Udah pernah ditempelin batu anget di punggung? Hm, saya juga udah! Udah tau sensasinya? Hee, anget-anget gimana gitu yaaa... Asli, pas pertama kali nyoba enaaaak banget! Ketemu kapster yang ahli sih, jadinya kita menikmati banget massage-nya. Tapi, kalo pas ketemu yang baru belajar, kitanya juga jadi harus belajar memaklumi...
Yups, lagi-lagi aku bisa mendapatkan pengalaman di-massage batu anget itu dari promo Deal Keren! Tepatnya bulan Mei lalu, aku mengambil 4 voucher diskon 80% di Putri Kedaton Griya Kecantikan dan Spa. Jadi, dengan value Rp 75.000,-, kita cuma bayar Rp 15.000,- untuk seluruh jenis perawatan di tempat yang beralamat di Jl. Nusa Indah No. 33, Condongcatur Sleman, Yogyakarta, Telp: (0274) 887249, HP: 0821-37037033 ini. Lumayan banget kan, jadi hemat Rp 60.000,- tuh!
Pertama kali ke Putri Kedaton, aku reservasi via telefon. Bikin janji hari apa mo ke sana dan nanya alamat. Coz, aku buta kawasan Concat! Udah dikasih arah-arahan sama mbaknya, tapi tetep gak paham. Untung bisa dicari lewat google maps! Jadi, berbekal peta dari mbah google, aku pun ke sana pertama kali, hari Jumat, 1 Juli 2011.
Nih, blog yang sengaja kubuat untuk saling berbagi cerita ttg dunia yang kujalani, ttg hidup yg begitu uniknya, ttg apapun yang berhasil mengusik perhatianku untuk segera kurangkai dalam kata-kata sehingga mengalir sebuah kisah yang menarik...
Kamis, Agustus 04, 2011
Minggu, Juli 31, 2011
Selektif Membeli Mixer
Keputusan untuk membeli sebuah mixer itu akhirnya terwujud hari ini, Sabtu, 29 Juli 2011. Setelah sebelumnya dimulai dan dilanjutkan dengan berbagai proses menimbang-nimbang yang sampe bikin kepala pusing 7 keliling! Beneran guys, aku sampe migrain pas pertama kali ngeliat-liat di Toko Progo Yogyakarta, Selasa, 26 Juli 2011. Iya, cuma mikirin ini, ato itu, atooo anu!
Beralih ke tempat barang-barang lain, aku malah beli toples kaca warna ungu dengan rak stainless-nya yang berwarna perak bersusun tiga. Hahaha, padahal belum jadi prioritas utama buat dibeli. Tapi gak pa-pa lah, bagus juga, dan bikin aku keranjingan untuk memenuhi barang-barang lain yang serba ungu untuk ruang tamuku. Hee...
Pas hari Selasa itu, sebenernya aku sudah berniat untuk membeli produk Kirin. Tipe apa aja, deh, yang penting di atas Rp 150.000,- Coz, di Progo lagi ada program berhadiah untuk pembelian produk Kirin senilai itu. Hadiahnya macem-macem, ada dispenser, blender, dan yang termurah minyak goreng 1 liter. Pas udah di sana, minta tunjukin produk Kirin, aku langsung dibilangin sama pegawainya, “Mending Maspion, Mbak. Untuk harga yang hampir sama, motornya lebih kuat Maspion.” Progo emang lagi sepi saat itu, jadi ada 3 pegawai yang kebetulan melihat aku bertanya-tanya tentang mixer. Dan ketiga-tiganya tidak ada yang menyarankan Kirin. Hm...
Beralih ke tempat barang-barang lain, aku malah beli toples kaca warna ungu dengan rak stainless-nya yang berwarna perak bersusun tiga. Hahaha, padahal belum jadi prioritas utama buat dibeli. Tapi gak pa-pa lah, bagus juga, dan bikin aku keranjingan untuk memenuhi barang-barang lain yang serba ungu untuk ruang tamuku. Hee...
Pas hari Selasa itu, sebenernya aku sudah berniat untuk membeli produk Kirin. Tipe apa aja, deh, yang penting di atas Rp 150.000,- Coz, di Progo lagi ada program berhadiah untuk pembelian produk Kirin senilai itu. Hadiahnya macem-macem, ada dispenser, blender, dan yang termurah minyak goreng 1 liter. Pas udah di sana, minta tunjukin produk Kirin, aku langsung dibilangin sama pegawainya, “Mending Maspion, Mbak. Untuk harga yang hampir sama, motornya lebih kuat Maspion.” Progo emang lagi sepi saat itu, jadi ada 3 pegawai yang kebetulan melihat aku bertanya-tanya tentang mixer. Dan ketiga-tiganya tidak ada yang menyarankan Kirin. Hm...
Sabtu, Juli 23, 2011
Ayo Nyam-nyam Burger!
Siapa sih yang gak suka burger? Saya suka burger. Kayaknya hampir semua fast food yang jual burger udah pernah saya jajal. Kali ini, boleh dong kalo saya mo blak-blakan (jadi inget si Joni, hehehe!) tentang rasa burger bagi lidah saya, yaa... Hee...
Untuk burger yang paling pas di kantong, saya akan memilih beef burger-nya Mc’ Donalds. Ya, iyalah cuma Rp 8.000,- kita udah bisa ngerasain rasa burger yang enak. Kalo lagi jalan di Malioboro Mall Yogyakarta dan kelaparan, saya akan memilih produk ini untuk mengganjal perut sementara.
Nah, klo yang mo bener-bener enak, pengalaman maem burger Steakhouse-nya Wendy’s emang paling luar biasa. Thanks buat Deal Keren yang udah ngasih diskon setengah harga sehingga saya yang saat ini emang milih-milih untuk tempat makan bisa kembali menjajal rasa burger yang maknyuss.
Untuk burger yang paling pas di kantong, saya akan memilih beef burger-nya Mc’ Donalds. Ya, iyalah cuma Rp 8.000,- kita udah bisa ngerasain rasa burger yang enak. Kalo lagi jalan di Malioboro Mall Yogyakarta dan kelaparan, saya akan memilih produk ini untuk mengganjal perut sementara.
Nah, klo yang mo bener-bener enak, pengalaman maem burger Steakhouse-nya Wendy’s emang paling luar biasa. Thanks buat Deal Keren yang udah ngasih diskon setengah harga sehingga saya yang saat ini emang milih-milih untuk tempat makan bisa kembali menjajal rasa burger yang maknyuss.
Rabu, Juli 20, 2011
Mengurus Akta Kelahiran Kabupaten Sleman
Mengurus akta kelahiran itu susah-susah gampang. Tapi, emang rada ribet karena banyak sekali berkas yang harus disiapin. Lebih-lebih buat kita yang baru pertama kali ngurus untuk anak pertama. Lebih-lebih lagi, buat saya, yang pindah domisili dari Kota Palembang – Sumatera Selatan ke Kabupaten Bantul – Yogyakarta.
Kalo mo ditotal, saya menghabiskan waktu selama 2 minggu, 7-20 Juni 2011, untuk akhirnya mendapatkan selembar akta kelahiran putri pertama saya, Aruni Shafa Qurniawan. Yang bikin lama sebenarnya bukan siapa-siapa, tapi suami saya sendiri... Uugh... Hehehe! Iya, jadi semenjak menikah pada 9 Mei 2009 lalu, kedua KTP kami tetap menggunakan KTP lama. Jadi KTP saya dan suami masih berstatus belum menikah, dan tidak punya Kartu Keluarga (KK) bersama. Alasannya? Yah, karena domisili kami masih berjauh-jauhan. Dulu usai menikah sampai Mei 2010, saya masih kerja di Palembang dan suami di Serang – Banten. Kemudian Mei 2010 sampai sekarang, saya berada di Yogyakarta untuk melanjutkan S2 di Kajian Budaya & Media UGM dan suami masih tetap bekerja di Serang – Banten. Kapan ketemunya??? Hehehe... Ada ajaaa....
Kalo mo ditotal, saya menghabiskan waktu selama 2 minggu, 7-20 Juni 2011, untuk akhirnya mendapatkan selembar akta kelahiran putri pertama saya, Aruni Shafa Qurniawan. Yang bikin lama sebenarnya bukan siapa-siapa, tapi suami saya sendiri... Uugh... Hehehe! Iya, jadi semenjak menikah pada 9 Mei 2009 lalu, kedua KTP kami tetap menggunakan KTP lama. Jadi KTP saya dan suami masih berstatus belum menikah, dan tidak punya Kartu Keluarga (KK) bersama. Alasannya? Yah, karena domisili kami masih berjauh-jauhan. Dulu usai menikah sampai Mei 2010, saya masih kerja di Palembang dan suami di Serang – Banten. Kemudian Mei 2010 sampai sekarang, saya berada di Yogyakarta untuk melanjutkan S2 di Kajian Budaya & Media UGM dan suami masih tetap bekerja di Serang – Banten. Kapan ketemunya??? Hehehe... Ada ajaaa....
Sabtu, Juli 09, 2011
Bersalon Ria With Deal Keren di Bluma
Aku baru berkenalan dengan Deal Keren atau DealKeren.com atau DK. Mungkin, sekitar pertengahan Mei kemarin. Sebuah tulisan promo di beranda Facebook milik seorang teman yang sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM, Mas Beta, yang menawarkan diskon besar-besaran untuk berbagai perawatan di sebuah salon menarik perhatianku. Letak salon yang tak jauh dari UGM juga menjadi alasanku untuk langsung mengklik situs yang juga terhubung di status temenku itu. Yups, nama situs itu DealKeren.com dan nama salon yang kala itu menawarkan deal diskon adalah Bluma Family Salon yang ada di Komplek Happy Puppy Karaoke Jl. Ringroad Utara 33, Yogyakarta Telp: (0274) 886038/39.
Pertama kali buka, aku langsung merasa bahwa situs ini sangat unik. Warnanya yang cerah, desainnya yang atraktif dan cantik membuatku dengan cepat ingin memahami cara kerjanya. Ke sininya aku baru tahu bahwa situs seperti ini termasuk ke dalam social buying. Dari definisinya sendiri, social buying adalah model bisnis internet yang menawarkan merchant kesempatan diskon besar hingga 90 persen. Dengan sistem menawarkan diskon tinggi terhadap konsumen, bisnis ini menjadi win-win solution untuk semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Pertama kali buka, aku langsung merasa bahwa situs ini sangat unik. Warnanya yang cerah, desainnya yang atraktif dan cantik membuatku dengan cepat ingin memahami cara kerjanya. Ke sininya aku baru tahu bahwa situs seperti ini termasuk ke dalam social buying. Dari definisinya sendiri, social buying adalah model bisnis internet yang menawarkan merchant kesempatan diskon besar hingga 90 persen. Dengan sistem menawarkan diskon tinggi terhadap konsumen, bisnis ini menjadi win-win solution untuk semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Minggu, Mei 22, 2011
Hipnotis yang Tidak Hipnotis
Oleh: Sumarni Bayu Anita, S.Sos
“Sinkronisitas antara gambar dan bunyi itu tidak semata-mata literal. Kalau itu terjadi, itu malah buruk!”
Kalimat di atas adalah jawaban lugas yang terucap oleh dosen Semiotika Media di Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada, Drs. Kris Budiman, M. Hum, saat saya bertanya tentang video klip Hipnotis-nya Indah Dewi Pertiwi (IDP) yang tidak sinkron dengan lirik lagunya, Rabu (20/5). Penasaran dengan pernyataan itu, saya pun membeli DVD penyanyi kelahiran Bogor, 31 Januari 1991 yang memuat video klip yang dimaksud saat tengah berbelanja di Progo Swalayan – Yogyakarta di hari yang sama. Hal ini karena sebelumnya, video klip IDP yang berdurasi 8 menit 16 detik itu hanya pernah saya lihat melalui media televisi dan itupun tidak sering. Video klip Hipnotis-nya IDP ini merupakan versi terbaru karya Anggy Umbara Film, setelah video klip sebelumnya dibuat dengan menampilkan scene Budi Anduk di dalamnya.
Usai berulang kali memperhatikan video klip Hipnotis penyanyi yang ketika launching album Hipnotis Repackaged-nya ini membawa 3.000 penari untuk menari bersama dalam aksi panggungnya melalui DVD player, saya hanya termanggut-manggut. Benar juga, saat kita fokus memperhatikan, justru video klip Hipnotis IDP sangat memperhatikan harmoni antara derap bunyi musik (akustik) dengan visualisasi video klipnya. Secara general, semiotika musik terdiri dari dua kajian, yakni musical sign (akustik) dan musical notations (grafis/visual). Kalau ingin dipersempit, maka kajian semiotika musik memang cukup yang akustik saja. Menurut Marcel Danesi, dalam bukunya Pesan, Tanda, dan Makna, Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi (2011: 196), ada tiga tingkatan seni musik, yakni musik klasik, musik tradisional, dan musik populer. Kalau ingin mengklasifikasikan lagu-lagu penyanyi yang bernaung di bawah label Keci Record milik Bebi Romeo ini, maka ia akan masuk di tingkatan ketiga, yakni musik populer. Hal ini karena definisi musik populer itu sendiri adalah musik yang dibawakan oleh kalangan profesional, disebarkan melalui media elektronik (radio, televisi, album rekaman, film) dan dikonsumsi oleh masyarakat luas.
“Sinkronisitas antara gambar dan bunyi itu tidak semata-mata literal. Kalau itu terjadi, itu malah buruk!”
Kalimat di atas adalah jawaban lugas yang terucap oleh dosen Semiotika Media di Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada, Drs. Kris Budiman, M. Hum, saat saya bertanya tentang video klip Hipnotis-nya Indah Dewi Pertiwi (IDP) yang tidak sinkron dengan lirik lagunya, Rabu (20/5). Penasaran dengan pernyataan itu, saya pun membeli DVD penyanyi kelahiran Bogor, 31 Januari 1991 yang memuat video klip yang dimaksud saat tengah berbelanja di Progo Swalayan – Yogyakarta di hari yang sama. Hal ini karena sebelumnya, video klip IDP yang berdurasi 8 menit 16 detik itu hanya pernah saya lihat melalui media televisi dan itupun tidak sering. Video klip Hipnotis-nya IDP ini merupakan versi terbaru karya Anggy Umbara Film, setelah video klip sebelumnya dibuat dengan menampilkan scene Budi Anduk di dalamnya.
Usai berulang kali memperhatikan video klip Hipnotis penyanyi yang ketika launching album Hipnotis Repackaged-nya ini membawa 3.000 penari untuk menari bersama dalam aksi panggungnya melalui DVD player, saya hanya termanggut-manggut. Benar juga, saat kita fokus memperhatikan, justru video klip Hipnotis IDP sangat memperhatikan harmoni antara derap bunyi musik (akustik) dengan visualisasi video klipnya. Secara general, semiotika musik terdiri dari dua kajian, yakni musical sign (akustik) dan musical notations (grafis/visual). Kalau ingin dipersempit, maka kajian semiotika musik memang cukup yang akustik saja. Menurut Marcel Danesi, dalam bukunya Pesan, Tanda, dan Makna, Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi (2011: 196), ada tiga tingkatan seni musik, yakni musik klasik, musik tradisional, dan musik populer. Kalau ingin mengklasifikasikan lagu-lagu penyanyi yang bernaung di bawah label Keci Record milik Bebi Romeo ini, maka ia akan masuk di tingkatan ketiga, yakni musik populer. Hal ini karena definisi musik populer itu sendiri adalah musik yang dibawakan oleh kalangan profesional, disebarkan melalui media elektronik (radio, televisi, album rekaman, film) dan dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Rabu, April 27, 2011
Ceritaku Tentang Fafa (3)
Hari Rabu pagi, alat bantu infus dan alat bantu buang air kecil yang melekat di tubuhku pun dilepas. Lega sekali rasanya. Karena kedua alat itu sudah dilepas, hari ini, aku belajar bangun dari tempat tidur. Belajar berjalan, dan mandi sendiri di kamar mandi. Walau susah, aku terus menyemangati diriku sendiri. “Ayo, Nita, kamu pasti bisa!” Yah, walau berjalan seperti robot rusak, aku tetap berjalan. Walau susah sekali untuk mandi, aku tetap mandi.
Ketika sudah bisa berjalan, aku jadi lebih leluasa melihat Fafa yang ditaruh di box. Aku pun sudah bisa menggendongnya. Alhasil, ketika sterilisasi ruangan oleh para pengelola bangsal yang selalu dilakukan pukul 08.00-11.00 WIB, aku bisa bertahan untuk menjaga anakku seorang diri. Untunglah Fafa bukan bayi yang rewel, dia suka sekali tidur kalau perutnya sudah terisi. Pagi jam 7 tadi, saat aku berusaha memberinya ASI, namun nyatanya ASI-ku tak mampu melegakan perutnya yang kosong karena semalam ia sudah 3 kali BAB. Ibuku pun berinisiatif membelikan susu formula, dan aku sungguh terbantu. Awalnya, aku memang ingin idealis, memberikan ASI ekslusif setidaknya sampai 6 bulan. Namun, nyatanya karena berbagai keadaan membuatku harus bersikap realistis.
Iya, gara-gara itu aku pun dimarahin oleh suster senior di bangsal itu. “Yang nyuruh ngasih susu formula siapa?” katanya ketika pagi-pagi melakukan sidak ke seluruh kamar dan melihat sekotak susu formula terletak di atas meja. Dia bertanya dengan nada seolah aku adalah penjahat paling dicari se-Yogyakarta karena ketahuan memberikan susu formula kepada bayiku tanpa izin dia. Moodku emang lagi tak ingin basa-basi saat itu, dengan pasang muka jutek, aku pun menjawabnya ketus, “Inisiatif sendiri.” Mungkin melihat sikapku itu, tiba-tiba dia jadi melunak kepadaku. Awalnya, rasanya dia cuma tahunya marah-marah aja kalau ke kamar. Jadi, serasa bukan di rumah sakit aja, tapi di penjara!
Ketika sudah bisa berjalan, aku jadi lebih leluasa melihat Fafa yang ditaruh di box. Aku pun sudah bisa menggendongnya. Alhasil, ketika sterilisasi ruangan oleh para pengelola bangsal yang selalu dilakukan pukul 08.00-11.00 WIB, aku bisa bertahan untuk menjaga anakku seorang diri. Untunglah Fafa bukan bayi yang rewel, dia suka sekali tidur kalau perutnya sudah terisi. Pagi jam 7 tadi, saat aku berusaha memberinya ASI, namun nyatanya ASI-ku tak mampu melegakan perutnya yang kosong karena semalam ia sudah 3 kali BAB. Ibuku pun berinisiatif membelikan susu formula, dan aku sungguh terbantu. Awalnya, aku memang ingin idealis, memberikan ASI ekslusif setidaknya sampai 6 bulan. Namun, nyatanya karena berbagai keadaan membuatku harus bersikap realistis.
Iya, gara-gara itu aku pun dimarahin oleh suster senior di bangsal itu. “Yang nyuruh ngasih susu formula siapa?” katanya ketika pagi-pagi melakukan sidak ke seluruh kamar dan melihat sekotak susu formula terletak di atas meja. Dia bertanya dengan nada seolah aku adalah penjahat paling dicari se-Yogyakarta karena ketahuan memberikan susu formula kepada bayiku tanpa izin dia. Moodku emang lagi tak ingin basa-basi saat itu, dengan pasang muka jutek, aku pun menjawabnya ketus, “Inisiatif sendiri.” Mungkin melihat sikapku itu, tiba-tiba dia jadi melunak kepadaku. Awalnya, rasanya dia cuma tahunya marah-marah aja kalau ke kamar. Jadi, serasa bukan di rumah sakit aja, tapi di penjara!
Langganan:
Postingan (Atom)


