Sabtu, Desember 06, 2008

Apresiasi Film Gung Ho dari Sudut Pandang Manajemen Krisis

Film Gung Ho ini sangat menarik dalam memberikan pemahaman mahasiswa mengenai mata kuliah manajemen krisis. Pemeran utama film ini dimainkan oleh Michael Keaton sebagai Hunt Stevenson, penghubung antara pihak manajemen Assan Motor Company dengan para buruh dan Gedde Watanabe sebagai Takahara Kozihiro yang berperan sebagai direktur manajemen perusahaan. Peristiwa yang terjadi di kota kecil negara Amerika, yakni Hadleyville ini mengisahkan tentang sebuah pabrik mobil yang telah berdiri sejak 35 tahun, namun sejak 9 bulan lalu pabrik ini ditutup. Meski demikian, pabrik ini telah diperbaiki 2 tahun yang lalu dengan peralatan baru sehingga kondisi pabrik dalam keadaan prima. Para pekerja pabrik mobil ini adalah penduduk kota yang semuanya mengandalkan hidup dari pabrik tersebut. Sehingga demi dibukanya kembali pabrik tersebut, Hunt Stevenson dikirim ke Jepang untuk mencari investor. Pencarian Hunt berhasil dengan kehadiran Assan Motor Company sebagai manajemen yang baru di pabrik mobil Hadleyville tersebut.
“Kita harus membangun semangat. Kita harus menjadi sebuah tim. Dengan hanya sebuah tujuan. Semua hanya memikirkan perusahaan.” Begitulah spirit awal yang ditanamkan oleh pekerja Jepang kepada para pekerja Amerika. Kepentingan perusahaan harus berada di atas segalanya. Adanya perbedaan budaya kerja di antara pekerja Jepang dan Amerika seringkali menimbulnya permasalahan di pabrik ini. Budaya kerja Jepang lebih menitikberatkan pada kinerja tim dan loyalitas pada perusahaan, sedangkan Amerika dengan segenap keegoisan dan kesombongan mereka lebih mengutamakan kerja individual, dalam arti ingin selalu dianggap spesial. Meski demikian pada akhirnya, keduanya dapat memahami kelebihan budaya masing-masing. Saat Hunt menyadari bahwa pekerja Jepang memang bisa bekerja lebih cepat, lebih baik, dan lebih lama, setidaknya dapat mengubah budaya kerja buruh Amerika yang terkesan semaunya. Begitu pula, saat Takahara menyadari bahwa ia begitu penurut seolah hidup hanya untuk kerja dan perusahaan tanpa memperdulikan hal yang lebih penting, yaitu orang-orang yang dikasihi, setidaknya ia dapat mengatasi kecemasan hidupnya.
Banyak hal yang bisa dipelajari dari film Gung Ho ini. Namun jika dikaitkan dengan manajemen krisis maka hal yang sangat erat adalah saat adanya tuntutan buruh Assan Motor Company untuk kenaikan gaji dari 8 dolar 75 sen per jam menjadi 11 dolar 50 sen per jam. Sesuai kesepakatan lewat Hunt, pihak manajemen Assan Motor Company akan memenuhi tuntutan tersebut jika pekerja dapat memenuhi produksi sebanyak 15.000 mobil dalam sebulan. Namun akibat kebohongan Hunt, masalah lain pun timbul dan mengancam tertutupnya kembali pabrik mobil tersebut.
Jika ditinjau dari kategorinya, maka diantara 4 kategori krisis (Exploding Crisis, Immediate Crisis, Building Crisis, dan Continuing Crisis) krisis di atas termasuk ke dalam Building Crisis, yakni krisis yang terjadi lebih terfokus pada persoalan internal. Perlu diingat bahwa meskipun perusahaan memiliki peraturan kerja tersendiri, namun akibat dari suatu kebijaksanaan yang diambil berdasar peraturan itu kadang-kadang dipandang merugikan kelompok orang-orang tertentu. Akibatnya, apapun kebijaksanaan barunya, tetap saja akan melahirkan pendapat publik yang bisa jadi tidak sejalan dengan keteguhan perusahaan dalam menerapkan peraturan-peraturannya. Sehingga, penggiringan pembentukan opini publik yang positif dalam hal ini sangat dibutuhkan. Akhir film Gung Ho ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan Hunt Stevenson dalam berkomunikasi dengan seluruh publiknya sehingga krisis yang terjadi dapat diatasi dengan baik dan sempurna, tapi juga menyusupkan pesan moral untuk menghormati perbedaan budaya yang ada di tiap kawasan dunia. ***

(Note: Nih, tugas individual mata kuliah Manajemen Krisis, D3 PR UGM, 2004)

1 komentar:

cardizen mengatakan...

artikel ini bagus bgt,,aku juga ada tugas kuliah analisis GUNG HO,,makasih bgt mbak nita,,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...