Seandainya warna merah yang terletak di layer paling atas Rainbow Cake diasumsikan sebagai rasa paling enak, seharusnya semua guru yang ada memegang bendera warna merah yang sama untuk menandakan bahwa mereka semua sebagai guru yang ideal. Namun, seperti Rainbow Cake, guru-guru yang kutemui sejak SD hingga SMA pun begitu berwarna. Ada yang pintar, ada yang agak pintar, ada yang bersahaja, ada yang pecicilan, ada yang pendiam, ada yang cerewet, ada yang hobinya ngasih tugas LKS, dan ada juga yang sangat mahir bercerita sehingga ada beberapa nama di antara mereka yang “sengaja” terus kuingat sampai sekarang.
Guru SD yang masih kuingat sampai sekarang adalah Ibu Yusnita (almh). Beliau mengajar pendidikan agama Islam. Saat bersekolah di SD Muhammadiyah 14 Palembang itu, pendidikan agama memang selalu diutamakan. Rasanya sangat mudah sekali menghafal surat-surat pendek di masa itu. Kalau sekarang, untuk sholat pun biasanya akrab dengan surat itu-itu saja. Hee... U know what laaah... Tapi, moment belajar yang paling kuingat itu, ketika kelas 2 SD, Ibu Yusnita bercerita tentang Sidratul Muntaha. Yakni, sebuah jembatan di alam akherat, yang katanya tipisnya seperti rambut yang dibelah 7. Di bawah jembatan itu, api neraka dengan dahsyatnya menyala-nyala. Bagi yang amalannya sedikit, kemungkinan untuk jatuh pasti lebih besar. Namun bagi yang amalannya banyak, ia seolah berlari dengan menggunakan kereta kuda ketika menyembrangi jembatan itu. Weeeh, cukup lama aku terus terbayang-bayang atas kisah itu. Mungkin sampe sekarang masih. Kalau lewat jembatan apa saja, cerita itu pun terbayang. Haha, cuma yaaah... dampaknya sangat positif. Meski tetap sampai kapanpun tidak pantas disebut sebagai manusia sempurna, namun usaha untuk menjadi manusia baik itu selalu ada. Salah satunya karena kisah Sidratul Muntaha itu tadi.
