Rabu, Desember 10, 2008

Mutiara Cinta

“Menjadi Mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.”
* * *
“Hallo! Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam. Alfin?! Fin, ini Dodi. Fin, aku butuh bantuanmu. Aku bener-bener lagi di dalam masalah besar sekarang! Tolong aku, Fin!”
Suara berat, terbata-bata, dan berbalur kebingungan mengalir dari ujung handphone Sony Ericsson P990i Alfin yang diangkatnya sambil menyetir mobil sedan Mitsubishi Grandis yang baru ia beli dari dealer tiga hari yang lalu. Prakteknya sebagai dokter ahli kandungan di kota besar, Jakarta menuai keuntungan yang lumayan.
“Dodi? Dodi si ‘Jempol Besar’? Hey, Dod! Apa kabar nih? Udah hampir dua tahun ya, kita nggak silahturahmi. Tumben nelfon. Minta bantuan apa, Dod?” sambut Alfin ceria. Selintas berkelabat kenangan masa lalunya bersama Dodi, sobat kentalnya ketika mereka sama-sama masih duduk di bangku SMU terfavorit di Palembang. Terlebih mereka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sama, Paskibra. Ironisnya mereka pun menyukai gadis yang sama, meski dengan status yang berbeda.
“Gila! Kacau! Aku bener-bener di ujung tanduk sekarang!”
“Hey! Hey! Apanya di ujung tanduk, sih? Kamu bikin aku bingung!”
“Fin, kamu di Jakarta kan sekarang?” tanya Dodi mendesak untuk segera dijawab.
“Iya, kamu juga tahu aku buka praktek di Jakarta.”
“Nggak, aku tahu kamu di Jakarta. Tapi mungkin saja kamu lagi tugas luar kota atau mudik ke Palembang,” balas Dodi sambil berjalan mondar-mandir di atas bungalow sebuah apartemen mewah di kawasan Pondok Indah Jakarta. Matanya nanar, sesekali menatap gadis yang sedari tadi duduk tak jauh dari tempatnya berdiri, memperhatikannya.
“Nggak, kok! Aku di Jakarta. Ada apa emangnya?”
“Aku nggak tahu harus mulai ngomong darimana, Fin!”
Suara Dodi terdengar semakin memburu. Lagi, ia menatap gadis yang kini malah berdiri dari duduknya, masuk ke dalam apartemen, meninggalkannya sendiri bak orang linglung.
“Susah banget kelihatannya, kamu kayak abis ngehamilin anak orang aja…” Alfin mencoba mencairkan suasana, mencoba menerka, meski gambaran orang kecelakaan, kematian dan perampokan sudah berkelebat memasuki pikirannya.
“………”
“Hallo…? Dod, hallo?”
“I… iya, Fin. Aku menghamili anak orang,” jawab Dodi akhirnya.
Seharusnya, Alfin tak perlu heran atas pernyataan sobatnya barusan. Sejak SMU, Dodi selalu dikerubungi fans-fans wanita yang tertarik dengan wajah Arabnya, tinggi badannya yang seimbang, sikap patriotiknya maupun gaya militerismenya yang begitu kental dengan nada suaranya yang berat dan tegas. Julukan ‘Jempol Besar’ pun bukan dimaksudkan untuk melecehkan, malah mungkin sebaliknya. Kamu tahu kan, mitos ‘Jempol Besar’ yang identik dengan ukuran ‘milik’ para lelaki Timur Tengah? Yah, tidak seperti Alfin yang justru dijuluki ‘Introvert Boy’. Namun tak urung, respons Alfin pun menjadi mirip sebuah histeria.
“Hah! Apaaa?? Innalilllahi… Ya udah, nikahi aja! Sebagai lelaki kamu harus tanggung jawab, Dod! Lagian umurmu sekarang kan, sudah pantas untuk memasuki jenjang rumah tangga!”
Ya, umur mereka sama-sama sudah menginjak 28 tahun. Pengejaran karier mimpi mereka tampaknya sudah sama-sama tergapai. Dodi kini bertugas sebagai salah satu anggota pasukan infantri batalyon bagian rohis di sebuah Kodim kawasan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan dengan pangkat Letnan Satu. Usai dari masa perkuliahannya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia memutuskan untuk ikut perekrutan Sekolah Pertama Perwira Prajurit Karier TNI (Semapa PK), salah satu program penyediaan Perwira TNI yang bersumber dari lulusan Perguruan Tinggi untuk pengisian jabatan dalam organisasi TNI. Dua jurusan yang tak searah mungkin, namun Dodi dapat mengkolaborasikan keduanya. Dua minggu yang lalu ia mendapat tawaran untuk pindah tugas sebagai asisten sekretaris Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam II/Sriwijaya di Palembang dari calon mertuanya yang masuk dalam jajaran Perwira Menengah (Pamen) di sana. Sebuah jenjang karir yang melesat terlalu cepat memang, namun Dodi pasti tak akan melepaskan kesempatan emas itu. Meski artinya, ia akan benar-benar berada di bawah pengaruh calon mertuanya, ayah Vita, gadis Solo nan ayu yang sudah enam bulan lalu dijodohkan dengannya.
“I… iya. Aku tahu, Fin. Tapi masalahnya, dia bukan Vita, tunanganku yang sekaligus anak atasanku.”
“Hah? Kok bisa gitu? Lalu maumu apa?” Alfin ikut berpikir keras. Bayangan Dodi di antara masa SMU yang penuh romantisme itu, juga merupakan salah satu aktifis rohis. Wajah khas ayibnya benar-benar mendukung posisinya sebagai koordinator bidang syiar. Ketika momen-momen perayaan hari besar Islam, Dodi tak pernah ketinggalan menjadi salah satu pendukung acara, minimal menjadi seorang pembaca doa penutup. Tapi mengapa sekarang…?
“Salahku, Fin! Aku mengaku salah. Aku berdosa, aku sadar itu. Aku tidak bisa menjaga kehormatan kami. Entah bisikan setan seperti apa, sehingga aku jadi kebablasan begini. Cuma sekali, Fin, dan aku menggunakan pengaman, tapi 24 jam setelah itu, dan dicek… Positif! Tolong aku, Fin… Sungguh, demi Allah, aku akan bertobat, namun bantulah aku dulu untuk menyelesaikan dilema ini.”
“Astagfirullah hal adzhim. Kamu mau mengaborsi anak perempuan yang kamu hamili itu?” Syaraf kepala Alfin serasa ikut menegang hebat. Tak percaya Dodi dapat melakukan kesalahan seperti itu. Berzinah, lalu mau mengaborsi? Dodi yang aktifis rohis, alumni UIN?
Kecerdasan spiritual memang berbeda arahnya dengan sikap religius. Kuantitas berlebih ibadah yang dilakukan nyatanya bukan jaminan seseorang memiliki kualitas kecerdasan spritual, sebuah jalan dalam meraih kebahagiaan dan memahami makna dari kehidupan. Hanya kecerdasan emosional yang selalu mencekik erat manusia untuk mengarah pada keinginan meraih sukses dalam hidup. Yah, hanya tentang hidup, dan tentunya lagi hanya di dunia bukan di akherat.
“I… iya, Fin. Hanya kamu yang bisa menolongku. Aku takut ketahuan keluargaku. Keluarga tunanganku. Aku bisa dibunuh kalau mereka sampai tahu… Karierku bisa hancur! Bahkan, aku pun bisa dikeluarkan dari kesatuanku.”
“Kamu seharusnya lebih takut dengan Allah! Dan kenapa harus aku yang kamu libatkan? Kamu pasti punya kenalan lain di Jakarta. Aku tidak mau ikut menanggung dosa! Kamu seharusnya lebih bertanggung jawab atas segala perbuatanmu!”
Alfin berkata dengan emosi yang sudah tak tertahan untuk meluber. Ia tahu masalah ini adalah sebuah dilema besar! Tak disangka sahabat karibnya itu tiba-tiba menghubunginya dan langsung menyampaikan berita mengejutkan ini. Ia ingin langsung menolak permintaan itu. Ia cukup mengerti bahwa meski dengan sekedar menolong memberi tahu jalan saja, ia sudah akan terlibat dosa yang tidak bisa dibilang kecil.
“Jadi kamu tidak mau menolongku, Fin? Kamu kan dokter. Pasti kamu bisa melakukannya dengan baik. Atau kenalkan aku dengan dokter lain yang bisa melakukannya?” paksa Dodi.
“Maaf, Dod! Justru karena kamu temanku, maka aku tak bisa menolongmu. Satu-satunya solusi adalah kamu harus menikahi perempuan itu. Biarkan anakmu lahir. Jangan berbuat dosa lagi!”
Dodi menghapus peluh yang terus bercucuran di dahinya. Ia memilih duduk di tempat yang sebelumnya diduduki sang gadis yang kini tengah membuka laptopnya, membaca sebuah file.
“Kami sama-sama tidak menginginkan anak itu lahir, Fin…”
“Cukup! Tidak menginginkan bukan berarti kalian harus membunuhnya. Kalian bisa menaruhnya di panti asuhan atau berikan kepada orang lain yang menginginkan…”
“Tidak bisa, Fin. Terlalu beresiko. Lagipula, usia kandungan itu baru dua hari! Ia belum berwujud apa-apa! Dan, kamu tahu siapa perempuan itu???”
“Aku tidak peduli siapa dia…” jawab Alfin dingin.
“Kamu harus peduli! Karena dia yang menyuruhku minta bantuanmu. Dia… dia… Anna, Fin…”
Pikiran Alfin benar-benar ikut berputar hebat sekarang. Pekik klakson menghujani telinganya. Ya Allah, ia hampir saja menabrak seorang penyeberang jalan, seorang perempuan yang tengah hamil besar. Mobilnya berhenti mendadak. Handphonenya terjatuh. Lalu lintas yang ramai tampak benar-benar lengang di matanya sekarang. Anna. Sebuah nama yang sangat berarti baginya. Dulu, ketika masa SMU itu ada, atau mungkin hingga kini, nama itu pun masih tersimpan manis di salah satu sudut hatinya. Anna… Anna sang jurnalis. Anna si ‘Senyum Bidadari’…
* * *
“Menjadi Mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.”
Anna merenungi sekumpulan kalimat yang pernah muncul di salah satu paragraf email dari Alfin untuknya. Kalimat itu jadi begitu menggugah perasaannya saat ini. “Menjadi mutiara…” Indah sekali. Tapi, kenapa harus menjadi mutiara? Mungkin ada benda berharga lain yang tak kalah nilainya namun tak harus bersusah payah seperti menjadi mutiara, diam sendirian teronggok di dasar lautan. Sampai akhirnya mutiara dianggap berharga pun, ketika ia telah diolah dulu oleh tangan-tangan manusia. Menjadi mata cincin atau liontin misalnya. Ia pun harus mau disandingkan dengan elemen lainnya. Seperti emas, perak, benang penguntai, atau apalah… Mutiara tak cukup indah jika dibiarkan hanya di dalam tiram, dan tersembunyi di antara karang. Masa yang mendebarkan adalah ketika ia merubah dirinya menjadi mutiara yang cantik. Kau tahu kan, sesungguhnya ia hanya berasal dari serpihan pasir yang tak sengaja masuk ke dalam tiram? Sejumpil kotoran. Ia bermula dari bukan apa-apa menjadi punya apa-apa.
Namun ia memang dibiarkan untuk tumbuh menjadi cantik…
Ia memang dibiarkan untuk berada di dasar lautan…
Ia memang dibiarkan untuk tak tersentuh sampai waktunya tiba…
“Lalu aku?” Anna menggenggam erat laptop Toshiba Qosmio F20-P540-nya yang memuat tulisan itu. Matanya terpejam, seolah membayangkan dirinya terhisap ke dalam pusaran arus samudera yang luas dan dalam perubahan dimensi waktu wujudnya berubah menjadi serpihan pasir dan masuk ke dalam sebuah tiram. Tiram itu tertutup, dan ia terperangkap di dalamnya…
Sekejap saja mata Anna membuka. Berat hatinya saat mengakui bahwa segenap harapan tak sesuai kenyataan. Ia tak bisa membiarkan dirinya menjadi mutiara.
Ia tetap Anna, meski ia hanya tergambar sebagai kaleng rombeng yang tak ada gunanya. Ia tetap Anna, meski kehadirannya justru menimbulkan malapetaka bagi manusia lainnya. Dan ia tetap Anna, meski senyum manisnya akan dianggap nista…
* * *
“Ayo, pergi!”
Anna pura-pura tak mendengar ucapannya. Matanya masih lekat ke tengah Sungai Musi. Pasat, memperhatikan riak air berwarna kuning yang selalu berlalu ke tepi. Mereka dapat menikmati semua aktivitas di sekitar Sungai Musi dari dermaga di depan Benteng Kuto Besak, sebuah benteng peninggalan sejarah ketika masa Kesultanan Palembang Darussalam ada. Berbagai jenis kapal, jungkung, maupun sekoci tertambat dan melaju di atasnya. Jembatan Ampera yang dibangun indah ketika periode penjajahan Jepang itu pun berdiri kokoh menyambung kawasan Ilir dan Ulu Kota Palembang, sebuah kota metropolitan yang kaya akan sumber energi dan pangan.
“An, ayo pergi…”
Anna menoleh sejenak. Lalu kembali memandang kosong ke tengah sungai. “Pulang saja duluan, aku tidak memintamu menemani aku seharian kan?” katanya ketus.
Laki-laki itu pun kemudian duduk di atas tembok pembatas dermaga dengan sungai. Kakinya berguntai, riak sungai seolah ingin menariknya ke bawah. Mata lelaki itu memperhatikan Anna, sejenak, lalu ikut memandang lurus ke depan, diam. Cukup lama kebisuan itu tercipta. Mereka hanya berada di situ dalam diam, tapi bagi Anna itu sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup.
Dipayungi senja yang bergelayut di hulu Sungai Musi, mata Anna kian terasa panas. Tak lama, sekumpulan air sudah menganak sungai di sana, lalu bulir-bulir permata kebekuan itu pun pecah. Isak itu kemudian memancing perhatian lelaki di sebelahnya. Ia mendekat, lalu melihat wajah muram Anna.
“An…”
“Maaf, Fin. Seharusnya kamu nggak usah mempedulikan aku. Aku tuh selalu nyusahin kamu ya? Aku ini memang nggak pantas untuk dicintai. Dodi saja selalu pergi meninggalkanku.”
“Jangan ngomong begitu, An? Kalau kamu memang mencintainya, percayalah padanya. Tapi kalau hatimu sudah tidak yakin lagi, jangan pula menutupnya terlalu rapat.”
Anna menatap Alfin lembut, lalu tersenyum. “Mengapa Allah menghadirkan cinta dalam hati kita, Fin? Cinta yang kadang menyenangkan, lalu menyesakkan. Adakah tujuannya?”
Alfin ikut tersenyum. “Tentu saja, ada. Kamu tahu, menurut Victor Hugo, cinta adalah penciutan alam jagad menjadi eksistensi tunggal dan pemekaran eksistensi tunggal mencapai Tuhan. Cinta itu memang secara gamblang terlihat pada hubungan sesama manusia, lawan jenis. Namun tentu kita tidak boleh melupakan cinta yang paling utama kan, kepada Allah SWT dan rosul-Nya.”
“Iya, terutama untuk Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Tapi, yang aku tanyakan…” sambung Anna cepat, air mukanya mengeras.
Alfin tersenyum lagi. “Allah pasti menghadirkan cinta dengan berjuta manfaat agar manusia memahami arti kebahagiaan. Kamu sepakat? Tapi tentu setiap manusia ingin memiliki cinta yang lengkap pada satu sosok pasangannya, ada pandangan yang sama tentang agama, ada persahabatan sebagai teman berbagi suka duka, ada komitmen bersama dalam upaya membangun rumah tangga, dan yaa… kamu tahu kan yang terakhir.” Ujung kelopak mata Alfin mengerling.
Anna tampak mulai melupakan kegundahannya, “Apa yang terakhir?”
“Tuh!” dagu Alfin mendongak, menunjuk sepasang remaja yang sedang berangkulan di salah satu pojok dermaga.
“Apa itu?” Anna pura-pura tak mengerti.
“Yaaa, kebutuhan biologis yang terjaga geloranya. Ha ha ha…”
“Ah, dasar cowok! Ujung-ujungnya pasti itu…” pipi Anna bersemu merah.
Kenangan dua tahun yang lalu itu tiba-tiba tergambar jelas di benak Alfin. Hari keempat lebaran, ketika Anna dan Alfin sama-sama mudik ke kampung halaman mereka, Palembang. Sekalian untuk hadir dalam reuni tahunan angkatan SMU mereka yang ke-6 di salah satu hotel bintang 4, Hotel Swarna Dwipa. Saat reuni itu, Dodi hadir berseragam dinas sambil menggandeng seorang gadis yang ia perkenalkan sebagai kekasihnya, Vita. Anna yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa terdiam. Ia benar-benar tidak tahu, sebagai apa dia di hati Dodi saat ini. Yah, pacaran jarak jauh yang selama ini mereka lakukan sudah lama ditentang Dodi. Tapi Anna-lah yang ingin selalu bertahan. Disadari atau tidak, perlahan namun pasti hubungan Anna dan Dodi pun kemudian menjadi mati rasa.
“An…”
“Ya?”
Alfin menatap lekat perempuan bermata indah dengan bulu mata lentik itu. Tubuhnya yang sintal tetap saja terlihat jelas, meski ia tutupi dengan baju panjang biru bermanik-manik khas Turki, dan celana panjang putih. Jilbab biru transparan yang membuatnya terlihat semakin religius-eksotis itu sesekali melayang mengikuti angin. Tak dapat dipungkiri, sejak dulu Alfin telah menaruh hati pada jurnalis manis yang telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas di berbagai surat kabar terkemuka Indonesia itu.
“An, kamu mau nggak menikah denganku?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Alfin. Ia sendiri agak terkejut telah mengucapkannya. Ia hanya melihat sebuah peluang bahwa Anna kini sedang sendiri, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, ada Dodi yang selalu mendampinginya.
Mata hitam sang gadis membulat, tak percaya. “Apa? Kamu nggak lagi salah minum obat, Fin?”
“Aku serius, An. Aku ingin membangun sebuah rumah tangga yang… kamu tahu, sakinah mawaddah warrohmah, dan kusadari bahwa kamulah pasangan yang tepat sebagai calon istriku itu.”
Tanpa pikir panjang Anna segera menggeleng kuat. “Kenapa begitu tiba-tiba begini? Kamu sahabat terbaikku, Fin. Kamu laki-laki yang baik, sangat baik. Aku ini nggak pantes untuk kamu. Aku… aku… bukanlah Anna seperti mutiara yang kamu bayangkan.”
“Aku yang baik atau sangat baik kupikir itu berlebihan. Pantas atau tidak kamu untukku, biarkan aku yang menilainya. Aku sungguh-sungguh, An! Aku mencintai kamu sejak dulu.”
Mata Anna membelalak, mencoba menalari bahwa benar Alfin sedang tidak main-main. Namun, setelah berpikir lagi, ia makin meragukan dirinya sendiri, “Aku nggak bisa, Fin! Apa yang kamu lihat dariku? Dodi saja ingin selalu pergi dariku, meski akhirnya dia memang benar-benar pergi...”
“An, maafkan aku, jika ini terlalu tiba-tiba. Tapi percayalah padaku, aku mencintaimu. Bagiku kamu adalah perempuan terbaik yang pernah kutemui. Kamu muslimah yang pintar mengaji, jurnalis yang penuh dengan pemikiran kritis-idealis, kamu mandiri, dan lagipula kamu adalah ‘Senyum Bidadari’-ku. Lupakanlah semua tentang masa lalu kita, An. Kita buka lembaran yang baru.”
Anna menatap Alfin, lelaki itu memang selalu baik padanya. Pendengar yang setia. Selama ini, Anna pun tidak pernah mendengar Alfin dekat dengan perempuan lain. Ia hanya terkonsentrasi dengan pendidikan dokternya, hingga tak pelak, dalam usia muda ia pun sudah mengantongi izin praktek sebagai dokter ahli. Namun demikian, hati Anna tetap terguncang kuat, tak kuasa untuk bisa menerima cinta itu. Ia pun teringat masa-masa pacarannya dengan Dodi yang sudah terlampau jauh. Jauh… Tak pantas rasanya ia masih menggunakan jilbab di kepalanya bila ia mengingat apa yang telah diperbuatnya.
“Jangan, Fin… Aku bukan orang yang pantas untuk kamu sayangi. Aku bukan mutiara! Aku tidak bisa menjadi mutiara. Dan, maaf… sepertinya ini akan menjadi hari terakhir pertemuan kita, Fin. Hiduplah dengan bahagia dengan perempuan yang benar-benar pantas untukmu. Maaf bila aku selalu mengganggumu…”
Anna sempat memberikan senyum manis yang aneh, baru kemudian berlari meninggalkan Alfin tanpa pernah menoleh lagi.
“An, tunggu! Aku tidak peduli dengan masa lalumu! Allah saja Maha Pemaaf… An, tunggu…” Alfin mencoba meraih Anna., namun yang ingin digapai terus berlari jauh, dan jauh, meninggalkannya…
Anna membuka cepat Honda Jazz hitam kesayangannya, menstarter, lalu melaju di Jalan Jenderal Sudirman, salah satu jalan utama di Palembang. Al-Quran surah An Nur ayat 26 terngiang-ngiang di telinga Anna, menghujam kuat, dan ia semakin mempercepat laju mobilnya menembus senja, menyambut pekatnya malam yang menggelayuti pikirannya.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
* * *
Ruang kerja Alfin tampak rapi. Serangkaian bunga lili segar tersusun di pojok ruangan, menambah putihnya suasana. Hari ini praktek Alfin libur, namun ia telah berada di sana sejak satu jam yang lalu. Ia sedang menunggu.
“Dok, Pak Dodi dan Ibu Anna sudah datang.”
“Ya, suster. Suruh saja mereka masuk.”
Pintu itu terbuka, sesosok lelaki berbadan tinggi berambut cepak khas militer masuk duluan. Ia menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna coklat, merk ternama. Di belakangnya, sosok yang semalaman membayangi benaknya pun masuk. Sosok itu tak berubah, ia masih seperti bidadari. Saat pandangan itu bertemu, senyum manis namun aneh itu kembali hadir, tak ayal langsung merenggut keseimbangan Alfin hingga beberapa detik.
Mereka bersalaman, bertukar pandangan, lalu saling menanyakan kabar. Tiga sahabat lama yang pernah terlibat jalinan kuat itu saling senyum penuh arti untuk sekian lama. Mereka sudah terbilang mampu meraih impian hidup masing-masing. Tak diduga mereka dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini.
Detik-detik berlalu dengan seribu tekanan dan rasa bersalah. Mereka bertiga di ruangan itu, tengah berusaha menggagalkan hadirnya sesosok manusia yang tak bersalah, yang sesungguhnya tak minta dihadirkan. Anna telah berada di meja operasi saat itu. Dodi di sampingnya, terus menyakinkannya bahwa ini adalah pilihan yang terbaik yang harus mereka ambil.
“Percayalah pada Alfin, An… Dia pasti melakukannya tanpa resiko. Kita sudah memutuskan ini bersama kan? Kamu pasti juga tidak ingin menghancurkan kariermu sebagai editorial secretary Cosmo-Life yang baru terpilih. Ingat kesempatanmu untuk kuliah S-2 di London. Percayalah bahwa ini benar, An…”
Anna terus menangis. Teringat bahwa ia sudah berusaha menjaga hatinya selama dua tahun ini dari segalanya tentang Dodi dan Alfin, tentang cinta kepada lawan jenis. Hanya konsen pada pekerjaannya. Menjadi seorang wanita karier. Hanya kerja dan kerja. Namun empat hari yang lalu, saat perjumpaan tak sengaja dengan Dodi di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Tak percaya bahwa pertemuan itu berakhir di apartemennya sendiri yang kemudian menghadirkan permasalahan pelik ini.
“An, kamu sudah siap? Kamu ingin berdoa dulu, atau apa?” Alfin bertanya kaku. Alat-alat aborsi itu sudah siap dipergunakan. Tinggal menunggu persetujuan dari Anna untuk memulainya, memulai proses pengerokan dinding rahim, melepas nutfah yang menempel kuat di sana.
Anna menatap Alfin takut. Sangat takut… Tiba-tiba, Anna merasa bahwa di matanya tampak sebersit cahaya melintasi. Entah sinar apa itu, ia pun tak tahu. Namun usai itu, ia berteriak-teriak tak terkendali, menghapus raut bidadari yang ada di wajahnya. Matanya terlalu sembab, dan kulit putih halusnya, bertambah pucat dan layu. Ia seperti mayat hidup.
“Hentikan!!! Jangan dimulai! Hentikan! Aku menginginkan anak ini. Biar aku yang memeliharanya sendirian. Aku akan menanggung resikonya sendiri. Allahuakbar! Ampuni aku, ya Allah… Fin, turunkan kakiku! Cepat!!! Aku mau pergi. Aku tidak mau lebih berdosa lagi. Fin, turunkan aku, sekarang!!!”
“Anna, apa yang kamu lakukan?” Dodi mencoba menenangkan Anna.
“Diam kamu, Dod! Kamu laki-laki brengsek!! Makan semua jabatan yang kamu inginkan. Kamu tak akan mendapatkan arti cinta yang sesungguhnya sampai kapan pun! Fin, bantu lepaskan aku! Aku mau pergi!”
Alfin merasa ada yang terbang dari hatinya dalam sekejap. Ya, perasaan lega tiba-tiba hadir di dalam dirinya. Anna telah melakukan pilihan yang tepat di saat-saat genting. Ia menurunkan meja operasi ke posisi normal. Menurunkan posisi kaki Anna yang tadi sempat menggempur keprofesionalan dalam relung hatinya sebagai seorang dokter ahli kandungan.
Berhasil turun dari meja operasi, Anna bergegas memakai mantel dan kaca mata hitamnya. Cepat ia meninggalkan ruangan itu. Alfin dan Dodi hanya berdiri kaku. Tak saling memandang, hanya mencoba memahami apa yang tengah terjadi. “Ya Allah, ampuni kami…” bisik masing-masing hati, lirih.
Namun hanya sejenak saja kebekuan nan hening itu tercipta, ia langsung buyar tatkala terdengar bunyi berdebam keras dari luar. Belum sempat Alfin dan Dodi berlari keluar, suster telah masuk ke dalam ruangan praktek Alfin, terengah-engah, berusaha mengeluarkan serangkaian kata-kata, “Dok, Ibu Anna jatuh.”
* * *
“An, Anna! Bangun, An! Anna…”
Kurasakan tubuhku diangkat oleh kedua tangan hangat itu. Lalu pikiranku melayang begitu jauh. Semakin jauh, dan tak tergapai…
Sepasang mata yang menggendong Anna hanya bisa memancarkan sinar lemah. Berdoa keras, mengharap keajaiban dari Tuhannya akan terbukanya sebuah pintu lautan maaf dan ampunan bagi sang mutiara. Mutiara cinta.
“Menjadi apapun dirimu… bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakin kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang, melati yang senantiasa mewangi, kupu-kupu yang gemulai, mutiara yang indah, atau apapun yang kau mau. Hanya tetaplah sadari siapa dirimu? Dan tetaplah sadari kehambaanmu…?”

Surakarta, 29 September 2006

1 komentar:

Eurek Mazeno mengatakan...

Yuk yang suka Taruhan Online Bisa Kunjungi kita di BandarVIP.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...