Rabu, Februari 05, 2014

Bulan, Mentari dan Aku (Cerita Malam Ini #4)

Malam yang dingin, Bulan… Kau masih di situ? Sendirian, seperti biasa. Ya, aku tahu. Sama sepertiku, sendirian. Mungkin juga kesepian. Dan miris, melihat bintang-bintang itu asyik berkelap-kelip ke sesama mereka. Sedangkan kita, tetap sendirian. Sok tegar, mencoba untuk menerangi malam dengan kesempurnaan yang kita punya.

Apa yang kau cari, Bulan? Senyum Mentari pagi yang selalu kau sambut dengan mengunci diri di balik belahan bumi yang lain? Apa yang kau nantikan, Bulan? Tatapan Mentari senja yang tak urung berlari saat kau berani menampakkan diri. Sulitkah untuk menemui pujaan hatimu? Satu-satunya itu?

Kau tanya sejuta mengapa kepada pencipta-Mu yang kau rasa begitu lucu dalam menggariskan takdir. Bahwa kau sudah berani mencintai namun selalu kondisi membuatmu kembali menahan diri, tak ingin memaksakan gegap gempita rasa sayang yang begitu merekah di hatimu. Kau mencintainya. Kau ingin selalu ada di sampingnya. Menemaninya. Menatap kasihnya yang semakin lama semakin dalam. Tak peduli tentang jarak yang memisahkan, kau tetap menyayanginya. Dia pilihanmu. Sejatimu.

Namun, ketakutanmu tentang masa lalu ternyata begitu menghantuimu. Tak ingin keluar dari persembunyianmu di balik langit malam yang hitam mencekam. Tak ingin berpindah tempat. Kau tetap memilih di sana, terpasung dalam kepedihanmu untuk berlari memeluknya. Kau masih saja berharap, tak hanya bayangannya yang menjumpaimu. Dan kau hanya menunggu, tak berbuat apa-apa. Sembari, tersenyum pahit, dan berbisik dalam bilikmu yang sempit, mungkin dia memang bukan jodohku.

Dan di sinilah kita sekarang. Saling mentertawakan kebodohan yang kita lakukan. Dengan diam kau bisa melihat Mentari bercengkrama dengan awan-awan putih. Berlarian, saling berkejaran dengan riangnya. Melihat semua kebahagiaan yang hadir di antara mereka. Kau melirikku, Bulan, tersenyum.. Ah, hentikan senyumanmu, kutahu kau terluka. Hatimu terluka. Ya, karena aku pun punya luka yang sama di hati ini, sahabat… Namun, entah mengapa, aku pun ikut tersenyum melihat senyumanmu.

Tak sadar, kau kejutkan aku yang larut dalam lamunan… “Apa yang kau rasakan sekarang, sahabat?” tanyamu tiba-tiba. Aku hanya mampu menggeleng, “Tak kurasakan apa-apa di hatiku, Bulan. Aku tak membenci juga tak berusaha untuk bersikap agar dicintai. Aku memilih untuk berdiam diri. Membatu.”

“Kau mencintai seseorang saat ini, sahabat?” tanyamu lagi. “Aku tidak tahu, bahkan juga tidak tahu tentang cinta itu sendiri. Mudah-mudahan saja, di titik-titik keputusasaanku untuk mengenali tentang itu, Pencipta kita akan menolongku,” suara pelan lamat-lamat keluar dari bibir ini.

Hingga kemudian dialog itu berhenti, masih bisa kulihat bulan mengirimkan surat cintanya kepada mentari, melalui perantara mak comblangnya—Tuhannya—dengan doa-doanya. “Oh, Bulan… Kenapa kau selalu mengikuti caraku? Apa kau juga masih punya harapan yang sama seperti harapanku?”

Hingga, akhirnya mataku pun terpejam, dan lalu dibangunkan oleh Mentari yang menyilaukan dan sinar hangatnya menyelinap di balik tirai jendelaku yang berwarna kelabu… “Bicara apalagi Bulan padamu malam tadi? Masihkah ia berdoa untukku? Yah, tak perlu kau katakan… Kurasakan doa-doanya setiap waktu, membuatku tetap memiliki kekuatan untuk menghangatkan dunia. Dunia yang membutuhkan sinarku. Tanpa doa darinya, aku tak berdaya untuk terus bersinar. Jangan katakan rahasia ini, sahabat. Aku percaya padamu.” ***

Note: 
Gambar Ilustrasi diambil dari link: http://fineartamerica.com/featured/the-sun-the-moon-and-the-truth-dorina-costras.html

1 komentar:

Christanty Putri Arty mengatakan...

Wah ini punya potensi nulis fiksion mba..ikutan di forum flash fiction,keren punya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...