Aku sudah memintanya untuk tidak pergi sore itu. Memintanya untuk cuti, hingga aku benar-benar sudah melahirkan, toh tinggal sebentar lagi. Namun, suamiku tidak bisa memenuhinya. Dia beralasan bahwa di tempat kerjanya ini, dia belum genap 3 bulan, dan dia sudah membolos untuk hari Senin, tidak mungkin menambahnya dengan hari Selasa. Jujur, aku tidak mau anakku lahir tanpa ada suamiku di sisiku. Aku ingin suamiku yang langsung memperdengarkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri anakku saat ia lahir nanti.
Pukul 2 siang, bidanpun kembali memeriksa keadaanku. Dia terkejut melihat kondisiku saat itu. Ternyata alergi tak hanya menerpa tangan dan kakiku, tapi juga sudah mengenai mataku. Alhasil, mataku jadi membengkak dan mukaku jadi agak aneh. Padahal, aku lihat dia membawa obat kecil itu lagi, mungkin, dia mau melakukan induksi lagi untuk yang keenam kalinya. Aku kembali diperiksa dalam dengan bidan yang berbeda dari yang memeriksa jam 8. Masya Allah, yang ini lebih sakit dari yang tadi. Aku hanya disuruh untuk menarik nafas panjang saat tangan itu melesak masuk ke jalan lahir anakku kalau aku melahirkan secara normal.
Sang bidan pun keluar dari kamarku usai melakukan pemeriksaan dan mengatakan bahwa aku sudah pembukaan 1. Lalu, saat ia masuk lagi ke kamar, dia mengatakan bahwa setelah melaporkan keadaanku ke dr. Irwan, dokter menyarankan aku untuk operasi caesar karena induksi dinyatakan gagal. Deg! Berbagai perasaan berkecamuk di hatiku saat mengetahui kenyataan bahwa aku harus menjalani operasi caesar. Aku hanya disuruh memilih untuk dirujuk ke RSUP dr. Sardjito atau RS PKU Yogyakarta. Harusnya aku bisa saja normal kalau aku mau. Namun, andai aku harus menunggu untuk persalinan normal, aku harus menunggu sampai berapa lama lagi? Sedangkan alergiku semakin panas dan gatal. Dan rasanya pemeriksaan dalam yang dilakukan oleh bidan terakhir benar-benar membuatku yakin, bahwa keputusan caesar yang harus segera diambil.
Nih, blog yang sengaja kubuat untuk saling berbagi cerita ttg dunia yang kujalani, ttg hidup yg begitu uniknya, ttg apapun yang berhasil mengusik perhatianku untuk segera kurangkai dalam kata-kata sehingga mengalir sebuah kisah yang menarik...
Rabu, April 27, 2011
Ceritaku Tentang Fafa
Fafa tengah tidur sekarang. Tenang sekali. Di atas tempat tidur berukuran 120 x 200 cm dengan sprey polkadot biru tua-muda itu dia tengah menghembuskan nafasnya dengan teratur. Aku suka memandanginya ketika tidur, apalagi kalau kedua matanya tengah membuka menyapa dunia. “Apa nak? Apa yang tengah kau lihat?”
Usia Fafa baru hitungan hari sekarang. Senin, 18 April 2011, pukul 18.30 WIB lalu, aku baru melahirkannya secara caesar di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Meski dibingkai dengan beragam rasa saat menjalani drama operasi itu hingga akhirnya selesai. Sungguh, saat mendengar tangisan Fafa, semua rasa itu berubah menjadi keharuan yang luar biasa.
Cerita bermula ketika aku memutuskan untuk mulai mondok di RB Rachmi, yang beralamat di Jl. KH. Wachid Hasyim 47 Yogyakarta, pada hari Minggu, 17 April 2011, pukul 10.00 WIB. Keputusan itu diambil setelah melakukan kontrol kehamilan terakhir dengan dokter kandunganku, dr. Irwan T. Rachman, SPOG, di tempat yang sama malam sebelumnya. Usia kehamilanku sudah lewat 5 hari dari HPL (Hari Perkiraan Lahir), membuat dokter kandunganku menyarankan untuk induksi agar proses persalinan dapat terjadi. Proses persalinan secara normal menjadi harapan saat itu, karena sebenarnya posisi bayiku sudah masuk panggul dan berada dalam posisi normal.
Usia Fafa baru hitungan hari sekarang. Senin, 18 April 2011, pukul 18.30 WIB lalu, aku baru melahirkannya secara caesar di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Meski dibingkai dengan beragam rasa saat menjalani drama operasi itu hingga akhirnya selesai. Sungguh, saat mendengar tangisan Fafa, semua rasa itu berubah menjadi keharuan yang luar biasa.
Cerita bermula ketika aku memutuskan untuk mulai mondok di RB Rachmi, yang beralamat di Jl. KH. Wachid Hasyim 47 Yogyakarta, pada hari Minggu, 17 April 2011, pukul 10.00 WIB. Keputusan itu diambil setelah melakukan kontrol kehamilan terakhir dengan dokter kandunganku, dr. Irwan T. Rachman, SPOG, di tempat yang sama malam sebelumnya. Usia kehamilanku sudah lewat 5 hari dari HPL (Hari Perkiraan Lahir), membuat dokter kandunganku menyarankan untuk induksi agar proses persalinan dapat terjadi. Proses persalinan secara normal menjadi harapan saat itu, karena sebenarnya posisi bayiku sudah masuk panggul dan berada dalam posisi normal.
Selasa, April 05, 2011
Resume Buku "Dilema Usaha Manusia Rasional"-nya Sindhunata
Oleh: Sumarni Bayu Anita, S.Sos
RESUME BUKU DILEMA USAHA MANUSIA RASIONAL,
Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt
Pengarang : Sindhunata
Penerbit : Pusat Pengembangan Etika Atmajaya dan PT Gramedia Jakarta
Tahun : 1983
Jml Halaman : 167
BAB I
PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan buku ini dibuat menarik dengan menampilkan surat Max Horkheimer kepada Hans, saudara sepupunya. Surat yang dibuat pada tanggal 11 Juli 1916 atau ketika Horkheimer berusia 21 tahun itu berisi tentang penderitaan Ny. Katharina Krammer, buruh wanita di pabriknya, yang tidak dapat bekerja lagi karena sakit ayan. Meski isi surat terdengar sederhana, namun melalui surat itu juga tersirat tentang kemarahan Horkheimer terhadap ketidak-adilan yang senantiasa melindas kehidupan sehari-hari orang-orang di sekelilingnya. Sejak masa mudanya, Horkheimer memang selalu menolak tatanan sosial yang dianggapnya tidak benar. Pemikiran inilah kelak ia wujudkan dalam pemikiran teoritisnya ketika ia menjadi Direktur Sekolah Frankfurt.
Max Horkheimer dilahirkan 14 Februari 1895 di Zuffenhausen – Jerman. Perkenalan Horkheimer pertama kali dengan filsafat adalah lewat buku filsuf pesimistis Schopenhauer berjudul Aphorisms on the Wisdom of Life yang dihadiahkan sahabatnya Friedrich Pollock. Tahun 1926, Horkheimer dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Frankfurt dengan pidato pengukuhan tentang Immanuel Kant, berjudul Kant’s Critique of Judgment. Idealisme Kant kelak juga amat mempengaruhi pemikiran Horkheimer.
RESUME BUKU DILEMA USAHA MANUSIA RASIONAL,
Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt
Pengarang : Sindhunata
Penerbit : Pusat Pengembangan Etika Atmajaya dan PT Gramedia Jakarta
Tahun : 1983
Jml Halaman : 167
BAB I
PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan buku ini dibuat menarik dengan menampilkan surat Max Horkheimer kepada Hans, saudara sepupunya. Surat yang dibuat pada tanggal 11 Juli 1916 atau ketika Horkheimer berusia 21 tahun itu berisi tentang penderitaan Ny. Katharina Krammer, buruh wanita di pabriknya, yang tidak dapat bekerja lagi karena sakit ayan. Meski isi surat terdengar sederhana, namun melalui surat itu juga tersirat tentang kemarahan Horkheimer terhadap ketidak-adilan yang senantiasa melindas kehidupan sehari-hari orang-orang di sekelilingnya. Sejak masa mudanya, Horkheimer memang selalu menolak tatanan sosial yang dianggapnya tidak benar. Pemikiran inilah kelak ia wujudkan dalam pemikiran teoritisnya ketika ia menjadi Direktur Sekolah Frankfurt.
Max Horkheimer dilahirkan 14 Februari 1895 di Zuffenhausen – Jerman. Perkenalan Horkheimer pertama kali dengan filsafat adalah lewat buku filsuf pesimistis Schopenhauer berjudul Aphorisms on the Wisdom of Life yang dihadiahkan sahabatnya Friedrich Pollock. Tahun 1926, Horkheimer dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Frankfurt dengan pidato pengukuhan tentang Immanuel Kant, berjudul Kant’s Critique of Judgment. Idealisme Kant kelak juga amat mempengaruhi pemikiran Horkheimer.
Senin, April 04, 2011
Tinjauan Kritis Retorika Visual (Matthew Rampley): Ketika Televisi Menggenggam Retorika Visual
Oleh: Sumarni Bayu Anita, S.Sos
Usai membaca buku Exploring Visual Culture Definitions, Concepts, Contexts, khususnya pada Bab 9. Visual Rhetoric, h.133-138, yang ditulis oleh Matthew Rampley, akan diperoleh gambaran umum mengenai Retorika Visual melalui 3 sub judul, yakni Pendahuluan, Konsep Retorika, dan Teori Komunikasi. Bila ditarik garis besar dari penggambaran Matthew Rampley mengenai Retorika Visual di buku tersebut, diketahui bahwa Retorika Visual berkembang dari dua pemahaman dasar mengenai retorika dan komunikasi.
Retorika Visual muncul setelah retorika itu sendiri berkembang terlebih dahulu sebagai keterampilan dalam berpidato (public speaking). Namun semakin ke sini, ketika kemajuan teknologi membuat retorika, seni untuk mempengaruhi, retorika tidak hanya dilaksanakan melalui kata-kata, tetapi juga secara visual. Retorika Visual terutama melalui media televisi telah merebak menggeser retorika verbal atau oral. Bentuk, cakupan dan watak retorika menjadi berubah karena perkembangan teknologi.
Benar bahwa Retorika Visual tidak hanya milik televisi semata, namun juga terdapat di berbagai media yang lain, seperti poster—khususnya yang mengandung metafora—, patung, foto, model pakaian (fashion), dan lain-lain, namun harus diakui bahwa televisi mendapat porsi lebih besar dalam mengkambinghitamkan fungsi Retorika Visual itu sendiri. Kata kambinghitam sendiri muncul untuk menggambarkan adanya degradasi makna retorika yang awalnya positif menjadi negatif belakangan ini.
Usai membaca buku Exploring Visual Culture Definitions, Concepts, Contexts, khususnya pada Bab 9. Visual Rhetoric, h.133-138, yang ditulis oleh Matthew Rampley, akan diperoleh gambaran umum mengenai Retorika Visual melalui 3 sub judul, yakni Pendahuluan, Konsep Retorika, dan Teori Komunikasi. Bila ditarik garis besar dari penggambaran Matthew Rampley mengenai Retorika Visual di buku tersebut, diketahui bahwa Retorika Visual berkembang dari dua pemahaman dasar mengenai retorika dan komunikasi.
Retorika Visual muncul setelah retorika itu sendiri berkembang terlebih dahulu sebagai keterampilan dalam berpidato (public speaking). Namun semakin ke sini, ketika kemajuan teknologi membuat retorika, seni untuk mempengaruhi, retorika tidak hanya dilaksanakan melalui kata-kata, tetapi juga secara visual. Retorika Visual terutama melalui media televisi telah merebak menggeser retorika verbal atau oral. Bentuk, cakupan dan watak retorika menjadi berubah karena perkembangan teknologi.
Benar bahwa Retorika Visual tidak hanya milik televisi semata, namun juga terdapat di berbagai media yang lain, seperti poster—khususnya yang mengandung metafora—, patung, foto, model pakaian (fashion), dan lain-lain, namun harus diakui bahwa televisi mendapat porsi lebih besar dalam mengkambinghitamkan fungsi Retorika Visual itu sendiri. Kata kambinghitam sendiri muncul untuk menggambarkan adanya degradasi makna retorika yang awalnya positif menjadi negatif belakangan ini.
Sabtu, Februari 19, 2011
My Great Vacations: Bali & Lombok 2011
Great! Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Sebuah tempat yang sangat aku inginkan untuk dikunjungi sejak merencanakan honeymoon dengan suamiku pada pertengahan tahun 2009 lalu. Namun keinginan itu selalu saja tertunda, hingga akhirnya saat kesempatan itu datang sekarang, of course, aku tidak akan melewatkannya begitu saja. Beruntungnya, ternyata tidak hanya Bali yang aku kunjungi, namun ditambah bonus Lombok! Aku pergi bersama kakak perempuanku, Yuk Empit dan anaknya yang super-duper lucu, Kaka yang berusia 2,5 tahun. Aku sendiri, pergi dengan ditemani calon dedek kecil dalam perutku yang kini berusia 7 bulan lebih. Makasih ya sayang ya, udah nemenin mama... Hm, kehamilan yang luar biasa, semoga begitu juga kelahirannya nanti. Amin...
Kami pergi melalui event Bali-Lombok Tour 2011 yang diadakan oleh KR Radio dan Gemini Tour Yogyakarta. Perjalanan yang ditempuh melalui jalan darat ini berlangsung pada tanggal 13-18 Februari 2011. Ada 44 peserta yang ikut dalam tour ini, dan dengan biaya Rp 1.250.000,- per orangnya, kami mendapatkan fasilitas 3 malam tidur di hotel, gratis masuk ke tempat-tempat wisata, dan 14 kali konsumsi. Aku sendiri tahu tentang informasi tour ini karena diiklankan di SKH Kedaulatan Rakyat. Lalu datang sendiri ke KR Radio untuk mendaftar dan akhirnya membayar biaya tour 4 hari sebelum keberangkatan.
Saat pergi, kami bertiga plus dedek di dalam perut (hee...) diantar oleh suamiku, Mas Rudy ke Purawisata Yogyakarta sebagai tempat berkumpul. Kebetulan saat itu dia tengah pulang ke Yogyakarta untuk ikut kontrol kehamilanku dan USG di malam sebelumnya, sambil mengurus masalah renovasi rumah yang akan aku tempati pasca kelahiran nanti. Mas Rudy sebenarnya cukup mengkhawatirkan kepergianku ini, namun karena dia tahu juga cukup sulit untuk melarangku memenuhi resolusiku yang tertunda itu, jadi tak henti-hentinya dia mewanti-wanti agar aku memperhatikan kondisiku. ”Kalau capek, istirahat ya, dek... Jangan dipaksain...” ujarnya berkali-kali, begitu pula saat sms atau telfon ketika aku tengah di Bali atau di Lombok. Hee, iya-iya, thanks my husband...
Kami pergi melalui event Bali-Lombok Tour 2011 yang diadakan oleh KR Radio dan Gemini Tour Yogyakarta. Perjalanan yang ditempuh melalui jalan darat ini berlangsung pada tanggal 13-18 Februari 2011. Ada 44 peserta yang ikut dalam tour ini, dan dengan biaya Rp 1.250.000,- per orangnya, kami mendapatkan fasilitas 3 malam tidur di hotel, gratis masuk ke tempat-tempat wisata, dan 14 kali konsumsi. Aku sendiri tahu tentang informasi tour ini karena diiklankan di SKH Kedaulatan Rakyat. Lalu datang sendiri ke KR Radio untuk mendaftar dan akhirnya membayar biaya tour 4 hari sebelum keberangkatan.
Saat pergi, kami bertiga plus dedek di dalam perut (hee...) diantar oleh suamiku, Mas Rudy ke Purawisata Yogyakarta sebagai tempat berkumpul. Kebetulan saat itu dia tengah pulang ke Yogyakarta untuk ikut kontrol kehamilanku dan USG di malam sebelumnya, sambil mengurus masalah renovasi rumah yang akan aku tempati pasca kelahiran nanti. Mas Rudy sebenarnya cukup mengkhawatirkan kepergianku ini, namun karena dia tahu juga cukup sulit untuk melarangku memenuhi resolusiku yang tertunda itu, jadi tak henti-hentinya dia mewanti-wanti agar aku memperhatikan kondisiku. ”Kalau capek, istirahat ya, dek... Jangan dipaksain...” ujarnya berkali-kali, begitu pula saat sms atau telfon ketika aku tengah di Bali atau di Lombok. Hee, iya-iya, thanks my husband...
Kamis, Januari 20, 2011
Perspektif Marshall McLuhan Mengenai Komunikasi Massa
Oleh Sumarni Bayu Anita, S.Sos
Marshall McLuhan, media-guru dari University of Toronto, telah memberikan perspektif berarti mengenai komunikasi massa dalam dua bukunya, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964). Dalam dua buku itu, ia meramalkan bahwa peralihan teknologi dari era teknologi mekanik ke era teknologi elektronik akan membawa peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia dalam ruang, menuju perpanjangan sistem syaraf.
Awalnya, McLuhan mengatakan bahwa the medium is the mass-age. Media adalah era massa. Maksudnya adalah bahwa saat ini kita hidup di era yang unik dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era media massa. Terutama lagi, pada era media elektronik seperti sekarang ini. Media pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri. Kita saat ini berada pada era revolusi, yaitu revolusi masyarakat menjadi massa, oleh karena kehadiran media massa tadi.
Dalam bukunya The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962), McLuhan memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam tiga periode: a tribal age (era suku atau purba), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi.
Marshall McLuhan, media-guru dari University of Toronto, telah memberikan perspektif berarti mengenai komunikasi massa dalam dua bukunya, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964). Dalam dua buku itu, ia meramalkan bahwa peralihan teknologi dari era teknologi mekanik ke era teknologi elektronik akan membawa peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia dalam ruang, menuju perpanjangan sistem syaraf.
Awalnya, McLuhan mengatakan bahwa the medium is the mass-age. Media adalah era massa. Maksudnya adalah bahwa saat ini kita hidup di era yang unik dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era media massa. Terutama lagi, pada era media elektronik seperti sekarang ini. Media pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri. Kita saat ini berada pada era revolusi, yaitu revolusi masyarakat menjadi massa, oleh karena kehadiran media massa tadi.
Dalam bukunya The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962), McLuhan memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam tiga periode: a tribal age (era suku atau purba), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi.
Senin, Desember 27, 2010
Arti Romantic Moments Untukku
“Bicaralah. Jangan diam saja…”
Matamu yang penuh romansa itu hanya menatapku.
Yah, begitulah dirimu. Tak banyak bicara jika bertemu. Kamu bilang, kamu bukan tipe romantis. Kamu yah kamu. Kamu yang begitu. Yang tak banyak bicara jika bertemu.
Aku kenal kamu tahun 2003 lalu. Lalu, menjadi dekat di tahun 2004 dan menjadi lebih dekat dalam ikatan suci di tahun 2009. Kini, menjadi lebih dekat lagi saat aku tengah mengandung buah cintamu dan aku.
Iya, dia suamiku, calon papa sang dedek yang kini tengah menginjak minggu ke-25 dalam kandunganku. Namanya Mas Rudy. Usianya lebih tua tiga tahun dariku. Dia orang Yogya, aku kenal dia ketika kuliah jenjang diploma di sana. Aku sendiri orang Palembang. Namun perbedaan budaya ini bukan masalah besar untuk kami. Justru karena ini, kami jadi bisa dua bahasa masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)






