi perasaan was-was saat bercinta denganmu. Aku takut ketahuan keluargamu, keluargaku. Aku takut berdosa. Aku cemas, sampai-sampai aku tidak bisa berteriak keras saat orgasme itu kurasakan. Tapi Do, ternyata…”
“Ternyata apa?”
“Ternyata ketika sudah menikah, aku tidak merasakan perasaan cemas itu lagi. Do, aku malah merindukan perasaan was-was itu ada. Adanya perasaan was-was itulah yang malah membuat diriku ingin selalu mengulanginya.”
“Kok, bisa begitu sih…”
Dina cuma tertunduk lesu.
“Lalu, mau kamu gimana?”
“Do, gimana kalau kita cerai saja. Lalu, kita melakukannya lagi saat kita membutuhkannya. Aku yakin perasaan was-wasku akan kembali ada. Dan mungkin kita bisa kembali mesra seperti dulu lagi.”
“Apa?!! Gila kamu ya? Gak, aku gak mau menceraikan kamu! Pasti ada jalan keluarnya…” ujar Aldo sambil memegang kedua tangan Dina erat.

101 Hari Setelah Malam Kedua
Siang Pertama
“Hey! Hey! Do, apa-apaan sih kamu? Ini kan toilet kantor! Ntar kalau pegawai kantorku pada tahu gimana? Do! Agh, Do… Aduh, Do… Do… Ah, aku sayang banget ama kamu, Do. Sayang banget!!”


Kentingan - Solo, 10 Maret 2007

(Note: Cerpen ini sudah diterbitkan dalam Kumpulan Cerpen LPM VISI FISIP UNS "Anak Kecil Tak Boleh Tahu", 2007/2008)

Rabu, Desember 03, 2008

Jemputlah Hatiku, Sayang


“Boleh aku menjemputmu besok pagi? Kan kutunggu di bawah pohon belimbing yang tak jauh dari rumahmu. Kutunggu tepat jam 7, agar langkah kita bisa lebih pelan menuju sekolah.”

“Sungguhkah engkau akan menjemputku? Bagaimana dengan kemungkinan hujan yang kan turun deras? Terbiasakah engkau menanti dilindungi payung transparan? Aku akan lebih kesulitan mengikat rambutku hari itu karena terlalu basah. Penantianmu akan lebih lama dari yang engkau kira.”


Kan tetap kutunggu. Tolong, jangan pernah ragukan niatku dan diriku. Walau engkau hadir dengan rambut tanpa disisir, aku akan tetap dengan sumringah menjemputmu, menantimu. Kau kucinta bukan hanya karena rambutmu, hidungmu atau tubuhmu. Kucinta seluruh dirimu, kekuranganmu berikut kelebihanmu.”


“Kenapa kau begitu yakin? Tak takutkah dirimu akan terluka karena keyakinanmu itu? Tak takutkah dirimu akan merasa terjebak oleh nasib karena terlalu mencintaiku. Aku justru takut akan melukaimu, akan membuatmu kecewa karena kau terlalu percaya padaku.”


“Lakukan apapun yang mau kau lakukan. Beranilah untuk semua ketakutanmu. Jangan khawatirkan aku karena aku akan selalu tegar terhadap waktu. Bagiku kau adalah bidadari dengan segala keindahan dan kelembutan belaianmu.”


“Kau bebaskan aku bagai pasir yang hanya kau letakkan di atas kedua tanganmu yang kecoklatan. Tahukah kau, karena itu aku justru tak ingin mengubah letak dudukku agar tak tergoyang dan tertiup angin. Namun sesekali, halangilah angin itu, agar aku tak terlalu bosan dengan posisiku.”


“Jangan khawatir, aku tahu itu tanpa kau harus bicara.”


“Terima kasih. Kini kau telah menjemput hatiku untuk kemudian kau bisa miliki seluruh jiwa dan ragaku. Utuh…”



(Solo, 17 Desember 2007)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...