Selasa, Desember 02, 2008

Humor Arthur Asa Berger

A. Humor
Humor menurut cikal bakalnya berasal dari istilah Inggris, yang pada awalnya punya beragam arti. Menurut Fugel, seperti dikutip James Danandjaja dalam buku Humor Asli Mahasiswa, semua berasal dari istilah yang berarti cairan (Arwana dan Artanto, 2007:9). Arti ini berasal dari doktrin Ilmu Faal kuno mengenai empat cairan, seperti darah, lendir, cairan empedu kuning, dan cairan empedu hitam. Keempat cairan tersebut untuk beberapa abad dianggap menentukan temperamen seseorang. Berikut ini beberapa definisi humor, antara lain :
Lukman Ali, dkk (1997:361) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan humor sebagai: “(1) Sesuatu yang lucu, (2) kejadian yang menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan, dan (3) cairan atau zat setengah cair dalam tubuh.”
Definisi humor menurut Benton (di dalam Hassan, 1995:14), yakni: “Segala bentuk rangsangan yang cenderung secara spontan memancing tawa atau senyum para pembaca atau pendengar.”
Adapun, secara umum humor dapat didefinisikan sebagai berikut: “Rangsangan verbal dan, atau visual yang secara spontan memancing senyum dan tawa pendengar atau orang yang melihatnya.” (Wijana, 2004:xx)
Dari beberapa definisi humor di atas, dipahami bahwa dengan memasukkan humor dalam tayangan program televisi tentu sangat efektif. Terlebih saat ini humor sudah diakui sebagai bagian dari komunikasi. Ia menjadi sarana penyampaian pesan-pesan baik dalam dunia film, periklanan, media cetak dan retorika. Menurut Lembaga Humor Indonesia, humor dapat digunakan sebagai sarana persuasif yang efektif untuk mempengaruhi khalayak sasaran (Hassan, 1995:17). Hal ini karena sifat humor itu sendiri yang memancing tawa atau senyum sehingga suasana menjadi lebih santai dan menyegarkan. Alice M. Isen menyatakan bahwa humor yang membangun rasa menyegarkan bisa membantu melahirkan pikiran yang positif dalam memecahkan suatu masalah. Juga menurut Supangkat, humor dapat membangun rasa kreatif untuk mengatasi sesuatu keadaan (Hassan, 1995:17).
Di dalam masyarakat pun, humor, baik yang bersifat erotis dan protes sosial, berfungsi sebagai pelipur lara (Wijana, 2004:3). Hal ini disebabkan humor dapat menyalurkan ketegangan batin yang menyangkut ketimpangan norma masyarakat yang dapat dikendurkan melalui tawa. Tawa akibat mendengar humor dapat memelihara keseimbangan jiwa dan kesatuan sosial dalam menghadapi keadaan yang tidak tersangka-sangka atau perpecahan masyarakat. Pandangan itu didukung oleh Cristopher P. Wilson (di dalam Wijana, 2004:3) yang mengemukakan bahwa humor tidak selamanya bersifat agresif dan radikal yang memfrustasikan sasaran agresifnya dan memprovokasi perubahan, serta mengecam sistem sosial masyarakatnya. Tetapi dapat pula bersifat konservatif yang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan sistem sosial dan struktur kemasyarakatan yang telah ada.
Di dalam situasi masyarakat yang telah memburuk, humor menampakkan peranannya yang sangat besar. Humor dapat membebaskan diri manusia dari beban kecemasan, kebingungan, kekejaman, dan kesengsaraan. Dengan demikian, manusia dapat mengambil tindakan penting untuk memperoleh kejernihan pandangan sehingga dapat membedakan apa yang benar-benar baik dan benar-benar buruk. Dengan humor manusia dapat menghadapi ketimpangan masyarakat dengan canda dan tawa. Dengan demikian, menurut James Dananjaja, humor sebenarnya dapat dijadikan alat psikoterapi, terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam proses perubahan kebudayaan secara cepat dan hidup yang penuh dengan tekanan, seperti Indonesia (Wijana, 2004:4).

Pada aspek teori, diungkapkan oleh Jalaluddin Rakhmat (2000:126-127), bahwa di kalangan para filsuf dikenal tiga teori humor, yaitu :
1) Teori Superioritas dan Degradasi
Teori ini tepat untuk menganalisis jenis-jenis humor yang termasuk satire. Satire adalah humor yang mengungkapkan kejelekan, kekeliruan atau kelemahan orang, gagasan atau lembaga untuk memperbaikinya.
2) Teori Bisosiasi
Menurut teori ini, humor timbul karena kita menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat (juga kata) yang menimbulkan dua asosiasi.
3) Teori Pelepasan Inhibisi
Ini adalah teori yang paling ‘teoritis’, sehingga tidak begitu banyak manfaatnya.
Dalam suatu proses komunikasi, pengelompokkan humor dapat pula dilakukan berdasarkan tujuannya. Dalam hal ini Suhadi (di dalam Hassan, 1995:21), membagi humor dalam tiga jenis, yaitu:
1) Humor kritik
Humor jenis ini biasanya lahir dari rasa tidak puas hati seseorang atau kelompok terhadap lingkungan. Karena itu humor jenis ini mengandung sindiran atau kritikan yang amat tajam terhadap golongan atau oknum tertentu.
2) Humor meringan beban pesan (relief tension humors)
Biasanya untuk melengkapi pesan-pesan yang disampaikan atau memperjelas sesuatu maksud sehingga lebih mudah untuk dipahami.
3) Humor semata-mata hiburan (only recreation humors)
Merupakan humor yang sekedar melucu, hanya membuat orang tersenyum atau tertawa.
B. Humor Arthur Asa Berger
Bila meninjau pada proses terjadinya humor, teknik penciptaan humor cukup beragam. Menurut Arthur Asa Berger (2005:83) ada 45 teknik penciptaan humor yang sudah dikenal masyarakat dan secara garis besar teknik penciptaan humor itu dapat dikelompokkan dalam empat kategori, meliputi: Language (the humor is verbal), Logic (the humor is ideation), Identity (the humor is existential), dan Action (the humor is physical).
(Gambar: Prof. Arthur Asa Berger, Professor of Broadcast and Electronic Communication Arts, San Francisco State University)

Adapun penggolongan empat kelompok teknik penciptaan humor menjadi kelucuan dalam bahasa, kelucuan dalam logika, kelucuan dalam bentuk, dan kelucuan dalam gerakan itu dapat lebih jelas dilihat pada tabel sebagai berikut:
Teknik-Teknik Dasar Penciptaan Humor Berger
BAHASA: Sindiran, Omong kosong/bualan, Definisi, Melebih-lebihkan, Kelucuan, Ejekan, Kepolosan seks, Ironi, Kesalahpahaman, Kesalahan gaya bahasa, Permainan kata, Jawaban pasti
Sarkasme, Satire
LOGIKA: Kemustahilan, Kecelakaan, Kiasan, Susunan, Ketaksengajaan, Pembandingan, Kekecewaan, Ketidakpedulian, Kesalahan, Pengulangan, Pemutarbalikan, Kekakuan, Tema, Variasi
BENTUK: Sebelum/Sesudah, Drama berupa ejekan, Karikatur, Menimbulkan rasa malu, Keunikan, Pengungkapan rahasia, Keanehan, Imitasi/peniruan, Tiruan, Parodi, Status sosial, Klise, Pengungkapan identitas, Rahasia
GERAKAN: Adegan pengejaran, Adegan lawak, Adegan dalam kecepatan tinggi
Sumber: Berger (2005:83)

a. Aspek Bahasa
Menurut Berger, aspek bahasa atau language (the humor is verbal) adalah teknik penciptaan humor memanfaatkan aspek-aspek bahasa seperti makna dan bunyi untuk melahirkan suatu suasana lucu, baik melalui penyimpangan bunyi atau penyimpangan makna (Hassan, 1997:19). Cara penciptaan humor melalui kata-kata dianggap paling mudah dan paling banyak dilakukan, misalnya bersuara seperti burung, seorang lelaki menirukan percakapan wanita dan menirukan logat percakapan suku tertentu.
Berdasarkan KBBI (1997:77), makna bahasa adalah: sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Bahasa memang memiliki peran penting bagi kehidupan menusia untuk berinteraksi. Bahasa dapat digunakan manusia untuk menyampaikan ide, gagasan, keinginan, perasaan, dan pengalamannya kepada orang lain (Wijana dan Rohmadi, 2006:163). Bahasa mungkin bukan satu-satunya alat komunikasi manusia, selain juga dikenal isyarat, aneka simbol, kode, bunyi, namun semua itu baru akan bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia. Menurut Kentjono (1982:2), bahasa mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai alat kerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Maka, setiap manusia memang harus paham aspek kebahasaan.
Pemahaman terhadap aspek kebahasaan akan melengkapi atau menyempurnakan pemahaman terhadap aspek kebudayaan. Menurut Wijana dan Rohmadi (2006:146), ada keterkaitan erat antara konvensi bahasa dan konvensi budaya yang akan semakin mengukuhkan keyakinan bahwa pemahaman terhadap aspek-aspek kebahasaan memprasyaratkan pemahaman terhadap aspek kebudayaan. Artinya, ketika kita memahami teknik humor melalui aspek bahasa, maka aspek kebudayaan yang melekat pada pengguna bahasa itu pun akan senantiasa memberikan pengaruh. Menurut Mackey, besarnya pengaruh itu didasarkan atas berbagai indikator geolinguistik, seperti demografi, persebaran, ekonomi, kultural, dan ideologi (Wijana dan Rohmadi, 2006:64).
Adapun humor lazimnya memang lebih leluasa bila diekspresikan dalam kondisi tidak adanya jarak sosial atau situasional antara pembicara dan mitra wicara atau penulis dan pembaca (Wijana dan Rohmadi, 2006:138-139). Dengan tidak adanya jarak sosial dan situasional itu senyum atau tawa sebagai bukti fisik terjadinya penikmatan humor lebih leluasa dilepaskan. Secara situasional, berdasarkan teori dasar humor, kelucuan terbentuk dari tiadanya kesejajaran antara apa yang diharapkan, diasumsikan, atau dipraanggapkan dengan apa yang kemudian menjadi kenyataan. Pandangan dasar ini disebut dengan teori ketidaksejajaran (Incongruity Theory). Menurut Wilson, teori ini menyatakan bila humor terbentuk karena adanya penyatuan dua atau lebih situasi yang tidak sejajar ke dalam satu objek yang kompleks (Wijana dan Rohmadi, 2006:139).
Adapun berikut ini akan coba dipaparkan penjelasan mengenai 14 teknik dasar penciptaan humor yang ada di aspek bahasa, yakni:

a. 1. Sindiran
Sindiran atau kadang disebut guyon parikena adalah humor yang isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir. Tapi tidak terlalu tajam, bahkan cenderung sopan. Humor ini biasanya dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati, atau kepada pihak lain yang belum terlalu akrab. Ada juga yang menjuluki lelucon model ini sebagai lelucon persuasif dan berbau feodalisme. Sedangkan secara terminologi, menurut KBBI (1997:944), makna sindiran adalah perkataan (gambar dsb) yang bermaksud menyindir orang; celaan (ejekan dsb) yang tidak langsung.

a. 2. Omong Kosong/Bualan
Dari KBBI (1997:703), makna omong kosong adalah cakap angin atau bual. Sedangkan bualan (KBBI, 1997:147) bermakna sesuatu yang dibualkan. Teknik penciptaan humor dengan kekuatan omong kosong/bualan dapat dilakukan dengan menempatkan si pencetus humor sebagai subyek yang tidak mungkin atau diragukan melakukan sikap atau tindakan seperti yang ia katakan kepada khalayak. Pemaknaan omong kosong/bualan ini mungkin setara dengan hal yang diremehkan. Namun, memang tidak segala hal yang remeh temeh itu adalah omong kosong (Stania, 2007).
Contoh ketika sejumlah orang berpendapat, bahwa seseorang tidak perlu terlalu paham hal teknis, cukup konseptisnya saja. Pendapat itu membagi kekhususan pribadi: ada pribadi 'pemikir' dan pribadi 'pekerja'. Pendapat ini tentunya layak dibantah, sebab tidak mungkin ada 'pekerja' yang bisa melakukan sesuatu tanpa berpikir. Sebaliknya, 'pemikir' yang tidak bekerja juga hanya menghasilkan omong kosong yang ironisnya banyak tulisannya dikonsumsi oleh pembacanya.

a. 3. Definisi
Berdasarkan KBBI (1997:216), arti definisi adalah:
(1) kata, frase atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; batasan (arti). Dari arti KBBI itu, maka bila definisi dipergunakan sebagai teknik penciptaan humor, dapat dengan mengacu pada teori ketidaksejajaran. Artinya, definisi yang diberikan atas suatu konsep oleh pencetus humor, ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, diasumsikan, atau dipraanggapkan oleh penerima humor. Misal, ketika si pencetus humor mendefinisikan bidadari, yang seharusnya adalah wanita cantik yang ada atau turun dari kayangan, menjadi monyet bergincu.

a. 4. Melebih-lebihkan
Menurut KBBI (1997:574), makna kata melebih-lebihkan yakni menambah-nambahkan banyak hingga lebih dari keadaan yang sebenarnya. Sedangkan menurut sebuah komunitas animasi, AINAKI, makna Exaggeration (Melebihkan-lebihkan) adalah membuat gambar dalam suatu aksi menjadi lebih meyakinkan atau lebih terlihat lucu (Ainaki, 2007). Misalnya Mickey mengendarai mobil butut, mobilnya berguncang dan berisik, lalu plat nomornya rontok dan saat belok bannya meletus.

a. 5. Kelucuan
Ditinjau dari KBBI (1997:604), kelucuan berarti kejenakaan. Jika meninjau Hobbes (The Elements of Law, Natural and Politics), ia yakin bahwa suatu kelucuan adalah “tiada lain merupakan suatu kepuasan yang muncul dari konsepsi secara tiba-tiba tentang yang hebat, dengan memperbandingkannya dengan kelemahan yang lain” (Min, 2007). Inilah yang lazim disebut teori superioritas. Misal, dalam komedi gaya betawi yang terkadang penuh umpatan, atau bagaimana kita tertawa karena Dono selalu sial terus dibanding dua kawannya.
Selain itu, ada pula teori kedua dari Freud (Jokes And Their Relation to the Unconsciousness), kelucuan itu tidak lain adalah pelepasan dari ketegangan (Min, 2007). Ini dikenal sebagai relief from tension theory. Hal-hal di dunia ini telah dibatasi sedemikian rupa sehingga manusia menjadi tegang. Pelepasannya muncul dari joke yang menjadi semacam katarsis. Dalam joke, orang menertawakan yang tersembunyi, seperti seks, politik, atau norma-norma.

a. 6. Ejekan
Menurut KBBI (1997:251), ejekan adalah perbuatan mengejek. Di ajaran agama—Islam—, ejekan merupakan sebuah larangan yang diharamkan.
Namun, dalam teknik penciptaan humor, ejekan menjadi salah satu yang dapat digunakan untuk memancing tawa. Ejekan biasanya dilemparkan, yakni kekurangan fisik, seperti tubuh yang terlalu gendut atau kurus, gigi yang “tonggos”, hidung pesek, dan lain-lain. Selain kekurangan fisik, bisa juga hal-hal lain yang pada dasarnya dapat membuat lawannya menjadi malu dan inferior.

a. 7. Kepolosan Seks
Berdasarkan KBBI (1997:781), kepolosan berarti kesederhanaan (tentang sikap dan tingkah laku); kejujuran (pikiran, hati, dsb). Kemudian makna kata seks menurut KBBI (1997:893) adalah jenis kelamin. Kepolosan seks di sini bukan seks dalam arti gender atau jenis kelamin, tetapi seks yang mengandung makna menjurus ke porno-pornoan atau bahkan, full porno. Lelucon jenis ini banyak beredar di kalangan terbatas. Di kantor-kantor, antarteman, atau antarkomunitas. Di beberapa seminar, apalagi seminar tentang seks, situasi ini tak dilewatkan oleh pemakalah yang ingin memperoleh respon maksimal dari peserta.

a. 8. Ironi
Ironi, menurut KBBI (1997:387-388) adalah: kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir: peristiwa pembunuhan atas Mahatma Gandhi adalah sesuatu ~ karena ia adalah seorang pejuang tanpa kekerasan yang paling gigih. Ironi macam apa pun—ironi verbal, ironi situasi, atau ironi dramatik—pasti berakhir pada kebalikan (Darma, 2005). Ironi verbal adalah kebalikan antara ucapan dan maksud sebenarnya. Contohnya, "Aduh, alangkah cantik kau!" padahal maksud sebenarnya adalah "Ah, kamu itu jelek!" Ironi situasi terjadi, ketika situasi hati seseorang ternyata berlawan arah dengan kenyataan. Misal, seseorang bernama Ida telah lama mengenal seseorang lain bernama Adi. Karena selama ini Adi berperilaku baik, maka Ida berkeyakinan bahwa Adi pasti baik. Namun tanpa diduga, terbongkarlah yang sebenarnya, ternyata Adi adalah seseorang yang jahat.
Ironi dramatik terjadi manakala "dia tidak tahu, tapi aku tahu". Misalnya, dalam film penonton tahu bahwa penjahat itu sebetulnya anggota polisi, yang terpaksa menyamar sebagai penjahat untuk menangkap penjahat yang asli. Penjahat asli tidak tahu bahwa dia bukan penjahat, sementara penonton tahu dia adalah polisi. Maka, inti ironi adalah kontras antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi atau apa yang lumrah dengan kenyataan (Hsc, 2007). Artinya, ironi dipakai untuk menggambarkan dengan lebih gamblang suatu keadaan, dan melaluinya sering pesan disampaikan. Contoh: Seseorang menuruti saran untuk pergi ke suatu kota guna menghindarkan diri dari bahaya. Ironisnya, justru di kota itu dia mengalami petaka.

a. 9. Kesalahpahaman
Makna kata kesalahpahaman menurut KBBI (1997:865) adalah salah pengertian, salah tangkap. Sedangkan menurut Iman Wantolo (2007), kesalahpahaman adalah sebuah bentuk dari ketidakjelasan interaksi. Jadi kesalahpahaman akan sangat bertumpu pada sumber-sumber yang obyektif. Kemajemukan menjadi salah satu penyebab implikasi yang sangat signifikan tentang pembentukan pola pikir yang dapat menciptakan kesalahpahaman. Misal, alasan kepentingan manusia yang berlawanan dengan nilai kemanusian menjadi tidak relevan karena hal itu berkorelasi dengan sudut pandang yang subyektif seseorang.

a. 10. Kesalahan Gaya Bahasa
Berdasarkan KBBI (1997:865) arti kesalahan adalah: kekeliruan. Kemudian makna dari gaya bahasa (KBBI, 1997:297), yakni: pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis. Bahasa yang tertib menyangkut pula penggunaan ejaan yang benar dan konsisten sesuai dengan Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Hal yang tak kalah pentingnya adalah kepaduan (koherensi dan kohesi) antarkalimat dan antarparagraf. Demikian pula dengan logika bahasa dan efisiensi penggunaan bahasa harus diperhatikan. Misalnya, sebuah surat kabar membuat pedoman praktis penyuntingan bahasa. Pedoman ini meliputi tata tulis dan ejaan, tata kata, tata kalimat, kepaduan wacana, gaya bahasa, dan logika bahasa. Jadi, penciptaan humor dari kesalahan gaya bahasa yakni dengan menyalahi kaidah berbahasa yang selama ini sudah dibakukan dalam sistem berbahasa yang ada.

a. 11. Permainan Kata
Menurut KBBI (1997:614), makna permainan adalah: sesuatu yang digunakan untuk bermain, barang atau sesuatu yang dimainkan. Sedangkan kata menurut KBBI (1997:451) adalah: unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Dari definisi KKBI di atas, dapat dikolaborasikan bila pemahaman makna permainan kata adalah perbuatan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh atau bermain-main dalam hal memainkan kata yang diujarkan atau dibicarakan. Sehingga dalam penciptaan humor, permainan kata yakni dengan membolak-balikkan kata sehingga terdengar lucu ketika diucapkan.

a. 12. Jawaban Pasti
Makna jawaban dari KBBI (1997:405) adalah sahutan; balasan; tanggapan. Kemudian, makna pasti menurut KBBI (1997:735) adalah sudah tetap; tidak boleh tidak; tentu; mesti. Jawaban pasti artinya jawaban yang menjadi satu-satunya jawaban atas sebuah pertanyaan. Contohnya, menurut Surjadie (2007), semua orang setuju 1 + 1 = 2, sudah pasti dan tidak ada perdebatan. Tetapi tidak semua orang di dunia ini setuju Tuhan itu ada, jadi masih merupakan perdebatan. Biasanya, hanya agama yang memberi jawaban yang pasti atas sesuatu yang tidak pasti. Ilmu pengetahuan tidak memberikan jawaban pasti, tetapi hipotesa. Albert Einstein menyatakan, "Jika manusia bisa terbang menyamai kecepatan cahaya, maka ada kemungkinan kembali ke masa lalu atau menyebrang ke masa mendatang." Beda dengan agama yang memastikan "Tuhan itu ada dan Dia Maha Pencipta." Bandingkan jika statement tersebut diubah menjadi "Jika Tuhan itu ada, maka mungkin Dia Maha Pencipta."

a. 13. Sarkasme
Menurut KBBI (1997:881), sarkasme adalah: (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar. Sarkasme atau bisa juga disebut sinisme merupakan jenis representasi humor yang memiliki kecenderungan memandang rendah pihak lain. Umpamanya, tidak ada yang benar atau kebaikan apa pun dari pihak lain, dan selalu meragukan sifat-sifat baik yang ada pada manusia. Lelucon ini lebih banyak digunakan pada situasi konfrontatif. Targetnya, membuat lawan atau pihak lain mati kutu atau cemar.

a. 14. Satire
Dari KBBI arti satire (1997:883) adalah: gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseoran. Mirip seperti jenis sindiran karena sama-sama menyindir atau mengkritik tapi muatan ejekannya lebih dominan. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat membebani dan sangat tidak mengenakkan. Beberapa karikatur (political cartoon) di media barat punya kecenderungan yang kuat ke arah ini.

b. Aspek Logika
Menurut Berger, aspek logika atau logic (the humor is ideation) adalah ide penciptaan humor melalui permainan logika. Dalam ide ini khalayak pada awalnya tidak menduga bahwa itu adalah sebuah humor. Suatu cerita atau gagasan pada awalnya menggunakan logika biasa, kemudian secara mendadak logika cerita atau ide itu dibelokkan hingga jalan cerita itu menjadi tidak runtut lagi, karena itu ide ini juga dikenal dengan belokan mendadak (Hassan, 1997:19).
Menurut Ofm (2005:7), logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Suatu pemikiran disebut lurus, bila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam logika. Namun meski begitu, kebenaran itu memang selalu perlu digandengkan dengan kebenaran isi atau materialnya. Sedangkan jika ditinjau dari KBBI (1997:599), maka makna logika adalah pengetahuan tentang kaidah berpikir.

b. 1. Kemustahilan
Makna kata kemustahilan menurut KBBI (1997:676) adalah sesuatu (hal) yang mustahil; sesuatu (hal) yang tidak mungkin terjadi. Anggapan kemustahilan biasanya muncul bukan saja karena ia tidak ilmiah, tapi terutama karena tidak sesuai dengan kenyataan (Darmaputra, 2007). Contoh paling mudah adalah kematian. Apakah ada orang yang mampu hidup selama-lamanya? Bagi orang-orang moderen, yang justru mustahil adalah mengatakan, bahwa ”tidak ada yang mustahil”. Mereka akan mengatakan, bahwa di hadapan manusia ada kemungkinan yang tidak terbatas. Maka, pantang apabila mematok batasan-batasan, mengenai apa yang boleh dan apa tidak boleh dilakukan oleh suatu riset ilmiah. Namun demikian, mengatakan bahwa ada kemungkinan-kemungkinan yang ”tak terbatas”, sebenarnya mengatakan bahwa yang ”tak terbatas” itu pada satu titik ada batasnya juga. Hanya saja, kita tidak mengetahui di mana batas itu berada.
Di dalam penciptaan humor, kemustahilan selalu dibenturkan antara pemahaman awam tentang kenyataan dengan pemaksaan si pencetus humor bahwa segala sesuatu yang ia ungkapkan mungkin saja terjadi. Dan hal itu terus ia kuatkan dengan alasan-alasan yang aneh dengan maksud menimbulkan kelucuan.

b. 2. Kecelakaan
Menurut KBBI (1997:179) makna kecelakaan adalah: hal celaka; bencana; kemalangan; kesusahan. Jenis kecelakaan ini sama halnya bila dikatakan sebagai jenis humor kelam. Sering juga disebut black humor atau sick joke. Isinya soal malapetaka. Kengerian. Lelucon tentang orang yang dipenggal kepalanya, bunuh diri, pemerkosaan dan sejenisnya. Pendek kata berisi tentang segala sadisme dan kebrutalan.

b. 3. Kiasan
Berdasarkan KBBI (1997:499) arti kiasan yaitu: pertimbangan tentang suatu hal dengan perbandingan atau persamaan dengan hal yang lain. Jenis kiasan ini dapat disamakan dengan analogi. Ia disasarkan ke dunia Anuland atau Antah Berantah. Hal ini untuk mencapai persamaan-persamaan dengan kondisi atau situasi yang ingin di-“bidik”. Puisi-puisi Emha Ainun Nadjib yang dibacakan dalam pentas keliling “Komunitas Pak Kandjeng”, atau beberapa lakon Teater Koma yang banyak bermain dengan “lelucon” analogi.

b. 4. Susunan
Menurut KBBI (1997:982), susunan berarti sesuatu yang sudah diatur dengan baik (organisasi, karangan, dsb). Jenis susunan disebut pula olah logika. Lelucon ini bergaya analisis. Arthur Koestler menyinggungnya dalam teori bisosiatifnya. Lelucon ini banyak digemari masyarakat tertentu, terutama dari kalangan terdidik. Contoh joke, seorang laki-laki dari desa tersesat di Jakarta. Ia menghampiri pria yang duduk di halte bus sendirian. “Dik, numpang tanya, gedung tinggi itu namanya apa?” lalu dijawab, “Mulia Tower.” Laki-laki dari desa itu kegirangan, “Asyik... akhirnya sampai juga aku di Monas.”

b. 5. Ketaksengajaan
KBBI tidak memuat langsung makna kata ketaksengajaan. Namun kata ketaksengajaan dapat ditelusuri maknanya dari kata sengaja (KBBI, 1997:912) adalah: dimaksudkan (direncanakan); memang diniatkan begitu; tidak secara kebetulan. Ditambah makna kata tak yang menurut KBBI (1997:992) berarti tidak. Maka, jika dikolaborasikan dapat dimaknai bahwa ketaksengajaan adalah tidak bermaksud/berniat untuk melakukan perbuatan yang kini telah terjadi, dengan kata lain yakni kebetulan. Dalam teknik penciptaan humor, misalnya pelawak tak sengaja menyenggol bagian tubuh seorang artis. Meski hal ini suatu ketaksengajaan, tapi pelawak bisa saja menjadikannya kelucuan dengan menggambarkan bahwa itu adalah “berkah” untuknya.

b. 6. Pembandingan
Makna pembandingan menurut KBBI (1997:87) adalah proses (perbuatan, cara) membandingkan. Adapun arti kata membandingkan menurut KBBI (1997:87) adalah menyamakan dua benda (hal dsb) untuk mengetahui persamaan atau selisihnya. Jenis pembandingan sama halnya dengan jenis unggul-pecundang. Seringkali disebut teori superioritas-interioritas. Lelucon yang muncul dari perasaan diri unggul karena melihat cacat, kesalahan, kebodohan, kemalangan pihak lain. Apresian dari kelompok penggemar lelucon ini tega terpingkal-pingkal melihat orang pincang, orang buta, orang terbelakang, orang sial, orang malang dan lain-lain.

b. 7. Kekecewaan
Menurut kamus Webster’s, kekecewaan adalah perasaan yang terjadi karena menginginkan sesuatu namun tidak mendapatkannya (Sinamo, 2007). Menurut Sinamo (2007), kekecewaan ada dua jenis. Pertama, kekecewaan bodoh, yakni kekecewaan itu sesungguhnya tidak perlu terjadi. Sebab utamanya adalah harapan yang tidak realistik, ambisi yang tidak masuk akal, keinginan yang mustahil, ilusi dan impian di siang bolong. Secara umum, tidak semua keinginan kita tercapai. Misalnya, orang berharap kaya raya dengan memasang lotere atau bermain judi, padahal kita tahu penjudilah yang biasanya bangkrut jatuh miskin.
Kedua, kekecewaan sehat, yaitu kekecewaan yang dirasakan ketika rasa keadilan diinjak-injak, kebenaran dijungkirbalikkan, kerja keras dilecehkan, penipuan dihargai, cinta tulus dibalas pengkhianatan, kebaikan disepelekan, dan kesucian diolok-olok. Kekecewaan seperti ini, selain sehat dan wajar, juga berpotensi mengubah kita menjadi orang besar. Seperti yang terjadi pada Sidharta Gautama, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan A.H. Nasution. Sedangkan kata kekecewaan menurut KBBI (1997:459) bermakna perasaan kecewa. Sedangkan kata kecewa (KBBI, 1997:459) itu sendiri berarti: kecil hati; tidak senang; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dsb. Kekecewaan yang digunakan sebagai teknik penciptaan humor, biasanya menekankan pada perubahan reaksi yang terjadi pada si pelaku humor. Misalnya, dia direncanakan akan mendapatkan hadiah uang sebesar satu milyar rupiah, dia sudah sangat gembira akan berita itu. Tapi tiba-tiba hadiah itu tidak jadi, dan dia kecewa dengan cara menangis sekeras-kerasnya. Pembelokan logika ini kadang menjadi lucu bagi orang yang menyaksikannya.

b. 8. Ketidakpedulian
Ditelusuri pada KBBI, tidak ada cantuman kata ketidakpedulian. Namun, hal ini dapat diatasi dengan menegatifkan makna kata kepedulian. Adapun makna kepedulian menurut KBBI (1997:740) adalah perihal sangat peduli; sikap mengindahkan (memprihatinkan). Sedangkan kata peduli menurut KBBI (1997:740) adalah mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan.
Maka, makna ketidakpedulian adalah sikap tidak memperhatikan atau tidak menghiraukan orang lain. Dalam teknik penciptaan humor, ketidakpedulian sering dilakukan oleh pelawak dengan bersikap “cuek” terhadap pelawak yang lain, yang dia anggap sebagai musuh atau saingannya. Jadi, sementara pelawak yang satu berbicara padanya, ia malah tertarik untuk memperhatikan hal lain. Hal ini menimbulkan perasaan superior, dan penonton kadang bukannya merasa kasihan, tetapi menyukai adegan ketidakpedulian semacam itu.

b. 9. Kesalahan
Menurut KBBI (1997:865), kesalahan adalah kekeliruan; kealpaan. Kesalahan adalah balasan yang wajar tentang cara-cara kita melakukan sesuatu (Pts, 2007). Sebenarnya kita dapat belajar lebih banyak dari kesalahan dan kerugian. Apabila kita melakukan kesalahan, maka dengan cepat pula kita akan menganalisa, merancang dan menyusun strategi-strategi baru. Apabila kita menang, biasanya kita bergembira merayakan kemenangan. Namun, di luar konteks itu, kesalahan dalam penciptaan humor dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang keliru atau salah. Humor tercipta dari reaksi pelawak dalam merespon kesalahan itu, umumnya kesalahan direspon dengan rasa bersalah, namun kadang direspon pula dengan rasa tidak bersalah, dan hal ini menimbulkan kelucuan.

b. 10. Pengulangan
Berdasarkan KBBI (1997:1099) kata pengulangan bermakna proses, cara, perbuatan mengulang. Dalam teknik penciptaan humor, kekuatan pengulangan dapat dilakukan dengan mengulangi hal-hal yang menarik perhatian penonton namun dibelokkan secara logika. Misalnya dengan mengulangi adegan ibu-ibu jalan ke pasar, yang awalnya berjalan “kemayu” tiba-tiba berubah menjadi garang seperti preman. Pengulangan juga bisa dilakukan dengan mengucapkan hal-hal yang sama karena terdengar lucu ketika diucapkan.

b. 11. Pemutarbalikan
Pemutarbalikan menurut KBBI (1997:802) adalah proses, cara, perbuatan memutar-balikkan. Pemutarbalikan disebut pula surealisme. Lengkapnya, magic and surrealism. Dunia nirlogika, yakni melompat dari makna-makna yang sudah disepakati. Lelucon corak ini bisa dijumpai di novel-novel karya Iwan Simatupang, Budi Darma, Danarto (terutama: Godlob) dan Putu Wijaya. Beberapa film Alfred Hitchcock, meskipun bernuansa horor juga bertabur humor-humor surealistik.

b. 12. Kekakuan
Menurut KBBI (1997:432) arti kekakuan adalah hal kaku; kecanggungan. Dalam teknik penciptaan humor, kekuatan kekakuan dapat dilakukan pada orang-orang yang seringkali bersikap formal dalam hidupnya. Misalnya, kekakuan seorang anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam memberikan pernyataan-pernyataan yang bebas karena kehidupan mereka yang terbiasa dengan sistem komando. Pelawak dapat menirukan sikap kekakuan tersebut, karena perilaku pelawak yang bebas tidak sesuai logika jika tiba-tiba menjadi kaku dan formal.

b. 13. Tema
Ditilik dari KBBI (1997:1029), tema adalah pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, menggubah saja, dsb). Serupa dengan pengertian tema menurut Hsc (2007), bahwa tema adalah topik yang digarap oleh seorang penulis melalui karya sastranya. Maka, bila tema dijadikan sebagai salah satu teknik penciptaan humor, tema tersebut akan menjadi acuan tentang alur humor yang akan diterapkan selama penayangan. Misalnya, humor dengan tema olahraga, budaya, ataupun politik.

b. 14. Variasi
Menurut KBBI (1997:1117) makna variasi adalah: tindakan atau hasil perubahan dari keadaan semula; selingan. Variasi di sini diarahkan bila dalam penciptaan humor dilakukan beberapa kolaborasi dengan beberapa bentuk humor, atau bahkan beberapa bentuk aspek penampilan lain selain humor. Misalnya gabungan antara humor aspek bahasa dengan aspek gerakan. Atau antara humor berupa parodi dengan penampilan menyanyi oleh seorang artis, dan lain-lain.

c. Aspek Bentuk
Menurut Berger, aspek bentuk atau identity (the humor is existential) adalah aspek humor yang dalam ide ini suatu peristiwa, kejadian atau gagasan dilebih-lebihkan dengan cara yang tidak proporsional hingga menimbulkan suatu keganjilan dan terkadang berlawanan dengan keadaan yang sebenarnya atau bisa juga dikatakan sebagai penyimpangan konvensi budaya (Hassan, 1997:19). Berdasarkan arti kata di KBBI (1997:119), bentuk adalah: lengkung; lentur.
c. 1. Sebelum/Sesudah
Makna sebelum menurut KBBI (1997:113) adalah ketika belum terjadi; lebih dulu dari (suatu pekerjaan, keadaan, dsb); semasih belum. Sedangkan makna sesudah menurut KBBI (1997:968) adalah sehabis, setelah. Teknik ini dilakukan dengan membandingkan kenyataan atau penampilan yang dilakukan pelawak antara sebelum dan sesudah terjadinya suatu peristiwa. Teknik ini juga bisa dilakukan dengan cara menceritakan sebuah kisah lucu yang membandingkan antara sebelum dan sesudah terjadinya sebuah kejadian.

c. 2. Drama Berupa Ejekan
Menemukan makna drama berupa ejekan di KBBI, dilakukan secara satu persatu. Adapun makna kata drama menurut KBBI (1997:243) adalah: komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Lalu, kata berupa menurut KBBI (1997:855) bermakna: ada rupanya yang nyata (kelihatan); berwujud. Kemudian kata ejekan menurut KBBI (1997:251) bermakna perbuatan mengejek. Dari tiga makna kata di atas, disimpulkan drama berupa ejekan adalah cerita yang dipentaskan dengan diisi oleh berbagai perbuatan mengejek atau olok-olok. Artinya, tidak hanya ejekan yang dilakukan secara verbal namun juga diekspresikan melalui akting. Teknik ini juga menggunakan teori superioritas-inferioritas sebagai kekuatan yang memancing tawa.

c. 3. Karikatur
Berdasarkan KBBI (1997:477), karikatur adalah gambar olok-olok yang mengandung pesan, sindiran, dsb. Adapula yang memaknai karikatur sebagai bahasa gambar, namun dari gambar tersebut bisa dijabarkan dengan panjang. Bahkan kalau bisa membuat orang gerah, marah, tertawa, dan mungkin ironi. Misalnya karikatur yang berkaitan dengan PEMILU 2004, karikartunis senior, Pramono mengatakan peran karikatur sangat penting dalam pembelajaran politik masyarakat (Fetty, 2004). Pramono menegaskan bahwa karikatur bukanlah kartun yang bersifat menghujat seseorang atau lembaga. Akan tetapi, karikatur adalah sebuah kritik berbentuk gambar yang sarat pesan moral.
Kalau menurut Handining (2005), definisi karikatur adalah bagaimana karikaturis mampu untuk mendistorsikan wajah yang dibuatnya. Hingga saat ini, kadang banyak orang atau mungkin karikaturis sendiri menganggap karikatur identik dengan wajah atau kepala besar dengan badan kecil. Adanya ketidakproporsionalan inilah yang kadang menimbulkan kelucuan bagi yang melihatnya.

c. 4. Menimbulkan Rasa Malu
Memaknai kalimat menimbulkan rasa malu dari KBBI harus dipisah per kata. Adapun makna kata menimbulkan menurut KBBI (1997:1056) adalah: mengeluarkan ke atas (permukaan air, tanah, dsb). Kemudian makna kata rasa menurut KBBI (1997:820) adalah tanggapan indra terhadap rangsangan saraf (seperti manis, pahit, asam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri, terhadap indra perasa). Kemudian kata malu menurut KBBI (1997:662) adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb).
Maka, menimbulkan rasa malu adalah membangunkan rasa tidak enak hati pada seseorang karena sesuatu hal, seperti sindiran, cercaan, penghinaan, dan lain sebagainya. Humor yang muncul dari teknik ini menggunakan teori superioritas-inferioritas sebagai kekuatan. Dimana orang akan merasa senang ketika melihat orang lain berada dalam kondisi yang lemah dan berada di tingkat lebih rendah dari dirinya. Artinya, humor yang ditawarkan adalah humor yang cukup menyakitkan karena harus ada pihak yang dilecehkan atas munculnya humor tersebut.

c. 5. Keunikan
Menurut KBBI (1997:1106), makna kata keunikan adalah sifat (keadaan, hal) unik; kekhususan; keistimewaan. Sebuah kesadaran keunikan diri sebagai pengalaman otentik perlu ditempatkan sebagai akar pendidikan, pengembangan politik kebangsaan, dan kesalehan religius. Keunikan merupakan basis pribadi kreatif dan kecerdasan setiap orang dengan kemampuan dan sikap hidup berbeda. Sehingga sukses belajar, hidup berbangsa, dan berketuhanan ialah jika tiap orang bisa tumbuh berdasar keunikan diri bukan dengan meniru orang lain, meniru sang pemimpin, meniru ulama atau guru. Mengenali diri sendiri adalah akar mengenal Tuhan, alam semesta, dan orang lain. Prinsip inilah yang dalam tradisi sufi dikenal dalam doktrin man arofa nafsahu faqad arofa robbahu (to know your self).
Di dalam teknik penciptaan humor, keunikan pribadi harus disadari oleh seorang pelawak atau komedian. Misalnya keunikan komedian Ateng yang berpostur tubuh pendek, atau Jojon dengan kumis petaknya yang tepat di bawah hidung. Keunikan yang sekaligus menjadi ciri khas mereka ini juga sekaligus akan menjadi bahan humor tersendiri yang memperkuat penampilan humor mereka.

c. 6. Pengungkapan Rahasia
Di dalam KBBI tidak ada kata pengungkapan, namun hal ini dapat diganti dengan mencari kata dasarnya, yakni ungkap. Adapun makna ungkap/mengungkap menurut KBBI (1997:1105) adalah membuka; menyingkap. Kemudian makna kata rahasia menurut KBBI (1997:810) adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain.
Maka, makna pengungkapan rahasia adalah membuka atau menyingkap sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Penyembunyian rahasia itu bisa saja dilakukan dengan sangat rapat bahkan sampai ekstrim hingga ada ungkapan ”sampai mati akan kubawa rahasia ini”. Menurut Gita (2006), rahasia yang tidak diungkap, bagi orang lain mungkin dilihat sebagai kekeraskepalaan dan keegoan sang pemilik rahasia. Tapi ia juga yakin, pasti ada orang yang bisa mengerti bahwa hal tersebut harus dilakukan karena sang pemilik rahasia memang punya alasan yang tepat.
Penciptaan humor yang dilakukan dengan teknik ini, yakni dengan mengungkapkan rahasia pribadi seseorang dengan maksud menimbulkan perasaan ”ketahuan”. Ekspresi ”ketahuan” kadang menimbulkan kelucuan bagi beberapa orang sehingga dapat menimbulkan senyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak.

c. 7. Keanehan
Berdasarkan KBBI (1997:40), kata keanehan bermakna hal (keadaan, sifat, sesuatu) yang aneh. Intinya, keanehan adalah sesuatu hal yang dirasa janggal bagi orang awam untuk menyadarinya ada di kehidupan nyata. Namun, keanehan ini juga bisa melekat pada tiap individu, misalnya anak kecil yang merasa aneh dengan orang dewasa. Seperti yang dituliskan Rhin (2004) dalam artikelnya Keanehan Orang Dewasa yang ia susun setelah ia membaca novel The Little Prince, yakni novel yang menceritakan tentang seorang pangeran kecil yang menganggap orang dewasa itu aneh, tapi buku itu ditujukan untuk orang dewasa ketika dia masih kecil. Jalan cerita buku itu dimulai dengan lukisan seorang anak yang katanya mengakibatkan dia berhenti melukis, dia berkata: orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya, dan sungguh melelahkan bagi anak-anak jika harus menjelaskan sesuatu kepada mereka.
Pada penciptaan humor, teknik ini dilakukan dengan menganggap sesuatu atau orang lain itu aneh. Dengan serta merta sang pencetus humor akan memberikan alasan-alasan yang menyebabkan dia harus merasakan keanehan tersebut, baik dengan penjelasan yang logis maupun tidak logis atau semaunya saja.

c. 8. Imitasi/Peniruan
Arti kata imitasi menurut KBBI (1997:373), yaitu tiruan; bukan asli. Sedangkan arti kata tiru/meniru menurut KBBI (1997:1062) adalah: melakukan sesuatu menurut apa yang diperbuat oleh orang lain dsb; mencontoh; meneladan.
Menurut psikolog Evi Elviati, imitasi atau peniruan merupakan tahap bagi manusia (khususnya batita) untuk berkembang, biasa disebut dengan fase peniruan (Imam, 2007). Meniru perilaku orang lain sudah merupakan naluri manusia. Perilaku meniru menjadi penting karena dari proses belajar ini kognisinya akan berkembang semakin optimal. Itulah sebabnya, anak pun terkesan ”latah” dengan senang meniru perilaku orang lain. Secara umum latah sendiri dibedakan menjadi dua. Latah terhadap kata-kata dan latah terhadap perilaku.
Namun sikap untuk meniru ini tidak hanya berlaku pada anak kecil saja, pada orang dewasa juga terjadi. Misalnya, pada kasus pemukulan taruna di STPDN yang meniru perilaku agresif. Perilaku agresif ini dapat timbul karena proses peniruan dari lingkungan, seperti anak berperilaku agresif karena ia melihat orang tuanya di rumah, melihat kawan-kawannya, dan melihat orang dewasa yang berperilaku agresif (Surya, 2007). Pemberian-pemberian atau cerita dan informasi dalam media massa (surat kabar, majalah, radio, televisi) dapat menjadi sumber peniruan dari perilaku agresif. Apa yang dilakukan para senior Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN) terhadap junior merupakan pengalaman imitatif yang akan ditiru pada suatu saat ada kesempatan.
Pada penciptaan humor imitasi/peniruan dapat dilakukan dengan meniru perilaku seorang tokoh atau karakter tertentu. Misalnya, seorang pelawak laki-laki meniru gerakan atau perilaku perempuan seperti berjalan, menggendong anak, dan lain-lain. Atau bisa juga ia meniru perilaku hewan, seperti menggonggong, berjalan jongkok seperti bebek, dan lain-lain. Perilaku peniruan ini tidak harus disertai dengan menggunakan kostum yang menyerupai karakter tersebut, karena bila sudah dilengkapi kostum, maka sudah tergolong dengan teknik humor secara parodi.

c. 9. Tiruan
Menurut KBBI (1997:1062) makna kata tiruan adalah bukan yang sejati (tulen); palsu; imitasi: karet. Untuk membedakan antara, imitasi/peniruan dengan tiruan, maka jika teknik sebelumnya ditekankan pada peniruan atas sikap atau perilaku, lalu ini ditekankan pada hasil tiruan yang sudah dalam bentuk barang. Misalnya tiruan piala dunia pada ajang sepak bola yang aslinya terbuat dari campuran logam dan emas, tapi kemudian dibuat dari bahan steroform dalam ukuran besar dan unik.
Kelucuan di sini, memang ditekankan dalam bentuk "rupa" atau visual, bukan verbal atau tindakan. Contoh lainnya, pelawak berpakaian tidak sesuai atau aneh, mirip badut, anak atau penonton dapat menganggapnya sebagai suatu hal yang lucu sehingga akan memicunya untuk tertawa terpingkal-pingkal. Belum lagi dengan kostum-kostum binatang yang sering dimunculkan membuat anak semakin tertarik menyaksikannya. "Wah, ada jerapah, kok bisa ngomong ya, ih lucunya!" misalnya.

c. 10. Parodi
Berdasarkan KBBI (1997:731), parodi memiliki makna karya sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya atau kata penulis atau pencipta lain dengan maksud mencari efek kejenakaan.
Menurut Mudji Sutrisno SJ (2007), parodi adalah sejenis seni. Bentuk pertunjukan ini, biasanya berupa drama atau teater dengan aktor-aktor yang berperilaku "imitatif" peniru tokoh-tokoh yang sedang diparodikan dengan wajah, ungkapan yang mirip aslinya dan tema percakapan berkisar otokritik, kritik dengan canda menertawakan diri sendiri. Dari pemrakarsanya, parodi dimaksud untuk mengkritik sehat dalam humor mengambil imajinasi negeri antah berantah. Tetapi, orang langsung tahu negeri kitalah yang sedang ditampilkan. Bagi pemrakarsa, ia merupakan jamu pahit meski dibungkus humor menyindir, tetapi dibuat hasilnya tidak terus mencibir dan jalan negeri menjadi lebih adil, terbuka, dan demokratis. Secara sosiologis politis, rezim pemerintahan kita hanya membuka celah sempit jendela publik untuk parodi. Itu pun disertai rambu-rambu karena kekuasaan ada di tangan penguasa, bukan pemrakarsa parodi apalagi di tangan rakyat yang diperintah. Misalnya, pada acara News Dot Com di Metro TV, di mana banyak talentnya yang memparodikan karakter para tokoh mantan presiden Republik Indonesia.
Bagi orang Barat, mereka menyebutnya imitation and parody. Di Indonesia, teknik ini seringkali juga disebut plesetan. Isinya memplesetkan segala sesuatu yang telah mapan atau populer. Dalam makna politis, ia menjadi semacam alat eskapisme dari kesumpekan keadaan. Terobosannya lewat pintu tak terduga dan ini cukup mengundang surprise. Contoh sederhana dalam guyon sehari-hari, orang bisa saja bertanya, "Siapa pengasuh Perspektif Baru?" lalu dijawab, "Wisman Witoelar".

c. 11. Status Sosial
Status sosial terdiri dari dua kata, yakni status dan sosial. Adapun makna kata status menurut KBBI (1997:962) adalah keadaan atau kedudukan (orang, badan, dsb) dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya. Kemudian makna kata sosial menurut KBBI (1997:958) adalah berkenaan dengan masyarakat.
Menurut Haba (2007), status sosial adalah kedudukan, peranan, dan tanggung jawab seseorang dalam masyarakatnya. Status itu dikategorikan dalam dua bagian: status karena seseorang mewarisi dari keturunannya (ascribed status), dan status sosial yang digenggam sebab prestasi yang diperoleh (achieved status). Para bangsawan jelas dilacak dari keturunannya, peranan sosial yang mereka perankan, dan penghormatan yang mereka terima. Begitu juga dengan kelompok achieved status, manusia modern menyanjung dan menghormati prestasi, kontribusi pemikiran bagi kemanusiaan mereka, yang melintasi batas waktu, negara, etnis dan agama.
Di USA kelas sosial ini seperti yang diklasifikasikan oleh Coleman menjadi 7 kelas sosial masing-masing kelas Atas-Atas, Atas Bawah, Menengah Atas, Menengah, Pekerja, Bawah Atas, Bawah-Bawah. Sementara di Jakarta, hasil penelitian Sosiologi UI yang tertuang dalam Rencana Umum Pembangunan Sosial Budaya DKI Jakarta 1994-1995, dapat distratifikasikan dalam 5 strata, yaitu lapisan elite, lapisan menengah, lapisan peralihan, lapisan bawah, dan lapisan terendah (Susanto, 2007). Dalam perilaku konsumen, orang membedakan pengertian kelas sosial dengan pengertian status sosial yang mengacu pada pendapatan atau daya beli, status sosial mengarah pada prinsip konsumsi yang berkaitan dengan gaya hidup.
Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya (Susanto, 2007). Gaya hidup merupakan frame of reference yang dipakai sesorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu. Terutama bagaimana dia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Untuk merefleksikan image dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya. Kepemilikan simbol status diharapkan menimbulkan respek orang lain untuk mendukung citra yang ingin ditampilkan sesuai dengan status sosialnya. Universalitas simbol-simbol status bukan hanya berdasarkan jenis benda yang harus dimiliki, tetapi lebih spesifik lagi adalah mereknya. Beberapa merek muncul menjadi bahasa untuk mengatakan status sosial yang meningkat. Misalnya Rolex untuk jam tangan, jas hujan Burberry, busana Giorgio Armani, dan pena Montblanc.
Pada penciptaan humor, status sosial ini dapat dilihat dengan kekontrasan karakter yang tengah diperankan oleh pelawak. Kadang kelucuan muncul dari keanehan yang timbul karena status yang disandang dirasa kurang cocok dengan penampilan pelawak. Misalnya, ia pengusaha tapi berpenampilan seperti tukang sate, dan lain sebagainya.

c. 12. Klise
Klise adalah gagasan (ungkapan) yang terlalu sering dipakai. Misal, pelawak yang khas dengan ungkapan tertentu, seperti Tukul Arwana yang identik dengan ungkapan ”katrok”, ”sobek-sobek mulutmu”, ”kutu kupret”, dan lain-lain. Atau pelawak Guspur (News Dot Com – Metro TV) yang menirukan tokoh Gusdur yang klise dengan ungkapan ”Gitu aja kok repot!”

c. 13. Pengungkapan Identitas
Pengungkapan identitas terdiri dari dua kata, yakni pengungkapan dan identitas. Makna ungkap/mengungkap menurut KBBI (1997:1105) adalah membuka; menyingkap. Lalu makna identitas (KBBI, 1997:366) adalah ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Dalam teknik ini dilakukan untuk memaparkan jati diri seseorang sebelum penonton diajak memahami tentang humor-humor yang akan ditawarkan. Pengungkapan identitas bisa palsu tetapi bisa juga tidak. Misal pengungkapan identitas yang sebenarnya, Adjie Massaid diperkenalkan oleh Tukul di Empat Mata sebagai anggota DPR RI. Namun, kemudian dengan tertawa Tukul juga mengungkapkan bahwa Adjie adalah juga saudara kembarnya. Kepalsuan identitas ini pun menimbulkan kelucuan.

c. 14. Rahasia
Arti kata rahasia berdasarkan KBBI (1997:810) adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Hampir mirip dengan pengungkapan rahasia, pada teknik rahasia ini, penciptaan humor dilakukan dengan menggunakan kekuatan rahasia untuk menimbulkan kelucuan. Jika dalam pengungkapan rahasia, rahasia yang dimaksud terungkap baik secara gamblang atau tidak, sedangkan dalam teknik rahasia, humor dimunculkan dengan cara tetap menyembunyikan rahasia tersebut. Kadang ekspresi yang dimunculkan, “Oh… kita tahu sama tahu, tapi tetap saja menjadi rahasia kita.” Ekspresi ini tidak sekedar dengan anggukan kecil, tapi seringkali dengan ekpresi khawatir yang berlebihan, kalau-kalau saja lawan yang juga mengetahui rahasia tersebut tak sengaja mengungkapkannya.

d. Aspek Gerakan
Menurut Berger, aspek gerakan atau action (the humor is physical) merupakan humor yang diciptakan dengan anggota badan untuk menimbulkan kelucuan (Hassan, 1997:19). Berdasarkan KBBI (1997:312), makna gerakan itu sendiri adalah perbuatan atau keadaan bergerak. Jadi humor yang diciptakan menggunakan perubahan gerak tubuh sebagai pemicu humor. Bila dalam teks, ia tergambar jelas dalam wujud komik atau cerita bergambar. Bila dalam pertunjukan, ia terwujud dalam tingkah polah yang dilakukan pelawak di panggung pertunjukan atau studio.

d. 1. Adegan Pengejaran
Kata adegan, menurut KBBI (1997:6) berarti pemunculan tokoh baru atau pergantian susunan (layar) pada pertunjukkan wayang. Kemudian, makna kata pengejaran berdasarkan KBBI (1997:463) adalah proses, cara, perbuatan mengejar; penguberan; pemburuan.
Pada teknik ini, kelucuan tercipta ketika muncul adegan si pelawak, yang umumnya digambarkan sebagai orang lemah, dikejar-kejar oleh sosok yang lebih kuat. Ekspresi ketakutan pelawak serta cara-cara dia menghindari kejaran musuhnya menjadi lucu untuk kemudian ditertawakan oleh penontonnya. Misalnya, pada film Warkop DKI, saat Dono yang tidak sengaja memegang bagian terlarang seorang wanita yang tengah berbikini di pantai dan ketahuan oleh pacar wanita tersebut yang seorang preman dengan tubuh besar dan bertato banyak. Dono akhirnya berlarian kalang kabut menghindari kejaran sang preman yang bermaksud untuk memukulnya.

d. 2. Adegan Lawak
Kata adegan, menurut KBBI (1997:6) berarti pemunculan tokoh baru atau pergantian susunan (layar) pada pertunjukkan wayang. Sedangkan lawak menurut KBBI (1997:570) bermakna lucu; jenaka. Adegan lawak (slapstik) sangat efektif untuk memancing tawa masyarakat dari latar belakang pendidikan, sosial, dan ekonomi tertentu (Hasuki, 2007). Tayangan humor macam Extravaganza, Bajaj Bajuri, OB, dan Ngelenong Yuk cukup disukai masyarakat Indonesia adalah contoh dari berbagai tayangan humor yang mengandalkan slapstik sebagai kekuatan penciptaan humornya.
Slapstick merupakan lawakan sederhana. Gaya ini menampilkan perilaku sederhana yang "disalahkan". Misal, adegan kejepit pintu. Pada saat yang sama, ada ”reaksi” dari pemain lainnya, dari teriak mengingatkan sampai menertawakan. Ekspresi muka seperti ekspresi kaget, menampilkan mimik yang lucu bahkan ajaib. Hal ini yang membuat penonton tertawa. Dalam tayangan televisi, adegan lawak di sitkom biasanya disertai dengan background sound "orang tertawa" atau "tepuk tangan". Hal ini mengasosiasikan kalau ada yang tertawa atau bertepuk tangan berarti adegannya lucu. Suasana meriah dimunculkan oleh teriakan bercanda, bunyi suara musik yang mengiringi langkah seorang pemain, adegan overacting, dan sebagainya.

d. 3. Adegan Dalam Kecepatan Tinggi
Kata adegan, menurut KBBI (1997:6) berarti pemunculan tokoh baru atau pergantian susunan (layar) pada pertunjukkan wayang. Kemudian kata kecepatan, menurut KBBI (1997:184) bermakna waktu yang digunakan untuk menempuh jarak tertentu. Setelah dikolaborasikan, maka makna adegan dalam kecepatan tinggi adalah tayangan yang mengalami percepatan dalam durasi penayangannya. Dalam teknik penciptaan humor, teknik ini dilakukan dengan cara seolah-olah penonton tengah menekan tombol rewind televisi sehingga muncul adegan yang tidak normal tapi adegan yang dipercepat. Misalnya adegan Dono di Warkop DKI yang tengah dikejar-kejar anjing. Adegan yang awalnya normal itu kemudian di-rewind pita filmnya sehingga menjadi tayangan yang aneh karena dipercepat adegannya. Hal ini yang tidak wajar inilah yang kemudian menimbulkan kelucuan bagi penontonnya.

(Sumber: Nita's Skripsi "Talk Show Komedi di Televisi", 2007)

2 komentar:

oon mengatakan...

wah, yuk nita bikin blog, tadi sempat baca di shout out FS, hehe baru tanggal 2 Desember tp posting udah 9,produktif^^

Nita mengatakan...

Hehehe... Thank u! Nih, niat bikin udah dari dulu. Alhamdulillah juga bisa aksi sekarang. Kayak kata bos aku (Pak Yo) ttg apa rahasia sukses. Jadi rahasia sukses adalah 9A. A pertama Action. A kedua Action lagi. A ketiga? Action lagi sampe A kesembeilan... :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...