Jumat, Desember 05, 2008

Kisah Bakery Tua

“Gus, laper banget, nih…”
“Hah?” Konyol pacarnya yang baru terjalin satu minggu itu.
“Iya, laper! Tuh, denger… cacing-cacing dalam perutku udah pada cekikikan…”
“Hah?” Cueknya lagi.
Venty mendelik kesal. Pacarnya yang satu itu emang asli cuek. Nggak ada romantis-romantisnya, apalagi care-care-nya. Heran, kok mereka bisa jadian.

Mereka masih menonton pertandingan Liga SMU itu dengan menahan lapar. Sampai akhirnya, tim yang mereka dukung tak kunjung menciptakan gol, dan rasa lapar pun makin meraja lela.
“Yuk, cari makan!” Ajak Agus tiba-tiba.
Venty menoleh. “Apa?”
“Makan! Makan! Yuk!” Agus yang telah berdiri duluan itu mengulurkan tangannya.
Masih dengan rasa terkejut melihat uluran tangan itu yang selama ini tidak pernah dilakukan, Venty lalu menyambutnya.
Mereka berjalan ke luar stadion yang pengap dengan orang-orang.
Sampai di luar, mereka tidak bisa menemukan tempat makan satu pun. Akhirnya, mereka berjalan menyusuri dinding luar stadion.
Setelah hampir mengelilingi stadion itu, di ujung jalan tampak sebuah toko kecil dengan tulisan “BAKERY” besar di atasnya.
“Ven, kamu mau roti?” Tanya Agus.
“Mana yang jual?” Venty terdengar kesal ditambah rintihan perutnya yang kelaparan.
“Itu!” Tunjuk Agus.
Mereka lalu berlari menuju bakery itu. Tapi tiba-tiba, langkah Venty terhenti.
“Gus, aneh. Kok ada bakery di tempat sepi begitu. Eh, nggak jadi aja, yuk. Aku nggak jadi lapar nih…”
Agus melihat Venty ragu. Saat itu Venty terlihat benar-benar kelaparan. Kasihan sekali.
“Udah, tenang aja. Biar aku yang ke sana. Kamu di sini aja, ya…”
Venty hanya diam. Entah mengapa rasa takut tiba-tiba mendera perasaannya. Ia hanya menatap punggung Agus khawatir yang kini telah memasuki bakery itu.
Venty menanti Agus dengan cemas. Sudah setengah jam lebih ia menunggu. Tidak mungkin selama itu. Apa yang terjadi sama Agus?
Di antara rasa takutnya, Venty pun akhirnya memberanikan diri untuk memasuki bakery itu…

Bunyi lonceng pintu bergemericing, saat Venty masuk ke dalam. Pemandangan aneh di dalam ruang bakery itu makin menakuti Venty. Ia memandang sekeliling. Kursi-kursi tua dan berdebu tersusun di pinggir outlet kue dan roti.
Saat melihat outlet kue dan roti itu, Venty makin tercengang. Jenis kue dan roti itu pernah dilihatnya tapi yang pasti sangat tidak mirip seperti yang biasa ia temui di mall-mall.
Venty terus mengingat.
“Astaga! Kue-kue itu seperti majalah di perpustakaan sekolah. Tapi, majalah itu majalah tertua yang ada… terbitan tahun 70-an.” Venty makin tidak mengerti, apa yang terjadi.
Ia melihat kue-kue yang beraneka ragam itu. Bentuk-bentuk yang unik dengan warna-warna tua dan buram. Meski begitu, memang masih terlihat enak untuk dimakan.
Tiba-tiba, ia teringat apa tujuan utamanya memasuki bakery itu, Agus…
Dimana Agus? Ia tidak melihat Agus di sudut ruangan mana pun. Hanya seorang penjaga toko dengan baju seragam kotak-kotak biru putih yang terus memandangi Venty. Venty lalu mendekatinya.
“Mbak, lihat cowok yang kira-kira masuk setengah jam yang lalu nggak?”
Yang dipanggil mbak hanya memandang Venty bingung.
“Saya menunggu dia tadi di luar, dan herannya dia tidak ada di sini. Mbak tahu ke mana dia?”
Penjaga toko itu kembali bingung, lalu melangkah mendekati outlet kue. “Do you want buy bread or cookies?”
“Hah?” Venty tercengang. “Kenapa make bahasa Inggris segala, ini kan Yogya, Mlangi-Yogya. Kenapa bahasa Inggris? Kalau bahasa Jawa atau Arab masih masuk di akal.” Batinnya.
“No, I just looking for my friend. Do you see him?”
“Your friend? Sorry, I don’t know.” Jawabnya.
Venty curiga. Tapi ia terlalu letih dan kelaparan. Namun, ia tidak mau membeli kue atau pun minuman. Ia hanya menuju sudut ruangan, menunggu Agus…
Sore sudah berganti malam. Venty malah tertidur di ruangan aneh itu. Tiba-tiba, ada yang membangunkannya.
“Mbak! Mbak! Maaf, tokonya mau tutup.”
Venty langsung terbangun. “Hah? Mau tutup ya?”
Venty beranjak, tapi saat menoleh pada orang yang membangunkannya, ia sumringah seperti orang gila.
“Agus!!? Kamu kemana aja? Aku tungguin dari tadi. Yuk, kita pulang…” Venty meraih tangan Agus dan mengajaknya keluar.
Tapi yang terjadi kemudian adalah hal yang lebih mengejutkan lagi. Agus tidak mengenali Venty!
“Maaf Mbak, saya tidak mengenali anda. Kok mau mengajak saya pulang?”
“Agus, kamu kenapa sih?”
“Hah?”
Kebiasaan Agus yang dulu dibenci Venty itu, kini malah membuat Venty senang. Iya, dia benar-benar Agus yang disayanginya, tapi ada apa dengan dia sekarang.

Venty tetap meraih tangan Agus dan menyeretnya keluar. “Ayo pulang, sudah malam, nanti Pakde marah…”
Dengan kasar, Agus malah melepaskan tangan Venty. Venty terkejut bukan main. Apa yang terjadi pada Agus?
Tadi, adalah hal yang mustahil terjadi. Meski Agus orangnya cuek tapi ia tahu bila cowok itu sangat mencintainya. Iya, tidak perlu dikatakan lagi, Agus memang sangat mencintai Venty sejak beberapa tahun yang lalu.
“Gus… Kamu kenapa?”
“Maafkan saya. Tapi kami harus tutup sekarang.”
Dia lalu bahkan menyeret Venty untuk keluar. Venty meronta.
“Gus, kamu kenapa sih?”
Agus hanya menatap Venty dengan tatapan kosong. Lalu kembali menyeretnya keluar. Sampai di depan pintu, Venty yang hampir didepak ke luar berhasil melepaskan tangannya.
“Aagh, kamu kenapa sih, Gus?”
Tiba-tiba mata Venty terasa panas. Ia menangis. Agus masih menatapnya kosong dan tidak mengerti.

“Gus, ini aku… Venty, pacar kamu. Kenapa kamu tidak mengenali aku? Katamu, hanya aku yang ada di hati kamu sejak 6 tahun yang lalu. Sebenarnya, aku juga sangat mencintaimu Gus. Sama… sejak 6 tahun yang lalu. Tapi sebagai cewek, aku hanya bisa menunggu… Akhirnya, Indra datang… dengan berat hati aku menerimanya karena kupikir kamu tidak punya perasaan apa-apa padaku…”
Venty terus berbicara, meski Agus tetap tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
“Dan akhirnya, aku dikecewakan Indra dengan orang ketiga, dan saat itu kamu pun sudah punya pacar… Gus, kamu ingat ini?”
Venty mengeluarkan liontinnya yang berbentuk diamond yang bermakna Agus dan Venty.
“Kamu memberikan ini padaku… satu minggu yang lalu. Kamu ingat? Secara tidak sengaja liontin ini terlepas dari leher kamu dan jatuh di hadapan aku… Simbol ini kan? Yang dibuat teman-teman saat menjodohkan kita di SMP dulu. Yang kamu benci… tapi ternyata kamu malah membuatnya dan selalu memakainya…”
Mata Agus mengerjap-kerjap. Dia seolah-olah mulai kembali normal. Saat begitu, tiba-tiba penjaga toko bakery itu mendekati mereka.
“What happen? I’m sorry Miss. We must close now. Please, leave this place.” Ia mendorong Venty hingga keluar. Venty terkejut sampai akhirnya ia nekat.
“Tidaaakkkk!!!!!”
“Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Gus… Aku mencintai kamu!!”
Didorongnya kembali pintu itu dengan kuat, hingga penjaga toko itu jatuh terjengkang. Ia berlari menuju Agus yang memandangnya heran dan bingung.
Venty memeluk erat Agus…

Agus hanya diam.
Venty kemudian menatap Agus… Memegang pipinya, lalu mencium bibir orang yang sangat disayanginya itu. Lama… dan tidak mau berhenti.
Venty tidak peduli pada apapun yang terjadi, yang penting ada Agus di sisinya. Perlahan Agus pun membalas ciuman itu…
“Venty?” Ujarnya.
Venty menatap Agus, terkejut.
Tapi belum selesai terkejutnya, kini Agus yang aktif menghujani Venty ciuman…
Perlahan, sekeliling mereka dipenuhi cahaya kembang api, lalu gelap. Keduanya masih berciuman, saat tiba-tiba…
“Adik-adik, ini tempat umum lho..!”
Venty dan Agus membuka mata mereka yang terasa silau. Sampai akhirnya, teriakan keras kembali mengejutkan mereka.
“Goolll!!!!”
Tepukan meriah memenuhi stadion. Agus tak berhenti menatap Venty sambil tersenyum…

TAMAT

2 komentar:

Eurek Mazeno mengatakan...

Yuk yang suka Taruhan Online Bisa Kunjungi kita di BandarVIP.com

Febryan Ryan mengatakan...

bagus cerita nya i like it

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...