Kamis, Mei 28, 2009

Ruangan Panas Otak Encer

Hahaha... Bener gak sih ungkapan itu? "Ruangan panas otak encer..." Yaelah, gak tau juga, cos itu yang aku rasain sejak kembali dari dunia mimpi (2 minggu cuti nikah, hee...) dan kembali kerja.
Kerja itu dunia yang keras. Itu yang aku denger dari orang-orang yang udah kerja. Jadi, kalo udah mutusin untuk kerja, harus siap-siap aja dengan segala resiko dan pengorbanannya... Tapi... apakah juga harus dengan berkorban dehidrasi terus setiap hari... Hm...
Curhat yee... Hm... Well, sejak Senin (25/5) kemaren, aku bener-bener reposisi dari tempat aku kerja sebelumnya. Sekarang diriku sudah jadi... mm... yups, kalo gak salah namanya Staf Marketing & Promosi. Seperti yang kubilang, adaptasi lagi, tapi... sebenarnya masih mirip-mirip dengan kerjaan di posisi sebelumnya.
Nah, yang bikin harus ekstra jaga kondisi badan:
1) Kantorku di lantai 4, dan tidak ada lift... Ups, ah... Terus melangkah, olahraga gratis. Hehehe...
2) Gara-gara di lantai 4, jadi paling dekat dengan matahari. Jadi walau udah ada sejumlah unit Ac teteeep aja puanaaass.... Jadi, setiap hari mesti bawa kipas manual, biar gak terlalu terasa panasnya...
Nah, kalo panas-panas begini, dehidrasi makin parah kadarnya. Maksud hati pengen menghemat untuk beli rumah (huakakak!) malah ketagihan beli es campur terus tiap hari... Lumayan, melegakan tenggorokan... Tapi, kantong jadi jebol. Hee...
Nih, beneran lho... Bahkan sekali beli gak cukup 1 bungkus... "Saya minum 2!!!" Hee... Cuma sayangnya, di dekat tempatku (kantor/rumah), gak ada es yang 4 gambarnya aku tampilkan di artikel ini... Hik, hik, ngileeerrrr....... :P
Well, semoga Kota Palembang sedikit bersahabat di esok hari. Lebih mengurangi durasi panasnya... Jadi, kita jadi lebih bisa menikmati hidup... Hue'e'e... Ato, kalo ada yang mo nyediain es campur gratis di kantor setiap jam 2 siang... Wah, betapa menyenangkan hidup ini... Hee...

Jumat, Mei 01, 2009

Berharap dan Kecewa

Mungkin orang - orang yang pesimis akan berkata..,
"Jangan berharap, maka kamu takkan kecewa."
Dan sebagian orang yang optimis akan berkata..,
"Berharaplah terus, dan jangan pernah kecewa."

Namun aku pikir,
berharap dan kecewa adalah dua hal yang berbeda.
berharap adalah sesuatu yang bisa dikendalikan awalnya,
sementara kecewa adalah sesuatu yang bisa dikendalikan akhirnya.

Mungkin yang paling benar adalah,
"Tidak perlu berharap dan tidak perlu kecewa."
Dengan demikian kakiku tetap berpijak di atas tanah..
dan segala yang ada akan tetap ada,
sementara segala yang tiada tak perlu diadakan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tidak perlu berharap dan tidak perlu kecewa..
Yang ada dan tiada, tak perlu mesti ada.

(viliaciputra.multiply.com)

Bagus ya kata-katanya? Sangat menarik untukku saat ini kalo kamu tidak tengah sependapat denganku. Tentang berharap dan kecewa.
Mungkin, aku tidak perlu cerita detil. Namun setidaknya kamu sudah tahu sedikit banyak bahwa aku tengah begitu... Aku tengah berharap dan kecewa. Lalu, haruskah aku berharap lagi? Untuk kemudian menjadi keledai yang jatuh dilubang yang sama: kecewa.
Baik, tidak akan ada orang yang paling mengerti dirimu selain dirimu sendiri. Tentang harapanmu, tentang yang kau sukai dan tidak kau sukai, tentang ancaman yang kau rasa tengah menghantuimu... Atau tentang apapun, yang jelas itu masih berkaitan dengan dirimu. Yah, hanya kamu sendiri yang tahu... Kalaupun kamu memutuskan untuk berbagi dengan orang lain, kamu tetap akan menyembunyikan sedikit tentang kebenaran itu sehingga semuanya tetap menjadi misterius...
Wahai dunia... Aku hanya menjalani hidupmu. Selagi masih bisa bertahan, maka aku akan bertahan. Karena seorang Nita pun bukanlah seorang malaikat yang mampu menerima kekecewaan. Tak pernah diriku diajarkan untuk pasrah selagi aku bisa mendapatkan yang terbaik untuk hidupku. Bila harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu adalah hal paling baik untuk dilakukan, seperti masa-masa lalu yang telah mendewasakan aku, maka aku akan memilih itu... Jelas, dan tidak akan ada penawaran lagi. Itu sudah harga mati...

Jumat, April 24, 2009

Yang Paling Menarik Saat Ini

Apa sih yang paling menarik buatku saat ini? Selain tentang rencana pernikahanku 9 Mei 2009 nanti...
Hohoho... Ternyata banyak hal yang saat ini sering berseliweran di kepalaku... Empat diantaranya, yaitu...

1) Siapa RI1 2009-2014?
Wow! JK mencalonkan diri sebagai RI1 yaa? Mau apa saudagar ini menjadi presiden? Urusan Lumpur Sidoarjo aja belum bisa terselesaikan... Pembaharuan sistem kontrak kerja melalui outsourching yang ia cetuskan jelas banyak merugikan tenaga kerja negeri ini. Yang di kepalanya jelas memenangkan para pengusaha... Lalu sekarang, ia mencoba mengajukan diri sebagai orang yang akan membela seluruh kepentingan rakyat di negeri ini?
But... kayaknya menarik juga untuk jadi bahan perbincangan di warung kopi tentang pertarungan politik menjadi RI1. Semua orang memang belum bisa memastikan siapa yang bakal terpilih. Walau, mereka pasti sudah punya pilihan masing-masing. Yang berharap menang, ingin menyembunyikan pilihannya, agar tak banyak sumpah serapah yang beredar. Sabar, dan tunggu saja tanggal mainnya...
Aku sendiri selalu berdoa, semoga SBY tetap menjadi presiden Indonesia, siapapun wakil presidennya!

2) Jason Statham di Transporter 3
Kemaren abis nonton film Transporter 3. Gila, body Jason Statham itu keren banget yee... Hohoho! *Nih, mo nikah, masih mikirin body cowok lain...* Tapi, waktu aku cerita sama Mas Rudy juga, dia mendukung kok, nih aktor emang cowok banget...
Kalo untuk filmnya sendiri, hm, kerenlah... Tapi, aku gak suka pemeran ceweknya. Jelek! Body sih yahut, tapi wajah dan kulitnya penuh bintik-bintik. Menjijikkan! Hehehe...
Banyak adegan yang bikin salut. Apalagi pas mobilnya mendarat di atas kereta api! Wow! Pokoknya film Transporter selalu keren, baik yang 1, 2, ato 3... Sip kabeh... Hehehe!

3) Isu My Position after Married...
Woo... Ternyata pernikahan tidak hanya mempengaruhi status, tapi juga masalah pekerjaan. Jelas, untuk menghadapi pernikahan nanti, aku akan ambil cuti selama 2 minggu dari kantor. Alhamdulillah, udah dari awal-awal mengajukan cuti, pihak HRD PT. Gema Sukses Cemerlang, tempat kini aku bernaung sudah kasih acc. Thank you, Mbak Nia... :)
Nah, yang kini ikut terfikirkan adalah isu posisi kerjaku setelah menikah. Emang... emang... semua akan kembali pada laporanku pasca nikah. Secara Mas Rudy saat ini kan kerjanya di Jakarta, bukan di Palembang sepertiku. Jadi, akan ada banyak pertimbangan yang akan terjadi nanti.
Kalau dulu, sebelum isu ini ditawarkan, aku inginnya tetap di Palembang sebagai Kepala Outlet Super Bimbel GSC Sudirman. Yaah... pernikahan jarak jauh terpaksa dijalani. Namun... tiba-tiba ada tawaran baru yang patut aku pertimbangkan lagi karena tampaknya menarik. Entahlah... Masih belum bisa menentukan apa yang harus kupilih... Yang A, B, atau C... Hee...

4) Ketemu Teman Lama di Facebook Nah, ini yang paling menarik buatku saat ini kalo main di dunia maya, selain hobiku untuk nulis di dua blog: blog pribadi (blog ini) dan blog kantor. Yups, beredar di facebook. Awal-awalnya sempet sentimen sih... Hahaha, gara-gara ada yang bilang kalo setiap kali ada orang yang masukin foto lewat facebook, maka yang bikin nih situs dapet duit. Trus duitnya dipake buat Israel beli senjata untuk menghancurkan Palestina. Makanya, sempet parno, dan bilang "Aku gak maen fesbuk-fesbukan!" Hahaha, tapi ternyata sekarang, aku malah gak bisa jauh dari facebook.
Gimana gak, lewat ini, aku bisa ketemu ma temen-temen TK, SD, SMP, SMA, kuliah pas di D3, trus kuliah pas S1, trus pas di organisasi/tempat magang yang pernah aku ikutin dulu. Seru banget deh... Hehehe...
Trus, bisa ikut kuis-kuis gokil. Paling kalo hasilnya jelek, gak aku publikasiin. Huahaha... Oya, kalo mo cari aku di facebook, bisa ke search nama lengkapku atau emailku di sumarnibayuanita@yahoo.com

Sabtu, April 11, 2009

Saatnya Ikut Pemilu Legislatif 2009

(Di sini ada Ketua TPS, Pak Tri, dan wakilnya, Pak Syaiful di RT 26 Kelurahan Srijaya Palembang, tempatku memilih)

Tak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, kali ini TPS (Tempat Pemungutan Suara) tepat dibangun di depan rumahku. Listrik untuk lampu dan sound system aja pake stop kontak rumahku. Tapi, seru juga jadinya. Coz, pas tanggal 9 April 2009, pas di hari pencontrengan, aku tinggal melangkah beberapa langkah aja untuk mencapai TPS.(Tuh, liat, ibuku yang pake baju ungu lagi nunggu dipanggil. Hehehe, padahal nih nunggunya tepat dari depan halaman rumahku. :))
(Bilik suara di TPS-ku ada 4. Nih, pas aku milih, kan barengan sama ibu dan Dewi, jadinya bisa saling ngobrol gitu. Tapi, tenang aja, kita milihnya beda kok! Sesuai pilihan hati masing-masing. Hee)

Di rumahku, yang menjadi DPT (Daftar Pemilu Tetap) ada 3 orang, yakni aku, ibuku, dan adikku Dewi. Kalo adikku Dian, dia kan masih kelas 3 SMP, jadi belum ikut milih. Kalo Juju, nah, nih anak baru golput. Coz, secara baru hijrah dari Jakarta. Kemaren sih, bikin KTP ikut KK-nya saudara yang di Kertapati, jadinya gak jelas gitu statusnya. Hee...
(Liat-liat, aku bener-bener milih kan. Nih, aku yang lagi megang 4 kertas suara yang siap aku contreng. Hohoho!)

Kalo di tempatku, alhamdulillah, pemilu legislatifnya berjalan lancar. Gimana gak lancar, dari jam 6 pagi, tuh TPS udah ribut aja, woro-woro warga di RT-ku untuk segera datang ke TPS. Aku sendiri keluar rumah jam 8.30 WIB. Tuh, udah abis mandi ma ngebungkusin tambahan souvenir untuk panitia pernikahanku nanti. Hee...
(Ada 4 kotak, ada untuk DPR Kota, DPR Sumsel, DPD, dan DPR RI)

Kesadaran untuk ikut pemilu sebenarnya udah ada sejak aku emang udah boleh milih. Sejak pemilu tahun 2004 kemaren udah ikutan. Jadi, nih aku gak pernah golput lho... Ikut terus! Baik untuk Pilkada apalagi untuk Pemilu kayak gini. Pilihanku? Wah, emang kalo partai, konsisten, sama kayak tahun 2004 kemaren. Nah, untuk orang-orang di partai, yang satu, pernah lihat dia sosialisasi di arisan keluarga, yang 3 lainnya, aku akuin deh, tebak-tebak buah manggis.
(Wah, tuh liat keriuhan suasana TPSnya. Dan, di belakangnya, ada rumahku. Sering-sering aja buka TPS depan rumah kayak gini. Kan enak, gak usah jauh-jauh jalannya.)

Hee... Tebak-tebak sih gak terlalu, kalo yang calon DPD pernah liat iklannya di Pal TV. Bagus, cewek, muda, dan banyak turun ke masyarakat. Kalo calon DPR RI, yang tadi, pernah liat dia kampanye langsung di arisan keluarga. Baru yang dua lainnya, aku milih berdasarkan tingkat pendidikannya. Hehehe... Aku milih, yang udah ada gelar S2 semua. Nih, sebuah bentuk penghargaan, kalo ngedapat gelar itu gak mudah. Juga, harapan kalo dia S2, setidaknya udah sering belajar tentang kondisi untuk dijadikan lebih baik. Hm...
(Hahaha, nih Ketua RW di tempatku, Pak Boyman, wong Ponorogo. Tampangnya syerem ya? Tapi orangnya baik dan bijaksana, kok!)

Ketika artikel ini aku posting, hasil quick qount udah banyak bermunculan di TV. Yups, agak lega juga dengan hasilnya. Partai Demokrat menang. Cuma agak menyayangkan juga sih, banyak saudara-saudara kita yang golput. Rudy aja golput! Coz, dia kan gak lagi di Yogya ketika pemilu. Padahal KTP-nya kan KTP Yogya. Tapi, kayaknya, dia emang gak terlalu peduli... T_T
Yah, biar sajalah, gak semua orang punya pemikiran yang sama. Sejauh ini, gak terlalu prinsipil banget, jadi masih bisa dimaklumi. Hue'e'e!
(Sembari nunggu, kita bisa lihat-lihat dulu daftar orang-orang yang bakal kita pilih)

Well, bagi yang kemarin juga ikut pemilu: selamat Anda sudah tepat dalam mengambil tindakan. Aku pikir, dengan menyuarakan aspirasi kita, kita jadi lebih bertanggung jawab dengan pilihan kita. Untuk kemudian, kita sama-sama mencari jalan terbaik untuk negara ini. Dan saya berharap, siapapun yang terpilih nanti, dia harus bisa menjaga amanah, jujur, dan terus memberikan gebrakan agar Indonesia dapat terus maju dalam mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga. Semangat!!!

Sabtu, April 04, 2009

Perpustakaan Daerah Sumatera Selatan

(Perpusda Sumsel tampak depan. Tempatnya asri dan teduh, meski sayang karena agak masuk dari jalan besar, jadi tidak terlalu kelihatan keberadaannya)

Dunia membaca merupakan dunia yang paling menarik. Dengan membaca, kita seolah memasuki dunia lain yang berbeda dari yang kita jalani saat ini. Membaca juga merupakan salah satu kegemaran saya, terlebih ketika kuliah dulu. Terang saja, karena ini merupakan kegiatan menyenangkan paling murah meriah.

Suka membaca bukan berarti sok jadi kutu buku. Kadang dulu, kalo lagi di kereta Prameks (Prambanan Ekspress) perjalanan dari Yogya-Solo atau Solo-Yogja, saya pasti harus membawa satu buah buku untuk saya baca. Lumayan, daripada ngeliatin orang tidur, kan mending baca. Entah baca buku bahan kuliah atau baca buku fiksi.

(Fasilitas "Free Hotspot Area" menjadi salah satu alasan banyak pengunjung yang datang ke Perpusda Sumsel)

Saya suka baca buku sejak kecil, dimulai dari mengkonsumsi Majalah Bobo milik tetangga. Baru kemudian berurusan dengan perpustakaan itu sejak duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Berikut ini nama-nama perpustakaan yang selalu dengan setia menemani saya dalam menjalani hobi melahap kata-kata, hee... :
  1. Perpustakaan Sekolah SMP Negeri 19 Palembang (1996-1999): Lupus, Detektif Tiga Serangkai, Lima Sekawan, dll
  2. Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan (1996-1999): Komik, buku cerita, dll. Lanjut lagi (23 Januari 2009-sekarang): Buku cerita, novel, buku-buku bisnis, buku-buku kepemimpinan, dll
  3. Perpustakaan Sekolah SMU Plus Negeri 17 Palembang (1999-2002): Majalah, buku cerita, dll
  4. Perpustakaan Fisipol UGM Yogyakarta (2002-2005), lanjut lagi sebagai anggota luar biasa (2007-2008): Buku-buku kuliah, dll
  5. UPT 2 UGM Yogyakarta: Buku kuliah, buku motivasi, dll
  6. Perpustakaan FISIP UNS Solo: Buku kuliah, skripsi, buku tentang komputer, dll
  7. Perpustakaan Pusat UNS Solo: Buku kuliah, skripsi, dll
(Mobil perpustakaan keliling Perpusda Sumsel. Kapan nih, keliling ke Super Bimbel GSC Sudirman? :))

Nah, beberapa waktu yang lalu, tepatnya 23 Januari 2009, saya kembali menjadi anggota Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan yang beralamat di Jl. Demang Lebar Daun 47 Palembang 30137 setelah vakum selama 10 tahun. Wow! Lama juga ya? Dulu, pernah menjadi anggota Perpusda Sumsel ketika masih SMP. Inget banget, kalo ke sana setiap pulang sekolah di hari Rabu. Dibela-belain banget, jalan kaki dari SMPN 19 sampai ke jalan besar (200 meter) untuk naik angkutan kota (angkot) Wayhitam-Talang Betutu. Nanti stop di persimpangan Jalan Way Hitam (Istana Gubernur Sumsel), trus jalan lagi sampe Perpusda Sumsel. Tuh, mungkin sampe 350 meter. Ntar kalo mo pulang ke rumah, jalan lagi dari Perpusda sampe persimpangan Jalan Way Hitam untuk kembali naik angkot Wayhitam-Talang Betutu. Habis itu stop di simpang jalan mo ke rumah, Jl. Mandi Api. Yups, benar! Jalan lagi sekitar 200 meter, baru kemudian sampe rumah! Jadi sekarang, bersyukur banget udah ada Mio Biruku yang bisa membawaku kemana-mana. Jadi gak perlu jalan kaki lagi, yang gara-gara itu bikin kakiku gede! Hahaha...

Oya, ada banyak hal yang berubah dari Perpusda Sumsel ketika aku kembali menjadi anggotanya 3 bulan yang lalu. Dulu ketika aku masih SMP, mereka masih pake sistem manual, alias tulis tangan kalo mo pinjam atau mengembalikan koleksi. Nah, sekarang, semuanya pake sistem komputerisasi. Meski sayang, mungkin cuma kartuku yang bermasalah, tapi code numberku selalu gak terbaca kalo dilaser. Alhasil, tetap ngetik ke komputer berapa nomor anggotanya. Hee!

(Waktu layanan Perpusda Sumsel, yakni Senin s/d Jumat 08.00 - 15.30 WIB, Sabtu 08.30 - 15.00 WIB, dan Istirahat Jumat 11.00 - 13.30 WIB)

Nah, kalo di perpusda, setiap kali pinjam kita bisa meminjam sebanyak 3 buah buku. Lama waktu pinjamnya adalah 1 minggu, dan bisa diperpanjang sebanyak 3 kali. Aku pernah telat, lho! Hohoho! Kena dendanya Rp 200,- per buku/hari. Untung cuma pinjam 1 buku waktu itu, dan cuma telat 1 hari. Jadi cuma kena denda Rp 200,- Tapi tetap pake kwitansi komputer lho ketika membayar denda yang cuma 200 perak itu. :)

Pengalaman ngilangin buku itu pernah ketika jadi anggota Perpustakaan Pusat UNS. Gak salah-salah, aku ngilangin novel Biru-nya Fira Basuki. Alhasil, aku harus mengganti buku dengan judul yang sama. Untung gak tambah diberatkan dengan keterlambatan pengembalian. Cukup adillah, ngilangin buku, yah gantinya juga buku yang diilangin. Untungnya juga masih dijual di pasaran, jadi masih bisa dibeli.

(Beberapa pengunjung Perpusda Sumsel yang memanfaatkan fasilitas free hotspot)

Selain perpustakaan, aku juga suka jadi anggota rental komik/novel/majalah. Maklumlah, kalo lagi gak ada budget untuk beli buku, meminjam buku itu bukan suatu hal yang salah kan? Hm, kapan ya, Palembang ada bazar buku kayak di Yogya dan di Solo? Pengen banget ada toko buku sejenis Toga Mas Yogya di Palembang ini. Tuh toko buku mo franchisee gak sih? Kalo iya, aku mau jadi franchiseenya! Hahaha! Pasti bakal rame, deh! Orang Palembang kan, walau emang doyan belanja baju ma makan, tapi mereka juga suka baca buku lho! Like me... Hue'e'e...
Well, gimana dengan kamu, suka ke perpustakaan juga gak???

Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan
Jl. Demang Lebar Daun 47 Palembang 30137
Telp. 0711-357175, Faks. 0711-317342
Email: banpustaka@yahoo.com, Website: www.banpustaka.com

Minggu, Maret 29, 2009

Sinetron Cinta Fitri Season 3

Hehehe... Harus saya akui memang, saya termasuk penggemar sinetron Cinta Fitri Season 3. Tapi, harus dicatat juga lho, hanya Season 3. Yang 1 sama 2 emang pernah nonton, tapi gak terlalu mengikuti. Awalnya suka emang gak sengaja. Awalnya aku malah suka nonton sinetron Alisa di RCTI, secara ada Christian Sugiono. Huekekek! Nah, tuh sinetron kan barengan ma Cinta Fitri, dan ibuku adalah penggemarnya. Jadi, kalo Alisa iklan, pasti langsung ganti Cinta Fitri. Awalnya selalu begitu, mentingin Alisa dulu, baru Cinta Fitri.
Nah, makin ke sini, awalnya ketika adegan Pak Hutama meninggal yang penuh haru biru itu, aku jadi semakin dibuat penasaran sama ceritanya. Akhirnya sekarang urutannya kebalik, Cinta Fitri nomor 1, Alisa di nomor 2. Abis, nonton Alisa, bawaannya kesel terus. Gitu-gitu aja aktingnya, gak bikin penonton penasaran. Alisa pasti selalu ngalah *ngalah ato bodoh sih?*, trus si Natasya pasti marah-marah aja kerjaannya. Gak capek apa ya, marah-marah trus? Kurang kreatif deh, sutradaranya... :P
Makanya, sekarang aku jadi suka nonton Cinta Fitri Season 3. Seru banget kalo udah liat Farrel (Teuku Wisnu) dan Oma (Ida Kusumah) akting! Tapi, aku gak suka liat permasalahan si Mozza-Aldo-Tristan. Tahu ya, gak tertarik aja, kalo nonton sinetron, konfliknya orang ketiga gitu. Trus, gak suka juga liat si Bemo! Norak banget lucunya. Lebih suka liat Yoga sama dulu ada anak cewek yang kecil itu. Coz lucu, sama-sama cadel.
(Teuku Wisnu. Hm, cool banget ya gayanya? Hee...)

Cinta Fitri Season 3 adalah sinetron stripping yang diputar di SCTV pukul 21.00 - 22.30 WIB. Malem banget ya? Tapi, walau malem, aku tetep ngikutin, kok! Hee... Para pemeran Cinta Fitri itu, ada:
Shireen Sungkar (FITRI)
Teuku Wisnu (FARREL EMMERALD HUTAMA)
Ida Kusumah (OMA)
Ahmad Adly Fairuz (ALDO)
Donita (MOZZA)
Iqbal Pakula (BRAM)
Verlita Evelyn (MAYA)
Dinda Kanya Dewi (MISCHA)
Elsye Virgita (AMALIA HUTAMA)
Nuri Maulida (KAYLA)
Lian Firman (HADI)
Boy Tirajoh (HUTAMA)
Sandy Syarief (FAIZ)
Anbo Ontocheno (YOGA)
Cerita/Skenario: Hilman Hariwijaya
Sutradara: H. Encep Masduki
(Dinda Kanya Dewi. Pemeran si ular cobra, si ular sanca, si blekok, hehehe, di Cinta Fitri Session 3)

Menangnya sinetron Cinta Fitri Season 3 di ajang Panasonic Award ke-12 tahun 2009 ini jelas saya dukung sekali. Hohoho! Di blog/web lain banyak yang kontra sih... Tapi, saya nggak. Walau gak ikutan ngirim polling sms di ajang itu *pulsa mahal, om/tante*, tapi saya setuju dengan keputusan itu. Hee...
Nih, daftar kemenangan Cinta Fitri Season 3:
Program Drama Seri Terfavorit:
1. Cinta Fitri Season 3 (Pemenang)
2. Azizah
3. Soleha
4. Cinta Bunga
5. Cahaya
Aktor Terfavorit :
1. Teuku Wisnu (Pemenang)
2. Rezky Aditya
3. Dude Herlino
4. Christian Sugiono
5. Adly Fairuz
Aktris Terfavorit:
1. Shireen Sungkar (pemenang)
2. Chelsea Olivia Wijaya
3. Alyssa Soebandono
4. Naysila Mirdad
5. Luna Maya
(Shireen Sungkar. Moga awet aja ya sama Adly Fairuz-nya. Nice couple, deh!)

Kalo nonton sinetron ini, pasti suka banget ketika adegan Oma nampar Mischa (Dinda Kanya Dewi). Hohoho! Ato ketika Mischa dikerjain sama Oma! Hohoho lagi... Tahu ya, udah tahu nih cuma sinetron, tapi tetep aja emosi pas lagi nonton. Beda banget kalo pas nonton Alisa ato sinetron laen. Yaa, perbandingan aku cuma Alisa sih. Cos aku cuma suka nonton 2 sinetron ini. Yang laen, gak mau nonton! Hee...
Oya, nih suka sebel tentang perubahan di akhir tayangan Cinta Fitri. Biasanya kan suka ada cuplikan untuk episode mendatang, tapi sekarang udah gak ada lagi. Pada belum syuting kali ya? Tapi, yang bikin tambah sebel, malah diganti cuplikan sinetron Terlanjur Cinta. Yaelah, kayak bagus aja nih sinetron... :P
Well, saya sebagai penonton cuma berharap ending terbaik tuk sinetron yang diproduksi sama MD Entertainment ini. Kalo mo liat ketakutan orang-orang kalo nih sinetron bakal jadi Tersanjung kedua yang ceritanya babak belur, kayaknya gak gitu-gitu banget deh! Ceritanya tetap bagus! Tapi, ya itu tadi jangan sampe keluar dari logika, dan akhirnya happy ending. Hohoho, coz I like happy ending!!!

Sabtu, Maret 28, 2009

I Love This Movie: The Kite Runner

1) Identitas Singkat Film
Pemeran The Kite Runner : 
- Khalid Abdalla (Amir Dewasa)
- Atossa Leoni (Soraya)
- Shaun Toub (Rahim Kahn)
- Zekeria Ebrahimi (Amir Kecil)
- Ahmad Khan Mahmodzada (Hassan Kecil) 
Sutradara : Marc Forster 
Durasi : 2 jam 25 menit 
Distributor : Paramount Vantage 
Tanggal Rilis : 14 Desember 2007 (US), Februari 2008 (Indonesia)

2) Alur Cerita Film yang Menarik
I love this movie!!! Aku paling suka lihat aktingnya si Hassan kecil (Ahmad Khan Mahmodzada), sang peraih "Best Young Actor" di ajang anugerah film versi Critics Choice Award. The Kite Runner adalah sebuah film produksi Paramout Picture yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Khaled Hosseini. Film ini sendiri diproduksi tahun 2007 yang lalu. Sementara novel aslinya terbit tahun 2003. Untuk novelnya yang berada dalam Bahasa Indonesia, penerbit Mizan sudah menerbitkannya tahun 2008. Tapi harganya cukup mahal sih, Rp 63.000,-

(Adegan Hassan Kecil ketika mendapatkan hadiah ulang tahun dari tuannya, sebuah layang-layang)

Film ini dimulai dari adegan kota pinggiran Amerika yang didiami oleh para imigran Afganistan. Amir dewasa yang tinggal di Amerika itu tiba-tiba mendapat telfon dari rekan ayahnya di Afganistan. Negara asalnya, yang ia tinggalkan bertahun-tahun. Usai adegan telfon itu, barulah film bergerak mundur, yakni bercerita tentang masa kecil Amir dan sahabat kentalnya, Hassan. Diceritakan bila Amir adalah anak seorang politikus di Afganistan, dan Hassan adalah anak pembantu di rumah Amir. Namun, persahabatan mereka sangat kental. Perlombaan layang-layang menjadi ajang tahunan menjadi bukti betapa kompaknya persahabatan mereka. Apalagi ketika mereka memenangkan perlombaan tersebut. Adegan dimana layangan melayang-layang di udara sangat fantastis. Sangat artistik kalau aku boleh membandingkannya dengan anak-anak yang main di dekat rumahku. Hee... Mereka hampir seperti menari! Seru banget!
  
(Adegan ketika Hassan dengan jelas dapat menentukan kemana layangan akan jatuh ke tanah)

Namun sayang, persahabatan itu tidak berlangsung lama. Ketika Hassan berjanji untuk membawakan layangan yang berhasil diputus Amir dari lawannya, Hassan dihadang oleh 3 orang anak berandalan. Aku benci banget adegan ini! Hik, hik, hik, habis, bikin mataku jadi banjir. Walau gak diberikan adegan yang vulgar, meski itu sebuah hal yang vulgar... *apa ini? hehehe!* Tapi adegan darah menetes di tanah itu cukup menggambarkan semuanya. Sumpah deh, pengen aku tinju aja rasanya muka Amir itu. Bukannya nolongin, tapi dia pura-pura gak tahu ketika Hassan memberikan layangan yang dengan hal paling rendah itu ia pertahankan. Amir pun malah ingin Hassan yang pergi dari kehidupannya karena tidak kuat menahan rasa bersalah. Gak salah-salah, Hassan ia fitnah dengan menaruh jam tangannya di kamar Hassan.
  
(Hassan kiri yang memegang ketapel. Ia sangat mahir menggunakan ketapel, dengan ketapellah ia melindungi Amir dari gerombolan berandalan. Di adegan lain, nanti Sohrab, anak Hassan, juga akan menolong Amir dari kelompok garis keras Afganistan) 

Cerita di film ini memang mengalir dengan bagusnya. Tapi, aku emang terbuai dengan adegan ketika mereka masih kecil, bukan ketika mereka sudah besar dan didewasakan oleh waktu. Ketika kecil, Amir yang bercita-cita ingin menjadi penulis selalu membacakan karyanya kepada Hassan. Dan itu adalah hal yang terbaik! Sebuah ajaran tentang pendidikan. Meski Hassan tidak mengikuti sekolah formal, tapi dengan tekadnya ingin menulis surat untuk Amir, ia pun belajar membaca dan menulis. Kesalahan Amir ia tebus ketika ia sudah dewasa. Karena peperangan di Afganistan, maka ketika kecil mereka pun terpisah. Amir mengungsi ke Amerika bersama ayahnya. Dan Hassan tetap di Afganistan. Oya, sebelumnya ada adegan Hassan pergi dari rumah Amir. Dan ini pun kembali menguras air mataku. :)
  
(Adegan ketika Hassan dan Amir tengah bersiap-siap menuju arena perlombaan layang-layang) 

3) Nilai Pesan Film yang Berharga
Lalu, film pun kembali ke masa kini. Sebuah telfon dari Afganistan untuk Amir yang menyuruhnya kembali ke Afganistan. Demi menebus kesalahannya, ia pun pergi menemui sang paman yang sebenarnya rekan kerja ayahnya. Di usia yang tua, sang rekan ayah Amir itu menceritakan bila Hassan sudah meninggal. Dan ternyata terungkap bahwa Hassan sebenarnya adalah adik tiri Amir. Hassan sudah menikah dan mempunyai anak bernama Sohrab. Namun kini, Sohrab tengah ditawan oleh kelompok garis keras di Afganistan. Singkat cerita, Amir berhasil menemukan Sohrab. Dan ia pun membawa anak Hassan yang sudah menjadi bulan-bulanan para anggota kelompok garis keras itu ke Amerika untuk tinggal bersama Amir dan istrinya. Awalnya, Sohrab lebih banyak bersikap diam. Namun, ketika mereka ada di lapangan dan bermain layang-layang, Amir pun bisa memecahkan kebekuan suasana di antara mereka dengan menceritakan kembali tentang Hassan yang sangat mahir bermain layang-layang. "Untukmu, aku akan mengejarnya 1000 kali," ujar Amir menirukan perkataan Hassan, ketika ia mengejar layang-layang yang sudah berhasil diputus oleh Sohrab.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...