Sabtu, Desember 06, 2008

Dra. Wien Sukarsi, Sang Melati SMU Plus Negeri 17 Palembang

Bilamana ia berwujud…
Saat kedisiplinan memolesnya tampak keras
Sayup-sayup ungkapan otoriter berbisik
Menatap mata-mata tajam yang berkilau
Mengokohkan jiwa-jiwa peragu yang kelam
Bilamana ia berwujud…
Suatu waktu saat sang fajar menyeruakkan hari
Saat awam tersenyum karena keanggunan
Saat cerdik pandai mengangguk-angguk atas kemampuan
Saat yang tak kenal menyegani, dan yang kenal sangat menyayangi…
Apabila wujudnya terbentuk…
Dia lah sosok sang ibu, sang pemimpin dan sang pengabdi
Ia bersifat penuh cinta, pintar, kuat, putih dan tulus
Hanya dengan gabungan semuanya ia dikenali
Kejujuranlah yang membuatnya selalu mewangi
Ia selalu ada dalam jejak-jejak sejarah yang terukir
Berwujud sebagai sang melati SMU Plus Negeri 17 Palembang
Merekah abadi dalam namanya, Dra. Wien Sukarsi

(Solo, 21 Maret 2006)

Kiranya puisi di atas dapat melukiskan imajinasi saya tentang sosok Ibu Dra. Wien Sukarsi, tokoh panutan yang saya idolakan hingga detik ini. Saya menikmati secara langsung kepemimpinan beliau sebagai Kepala Sekolah SMU Plus Negeri 17 Palembang selama 3 tahun, sejak saya terdaftar menjadi peserta didik di tahun ajaran 1999/2000 hingga masa kelulusan saya di tahun ajaran 2001/2002. Meski sudah 4 tahun tidak berada dalam satu hierarki, namun tidak sulit menentukan bagaimana peran Bu Wien dalam sejarah SMU Plus Negeri 17 Palembang sekarang ini. Terlebih karena saya masih bisa merasakan nuansa penuh warna SMU Plus Negeri 17 Palembang dalam wadah kealumniannya di organisasi IA+17 Palembang.
Berbagai kenangan indah dan penuh wibawa bersama beliau selalu tampak segar dalam ingatan saya. Mulai dari yang memalukan, seperti: saya pernah kena marah Bu Wien karena menggunakan komputer sekolah yang penuh “rahasia” untuk mengetik karya tulis, saya pernah dicuekin Bu Wien karena “ngotot” ketika mau menerbitkan Marella 17 namun akhirnya berhasil, saya juga pernah dihukum kolektif bersama teman-teman yang lain “kaki ayam” seharian karena tidak pakai sepatu wajib, dan dihukum “berjemur selama 3 jam” di lapangan basket karena ribut ketika seminar. Hingga pada hal-hal yang mengesankan bagi saya ketika berada dalam pelukannya yang hangat dengan tatapan yang penuh cinta dan rasa bangga atas prestasi yang saya ukir di bidang karya tulis, seni lukis, dan jurnalistik. Ia seolah menjadi pengawas agar diri ini menjadi lebih baik sekaligus motivator untuk terus berprestasi. Diri seolah merasakan sensasi yang sangat luar biasa saat pujian-pujian itu mengalir dari bibir beliau yang juga manis bila tersenyum.
Bila dikaitkan antara pengalaman pribadi saya dengan memberikan pendapat tentang gaya kepemimpinan Bu Wien, jelas bahwa gaya kepemimpinan Bu Wien sangat profesional dan penuh dedikasi. Hal ini karena kepemimpinan berhubungan dengan bagaimana melontarkan wawasan dan memotivasi orang lain. Ia terbukti dapat memotivasi saya dan juga peserta didik yang lain untuk berprestasi. Data tentang berapa persen siswa yang diterima di PTN-PTN setiap tahunnya adalah sebuah bukti otentik. Charles K. Keating mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Di sini Bu Wien, beserta para guru, karyawan. dan peserta didik yang tergabung dalam sistem SMU Plus Negeri 17 Palembang mampu melakukan perannya masing-masing sehingga tujuan utama dapat tercapai.
Tak heran bila setelah Bu Wien berhenti jadi Kepada Sekolah bulan Februari 2006, arus sejarah tidak cenderung menanggalkan atribut kebesaran yang telah dilekatkan dan disandangnya selama tahun-tahun masa kepemimpinannya. Kehebatannya yang telah dituliskan dalam beberapa artikel mengenai sejarah keberadaan SMU unggulan pertama di Sumatera Selatan, menjadi konsep yang menetapkan bahwa Bu Wien adalah kunci sukses hadirnya SMU Plus Negeri 17 Palembang yang berdiri pada tanggal 17 Juli 1997 silam.
Pada dasarnya dalam kepemimpinan memiliki dua tugas utama yang harus dilakukan, yaitu task function (tugas yang berhubungan dengan pekerjaan) dan relationship function (tugas yang berhubungan dengan kekompakkan kelompok). Dalam hal ini, Bu Wien harus diakui dapat menjalankan keduanya dengan baik. Bila tidak, mana mungkin ia terus dipertahankan menjadi Kepala Sekolah selama 2 periode berturut-turut bahkan sampai kelebihan beberapa bulan. Di mata saya, Bu Wien juga memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang kuat, sebagaimana unsur-unsur yang diungkapkan oleh Warren Bennis dapat terpenuhi, yakni kepribadian yang kokoh, visi dan tujuan yang jelas, serta berjiwa pemimpin yaitu komunikator ulung, mampu bekerja sama serta manusia yang aktif.
Saya menulis ini, tidak hanya ingin merangkai untaian manik-manik kenangan antara saya, Bu Wien, dan SMU Plus Negeri 17 Palembang, akan tetapi juga sebagai sebuah kesempatan untuk menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam menduduki jabatan struktural asalkan ia memenuhi kriteria kapabilitas (kemampuan), kredibilitas (kepercayaan), dan integritas (moral). Bu Wien telah menjadi lambang sekaligus simbol sebuah kepemimpinan perempuan yang berhasil. Ia juga merupakan sumber inspirasi sekaligus motivasi bagi orang lain yang mengenalnya maupun yang berusaha mengenalnya. Maka dari itu, tak salah kiranya bila saya memberanikan diri untuk menobatkan beliau sebagai Sang Melati SMU Plus Negeri 17 Palembang. Di mana pun dia berada, jejak-jejak sejarah itu akan tetap ada, wanginya prestasi akan tetap terkenang, dan semoga setiap amal perbuatannya akan mendapat ganjaran pahala yang setimpal dari Sang Maha Besar, Allah SWT. Amin ya robbal alamin… ***

(Note: Tulisan ini disusun atas permintaan Bapak Drs. Yudi Saroso lewat SMS yang dikirim pada hari Jumat, 24/3/2006 kepada saya untuk penerbitan Buku Biografi Dra. Wien Sukarsi.)

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...