Oleh Sumarni Bayu Anita, S.Sos
Marshall McLuhan, media-guru dari University of Toronto, telah memberikan perspektif berarti mengenai komunikasi massa dalam dua bukunya, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964). Dalam dua buku itu, ia meramalkan bahwa peralihan teknologi dari era teknologi mekanik ke era teknologi elektronik akan membawa peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia dalam ruang, menuju perpanjangan sistem syaraf.
Awalnya, McLuhan mengatakan bahwa the medium is the mass-age. Media adalah era massa. Maksudnya adalah bahwa saat ini kita hidup di era yang unik dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era media massa. Terutama lagi, pada era media elektronik seperti sekarang ini. Media pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri. Kita saat ini berada pada era revolusi, yaitu revolusi masyarakat menjadi massa, oleh karena kehadiran media massa tadi.
Dalam bukunya The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962), McLuhan memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam tiga periode: a tribal age (era suku atau purba), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi.
Nih, blog yang sengaja kubuat untuk saling berbagi cerita ttg dunia yang kujalani, ttg hidup yg begitu uniknya, ttg apapun yang berhasil mengusik perhatianku untuk segera kurangkai dalam kata-kata sehingga mengalir sebuah kisah yang menarik...
Kamis, Januari 20, 2011
Senin, Desember 27, 2010
Arti Romantic Moments Untukku
“Bicaralah. Jangan diam saja…”
Matamu yang penuh romansa itu hanya menatapku.
Yah, begitulah dirimu. Tak banyak bicara jika bertemu. Kamu bilang, kamu bukan tipe romantis. Kamu yah kamu. Kamu yang begitu. Yang tak banyak bicara jika bertemu.
Aku kenal kamu tahun 2003 lalu. Lalu, menjadi dekat di tahun 2004 dan menjadi lebih dekat dalam ikatan suci di tahun 2009. Kini, menjadi lebih dekat lagi saat aku tengah mengandung buah cintamu dan aku.
Iya, dia suamiku, calon papa sang dedek yang kini tengah menginjak minggu ke-25 dalam kandunganku. Namanya Mas Rudy. Usianya lebih tua tiga tahun dariku. Dia orang Yogya, aku kenal dia ketika kuliah jenjang diploma di sana. Aku sendiri orang Palembang. Namun perbedaan budaya ini bukan masalah besar untuk kami. Justru karena ini, kami jadi bisa dua bahasa masing-masing.
Selasa, Agustus 24, 2010
Arti Sebuah Kehamilan
Selamat datang harapan baru… Selamat datang di kehidupanku. Kami nantikan engkau dengan sabar dan penuh cinta... Tuhan, akhirnya, Kau jawab juga doa-doaku. Kau kabulkan juga permintaanku. Sujud syukur langsung kulakukan saat mengetahui kebenarannya, setelah sebelumnya berharap-harap cemas ketika tahu waktu masa tamu bulananku terlambat datang.
Keyakinanku sebenarnya semakin kuat lewat hal yang tak biasa kutemui. Siang itu, usai sholat Zhuhur, seperti biasa aku mengaji yang dilanjutkan dengan membaca arti dari bacaan Al-Quran yang kubaca saat itu. Sekilas, tiba-tiba aku membaca dengan jelas satu kata di antara terjemahan yang akan kubaca. Satu kata yang selama ini aku harapkan, yaa, kata itu adalah ”kehamilan”. Tak percaya, lalu kucermati satu-persatu lagi kata demi kata yang ada, tapi tidak kutemukan kata yang sebelumnya kubaca. Tuhan, apakah ini suatu pertanda???
Pengalaman itu hanya kusimpan di benakku, karena seminggu sebelumnya, aku yang tidak sabaran ingin melakukan test pack masih memperoleh hasil negatif di alat yang biasa kugunakan. Akhirnya, setelah yakin sudah lewat 10 hari terlambat dari biasanya, aku kembali membeli alat tes kehamilan dengan mutu yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Alhamdulillah, kali ini, dua garis merah menyapaku untuk langsung terpana.
Keyakinanku sebenarnya semakin kuat lewat hal yang tak biasa kutemui. Siang itu, usai sholat Zhuhur, seperti biasa aku mengaji yang dilanjutkan dengan membaca arti dari bacaan Al-Quran yang kubaca saat itu. Sekilas, tiba-tiba aku membaca dengan jelas satu kata di antara terjemahan yang akan kubaca. Satu kata yang selama ini aku harapkan, yaa, kata itu adalah ”kehamilan”. Tak percaya, lalu kucermati satu-persatu lagi kata demi kata yang ada, tapi tidak kutemukan kata yang sebelumnya kubaca. Tuhan, apakah ini suatu pertanda???
Pengalaman itu hanya kusimpan di benakku, karena seminggu sebelumnya, aku yang tidak sabaran ingin melakukan test pack masih memperoleh hasil negatif di alat yang biasa kugunakan. Akhirnya, setelah yakin sudah lewat 10 hari terlambat dari biasanya, aku kembali membeli alat tes kehamilan dengan mutu yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Alhamdulillah, kali ini, dua garis merah menyapaku untuk langsung terpana.
Sabtu, Juli 24, 2010
Kuliah S2 Yuks!?
Hai, pa kabar, semuanya? Semoga slalu sehat yaaa... Makasih untuk selalu setia mengunjungi blogku, baik untuk sekadar melihat tanpa nulis koment, ato yang udah menyempatkan waktunya menulis koment, apapun itu. Yang jelas, aku selalu memantau angka pengunjung yang hadir, yaah... sedikit demi sedikit, angkanya udah lumayan. Hee… *klo nulis koment, lebih menyenangkan, sih... ^^*
Oke, sekarang aku mo berbagi cerita lagi untuk kalian semua dan kali ini aku bercerita tentang dunia baru yang akan segera kumasuki. Yups, kuliah lagi! Tapi kali ini di tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, tepatnya di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan program studi Kajian Budaya dan Media (KBM).
Tau tentang KBM sendiri karena ngeliat-liat pilihan program studi di situs Pascasarjana UGM bulan Januari 2010 lalu. Kan aku emang nyari yang cocok untuk melanjutkan pendidikanku sebelumnya yang ambil Ilmu Komunikasi. Rasanya sayang untuk ambil jurusan laen, seperti MM ato MAP yang di Palembang sendiri sebenarnya juga ada. Dan ternyata, aku pun udah tergabung di grup facebook KBM itu sendiri karena diundang oleh Mas Anhar, leluhur di organisasi yang kuikuti pas S1, LPM VISI FISIP UNS.
Oke, sekarang aku mo berbagi cerita lagi untuk kalian semua dan kali ini aku bercerita tentang dunia baru yang akan segera kumasuki. Yups, kuliah lagi! Tapi kali ini di tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, tepatnya di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan program studi Kajian Budaya dan Media (KBM).
Tau tentang KBM sendiri karena ngeliat-liat pilihan program studi di situs Pascasarjana UGM bulan Januari 2010 lalu. Kan aku emang nyari yang cocok untuk melanjutkan pendidikanku sebelumnya yang ambil Ilmu Komunikasi. Rasanya sayang untuk ambil jurusan laen, seperti MM ato MAP yang di Palembang sendiri sebenarnya juga ada. Dan ternyata, aku pun udah tergabung di grup facebook KBM itu sendiri karena diundang oleh Mas Anhar, leluhur di organisasi yang kuikuti pas S1, LPM VISI FISIP UNS.
Selasa, Juli 20, 2010
Sakit Hati
Apakah kau pernah sakit hati? Aku pernah, dan mungkin sekarang aku sedang merasakan itu. Sakit hati. Kenapa sakit hati bisa aku atau kau rasakan? Mudah jawabannya, karena kita berhubungan dengan orang lain. Saat kita berhubungan dengan orang lain, maka otomatis kita mengembangkan standar hubungan bila kondisi hati yang ada harusnya hanya kebahagiaan, kesenangan, suka cita. Dan bilamana sakit hati muncul? Jelas, pada saat orang yang berhubungan dengan kita itu bersikap di luar standar yang sudah kita buat sebelumnya.
Jadi, bagaimana cara gampangnya agar kita terhindar dari sakit hati? Yah, kita tidak usah berhubungan dengan orang lain. Cukuplah kebahagiaan itu kau ciptakan sendiri tanpa harus bergantung dengan ada atau tidak adanya seseorang. Mungkin hal ini terdengar egois, tapi memang itu faktanya. Pembelajaran ini baru saja datang ke alam pikiranku usai monolog yang kulakukan ba’da sholat Zuhur.
Menjadi filsuf dadakan kadang membuat kita mengerti diri kita sendiri. Bahwa kita adalah manusia biasa, manusia yang wajar bila diberi cobaan untuk sakit hati, untuk kecewa, untuk menangis, untuk marah, ataupun untuk tidak percaya akan siapapun atau apapun di dunia ini. Kamu manusia, bung! Maka tak selamanya senang kan kau rasakan, sekali-kali sedih pasti iya.
Jadi, bagaimana cara gampangnya agar kita terhindar dari sakit hati? Yah, kita tidak usah berhubungan dengan orang lain. Cukuplah kebahagiaan itu kau ciptakan sendiri tanpa harus bergantung dengan ada atau tidak adanya seseorang. Mungkin hal ini terdengar egois, tapi memang itu faktanya. Pembelajaran ini baru saja datang ke alam pikiranku usai monolog yang kulakukan ba’da sholat Zuhur.
Menjadi filsuf dadakan kadang membuat kita mengerti diri kita sendiri. Bahwa kita adalah manusia biasa, manusia yang wajar bila diberi cobaan untuk sakit hati, untuk kecewa, untuk menangis, untuk marah, ataupun untuk tidak percaya akan siapapun atau apapun di dunia ini. Kamu manusia, bung! Maka tak selamanya senang kan kau rasakan, sekali-kali sedih pasti iya.
Sabtu, Juli 17, 2010
Saat Awam Memahami Peranan Bea & Cukai
Setiap lembaga yang ada di Republik Indonesia jelas memiliki peran masing-masing yang pada akhirnya bertujuan untuk pembangunan nasional. Kalaupun berkaitan pula dengan perlindungan masyarakat, hal ini tentu menambah peran penting lembaga tersebut. Salah satu lembaga yang memiliki dua peran penting tersebut sekaligus adalah Bea & Cukai. Namun mungkin, masih banyak dari kita yang tidak memahami hal itu karena informasi yang kita dapat cenderung tertutupi oleh banyaknya pemberitaan yang justru tidak berkaitan dengan tugas utama yang diemban oleh Bea & Cukai itu sendiri.
Pengertian Bea & Cukai adalah nama dari suatu instansi pemerintah yang melayani masyarakat di bidang kepabeanan/pabean dan di bidang cukai. Bea & Cukai pada zaman Belanda dulu sering disebut dengan Duane, di negara lain disebut dengan Douanes, Customs, dan lain-lain. Nama resmi dari Bea & Cukai adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, disingkat DJBC. Dari segi kelembagaan, DJBC dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal atau setara dengan unit eselon 1, yang berada di bawah Departemen Keuangan Republik Indonesia sebagaimana juga Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan lain-lain.
Isi Hari Ceria Bersama Tango Waffle Crunchox
Sekarang mungkin menjadi masa-masa yang agak menjemukan buatku. Menunggu dan menunggu. Yah, pasca habis kontrak dari kerjaanku pada pertengahan April 2010 lalu di Palembang, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang S2 di Yogyakarta. Waktu belajar sudah dilalui, masa tes masuk yang terdiri dari tes TOEFL dan TPA pun sudah dilakukan pada tanggal 23 Juni 2010 lalu. Sekarang adalah masa menunggu pengumuman penerimaan S2 tersebut. Sewaktu habis tes itu memang tidak dijelaskan secara pasti kapan pengumuman akan diberikan. Entah harus menunggu 1-2 bulan, yang jelas pengumuman akan dilakukan melalui media internet.
Selama di Yogyakarta, aku tinggal di tempat mertuaku. Di suatu desa di ujung Jalan Wates Km. 14 Bantul, Yogyakarta. Nama desanya adalah Dingkikan. Aku adalah anak kota, itu harus jujur kukatakan. Entah sampai detik kapan aku merasa terjebak berada di tengah-tengah areal persawahan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa dan riuh dengan suara belalang ini. Tapi yang jelas, aku merasa mulai bisa beradaptasi ketika hal yang dulu pernah kurasakan di kota bisa juga kurasakan di sini. Kamu tahu apa? Ya, betul, ketika aku juga bisa menemukan Tango Waffle Crunchox yang kemudian mengganti masa-masa jenuhku dengan masa yang penuh semangat untuk mengisi hidupku dengan hal-hal yang bermanfaat.
Selama di Yogyakarta, aku tinggal di tempat mertuaku. Di suatu desa di ujung Jalan Wates Km. 14 Bantul, Yogyakarta. Nama desanya adalah Dingkikan. Aku adalah anak kota, itu harus jujur kukatakan. Entah sampai detik kapan aku merasa terjebak berada di tengah-tengah areal persawahan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa dan riuh dengan suara belalang ini. Tapi yang jelas, aku merasa mulai bisa beradaptasi ketika hal yang dulu pernah kurasakan di kota bisa juga kurasakan di sini. Kamu tahu apa? Ya, betul, ketika aku juga bisa menemukan Tango Waffle Crunchox yang kemudian mengganti masa-masa jenuhku dengan masa yang penuh semangat untuk mengisi hidupku dengan hal-hal yang bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)


