Kamis, Desember 04, 2008

Tentang Malam


Malam Pertama
“Udah dong, Din… Buka kadonya. Ini kan malam pertama kita. Kamu gak ingin…” Aldo menggantungkan kalimatnya. Wajahnya terlipat, agak kesal karena wanita cantik yang tadi pagi ia ikat dengan tali perkawinan itu tidak mengerti keinginannya.
“Din! Udah dong… Kan masih ada besok pagi,” Aldo berkata lagi dari atas tempat tidur yang masih menggunakan seprai dan sarung bantal khusus pengantin itu. Ada serangkaian mawar putih menghiasi setiap sudut ruangan, menambah keromantisan dan keeksotisan suasana. Dinding kamarpun masih dibungkus tirai putih dan manik-manik kristal biru, warna kesukaan Aldo dan Dina.
Dina masih saja diam, dia terus membuka ratusan kado yang diterima di hari pernikahannya dengan lelaki yang sebelumnya telah menjadi pacarnya selama tiga tahun itu. Ya, sejak Dina masih kuliah. Tapi entah apa yang ia rasakan sekarang, ada sesuatu yang tidak biasa untuk berdua di dalam kamar dengan Aldo malam itu. Malam pertama mereka.
Aldo beranjak dari tempat tidur, mendekati Dina yang duduk membelakanginya.
“Kamu kenapa sih? Kamu menyesal dengan pernikahan ini?” tanya Aldo lembut.
Dina menggeleng.
“Lalu, kenapa?” tanya Aldo lagi. Kedua tangannya mulai merengkuh pinggang kecil milik Dina. Ia memeluknya dari belakang.
“Aku takut, Do…” ujar Dina akhirnya.
“Takut? Takut kenapa? Bukannya selama pacaran, kamu yang selalu berharap adanya malam ini?”
“Iya… Tapi bagaimana bila nanti aku tidak bisa membahagiakan kamu? Bagaimana bila aku tidak bisa melayanimu dengan sempurna? Kamu pasti akan menyesal menikahiku… Tubuhku gak sempurna, kamu pasti…”
Serentetan ucapan Dina beku seketika, saat Aldo mencium tengkuk Dina lembut. Mengelilingi leher jenjang dan putih itu dengan lidahnya yang basah. Dina menghembuskan nafas dalam dan perlahan. Leher memang titik sensitif tubuhnya, dan Aldo sangat tahu itu.
“Do… Aku masih mau bicara…”
Aldo menutup mulut Dina cepat dengan tangan kanannya sambil terus menciumi leher Dina. “Aku sedang tidak ingin berdialektika dengan otakmu, Din…”
Mata Dina terpejam, meski tangannya berusaha melepas tangan Aldo yang menghalangi kedua bibirnya yang merah untuk berkata-kata.
“Lagipula, aku pun tidak memintamu untuk melayaniku. Untukmu, aku yang akan melayani kamu malam ini…” ujar Aldo sambil terus menyakinkan Dina dengan sentuhan-sentuhannya yang lembut.
Dina pun menjadi luluh, dan malam itu, ia menjadi milik Aldo sepenuhnya. Atau mungkin malah Aldo yang bertubuh macho itu yang menjadi milik Dina seutuhnya.

100 Hari Sebelum Malam Pertama
Kala malam telah datang, kutahu waktu kan segera berganti…
Namun kala malam telah datang, aku pun jadi tahu arti sendiri…
Kutahu arti manusia yang tidak bisa sendiri…
Saat Hawa butuh Adam, Juliet butuh Romeo,
dan seorang Dina pun ternyata butuh seorang Aldo…
Sahabat bercerita, rekan berbagi, kekasih bercinta…
Aku tak butuh apapun kini, cukup kamu, memeluk aku…
(15 Juni 2006, 20:36:26)


“Hallo, Do! Udah terima sms puisiku? Hee, gimana, bagus gak?”
“Bagus.”
“Hh, kok gitu aja responnya? Itu sudah melalui proses editing yang cukup melelahkan lho!”
“Habis, mo gimana? Aku tetap saja gak bisa pulang sekarang ke Solo untuk bertemu dengan kamu. Masih ada beberapa urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan di Jakarta.”
“Yaa… Do! Padahal…”
“Kenapa? Lagi pengen ya?”
“He-eh…”
“Maaf ya sayang, ya… Aku belum bisa pulang. Kamu maen sendiri dulu aja, ya?”
“Ah, gak mau! Gak enak. Mending aku puasa aja…”
“Ya, udah. Puasa dulu aja, ya? Hehehe…”
“Ah, Aldo jelek! Aldo gak pengertian! Dina benci Aldo!” teriak Dina, sambil memutuskan hubungan telefon dari HP Nokia 5300-nya.

1000 Hari Sebelum Malam Pertama
Diary “White” Dina 1#
Tuhan! Aldo menciumku. Di sini, di bibirku. Lama… Lihat saja, sampai membekas. Aku kan gak pernah ciuman begituan! Aduh, gak bisa keluar kost nih besok. Gimana kalau teman-temanku pada tahu aku ciuman? Kalau ibuku sampai tahu? Ah, Aldo jelek banget! Aku kan pacaran bukan untuk ciuman! Aku cuma butuh temen ngobrol, temen curhat.
Gak mau! Gak mau lagi! Pokoknya cukup sekali ini aja. Aku benci Aldo. Aku gak mau ketemu dia satu minggu ini…
Diary “White” Dina 2#
Udah 2 hari gak ketemu Aldo. Kangen juga ya? Tadi pas curhat ke Karen, dia malah ngetawain aku. Masa udah 21 tahun gak pernah ciuman? Iih, Karen kan malah lebih muda 3 tahun dari aku. Karen bilang, “Cinta tanpa ciuman itu palsu. Dan ciuman tanpa cinta itu nafsu.” Bener juga ya? Tapi, ciuman itu kan dosa… Gimana kalau aku nanti masuk neraka??
Diary “White” Dina 3#
Kenapa aku harus menghukum Aldo dengan tidak bertemu? Apa kesalahannya? Karena sesungguhnya ini adalah hubungan yang paling sempurna yang pernah ada. Bukankah Tuhan juga yang menghadirkan cinta? Lalu kenapa perwujudan cinta dengan tindakan itu dilarang?
Ya, hari ini aku sudah bertemu dengan Aldo, tersenyum lagi. Kubilang padanya, “Kalau kamu cinta aku, tolong jaga aku sampai malam pertama itu ada.” Dan dia mengangguk, tapi kemudian dia juga bilang, “Kujaga yang paling utama, tapi boleh latihan kan untuk foreplay-nya?”
Aku cuma terdiam.

Malam Kedua
“Din, lagi yuk?” ujar Aldo dari tempat tidur.
“Aku capek, Do. Tadi pertemuan dengan klien menghabiskan waktu seharian. Belum lagi aku harus ke rumah mama mengembalikan beberapa piring dan gelas bekas acara kita kemarin,” jawab Dina yang ada di sisinya sambil menutup laptopnya.
“Nanti capeknya hilang, kok! Kamu siap-siap dulu, gih…”
“Tapi, aku mau tidur, Do… Kita kemarin kan udah habis-habisan. Masa kamu belum puas juga sih? Ituku juga masih sakit…”
“Itumu sakit?”
Dina mengangguk pelan.
Aldo memandang Dina dalam, mendekati wajahnya ke wajah Dina, lalu tiba-tiba mencium kening Dina. “Maaf ya, kalau sudah membuatmu sakit. Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Aku juga mau istirahat. Besok di kantorku juga ada event penting.”
Aldo kemudian kembali ke sisi tempat tidurnya, masuk ke dalam selimut, mematikan lampu meja tempat tidur yang berada di sebelah kanannya, tertidur. Dina membuntuti gerak-gerik Aldo dari kedua sudut matanya. Ada perasaan sedih menyeruak di hatinya. Tak tega melihat Aldo tertidur hampa seperti itu, tapi untuk melakukannya…

100 Hari Setelah Malam Kedua
Dina, Dina, Dina…
Kepala Aldo hanya dipenuhi oleh Dina, istrinya yang sejak malam pertama mereka seolah menjauhinya. Ia selalu mendorong Dina untuk bercerita kenapa dia bersikap dingin seperti itu. Yah, sikap Dina memang sangat berbeda dengan saat dulu mereka masih berpacaran. Justru ketika masih belum menikah, Dina yang kadang merayu Aldo untuk menciumnya, melewati malam berdua, meski memang tidak sampai berhubungan badan seperti hakikatnya. Tapi tentang mengetahui lekuk tubuh Dina, Aldo memang sudah paham jauh hari sebelum mereka menikah.
“Do, aku juga bingung kenapa aku begini,” ujar Dina suatu ketika. “Tampaknya aku kehilangan sesuatu itu, Do…”
“Sesuatu apa, Din?” kejar Aldo.
Dina diam.
“Din, jawab!!!”
“Aku kehilangan suatu alasan kenapa aku harus bercinta denganmu.”
“Apa? Kamu tidak mencintaiku lagi? Kamu sudah punya laki-laki lain ya?”
“Enggak… Aku masih mencintai kamu kok! Kamu adalah soulmate-ku, gak akan ada yang bisa merubah itu.”
“Lalu?”
“Baiklah, aku cerita, tapi kamu jangan ketawa ya?”
Aldo mengangguk cepat, tak sabar mendengar penjelasan Dina.
“Dulu aku selalu diliputi perasaan was-was saat bercinta denganmu. Aku takut ketahuan keluargamu, keluargaku. Aku takut berdosa. Aku cemas, sampai-sampai aku tidak bisa berteriak keras saat orgasme itu kurasakan. Tapi Do, ternyata…”
“Ternyata apa?”
“Ternyata ketika sudah menikah, aku tidak merasakan perasaan cemas itu lagi. Do, aku malah merindukan perasaan was-was itu ada. Adanya perasaan was-was itulah yang malah membuat diriku ingin selalu mengulanginya.”
“Kok, bisa begitu sih…”
Dina cuma tertunduk lesu.
“Lalu, mau kamu gimana?”
“Do, gimana kalau kita cerai saja. Lalu, kita melakukannya lagi saat kita membutuhkannya. Aku yakin perasaan was-wasku akan kembali ada. Dan mungkin kita bisa kembali mesra seperti dulu lagi.”
“Apa?!! Gila kamu ya? Gak, aku gak mau menceraikan kamu! Pasti ada jalan keluarnya…” ujar Aldo sambil memegang kedua tangan Dina erat.

101 Hari Setelah Malam Kedua
Siang Pertama
“Hey! Hey! Do, apa-apaan sih kamu? Ini kan toilet kantor! Ntar kalau pegawai kantorku pada tahu gimana? Do! Agh, Do… Aduh, Do… Do… Ah, aku sayang banget ama kamu, Do. Sayang banget!!”


Kentingan - Solo, 10 Maret 2007

(Note: Cerpen ini sudah diterbitkan dalam Kumpulan Cerpen LPM VISI FISIP UNS "Anak Kecil Tak Boleh Tahu", 2007/2008)

1 komentar:

Eurek Mazeno mengatakan...

Yuk yang suka Taruhan Online Bisa Kunjungi kita di BandarVIP.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...