Jumat, Desember 05, 2008

Rambut Batre

“Hentikan, James!” Selorohku, lalu menghempaskan tangannya yang tak henti-hentinya memegang rambutku. “Ntar, rontok semua!” sambungku.
Dia hanya tersenyum usil. “Aku suka rambutmu! Meski tak sebagus seperti model iklan shampo di TV. Rambutmu memberiku energi…”
Aku melotot. “Emangnya rambutku batre?”
“Yeah, tebakanmu tepat. Rambutmu seperti batre, batre yang bisa membangkitkan gairahku untuk selalu mencintaimu…”
“Iih, gombal banget sih! Gak cocok tau ngomong kayak gitu di zaman sekarang.”
James hanya menatapku. Aku tersipu, aku tak pernah tahan dengan sorotan matanya yang kelam, penuh kekuatan untuk menjatuhkanku. Sehingga tak sadar, dadanya telah menopang kepalaku. Lagi-lagi ia memegang rambutku. Kulit kepalaku terasa gatal. Tapi sudahlah, dia memang keras kepala…
*
Belanjaanku terasa berat. Aku hampir melepaskan sebuah kresek yang berisi persediaan pembalutku untuk bulan depan. “Ups!”, lalu aku berhasil menggenggamnya lagi. Aku tak bisa membayangkan bila pembalut itu tiba-tiba meluncur, apalagi bila ada cowok yang melihatnya.
Ya, walau bagaimanapun “hal” itu tetap tabu. Meski ada iklan TV yang membuat itu se”biasa” mungkin. Itu wagu.
Kakiku kembali melangkah. Beberapa langkah lagi aku akan bertemu eskalator yang akan membawaku turun. He he, eskalator yang lucu!
“Lucu?!”
Tiba-tiba saja, semua kresek yang kupegang terlepas dari genggamanku. Termasuk pembalutku yang malah keluar lebih dulu.
Aku hanya menoleh ke arahnya. Pada orang yang berada di eskalator yang berlawanan. “James..???”
Dia menoleh, terkejut menatapku. “Rambut batre?” ujarnya.
Gadis yang mirip model iklan shampo itu pun menoleh, melihatku sinis, entah apa yang ia ucapkan selanjutnya, kami sudah terlanjur saling menjauhi…
Kakiku mati rasa. Aku hanya bisa duduk sesampainya di bawah, huk, menahan sesak di dadaku.
Biarkan aku menangis. Biarkan orang mengasihani aku atau menganggap aku bodoh karena menangisi salah satu dari sekian banyak pria yang bisa dimiliki. Biarkan aku…
Aku terus menangis, tersedu-sedu. Aku tak peduli dengan belanjaanku yang buyar atau mungkin sudah hilang diambil orang.
Entah sudah berapa lama aku menangis. Aku tak sadar.
Aku sendiri merasa aneh, mengapa tidak ada orang yang turun dari eskalator di atasku. Aku menoleh. Semuanya antri menggunakan lift.
Aku mencoba bangkit. Bangkit dari jatuhku, lalu mulai melangkah…
“Maaf, ini belanjaan Anda..”
Aku menoleh. Kresekku?
Hingga akhirnya, laki-laki itu mengantar aku pulang. Usai mengucapkan terima kasih, aku menutup gerbang, entah apakah juga menutup pintu hatiku…
*
James tak pernah menghubungiku lagi setelah itu. Aku pun sudah terlalu muak untuk mencari tahu akan keberadaannya. Aku tidak peduli!!
Entah, apakah dia sekarang sudah jadi raja minyak, sudah jadi presiden, atau sudah jadi mayat juga, aku tetap tidak peduli.
Dia benar-benar tidak menghargai keberadaanku selama ini. Selama ini… tiba-tiba semua terhempas begitu saja. Terlalu banyak mosi tidak percaya dalam jiwaku hingga pada akhirnya aku lihat bukti itu. Aku takkan pernah memaafkanmu lagi, James…
*
Sore itu aku tengah tidur-tiduran, mendengar lagi alunan Shiva yang sangat penuh derita tapi menyimpan berjuta harapan untuk bertahan. Lalu, suara bel terdengar. Meski terasa terusik, aku pun membuka pintu.
“Kamu?” aku merasa lupa-lupa ingat pada sosok dihadapanku. “Aku Freddy yang di mall…”
“Oh ya, aku ingat!” Aku tertawa, tertawa atas ketololanku malam itu. “Ada keperluan apa nih?”
“Saya hanya mengantarkan manajer saya untuk bertemu Anda?” Freddy melangkah ke samping lalu sosok di belakangnya menatapku.
Aku tergagap…
Tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Michael???”
Ia tersenyum penuh arti padaku. “Masih butuh pelukanku, Fa?”
Aku hanya menggeleng tak percaya, lalu aku berlari ke dalam pelukannya. Semua terasa hangat. Beban dan semua tekananku tadi entah sudah hilang ke mana. Pergi…
*
Freddy menunggu di luar. Sedangkan Michael berada di dalam rumah bersamaku.
“Patuh sekali dia… kok gak mau disuruh masuk?” Ujarku heran melihat Freddy betah diselimuti dinginnya udara malam.
“Dia pegawai yang setia, Fa” jawab Michael.
“Oh… Eh, kok kamu tahu kalo aku yang ditolong Freddy?”
Michael tersenyum.
Aku tahu segalanya tentangmu, Fa. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk masuk dalam kehidupanmu. Aku hanya tidak mau kau terganggu akan kehadiranku.
“Maksudmu?”
“Apa perlu kukatakan lagi, apa kehadiranku di sini tidak cukup untuk membuatmu bahagia?”
Aku tidak mengerti kata-kata Michael tapi aku memang sangat bahagia melihatnya ada di hadapanku sekarang.
Kami saling bercerita mengingat masa lalu, tertawa…
*
Kulihat album tua di kamarku. Masa kuliah di Rotterdam… Ada aku berdiri di antara James dan Michael. James, pacarku sejak di kuliah itu, kami selalu putus, dan menyambung, hingga akhirnya seperti ini. Putus atau tidak, aku pun tidak tahu…
Aku tak mengerti mengapa, mengapa kehadiran James selalu membuatku memberinya kesempatan-kesempatan… Luka-luka itu berulang karena hal yang sama, sumpah yang sama…
Dan Michael adalah sahabatku. Dia selalu hadir saat aku terluka… Dia sangat mengerti aku, hingga akhirnya dia pergi saat aku memutuskan untuk menjalin lagi hubunganku dengan James untuk yang kesekian kalinya…
“Semoga kau bahagia, Fa. Aku harus belajar di negeri yang jauh. Sampai jumpa…” ujarnya saat itu.
Tapi, ternyata dia tak pernah pergi jauh dariku, hanya aku yang tak menyadari kehadirannya.
‘Michael, aku sayang kamu…” ucapku tak sadar lalu memeluk album itu.
*
Siang ini, aku akan ke mall lagi, menemui Michael.
Aku melangkah perlahan, satu, dua…
‘Hai, Michael…” seruku sambil tersenyum ceria. Michael beranjak dari belakang mejanya yang besar, lalu orang yang berada di kursi tamunya pun menoleh padaku.
“Fa! Kejutan sekali, kamu gak ada acara hari ini? Kita lihat-lihat apartemen aja, gimana?”
Aku terdiam.
“Fa? Ada apa?” Michael mengikuti sorot mataku. “Oh iya, kenalin Fa. Ini Coreen, calon model untuk produk shampo yang akan aku keluarkan. Dan Coreen, ini Vardhefa, gadis yang paling aku sayangi. Fa, kamu udah kenal?”
Aku hanya menggigit kuat gigiku. Ingin kutendang perempuan itu. Ingin sekali… dia perempuan yang bersama James di eskalator itu. Tapi, yah aku tetap berjabat tangan dengannya…
Kemudian, perempuan itu pun pergi. Michael memutuskan untuk melanjutkan urusan mereka di hari lain.
“Bukankah itu urusan yang penting? Kenapa bukan aku saja yang disuruh pergi…” sungutku.
Michael tertawa. “Mereka semua tidak ada apa-apanya dibanding kamu Fa..” Lalu, Michael merengkuhku, menghembuskan rona jingga yang memaksa mataku untuk tertutup, hingga rasa itu kualami… Michael telah memasangkan sebuah cincin perak di jari manisku.
*
Pagi ini terasa berbeda, saat kubuka mataku Michael sudah menyambutku dengan senyum. “Kau kini milikku seutuhnya, Fa. Aku takkan melepaskanmu. Kau juga takkan pergi dariku kan? Percayalah, aku akan selalu membuatmu bahagia…”
Aku percaya. Percaya pada Michael, suamiku. Suamiku? Yah, kami sudah menikah tadi malam dan tak salah kan bila kini ia memegang rambutku, dan melakukan “hal” lain yang ia inginkan…
Michael menatapku, menyentuh kerinduanku… tak kan pernah terlintas dalam benakku bila semua itu ia dapatkan dengan mengorbankan uang sebesar 20.000 Guilder…
***

1 komentar:

Eurek Mazeno mengatakan...

Yuk yang suka Taruhan Online Bisa Kunjungi kita di BandarVIP.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...