Selasa, Desember 09, 2008

Pintu Hati


“Setiap pintu keluar merupakan pintu masuk ke tempat lainnya.” (Tom Stoppard)

Kadang mentari pagi ini meredup, mengelabukan langit yang mulai membiru. Kadang mentari pagi ini mulai bersinar. Menghangatkan jiwa yang masih membeku. Ingin rasanya tetap dalam kebekuan, sehingga tak perlu mengatasi semua perubahan cuaca yang terjadi. Panas dan dingin, hangat dan sejuk… Walau mati yang menemani dan kesenyapan yang abadi menjadi pilihan, dunia cinta yang kumiliki tetap menyatu dalam serpihan yang tersisa.
Sisa-sisa kerinduan yang dulu pernah tercipta. Saat lelah untuk menghapus semua lara dan meninggalkan semua pedih. Penyesalan yang hadir tak menyurutkan agar cinta masih bersemi di dalam jiwa. Namun tak kupungkiri, diri bagai kura-kura yang berlindung dalam tempurung saat luka serasa mulai menjumpai. Salahkah diri yang hanya ingin merasakan kebahagiaan? Kutahu, tak adil bila yang kupilih hanya itu. Akan selalu ada keseimbangan dalam hidup ini. Kebahagiaan dan kesedihan… dua teman yang akan selalu bersama.
Hari ini, saat aku memutuskan diri untuk kembali menutup pintu hati, aku merasakan gejolak perih yang tak terkira. Siapa yang harus disalahkan saat cinta yang ada serasa tak berbalas tiba-tiba hadir. Sesak bila harus selalu memaklumi semua keterbatasan. Bayangan penolakan yang selalu menari-nari untuk mengajakku tertawa. Mentertawakan diriku sendiri.
Aku hanya bisa menatap mata sendu itu, membalas senyum itu, tapi tak bisa memiliki hati itu. Kutahu tak semua bentuk keindahan akan turut terasa indah saat dimiliki. Aku resah, hanya hembusan nafas berat yang membantu sejenak untuk melegakan perasaan ini. Apa yang terjadi, Tuhan?
Kenapa cinta bagiku selalu begini. Kadang aku yakin, kadang aku ragu, dan terlalu sering buatku untuk memutuskan melupakan semua perasaan itu. Sudahlah, biar langit yang kan menuntunku meraih sinar mentari pagi ini. Kemana diri harus berjalan. Disana ada sebuah pintu yang terbuka. Aku tinggal meraih gagangnya untu k masuk, menutupnya, dan aku akan tiba di dunia yang baru. Dunia yang penuh harapan, cinta, dan cita.
“Selamat pagi, dunia!” Aku bahagia dalam hari-hariku. Cinta yang ada dalam hatiku serasa ingin terbang menikmati keindahan sinar dan warna taman yang turut bersuka cita. Lihat ada dia di sana, tersenyum. Lihat, dia melambaikan tangannya, mengajakku untuk mendekatinya. Aku berlari menuju pemilik senyum itu, dan senyum itu makin merekah. Aku terus berlari dengan sumringah, lalu menjatuhkan diri ke dalam kedua tangannya yang terbuka. Aku merasakan kehangatan itu saat dadanya yang lebar mampu menampung diri ini yang tiba-tiba erat memeluknya.
Hangat… sehangat mentari hari ini. Aku tak ingin lepas, biarkan aku di sini. Saat ini, besok, besok lusa, dan selamanya. Rengkuh kebahagiaan sejati, selalu bersama dalam suka dan duka… (28 September 2004)

1 komentar:

Eurek Mazeno mengatakan...

Yuk yang suka Taruhan Online Bisa Kunjungi kita di BandarVIP.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...