Jumat, Juli 10, 2009

Meretas Mimpi yang Terkunci

Semua manusia punya masa lalu. Sebagian disembunyikan, sebagian lagi dikeluarkan bahkan diblow-up. Saat kegagalan ada, saat kesedihan menghampiri, saat keburukan yang muncul, manusia berusaha membelenggu diri bahwa itu bukanlah bagian dari hidupnya. Semua sisi negatif itu berada di luar, sisi eksternal yang tak berhak bahkan hanya untuk meresap.
Sesosok tua pun berujar, sudah sewajarnya. Sudah sewajarnya manusia bangga dengan kesuksesan dan mengubur sisi gelap dirinya. Well, karena begitulah yang kulihat akhir-akhir ini. Lihat sosok-sosok manusia yang saat ini rajin berseliweran di media massa, SBY, Michael Jackson, Antasari Azhar, Manohara... Semua menonjolkan sisi positif, namun di pihak lawan, semua meracaunya dengan sisi negatif. Aku sendiri, lebih memilih untuk menjejali pikiranku dengan hal-hal yang positif. Biarlah yang negatif menjadi bagian pihak lain yang akan sedikit demi sedikit mengurangi aura kebahagiaan di senyum yang akan ia tawarkan kepada dunia.
Saat ini, di tengah serbuan cacian dan teriakan kebencian, senyum itu selalu menjadi penawar. Banyak peristiwa yang berusaha mengguncang, membuatku terdiam, namun aku percaya, saat tarikan nafas paling panjang telah terhembus, dan bibirku tertarik ke atas untuk tersenyum, maka semuanya akan baik-baik saja.
Hari demi hari telah berlalu. Sangat menyenangkan bila ada mimpi yang akan dikejar. Namun, bila kini semua mimpi itu hilang? Hidup terasa sangat datar. Tak ada yang menjadi alasan untuk terus berlari dengan kencang. Kini, hanya berjalan pelan, sambil sesekali melepaskan pandangan yang juga pelan... Ritme suara hidupku tak penuh warna lagi, semua menjadi berwarna biru.
Hanya ada satu alasan yang membuatku terus bertahan. Aroma udara itu. Aroma pertemuan dan memaafkan. Sama seperti beberapa waktu lalu, saat dunia sedikit berbaik hati, untuk mempertemukanku kembali dengan seorang teman lama. Ada sisi gelap yang menyelimuti lingkunganku saat itu, saat aku mengenal dia. Namun, sisi gelap itu dibiarkan menjadi masa lalu. Ia tak mengingatnya. Ia hanya menanyakan kabar, dan apa pekerjaanku sekarang.
Mimpi dan mimpi... Begitu banyak mimpi, namun begitu banyak alasan pula yang membuatnya hanya selalu menjadi mimpi. Dunia, sedikit banyak, aku ingin berterima kasih atas apa yang kujalani saat ini, yang kumiliki saat ini. Sungguh, aku berbahagia atas itu... Namun, sesosok tua itu pun berujar, manusia takkan pernah merasa terpuaskan atas apa yang ada. Dan jujur pula kukatakan aku butuh sebuah mimpi lagi yang membuatku merasa hidup ini penuh warna.
Satu mimpi saja... tentang harapan. Jangan biarkan aku menjadi layaknya mumi yang bisa tersenyum namun tak mengerti kepada apa dan siapa senyum itu kutujukan... Aku ingin satu saja mimpiku bisa terbangun, tak hanya terkunci dalam alam bawah sadarku. Sampai kutemukan satu alasan yang benar-benar bisa menyadarkanku tentang pentingnya mengejar mimpiku yang malu untuk kuraih, aku hanya ingin bisa bernafas normal. Tak pendek-pendek, dan tersengal. Tuhan... Bisakah Kau ciptakan lagi keajaiban untukku, sebuah jalan, untuk takdir, agar mimpi itu tak hanya sekedar mimpi...

1 komentar:

Eurek Mazeno mengatakan...

Yuk yang suka Taruhan Online Bisa Kunjungi kita di BandarVIP.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...