Rabu, Maret 03, 2010

Bye-Bye Geraham Bungsu

Akhirnya, aku bisa bernafas lega. Kemarin, Selasa (2/3), proses pencabutan benang dari gusiku lepas sudah. Rupanya, lumayan sakit juga rasanya saat gunting itu menyenggol gusi dan pipi bagian dalam. Apalagi dokter gigi yang melayani bukan dokter utama. Bukan apa-apa, kalo dokter gigi utama kan, lebih ramah terhadap pasiennya. Kalo yang ini, diem, tiba-tiba langsung maen gunting aja. Fiuh... rasanya mo nangis tapi kan udah gede, jadi ditahanin aja...

Well, jadi di sini cerita bermula. Pasca tugas keluar kota dari Pangkal Pinang, Minggu (7/2) panas dalamku kumat. Diawali dengan sakit demam, lalu sariawan yang munculnya langsung banyak, padahal dulu-dulunya gak pernah sekalipun terkena sariawan, kemudian yang terakhir radang gusi tepat di gigi geraham bungsu bawah sebelah kiri. Satu per satu penyakit itu sembuh. Thanks for Bu Dokter yang udah ngasih obat yang tepat sehingga bisa segera sembuh. Tapi, selain obat dari dokter, untuk yang sariawan, aku memang rajin menggunakan segala macam obat agar bisa segera sembuh. Sebut saja madu asli, air kelapa hijau, salep Kenalog, Lasegar, dll. Akhirnya setelah 1 minggu, sariawan itu lenyap sudah. Thanks God...

Selasa, Maret 02, 2010

Lepass Sriwijaya Post: Antara VI dan XVI

Tak terasa 10 tahun berlalu sudah. Satu dasawarsa sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Sriwijaya Post (Sripo) yang masih berlokasi di Jl. Kapten A. Rivai Palembang. Satu dasarwarsa sejak aku tergabung dalam keanggotaan wartawan Lepass (Lembaran Pelajar Sumatera Selatan) Angkatan VI.

Saat ini, Sripo sendiri sudah pindah ke Jl. Basuki Rahmat Palembang. Dan baru selang beberapa hari yang lalu, Sabtu, 27 Februari 2010, aku kembali datang ke Sripo untuk menghadiri Pelantikan Lepass – Sriwijaya Post. Tahun lalu, aku sempat menghadiri Pelantikan Lepass XV (lihat ceritaku sebelumnya tentang Pelantikan Lepass XV), dan saat ini aku kembali menghadiri Pelantikan Lepass XVI.

Kehadiran ini sendiri, tentu karena diawali dengan undangan sebelumnya. Awalnya, aku sempat menyatakan tidak bisa hadir karena harus menjadi pemateri seminar GSC di Sekayu. Namun, karena satu dan lain hal, rencana itu dibatalkan, dan aku pun akhirnya bisa datang ke Sripo bersama 2 orang alumni Lepass lain yang kukenal, Joni dan Alee.

Agenda Ungu Axis-nya Nita


Yang namanya gratisan, siapa sih yang gak mau??? Makanya, ketika Nike (salah satu anggota blogger wongkito.net) ngasih woro-woro kalo yang kemaren belum sempet ikut gathering wongkito.net - Axis di Hotel Novotel bakal dapet agenda Axis, aku termasuk yang buruan ambil kesempatan. Cara mendapatkannya cukup mudah, tinggal ambil di rumah Nike di Jl. Anggrek No. 6 Palembang. Hm...

Tapi masalahnya, walau aku pernah denger nih jalan, cuma ternyata aku gak bener-bener tahu di mana letaknya. Alhasil, setelah hari pertama gagal menemukannya, esoknya, aku "rela" untuk tanya-jawab lagi di milist anggota wongkito.net untuk memastikan di mana letak Jl. Anggrek tersebut. Abis, sampe ada yang respon, ”Malu bertanya sesat di jalan.” Aku mah santai, kujawab aja, ”Malu bertanya, pulang ke rumah. Sampe di rumah, makan ikan. Kenyang deh...” Hehehe...

Senin, Februari 15, 2010

Relevansi Tes Keperawanan dan Budaya Mengancam

Oleh: Sumarni Bayu Anita, S.Sos

Anda yang tadi memberikan sosialisasi di SMA ... kan?
Benar.
Anda yang tadi membicarakan tentang .... (sebuah institusi sekolah tinggi kedinasan) di sosialisasi tersebut?

Benar.
Saya mewakili Forum Alumni ... menyatakan tidak senang atas pembicaraan Anda tentang institusi kami? Kenapa Anda harus cerita hal tersebut di depan publik dengan menyebutkan nama institusi kami?

Lho???

Ini sebuah kejadian nyata. Baru saja terjadi, mungkin sekitar 9 jam lalu sampai kemudian saya membuat tulisan ini. Begitu jarangnya hal-hal seperti ini terjadi dalam hidup saya hingga membuat saya mendadak insomnia dan memutuskan untuk menulis saja.

Rabu, Januari 06, 2010

Yuks... Ke Fantasy Island!!!

Bingung…
Nih mo ngapain dulu?
Ke kiri ato kanan?

Yups, itu yang aku rasain ketika pertama kali menginjakkan kaki di arena kolam renang Fantasy Island yang letaknya tak jauh dari Terminal Karya Jaya Palembang. Sarana serupa waterboom ini memang ’just only one’ di Palembang. Jadi, kalau hari Minggu sudah tiba, maka akan ramailah para pengunjungnya. Minggu, 3 Januari 2010 lalu, aku dan keluarga juga menyempatkan diri untuk mencoba berenang ke sana.

”Akhirnya, pernah juga ke Fantasy Island,” ujarku, ketika benar-benar masuk ke wahana yang sesungguhnya telah diresmikan oleh Walikota Palembang, Eddy Santana Putra, pada 13 September 2005 lalu itu. Iya, udah 5 tahun ada, tapi aku baru menyempatkan ke sana 5 tahun kemudian. Banyak alasan untuk tidak ke sana. Pertama, tidak ada referensi yang pernah ke sana untuk menggambarkan kalau suasananya menarik atau gimana-gimana. Kedua, letaknya yang di Jl. Indralaya-Palembang memang cukup jauh dari rumah. Kalau naik mobil, waktu yang ditempuh bisa mencapai 30-45 menit. Ketiga, tidak ada alasan yang cukup menguatkan untuk benar-benar ke sana.

Rabu, Desember 16, 2009

Ketika Tahun 2010 Sudah Di Depan Mata



Sebuah judul tulisan yang kubaca di headline Kompas hari ini, Rabu/16 Desember 2009. Menggugah aku untuk memberanikan diri membuat resolusi tahun 2010. Awalnya takut, tak berani menulis. Segan untuk kecewa lagi. Namun, sudahlah... Terlalu pusing melihat raut orang-orang yang tanpa senyum di sini. Seolah mereka adalah pemaham segenap masalah, padahal yang kutangkap tak ada ide yang menarik. Hanya dikte dan dikte.

Well, apa resolusiku tahun ini? Aku ingin perubahan. Kurasa aku hanya akan stagnan dan kemudian mati rasa bila terus begini. Tak masalah mereka menutup mata atas apa yang telah kulakukan. Mengecap manisnya prestasi yang pernah kuukir. Hh sudahlah, tak perlu tepuk tangan, aku pun tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin hidup baru yang nyata karena ada hal yang harus kukejar.

Hidup memang terus berjalan, saat satu mimpi telah terpenuhi, akan muncul mimpi yang lain. Melihat mimpi-mimpi masa lalu, senang sekali bisa mendapatkannya kini. Sebut saja, aku telah menikah, sudah bisa bekerja dengan mendapatkannya sendiri, sudah berani naik motor bahkan sudah bisa ngebut (hehehe...), sudah bisa bantu adikku lulus SMP dan masuk SMA favorit, sudah punya tabungan untuk segera memulai usaha sendiri.

Senin, Desember 07, 2009

Kalo Lagi Jutek...


Kalo lagi jutek, pasti aku tidak peduli dengan apapun. Lebih memilih untuk diam. Kemarin, aku malah seharian di kamar, tidur. Kalopun keluar, itu hanya untuk makan. Jadinya, aktivitasku cuma makan-tidur-dan bernyawa.
Sore, aku kembali terbangun dari tidur. Suasana habis hujan terasa lembab di udara. Aku memilih untuk ke halaman depan. Berjalan tanpa alasan kaki dan menuju gundukan batu-batu putih. Kulihat satu batu yang ukurannya berbeda dengan yang lain, ukurannya terlalu besar. Kuputuskan untuk mengambil batu itu, membawanya ke kamar.
Di kamar, lagi-lagi hanya mampu membuatku menyandarkan tubuh di tempat tidur. Sesekali mengubah posisi untuk memperhatikan barang-barang yang tergeletak di lantai. Mataku kembali kosong. Seirama dengan hatiku. Tak tahu apa yang benar-benar ingin kulakukan kini.
Terasa bahwa hidup begitu membosankannya. Kutahu ini hanya masalah mental, bukan momentnya. Andaikan aku mau mengubahnya, dalam sekejap pasti juga bisa... Tapi entahlah, serasa kesepian itu begitu menarik untuk kurasakan saat ini...
Hidup memang bukan hanya tentang kesenangan, tapi juga tentang lara. Saat seperti itu, yang kumau hanya senyuman yang lembut. Mengertilah aku, jangan egois padaku... Tak takutkah, kau akan kehilanganku?
Tak mau lagi berujar. Mungkin file ini pun suatu waktu akan kuhapus untuk menghilangkan jejak kehampaan. See u day, see u in happy time...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...