Tampilkan postingan dengan label Public Relations UGM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Public Relations UGM. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 10, 2009

Customer Relations Management

Disingkat dengan CRM. Strategi bisnis yang hasilnya diharapkan akan mengoptimalkan tingkat keuntungan pendapatan dan kepuasan pelanggan. Hal ini dilakukan dengan cara mengorganisasikan segmen-segmen pelanggan, mengarahkan organisasi agar berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan mengimplementasikan proses bisnis yang berfokus kepada pelanggan.
Penerapan CRM hanya akan optimal jika dibantu dengan teknologi. Sebab, dengan bantuan teknologi maka CRM akan meningkatkan pengetahuan yang mendalam tentang pelanggan, meningkatkan akses bagi pelanggan, menciptakan interaksi dengan pelanggan yang lebih efektif dan integrasi melalui seluruh saluran (channels) serta fungsi-fungsi internal (back office) perusahaan. Tanpa teknologi yang tepat, solusi CRM tidak akan optimal.

Selasa, Desember 09, 2008

Klasifikasi Hubungan dengan Publik Sasaran

Tujuan sentral humas yang akan dicapai adalah tujuan organisasi, sebab humas dibentuk atau digiatkan guna menunjang manajemen yang berupaya mencapai tujuan organisasi, dengan komunikasi sebagai kegiatannya yang utama. Sasaran kegiatan humas adalah publik intern dan publik ekstern, sedangkan tujuannya adalah terbinanya hubungan harmonis antara organisasi dengan publik tersebut.
Publik intern dan ekstern yang menjadi sasaran humas itu amat kompleks, dan manajemen suatu organisasi yang harus didukungnya sangat rumit sehingga, untuk menanganinya secara efektif (menimbulkan hasil yang sesuai dengan harapan) dan efisien (tujuan dicapai secara optimal dengan biaya, waktu, dan personel yang minimal), humas harus melakukan kegiatan yang sistematis (penyusunan yang runtut secara seksama). Sistematika kegiatan humas berlangsung menurut tahap-tahap penelitian, perencanaan, penggiatan, dan penilaian.

1. Hubungan Dengan Publik Intern
Publik intern sebagai sasaran humas terdiri atas orang-orang yang bergiat di dalam organisasi (perusahaan, instansi, lembaga, badan dan sebagainya) dan yang secara fungsional mempunyai tugas dan pekerjaan serta hak dan kewajiban tertentu.
a. Hubungan Dengan Karyawan (Employee Relations)
Hubungan dengan karyawan merupakan suatu kekuatan yang hidup dan dinamis, yang dibangun dan diruntuhkan dalam hubungan dengan perseorangan sehari-hari, terbina di belakang bangku kerja, mesin, dan meja tulis (Archibald Williams, dalam “Employee Relations”). Humas bertujuan untuk menciptakan dan mewujudkan hubungan yang harmonis antara pimpinan organisasi dengan para karyawan. Petugas humas harus sering beranjak dari kamar kerjanya untuk menghubungi para karyawan dalam rangka memantau keresahan para karyawan yang tak terungkapkan. Kuncinya berdasar pada hubungan manusiawi yang berupa motivasi/dorongan, yang diperoleh dari komunikasi persuasif.
Komunikasi dapat dilakukan oleh petugas humas secara lisan atau melalui media, formal atau tak formal, yang kesemuanya berlangsung timbal balik. Dengan keterampilan berkomunikasi, petugas humas di satu pihak dapat menjadi mediator untuk menyalurkan perasaan para karyawan kepada pimpinan, di lain pihak sebagai motivator untuk membangkitkan daya juang untuk berpartisipasi.
b. Hubungan Dengan Pemegang Saham (Stockholder Relations)
Hubungan dengan para pemegang saham harus selalu dibina dalam rangka menumbuhkan kepercayaan mereka kepada perusahaan. Komunikasi itu, antara lain sebagai berikut :
(1) Menyatakan selamat kepada pemegang saham baru
(2) Mengirimkan berkala organisasi
(3) Menyampaikan laporan tahunan

2. Hubungan Dengan Publik Ekstern
Publik ekstern sebagai sasaran kegiatan humas terdiri atas orang-orang atau anggota-anggota masyarakat di luar organisasi, baik yang ada kaitannya dengan organisasi maupun yang diharapkan atau diduga ada kaitannya dengan organisasi.
a. Hubungan Dengan Pelanggan (Customer Relations)
b. Hubungan Dengan Komunitas (Community Relations)
c. Hubungan Dengan Pemerintah (Government Relations)
d. Hubungan Dengan Media Massa (Mass Media Relations)
Hubungan petugas humas dengan publik ekstern di atas pada dasarnya bertujuan sama, yakni membina hubungan yang harmonis sehingga berdampak positif bagi kelangsungan organisasi. Cara yang dilakukan dapat berupa iklan, propaganda, komunikasi formal, maupun pelaksanaan kegiatan tertentu.

PUSTAKA
Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis. Rosda : Bandung.

(Tugas Mata Kuliah Hubungan Masyarakat, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menilai Etika Komunikasi pada Setting Film “Wag the Dog”

Sinopsis
Ketika minggu-minggu kampanye pemilu presiden hampir berakhir, Presiden Amerika Serikat terlibat pada sebuah skandal seks, itulah waktu yang tepat bagi penasehat Gedung Putih, RONNIE BREAN (Robert de Niro) untuk menutupinya. Dalam waktu yang singkat, Ronnie bekerja sama dengan seorang produser Hollywood berdarah dingin, STANLEY MOSS (Dustin Hoffman) dalam keputusasaan mereka berusaha agar perhatian warga negara Amerika Serikat teralih dari skandal seks sang presiden.
Mereka memutuskan untuk menyedot sorotan media ke sebuah berita perang yang direkayasa. Para artis “palsu” dipanggil untuk melakukan adegan selayaknya situasi sedang perang dan bintang rock pun dilibatkan untuk meluncurkan lagu hit mengenai kebebasan. Isu “perang” secara cepat menjadi perhatian dan warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya ricuh dengan skandal seks sang presiden, kini malah mendukung tindakan presidennya atas perang palsu tersebut.
Masalah datang ketika Senator WILLIAM TAYLOR (Craig T. Nelson) mulai menangkap keganjilan dari isu perang tersebut. Hal itu pun membuat Ronnie dan Stanley harus berpikir cepat untuk mengubah taktiknya dengan yang lebih nekat. Saat itu moral telah pergi entah kemana, diburu oleh perselisihan ego dan ketegangan yang semakin dekat dengan waktu pemilihan. Akhirnya, mereka berhasil melakukan tipu daya yang lebih kreatif dan licik tersebut yang mengakibatkan melonjaknya suara bagi sang presiden. Hingga pada detik terakhir, rekayasa tersebut tetap terpeti es dengan keironisan dibunuhnya sang produser oleh si penasehat Gedung Putih.

Pilihan Setting
Saat “Old Shoes” menjadi trend. Padahal tidak ada yang namanya perang, terlebih lagi prajurit yang tertawan yang kemudian dianalisir sebagai mahluk suci yang berjasa dalam menegakkan citra bangsa Amerika Serikat dalam melawan terorisme. Diceritakan bahwa rencana pertama Ronnie dan Stanley menjadi berantakan akibat dipecundangi oleh pihak CIA, sehingga mereka pun melanjutkan dengan rencana kedua yang lebih menyimpan kebohongan yang luar biasa, yakni memunculkan sosok pahlawan perang “palsu”.
Sosok pahlawan tersebut diumumkan sebagai “Old Shoes”. Lucunya, tokoh “Old Shoes” sendiri belum diketahui siapa dan apa pekerjaannya. Hingga diketahui faktanya, bila sang “Old Shoes” adalah narapidana kasus pemerkosaan. Dukungan warga negara yang meminta dipulangkannya “Old Shoes” menjadi berkah sendiri bagi perancang muslihat, Ronnie dan Stanley, saat “Old Shoes” tidak sengaja mati tertembak. Kebohongan pun menjadi sempurna karena “Old Shoes” mati yang kemudian diperlakukan seolah-olah memang sebagai pahlahwan bangsa.

Penilaian Etika Komunikasi
Sejak awal etika komunikasi/kehumasan yang digambarkan dalam film “Wag the Dog” ini sama sekali tidak ada. Padahal dalam dunia kehumasan, kredibilitas itu mutlak penting. Terlebih pada sosok seorang presiden, ia tidak hanya harus dipercaya oleh rakyatnya, tapi juga harus senantiasa mengemukakan segala sesuatu seperti apa adanya, sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Kebohongan dalam bentuk apapun tetap akan menjadi sisi gelap dalam kehidupan. Meski peristiwa “Old Shoes” ternyata mampu mendongkrak suara sang presiden dan berhasil membawanya kembali ke kursi kekuasaannya.
Peristiwa “Old Shoes” sangat dekat dengan propaganda dan memang memaksakan ide-ide tertentu —sosial dan politik—kepada masyarakat. Ia pun tidak menunjuk pada perbaikan citra atau image sang presiden, namun jauh ke manipulasi calon pemilih untuk kembali memberikan suaranya. Padahal dalam dunia humas, kita bertanggung jawab untuk menyajikan informasi faktual secara akurat, tanpa pengurangan atau penambahan. Para penerima informasi itulah yang kemudian berhak menentukan sikap atau memberi komentar terhadapnya.
Oleh karena itu, seandainya saja pihak majikan (dalam film “Wag the Dog” adalah Presiden AS) meminta para praktisi humas (dalam film “Wag the Dog” adalah tim kampanyenya) untuk melakukan sesuatu yang tidak etis, mereka harus mau dan mampu menolaknya karena hal itu jelas bertentangan dengan kode etik profesional yang harus mereka anut dan junjung tinggi. Meski dalam buku Public Relations – Frank Jefkins (Hal.165-Erlangga-2002) pun dikatakan “Kode etik IPRA memang punya permen karet untuk dikunyah, tapi tidak memiliki gigi untuk mengunyahnya.” Artinya, selama pelanggaran etika tersebut tidak diketahui oleh publik meskipun sudah ada kode etiknya, tetap saja akan cenderung diabaikan karena sampai sejauh ini belum ada tindak pelanggaran yang dikenai sanksi nyata.
Kesimpulannya, dari film “Wag the Dog” yang ditonton sebagai salah satu cara pemahaman mahasiswa D-3 Public Relations tentang etika kehumasan, dapat diasumsikan bahwa sangat sulit bagi praktisi PR dalam bertindak “benar” pada tugasnya. “Benar” disini, bila dikaitkan antara moral dan kepentingan pihak yang memberikan salary bagi praktisi PR tersebut. Nilai sebuah keidealisan yang seharusnya dapat dijunjung tinggi menjadi hilang seketika saat perusahaan pun tengah menghadapi peristiwa genting (manajemen krisis) yang harus segera diselamatkan meski dengan cara apapun.
Ada tujuh hal yang seharusnya dapat diterapkan dalam etika komunikasi/kehumasan dalam peristiwa “Old Shoes” film “Wag the Dog”, yakni :
1) Integritas Komunikasi; Tim kampanye harus senantiasa berusaha keras untuk tidak menerbitkan suatu informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.
2) Kerahasiaan Informasi; Setiap anggota wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diterima atau dipercayakan kepadanya selama melangsungkan kegiatan-kegiatan profesionalnya, sehingga ia tidak sepantasnya menerbitkan, menyebarluaskan, atau membuka informasi tersebut, kecuali atas perintah pengadilan.
3) Kerugian terhadap Anggota Lain; Masing-masing anggota tidak diperkenankan melakukan suatu hal yang dapat mencemarkan atau merugikan reputasi profesional dari anggota lainnya.
4) Reputasi Profesi; Tidak melakukan sesuatu hal yang semata-mata atas dasar kemauannya sendiri sehingga akan merusak reputasi Asosiasi atau nama baik dari praktek penyelenggaraan komunikasi-komunikasi yang bersifat internal di suatu perusahaan/organisasi (Gedung Putih).
5) Syarat-syarat Legal; Media komunikasi yang dimiliki sudah sesuai dengan persyaratan hukum yang berlaku.
6) Tindak Pelanggaran
7) Penegakan Kode Etik

(Tugas Mata Kuliah Etika Kehumasan, D3 Public Relations UGM, Tahun 2004)

Apa itu Hubungan Masyarakat?

Hubungan Masyarakat adalah :
a) Humas adalah membangun hubungan baik secara sistematis antara kelompok publik atau orang, bahwa organisasi mempunyai ikatan atau ketergantungan. (F.E. Hollander, Doelmatig Bedrijfsbheer, 1952).
b) Humas merupakan kesadaran pentingnya hubungan baik, sistematis, dengan organisasi dari dunia luar. (Dr. M. Weisglas, Een Terreinverkenning, 1955).
c) Humas secara teratur mempraktikkan komunikasi yang baik dan tepat dengan kelompok orang dalam organisasi mempunyai kepentingan untuk melakukan perubahan dalam kerja sama menyangkut fungsi dari organisasi mendatang. (Hugo A. de Roode, Inleiding Instituut voor HBO, part-time opleiding Public Relations, Voorlichting en Kommunicatie, 1976).
d) Humas merupakan upaya yang disengaja, direncanakan, dan dilakukan terus-menerus untuk membangun dan menjaga adanya saling pengertian antarorganisasi dengan publiknya. (Institute of Public Relations, United Kingdom).
e) Humas merupakan fungsi manajemen yang mengevaluasi perilaku publik, mengidentifikasi kebijakan dan prosedur organisasi dengan interes publik dan melaksanakan program tindakan (komunikasi) untuk mendapatkan pemahaman dan pengertian publik. (Denny Griswold, uitgever van Public Relations News, New York).
f) Humas adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu organisasi/badan. (Howard Bonham, Vice Chairman, American National Red Cross)

KESIMPULAN
Selain di atas, masih banyak pendapat yang intinya hampir sama dengan be good and tell it.
Hubungan Masyarakat itu sendiri adalah kegiatan atau aktivitas yang proses kegiatannya melalui empat tahap, yaitu :
a. penelitian yang didahului penemuan, analisis, pengolahan data dan sebagainya;
perencanaan yang direncanakan;
pelaksanaan yang tepat
evaluasi, penilaian setiap tahap dan evaluasi keseluruhan.
Dari ribuan definisi yang ada para ahli melihat hal yang sangat mencolok, yakni “Konsepnya menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik secara teratur antara organisasi dengan publiknya”.
Definisi kerja Humas yang resmi dari IPRA (1982) adalah sebagai berikut :
Humas merupakan fungsi manajemen yang khas yang mendukung pembinaan dan pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya mengenai komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerja sama, melibatkan manajemen dalam permasalahan dan persoalan; membantu manajemen memberikan penerangan dan tanggapan dalam hubungan dengan opini publik; menetapkan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan umum; menopang manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif, bertindak sebagai sistem peringatan yang dini dalam membantu mendahului kecenderungan; dan menggunakan penelitian secara teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.

PUSTAKA
Sr. Maria Assumpta Rumanti OSF. Dasar-Dasar Public Relations Teori Dan Praktek. 2002. Jakarta-Grasindo.
Oemi Abdurrachman, M.A. Dasar-Dasar Public Relations. 2001. Bandung-Citra Aditya Bakti.

(Tugas Mata Kuliah Hubungan Masyarakat, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Sabtu, Desember 06, 2008

Opini Publik Film "Mad City"

Film “Mad City” merupakan film yang menggambarkan betapa luar biasanya dampak dari sebuah opini publik. Versus antara opini pro dan kontra ternyata dapat dibangun dengan mudahnya oleh media massa. Max Brackett yang mengusahakan citra positif Sam Baily melawan Hollander yang mencoba menarik perhatian massa dari sisi negatif pada akhirnya harus mengaku kalah karena terjadinya peristiwa puncak, kematian Cliff Williams.
Kisah awal dimulai ketika Max Brackett (Dustin Hoffman), reporter KXBD News meliput tentang krisis anggaran di sebuah musium bersama rekannya Laurie (Mia Kirsner). Kebetulan saat berada di toilet, Max mengintip Sam Baily (John Travolta), satpam musium yang dipecat tengah menodongkan senjata kepada Ny. Banks (Blythe Danner), pengelola musium. Atas ide Max, peristiwa itu kemudian disiarkan secara langsung oleh stasiun televisinya. Terjadinya kecelakaan penembakan Cliff Williams (William Atherton), satpam musium makin membuat liputan Max menjadi heboh. Rencana awal Sam Baily yang hanya ingin berbicara pada Ny. Banks untuk mendapatkan pekerjaannya kembali berkembang menjadi aksi penyanderaan karena secara kebetulan juga pada hari itu ada kunjungan musium oleh beberapa anak sekolah dasar.
Max akhirnya bersimpati dan mencoba membantu Sam dalam menciptakan citra positif dirinya. Max melakukan wawancara eksklusif dengan Sam lewat izin Chief Lemke (Ted Levine) dan Lou Potts (Robert Prosky) redaksi KXBD Nesw Madeline, California yang menceritakan siapa Sam sebenarnya. Berdasarkan polling opini publik, wawancara itu menyebabkan 59% warga Amerika berpihak pada Sam. Pemekaran masalah kemudian terjadi di sana-sini, opini publik pun rentan berubah. Kedatangan Hollander (Alan Alda), pembaca berita saingan Max pun membuat keadaan berbalik. Isu rasial dimunculkan, akibatnya Sam terdesak. Kematian Cliff setelah 3 hari penyanderaan berlangsung membuat Sam kalah total. Ia harus menyudahi aksinya dan menyerahkan diri. Namun, Sam tidak kuasa menghadapi publik dan akhirnya melakukan aksi bunuh diri dengan dinamit.

Dialog Max Bracket kepada Sam Baily Tentang Pembentukan Opini Publik :
“Aku tak bilang kau gila. Kau hanya orang awam yang hilang kesabaran. Tapi kau harus bisa berhubungan dengan mereka. Mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan. Atau mereka tahu orang yang pernah kehilangan pekerjaan. Mereka akan mengerti jika kau beri mereka kesempatan untuk itu. Satu hal yang mungkin mau kau lakukan sebelum menyerah adalah memberi tahu orang siapa kau sebenarnya. Caranya, jika aku menayangkan gambarmu dan mewawancaraimu dan kau menceritakan kejadian yang sebenarnya kukira mereka ingin tahu. Kelompok jurimu di luar sana.”
Pernyataan Menarik Dalam Film “Mad City” :
- Max Brackett, Reporter KXBD News, “Dengan tidak membawa kamera kita tak bisa membuat liputan yang takkan bisa dibuat orang lain. Kita harus putuskan untuk ikut menjadi bagian dari berita atau merekam beritanya.”
- Sam Baily, penyandera, “Banyak hal yang ingin dikatakan : tentang mabuk sehingga terlambat masuk kerja esok harinya, dinosaurus yang salah peletakannya, tapi bukan itu yang penting. Yang penting untuk dikatakan : Ny. Banks bilang, “Kita punya 2 satpam, kita tak membutuhkan mereka karena anggaran dikurangi. Kita hanya butuh satu, jadi Cliff, yang lebih lama kerja di sini dan dia, kau tahu..” Lalu kubilang, “Baiklah, tak apa-apa. Kurangi saja gajiku atau jam kerjaku.” Tapi ia tak mau mendengarkan.”
- Ny. Banks, pengelola musium, “Kau pernah terpikir bahwa aku menghadapi masalah yang jauh lebih besar dari masalah keuangan pribadimu? Bahwa tugasku adalah mengelola musium bukan karir pegawaiku? Kau hanya ingin segalanya sesuai keinginanmu.”
- Hollander, “Aku tidak mau menyampaikan berita yang tidak aku ketahui.”

Proses Editing Pembentukan Opini Publik :
Sam Baily’s Former Principal mengatakan : “Ia bukan murid yang pandai. Kuyakin kau akan menemukan orang yang bilang kami gagal mengajar Sam Baily. Sistem pendidikan tak dibuat untuk menyelamatkan orang seperti dia. Tapi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas situasi ini adalah Sam Baily.”
Diubah Max Brackett menjadi : “Kami gagal mendidik Sam Baily. Sistem pendidikan tak dibuat untuk menyelamatkan orang seperti dia.”

(Tugas Mata Kuliah Opini Publik, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Persepsi Pribadi Atas Wacana Narkotika di Film "Traffic"

PENGERTIAN PERSEPSI
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Sehingga hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderati, 1976:129)
Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. David Krech dan Richard S. Crutchfield (1977:235) menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural. Selain itu, faktor lain yang sangat mempengaruhi persepsi adalah perhatian. Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen, 1972:46). Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra kita, dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra yang lain.
A.1. Faktor-Faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang pertama: Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Mereka memberikan contoh pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi.
A.2. Faktor-Faktor Struktural yang Menentukan Persepsi
Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Hal ini memunculkan Teori Gestalt yang bila kita mempersepsi sesuatu itu secara keseluruhan.
Persepsi kedua: Medan Perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
Persepsi ketiga: Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Hal ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.

PERSEPSI ATAS MEDIA FILM
Film adalah salah satu media yang dapat memunculkan persepsi atas tiap individu yang menontonnya. Dengan menonton film individu melihat sebuah rangkaian gambar yang diatur sedemikian rupa sehingga memunculkan sebuah cerita dengan berbagai adegan yang terdiri dari berbagai konflik, peredaman, dan akhir yang menimbulkan persepsi tersendiri.
Bila dihubungi dengan film “Traffic” yang diproduksi original oleh Carnival Films untuk Channel 4 Television (U.K.) ini merupakan film menarik yang bercerita tentang narkotika, umumnya individu akan memiliki persepsi yang berbeda. Karena gambaran yang diberikan pada film ini cukup kompleks. Ia menyajikan tidak hanya dari satu pihak saja, namun banyak pihak. Seperti pengedar (kartel Juarez oleh Porfio Madrigal dan Obregon bersaudara), pihak berwenang (polisi), penegak hukum, pemerintah, pusat rehabilitasi, masyarakat umum, dan pihak sekolah.

BIODATA FILM
A Bedford Falls/Laura Bickford Production
An Initial Entertainment Group Presentation In association with USA Film
Executive Producers : Richard Solomon, Mike Newell, Cameron Jones, Graham King, Andreas Klein
Based on “Traffic” created by Simon Moore
Originally produced by Carnival Films for Channel 4 Television (U.K.)
Directed : Steven Soderbergh
Screenplay by Stephen Gaghan
Produced by Edward Zwick, Marshall Herskovitz, Laura Bickford
Photographed by Peter Andrews
Edited by Stephen Mirrione
Production Design by Philip Messina
Costume Design by Louise Frogley
Music by Cliff Martinez
Casting by Debra Zane C.S.A.

PERSEPSI TERHADAP ISI FILM “TRAFFIC”
Film “Traffic” mengungkapkan bila suatu bisnis narkotika itu tidak hanya melibatkan suatu pihak tertentu. Rangkaiannya menarik setiap elemen masyarakat untuk ikut dalam lingkaran hitam itu. Baik itu, pengedarnya, pemberi izin ilegal, juga penggunanya. Tak ada yang dapat menduga bila peredaran narkoba ternyata dilakoni oleh pebisnis besar yang dari luar terlihat bersih bahkan mendukung untuk menghancurkan narkoba.
Dari film “Traffic” diceritakan tentang peredaran narkoba yang terjadi di dua negara, Amerika Serikat dan Mexico. Keduanya ternyata memiliki keterkaitan secara langsung. Awal cerita digambarkan tentang penyergapan sebuah truk oleh Javier Rodriguez (Benicio Del Toro) bersama sahabat karibnya Manolo Sanches (Jacob Vargas) yang ternyata membawa sejumlah narkoba yang dikelola oleh salah satu kartel besar di Mexico, Juarez-Scorpion. Namun, kemudian muncul Jenderal Salazar yang lebih memiliki kekuatan untuk mengambil alih penyergapan itu. Jenderal Salazar (Tomas Milian) ini, berikutnya dinobatkan sebagai tsar narkotika Mexico. Namun pada akhirnya dia disuntik mati karena ternyata diketahui mendukung salah satu kartel lain, yakni Tijuana untuk mengedarkan narkotika di Mexico. Namun hal inipun dilakukan oleh Javier Rodriguez yang semula mendukung Jenderal Salazar lantaran ia dikhianati. Sahabatnya, Manolo Sanchez dibunuh di hadapannya oleh kaki tangan Jenderal Salazar lantaran ingin membocorkan kebusukan Jenderal Salazar kepada Agen DEA.
Dari pihak Amerika Serikat, tsar narkotika yang dipilih adalah Robert Hudson Wakefield (Michael Douglas). Ia seorang pejabat pemerintahan yang bersih, dan selalu berusaha memerangi narkotika. Namun, di sisi lain, putri tunggalnya, Caroline Wakefield (Erika Christensen) ternyata seorang pengguna narkotika bersama teman-teman sekolahnya. Ia yang awalnya bersikukuh untuk menganggap kotor setiap elemen yang ada dalam lingkaran hitam narkotika, tidak dapat membohongi hati nuraninya. Bila ia memerangi narkotika, tak ayal akan banyak individu yang memerangi keluarganya sendiri, termasuk ia sendiri. Hal ini sangat sulit dimengerti, bahwa ternyata keberadaan narkotika itu benar-benar licin. Ia tidak melihat siapa. Bahkan Caroline yang dimaksud, merupakan pelajar teladan di sekolahnya. Pada akhirnya, Robert memilih untuk mengundurkan diri dari penokohan dirinya sebagai tsar narkotika Amerika Serikat dan lebih memilih untuk ikut serta dalam pemulihan kondisi putrinya agar kembali hidup normal dengan keluarga yang saling peduli.
Di sisi lain, dimunculkan tokoh Helena Ayala yang diperankan oleh Catherine Zeta-Jones yang awalnya sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik-baik namun kemudian menjadi berwatak buruk lantaran menginginkan suaminya, Carlos Ayala (Steven Bauer) dibebaskan dari penjara. Hidup orang yang terbiasa mewah dan serba ada itu tidak akan bisa terbiasa untuk hidup dengan kekurangan. Meskipun ia menyadari bahwa uang yang ia peroleh untuk kemewahan itu tidak benar. Digambarkan bahwa manusia itu selalu merasa aman dengan adanya uang yang cukup untuk memuaskan hidupnya. Tanpa itu, meskipun terpaksa, apapun akan dilakukan. Meski diceritakan pula Helena tengah mengandung 6 bulan dan telah mempunyai anak, David Ayala (Alec Roberts).
Padahal sesungguhnya, suami Helena, yakni Carl Ayala, adalah benar seorang pebisnis yang memberikan jalan agar narkotika dapat terus beredar di Amerika Serikat dan Mexico. Namun, ia memperoleh kebebasan lantaran saksi yang akan memberatkannya, Eduardo Ruiz (Miguel Ferrer) dari kartel Juarez mati diracun atas permintaan Helena kepada kartel Obregon bersaudara, Juan Obregon dan Pablo Obregon. Saat Carl telah dibebaskan, ia bahkan dengan mudah membunuh rekan sekerjanya, dan tetap menjalankan proyek narkotika terbarunya, yakni Proyek Boneka Anak yang ternyata wujud narkotika itu dipadatkan dan dibentuk seperti boneka tanpa dapat dideteksi baunya, bahkan oleh seekor anjing pelacak narkotika pun.
Di pihak lain, diceritakan tentang dua orang polisi narkotika Amerika Serikat yang selama Carlos Ayala masih dalam status terdakwa, bertugas untuk mengawasi Helena Ayala dan melindungi saksi penting, Eduardo Ruiz. Dengan berbagai konflik, salah satu polisi itu akhirnya mati karena masuk dalam mobil yang telah dipasangi bom. Akhir yang menggantung, namun sepertinya ada gambaran bila akhirnya Carlos Ayala akan tertangkap, karena polisi yang masih hidup itu telah menaruh alat penyadap di meja kerja Carl Ayala saat Carl Ayala akan melakukan pesta kebun atas kebebasan dirinya.
Secara keseluruhan, dari segi sinematografi film, film “Traffic” ini sudah cukup baik dalam pengemasan ceritanya. Namun, butuh berulang kali menontonnya agar lebih memahami jalan ceritanya. Saya pribadi bahkan perlu menontonnya sebanyak 3 kali baru kemudian sangat mengerti apa yang terjadi. Bila awalnya, saya berpersepsi ganda bahkan tidak teratur, pada akhirnya malah setuju bila film “Traffic” ini sangat sistematis dan detil dalam memaparkan apa yang terjadi. Namun tentu saja, ada bagian-bagian yang dipersingkat karena banyaknya aspek yang diangkat.
Dari segi kemanusiaan, isi film “Traffic” ini menurut persepsi saya sangat manusiawi. Semua digambarkan mirip seperti kenyataan. Namun, semenariknya dan senikmat-nikmatnya penggambaran tentang orang yang menggunakan narkotika, saya tidak akan pernah tertarik untuk menggunakannya. Lebih baik beli es teler 77 atau ayam goreng Mbok Berek yang terjamin halal dan mengenyangkan. Bila dikaitkan dengan pribadi saya yang dinilai banyak teman sebagai sosok yang idealis, menurut saya narkotika hanyalah pelarian orang-orang yang kelebihan uang. Narkotika hanya untuk mereka yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan hidup dengan jalan yang kreatif, iman, dan ilmiah. Narkotika no, Psikologi Komunikasi yes!

KESIMPULAN
Persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sehingga, bila melihat film “Traffic”, persepsi yang dapat ditangkap adalah : kita tidak hanya mendapatkan pengalaman tentang film “Traffic” itu sendiri, tapi juga pengalaman bagaimana cara, alasan, serta tujuan mengapa kita menontonnya.
Cara saya mendapatkan, yakni dengan menyewa VCD Original “Traffic” Video Rental Chainshop “Odiva” yang terletak di lantai II KFC depan Mirota Kampus dengan harga Rp 4.000,- dan masa peminjaman selama 5 hari. Saya menontonnya dengan menggunakan fasilitas komputer, yakni CD Room, dengan meluangkan waktu sekitar 4 jam untuk konsentrasi memperhatikan jalan cerita dari film “Traffic” itu sendiri.
Cukup dikalikan bila akhirnya saya harus menontonnya sebanyak 3 kali untuk memahami benar isi film tersebut agar berdampak pada hasil tulisan yang akan dikumpulkan menjadi tugas Mata Kuliah “Psikologi Komunikasi”. Namun, meskipun demikian, sedikitpun saya tidak merasa rugi karena film “Traffic” benar-benar memberikan pesan yang penting.
Pesan yang dapat saya tangkap, yakni pemahaman bahwa dalam setiap individu itu pasti memiliki unsur dan motif yang berbeda karena adanya pengaruh dari luar manusia itu sendiri sehingga menyebabkan ia berpersepsi dan berperilaku yang sesuai ataupun yang tidak sesuai dari prinsip kebenaran. Bahkan kadang terjadi sekalipun ia tahu bahwa tindakannya itu salah, melanggar norma, bertentangan dengan kelaziman, namun ia tetap bertindak yang tidak sesuai dengan nuraninya sendiri akibat keadaan yang memaksanya demikian. ***

(Tugas Mata Kuliah Psikologi Komunikasi, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menganalisa Sosiologi Komunikasi dari Film "Erin Brockovich"

Global isi cerita film
Film yang diambil dari kisah nyata yang berjudul “Erin Brockovich” ini menceritakan tentang perjuangan seorang janda beranak tiga dalam membela hak warga Hinkley yang secara tersembunyi telah mengalami keracunan Chromium Hexavalent 0,58 bagian per milium dari sebuah perusahaan elektrik besar seharga $ 28 milyar, PG & E. Chromium yang bermanfaat untuk mengurangi karat pabrik lewat air tanah ini telah mengkontaminasi air yang dipergunakan sebagai kebutuhan hidup 300 orang warga Hinkley sehari-hari. Akibatnya hampir seluruh warga menderita pusing, kanker, tulang kropos, keguguran, infeksi pernapasan, dan lain-lain, meski kenyataan itu memang baru bisa dilihat 1 tahun kemudian.
Erin Brockovich, awalnya adalah seorang pengangguran yang bekerja di sebuah firma hukum kecil milik Ed Masry. Suatu ketika saat ia memeriksa file kantornya, tak sengaja ia menemukan kejanggalan dari klaim milik Donna Jensen kepada PG & E. Klaim yang sebenarnya hanya penolakan untuk menjual tanah & rumah itu turut pula disertai dengan daftar pemeriksaan kesehatan Donna Jensen. Atas dasar itulah, Erin Brockovich kemudian mulai menyelidikinya. Selama hampir 2 tahun ia bekerja keras dengan caranya yang khas dan melewati berbagai hambatan dan masalah, akhirnya ia memenangkan kasus terbesar di Amerika Serikat, yakni 333 juta dollar, ia sendiri mendapatkan 2 juta dollar ditambah bonus yang lain.

Karakter pemeran utamanya
Erin Brockovich yang dimainkan oleh Julia Roberts ini berkarakter kuat, selalu bertindak berdasarkan intuisi dan keyakinannya, pantang menyerah, berani menghadapi resiko, keras, pintar bergaul, cepat memahami suatu permasalahan, jiwa sosialnya tinggi, dan selalu mengeluarkan sikap dan tindakan yang sesuai dengan nuraninya saat itu. Meski cenderung brutal (ucapannya kadang tidak sopan, pakaiannya sexy), di lain sisi ia pun memiliki semacam koin keberuntungan dalam menghadapi problematika hidupnya.

Cara pemeran utama menjalin komunikasi dengan lawan bicara
Erin Brockovich sangat baik dalam menjalin komunikasi dengan lawan bicaranya. Ia selalu berusaha untuk tidak mengenal kulit luarnya saja akan tetapi juga berusaha untuk menyelami pribadi orang lain sehingga orang lain tersebut merasa dihargai atau malah sebaliknya, dilecehkan. Sehingga dalam prakteknya ia bisa bersikap dalam berbagai tindakan. Ia menjadi baik dan mengikuti norma bila berhadapan dengan orang yang dibela dan membelanya, namun ia pun bisa menjadi temperamental saat berhadapan dengan orang yang ingin menjatuhkannya. Sehingga dengan kata lain, ia berkomunikasi dan kemudian melakukan tindakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Konteks komunikasi
Bila Erin Brockovich berhadapan dengan 1 orang, ia dapat berbicara lebih dekat sehingga mengena dalam hati lawan bicaranya. Misalnya, saat berbicara dengan atasan sekaligus partnernya, Ed Masry. Saat ia tersinggung dengan adanya pengacara “hebat” menyusup di dalam kasusnya, ia langsung menyatakan keberatannya. Ed Masry otomatis langsung memahami keinginan Erin. Begitu pula saat Erin berhadapan satu persatu dengan warga Hinkley, secara tidak langsung ia turut menggunakan perasaanya dalam berkomunikasi.
Di dalam kelompok, Erin lebih bersikap wajar karena di dalam kelompok meski memiliki tujuan yang sama namun karakter personalnya tidak demikian. Maka, Erin cenderung mengurangi emosionalnya dan bersikap umum sebagaimana biasanya.
Berhadapan dengan orang banyak, Erin lebih bersikap netral. Ia hanya berusaha mengungkapkan pendapatnya, namun cenderung tidak ngotot untuk memenangkannya. Ia lebih banyak membiarkan orang lain untuk memiliki pandangan sendiri-sendiri, meski pada dasarnya ia tetap ingin orang-orang tersebut memahami keinginannya.

Pesan utama film
Pesan utama film ini banyak berkaitan dengan bagaimana kita menjalin komunikasi dengan orang lain. Tidak semua orang mendapat perlakuan komunikasi yang sama. Kita harus memahami situasi dan kondisi yang dihadapi. Bila tidak, kegagalan komunikasi bisa saja terjadi dan hal itu akan merugikan diri kita pribadi.

Menyebutkan 5 pemain dan menunjukkan masing-masing persepsi mereka tentang konflik yang mereka hadapi
Erin Brockovich, Ed Masry, George, Donna Jensen, dan pengacara PG & E.
o Erin Brockovich adalah seseorang yang amatiran, meski demikian ia mampu menjalankan perannya dengan baik karena semata-mata ia memiliki persepsi bila ia harus melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Karena ia pemeran utama, maka konflik yang ia hadapi cukup banyak, yakni dengan anak-anaknya, pacarnya, partnernya, rekan sekantornya, warga Hinkley (kliennya), musuhnya (pengacara PG & E). Secara garis besar, Erin memiliki pandangan yang positif terhadap konflik yang ia hadapi.
o Ed Masry, seorang pengacara yang telah berjuang membangun firma hukum selama 15 tahun ini, cenderung lebih banyak melakukan pertimbangan dalam memenangkan kasus Hankley. Ia berusaha untuk melakukan tindakan rasional, tidak hanya menggunakan intuisi seperti Erin. Hal inilah yang mendasari ia melakukan kerjasama dengan pengacara “hebat” dari luar.
o George, tetangga Erin yang maniak Harley Davidson ini juga bertindak sebagai pacar bagi Erin dan pengasuh bagi anak-anak Erin. Meski hubungan romantika mereka tidak bersatu, namun mereka tetap menjalin komunikasi dengan baik. Konflik George lebih ditekankan pada keputus-asaannya dalam menghadapi kesibukan Erin.
o Donna Jensen, salah satu warga Hinkley yang menderita kanker payudara dan rahim ini, banyak memberikan dukungan pada Erin untuk terus berjuang dalam memenangkan kasus Hinkley. Ia berkeinginan kuat untuk mencoba mengambil apa yang sudah menjadi haknya dari perusahaan PG & E, yakni jaminan hidup layak.
o Pengacara PG & E, menunjukkan persepsi bahwa apa yang diinginkan Erin & warga Hinkley berada di luar batas karena jumlah yang dituntut sangat besar. Namun ditunjukkan pula, meski membela nama perusahaannya dan menyanggah setiap bukti yang menyudutkan mereka, para pengacara itu pun tidak mau mengambil resiko saat Erin dengan lugasnya mengatakan bahwa minuman yang ia sediakan untuk para pengacara itu diambil dari Hinkley.

Menjelaskan bagaimana pengertian dijalin diantara 5 pemain tadi
George meski awalnya meminta Erin untuk berhenti dari kesibukan dan lebih memfokuskan diri pada anak-anaknya, namun akhirnya bisa memahami Erin setelah diberi pengertian bahwa Erin tidak akan mungkin melepaskan kesibukannya itu, sesuatu dimana ia merasa dihargai pertama kalinya, serta Erin pun merasa bahwa anak-anaknya suatu hari akan memahami dengan apa yang ia lakukan.
Erin pun sempat mengalami stagnasi dan keraguan, namun atas dorongan tidak langsung dari Donna Jensen, saat Donna menangis karena rahim dan payudaranya harus diangkat karena kanker yang dideritanya, Erin kembali berjuang keras untuk memenangkan kasusnya.
Ed Masry dan Erin terus melakukan negosiasi dengan pihak pengacara PG & E, meski harus melewati berbagai ketegangan urat syaraf namun akhirnya pihak pengacara itu dapat memahami meski mereka lakukan dengan berat hati.
Pengertian diantara mereka dilakukan dengan melakukan komunikasi yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan yang mendukung komunikasi yang telah mereka lakukan sebelumnya. * * *

(Tugas Mata Kuliah Sosiologi Komunikasi, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menganalisa Unsur Film "Josie and The Pussycats"

Film ini diangkat dari salah satu komik terkenal Amerika, ARCHIE Comics. Meski demikian ia hanya sebatas karakter watak dan pola alur cerita yang meremaja dan berunsur komedi yang unik. Film yang umumnya dimainkan oleh para artis muda Hollywood ini cukup mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam berakting.
Film yang bernuansa remaja ini bercerita tentang perjalanan karir sebuah band dari kota Riverdale, Pussycats yang naik super sangat cepat lantaran diolah oleh label rekaman MegaRecords yang ternyata punya kedok dibalik itu.
Awalnya Pussycats, grup band yang beranggotakan tiga orang cewek; Josie, Melody dan Val cuma bisa manggung di tempat permainan bowling, tanpa seorang pun yang mau memperhatikan permainan musik mereka. Bahkan mereka diejek oleh para remaja di sekitar mereka yang sangat menggandrungi Dujour, grup band di bawah label MegaRecords sebelumnya. Hingga di tengah menghilangnya band terkenal Dujour secara misterius, Pussycats dikontrak oleh Wyatt Frame, tangan kanannya direktur MegaRecords.
Di bawah MegaRecords, Pussycats yang kemudian berganti nama jadi Josie and the Pussycats hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menduduki posisi 1 tangga lagu MTV. Meski sempat curiga, namun karena terlalu senang mereka jadi tidak ambil pusing dengan keanehan itu.
Ternyata ada kejahatan terselubung yang dilakukan oleh MegaRecords terhadap musisi yang mereka kontrak. Dujour dan Josie and the Pussycats dijadikan alat sebagai iklan TV raksasa. Dengan merekam lagu Jossie and the Pussycats melalui sebuah prosesor canggih Megasound 8000, jaringan musik itu juga dimasuki suara Mr. Moviefone yang mengajak para generasi muda Amerika untuk terhipnotis dalam trend terkini.
Di bawah perintah Fiona, Direktur MegaRecords, Mr. Moviefone melakukan proses cuci otak bagi generasi muda Amerika. Hingga setiap orang yang mendengarkan musik Josie and the Pussycats disamping akan tergila-gila dengan Josie and the Pussycats, otomatis mereka juga terobsesi untuk membeli segala macam barang yang diiklankan secara terselubung itu. Dimulai dari barang berupa baju, sepatu, minuman, snack hingga warna favorit dan bahasa gaul.
Hingga akhirnya kebusukan itu terkuak, Fiona dan Wyatt pun ditangkap atas tuduhan bersekongkol melawan generasi muda Amerika oleh Agen Federal yang sebenarnya juga terlibat di dalamnya. Rupanya Fiona melakukan itu lantaran masa lalunya yang memalukan. Ia selalu diolok sebagai Lisa cadel dan bergigi hitam. Ternyata Wyatt pun mempunyai masa lalu yang serupa, bahkan mereka satu sekolah di SMU Huntington. Wyatt sendiri diolok sebagai Wally pantat putih karena ia albino. Sisi positifnya, Fiona dan Wyatt lalu menjadi pasangan aneh yang saling menyukai.
Josie and the Pussycats sendiri kemudian melakukan konser di atas panggung dengan jumlah pengikut yang super besar. Meski sebelumnya para penonton itu hadir karena pengaruh dari Megasound 8000, mereka tetap menyukai musik yang ditampilkan oleh Josie and the Pussycats. Tentu saja itu tanpa bantuan Megasound 8000 plus Headphone Josie 3DX yang hancur lantaran tidak sengaja dipukul Fiona dengan gitar.
Di dalam film ini cukup bertaburan sejumlah merk terkenal, seperti Revlon, Target, Mc Donals, Adidas, Puma, dan lain-lain. Juga para orang terkenal Amerika seperi Mike Tyson, Spice Girls, Christina Aguilera, TLC, Eddie Murphy, Bill Cosby bahkan Chris Rock yang ikut muncul dalam pengucapan dialog. Bisa dikatakan film ini sangat kaya akan nuansa Amerika yang serba modern dan gila penampilan.
Uniknya, moral cerita yang disampaikan film ini dikatakan sendiri oleh salah satu pemainnya, yakni Alexander Cabot III. Ia mengatakan bahwa, “Moral cerita fil ini adalah kita harus bahagia dengan diri kita apa adanya. Selama ini kita habiskan uang untuk pakaian mahal demi mengesankan orang. Aku tak pernah bahagia. Bahagia ada di dalam diri. Aku bukan ini. Aku bukan apa yang kupakai.” Meski selanjutnya, ia membuka seluruh pakaiannya, dan kembali konyol lagi.

A. Ide Cerita
Ide cerita film “JOSIE and the PUSSYCATS” muncul dari fenomena musik pop yang sangat digandrungi remaja saat ini, khususnya para remaja yang berada di Amerika, yang umumnya juga cenderung terjebak dalam trend mode. Dalam film ini kedua fenomena itupun digabung. Di samping mengandrungi satu band musik tertentu, dengan mendengarkan lagu band itu para remaja itu pun terpengaruh untuk membeli merk-merk dagang tertentu.
Ide cerita film ini fiksi belaka. Namun, ide karakter para pemerannya disadur dari ARCHIE Comics.

B. Skenario
Skenario film ini boleh dikatakan cukup bagus. Penulis skenario mampu membuat pemahaman yang memadai mengenai materi pesan yang akan disampaikan. Meski diikuti kekonyolan yang luar biasa, film ini disertai juga dengan pengetahuan yang kuat mengenai teknik-teknik atau bahasa film yang memadai.

C. Sutradara
Film ini disutradarai oleh tiga orang sekaligus, yaitu Kenneth Edmons, Michael Silberkleit, Richard Goldwater dengan Grace Gilroy sebagai Co-Producer.

D. Pemeranan (Aktor/Aktris)
Film ini cenderung bertipe Interpretor atau Komentor. Tipe yang karakter pemainnya mirip dengan dirinya sendiri. Film remaja Amerika memang sering mirip dengan kenyataan.
Misalnya, Rachael Leigh Cook yang berperan sebagai Josie McCoy memiliki karakter yang kuat dan cerdas, juga Tara Reid sebagai Melody Valentin yang manja dan kekanak-kanakan, ataupun Rosario Dawson sebagai Valerie Brown yang perasa dan merasa didisriminasi lantaran ia kulit hitam.

E. Tata Artistik
Tata artistik film ini sangat menarik. Teknik pengambilan gambar dilakukan sempurna dengan menjaga estetikanya. Kostum pemain dibuat se-real mungkin dengan fakta yang ada. Misalnya bila sebuah band harus memiliki ciri khas, maka film ini sangat mendukung hal itu.

F. Sinematografi
Sinematografi yang diartikan sebagai seluruh hal yang berkaitan dengan gambar sebagai unsur visual, bila dikaitkan dengan analisa film “JOSIE and the PUSSYCATS” maka boleh dikatakan cukup baik.
Ada banyak bagian yang disyuting secara beda. Hal ini menciptakan variasi yang sangat kreatif. Misalnya saja, ada gambar menyorot kota secara tiga dimensi, ada gambar yang terdiri dari dua situasi yang ada dalam waktu yang sama tapi tempat yang berbeda, ada pula gambar seperti video klip, dan masih banyak variasi yang lain.

G. Editing
Secara keseluruhan proses editing film ini juga cukup baik.

H. Tata Suara
Selain suara dialog pemain, tata suara film ini juga memperhatikan musik dan lagu yang dinyanyikan. Sejumlah lagu pop yang ada dalam ini bukanlah lagu yang disadur dari penyanyi tertentu. Meski demikian, seluruh lagu itu terdengar sangat harmoni. Contoh tata suara yang juga terdapat dalam film ini, seperti suara pesawat yang melaju, suara shower yang hidup, bahkan suasana konser yang bergemuruh.

I. Visual Efek
Banyak bagian dari film ini yang menggunakan visual efek, hasilnya ia makin mempercantik gambar.

Secara keseluruhan, menurut saya film ini sangat bagus. Baik dari segi cerita, segi sinematografi, maupun kekonyolannya. Pesasa film ini sangat baik bagi remaja agar tidak terjebak dalam trend mode. Mereka diharapkan mampu menunjukkan diri mereka apa adanya. Film ini juga sangat baik untuk mengurangi stres karena selain mengajak kita untuk berfikir, ia juga mengundang kita agar tersenyum lebar.

(Tugas Mata Kuliah Sinematografi, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menilai Ide Cerita Film "My Wife is 18"

Cheung adalah mahasiswa abadi di salah satu universitas di London. Hingga usianya yang ke-30 tahun, ia tidak pernah mendapatkan kelulusan skripsi meski sudah yang ke-6 kalinya. Alasannya adalah ketidaksinkronan isi skripsi dengan pengalamannya. Ia mengambil penelitian tentang wanita, namun saat ditanya wanita itu bagaimana, ia sama sekali tidak bisa menjawabnya. Di saat yang sama, Yoyo, seorang pelajar SMU di Hongkong yang berusia 18 tahun sengaja pergi ke London untuk memenuhi keinginan orangtuanya yang ingin menikahkan dirinya dengan Cheung.
Demi membahagiakan nenek Cheung yang hampir meninggal, Cheung dan Yoyo kemudian menikah. Namun, pernikahan itu tidaklah murni dilandasi cinta maupun keinginan untuk berumah tangga. Cheung hanya ingin menjadikan Yoyo sebagai objek penelitian skripsinya. Yoyo sendiri hanya ingin meredam kejenuhan rutinitasnya sebagai pelajar SMU. Mereka berdua pun lalu menuliskan kesepakatan untuk mengontrak pernikahan mereka selama 1 tahun, setelah itu mereka akan bercerai tanpa ada tuntutan dari pihak manapun.
Perjalanan hidup bersama mereka dipenuhi warna yang cukup memercik. Cheung tinggal di kost milik Yoyo di Hongkong karena Yoyo masih harus bersekolah. Untuk lebih memahami wanita, Cheung kemudian menjadi guru pria kedua di sekolah Yoyo yang khusus wanita. Ternyata, ada seorang guru wanita yang tertarik pada Cheung. Melihat itu, Yoyo cemburu dan menyadari perasaannya pada Cheung sesungguhnya. Di antara sifat remajanya yang kental, ia berusaha menjadi dewasa untuk sepadan dengan diri Cheung. Yoyo nekat menggunakan pakaian ala wanita dewasa dengan dandanan menor dan seksi saat menemui Cheung yang tengah berkumpul dengan rekan-rekan sebayanya.
Cheung pun akhirnya menyadari bahwa sesungguhnya ia mencintai Yoyo. Ia juga nekat mengakui Yoyo sebagai istrinya di hadapan dewan guru dan murid-murid di SMU Yoyo. Namun, Yoyo malah merobek surat pernikahan mereka, dan meninggalkan Cheung begitu saja. Hal ini karena Yoyo menyadari bahwa perbedaan mereka sangat jauh. Cheung yang kecewa kemudian kembali ke London untuk ujian skripsi. Saat tegang menghadapi pertanyaan para dosen penguji, tiba-tiba Yoyo datang menemui Cheung. Yoyo meminta para dosen penguji Cheung agar memberikan Cheung kelulusan dengan alasan Cheung harus menjaga dirinya sebagai suami yang baik. Akhirnya, Cheung pun mendapatkan kelulusan.

Penilaian Ide Film "My Wife is 18"
Ide film “My Wife is 18” benar-benar rekaan atau fiksi belaka. Ia tidak didasari oleh pengalaman seseorang, tidak mengutip dari novel maupun komik, tidak juga mengambil setting dari suatu masa tertentu. Film “My Wife is 18” sepertinya dikembangkan dari kekreatifan pembuat film untuk menyajikan sesuatu yang mungkin saja terjadi dan mengira-ngira hal apa saja yang mewarnai hal itu.
Pernikahan dengan keterpautan usia yang cukup jauh (12 tahun jika di film “My Wife is 18”) memang akan menimbulkan peristiwa-peristiwa berbeda dan cukup bertolak belakang karena perbedaan masa tumbuh. Ide ini cukup menarik untuk ditawarkan kepada penonton bila dibandingkan dengan cerita pernikahan dari usia yang tidak beda jauh meskipun di dalamnya juga penuh intrik yang hebat.
Jalinan kisah yang dirangkai dalam film “My Wife is 18” mengantarkan pesan penting kepada penontonnya. Setidaknya, film “My Wife is 18” yang cenderung drama romantik komedi ini menyampaikan bila usia yang beda jauh bukanlah halangan untuk menyatukan diri dalam ikatan pernikahan. Asalkan keduanya memiliki kesamaan persepsi dalam memandang hidup.
Bahasa dan gaya yang ditampilkan dalam film “My Wife is 18” ini menyesuaikan dengan apa yang terjadi dengan style remaja Hongkong sekarang. Penuh daya pikat, kepraktisan, kebebasan bersikap dan menentukan pilihan, to the point, namun budaya Tionghoa tetap digambarkan dengan adanya adat perjodohan oleh orang tua yang kala itu masih juga gemar berbusana khas Tionghoa klasik.***

(Note: Nih, dari tugas mata kuliah Sinematografi, pas kuliah D3 PR UGM, tahun 2003)

Mengapresiasikan Film "Frida"

Usai menonton film yang mengangkat tema dengan menitikberatkan pada kehidupan pelukis legendaris Meksiko, Frida Kahlo (Salma Hayeek) serta pahit manis hubungan asmara dengan suaminya, Diego Rivera (Alfred Molina) ini, kita mesti hanyut dengan nuansa artistik Meksiko yang kental. Meliputi bahasanya yang unik, busana khas Meksiko yang ceria, serta keadaan kota Meksiko tahun 1922 yang masih bisa tergambar jelas.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini diawali dengan pengangkutan Frida yang berada di atas tempat tidur untuk naik ke atas truk. Frida yang lumpuh total itu akan pergi untuk membuka pameran lukisannya, yang pada akhirnya menjadi moment buatnya dalam menghembuskan nafas terakhirnya.
Film ini kemudian memulai flash back-nya dengan penggambaran keusilan masa sekolah Frida bersama teman-temannya dalam mengintip seorang pelukis, Diego Rivera (Alfred Molina) yang tengah melukis perempuan bugil. Padahal pelukis inilah yang kelak menjadi suami Frida. Terpengaruh dengan aksi mengintip tadi, membuat Frida nekat melakukan hubungan seks untuk pertama kali bersama kekasihnya.
Kebersamaan dengan sang kekasih pun harus berakhir karena ia harus pindah kota dan meninggalkan Frida yang tengah terbaring di tempat tidur karena lumpuh akibat kecelakaan di bus. Kecelakaan itu membuat cita-cita Frida berubah menjadi seorang pelukis. Selama berdiam diri di dalam kamarnya dengan segala kekakuan tubuh, ayah Frida memberikannya kanvas dan alat lukis. Hal ini membuat Frida menjadi sangat bahagia. Salma Hayeek sangat pintar dalam memperlihatkan itu.
Kemudian, Frida pun beranjak sembuh. Lalu, demi mengetahui kualitas lukisannya, ia pun pergi menghubungi orang yang pernah diledeknya, Diego Rivera. Ternyata, Diego pun menjadi tertarik dengan lukisan Frida yang memiliki karakteristik tersendiri. Diego bahkan mengunjungi Frida ke rumahnya. Lambat laun kehadiran Diego dalam membantu Frida melukis menimbulkan perasaan cinta pada diri Frida.
Hal yang menimbulkan pertentangan berbagai pihak, terutama keluarganya, adalah saat Frida memutuskan untuk menikahi Diego Rivera. Tentu saja, adegan seks telah mendahului upacara ritual tersebut. Mungkin, di sinilah letak keartistikan dari film Frida. Tapi tentu saja, masih ada point yang menarik lainnya. Di segi tata suara, film Frida sangat unik, terutama ketika Frida digambarkan tengah bingung dengan dilema hidupnya. Dilema terberatnya yakni ketika suami yang dikiranya setia tertangkap basah tengah selingkuh dengan saudara kandungnya. Dilema lain, yakni saat ia kecelakaan hingga lumpuh total, ditinggalkan kekasihnya saat lumpuh, kehilangan bayinya karena keguguran, dan kematian ibunya. Selain unsur musikal, film inipun memasukkan unsur animasi. Misalnya, saat Frida belum sadar dari koma, digambarkan beberapa tengkorak hidup tengah melakukan operasi penyembuhan.
Film yang disutradarai oleh Julie Taymor ini cukup jelas dalam menggambarkan latar belakang kehidupan Frida. Tentunya hal ini sangat dibantu oleh penulis naskah, Hayden Herrera. Penggambaran itu tampak detil pada Frida dengan kemelut dunia bakat melukisnya, dunia cintanya, keluarganya, negaranya, hingga perilaku seksnya yang kadang mengejutkan.
Film ini seharusnya bisa meraih nominasi Oscar 2002, terutama pada permainan Alfred Molina (Diego Rivera). Dengan hasil peredaran $20 juta, film inipun dinilai memiliki kemiripan bintang sebesar 7/10 (Salma Hayeek) dan rating film juga sebesar 7/10.
Film yang didukung oleh pemain berbakat lainnya, seperti Mia Maestro, Valeria Golino, Geoffrey Rush, Roger Rees, Diego Luna, Patricia Reyes Spindola, dan Margarita Sang ini makin menguatkan aroma Meksiko yang kental.
Dari sisi individual, film ini menggambarkan ketabahan serta kegigihan seorang wanita dalam mengisi hidupnya. Wanita yang berprinsip, keras, namun digambarkan pula kerapuhan dalam menghadapi tiap terpaan masalah hidup. Salma Hayeek cukup apik dalam memainkan perannya. Dari sisi sosial, film ini menceritakan kisah hidup yang penuh intrik dan tekanan. Yang menggembirakan, di antara berbagai kisah sedih, film inipun berakhir tenang, bisa digolongkan happy ending. Karena meski di tengah kelumpuhannya, Frida masih mendapatkan cinta yang tulus dari suaminya, dan sempat pula menghadiri pameran lukisannya yang akan menjadi salah satu peristiwa penting di dunia seni lukis Meksiko.
Film ini murni drama, tanpa ada adegan komedi maupun action di dalamnya. Secara keseluruhan, dapat diambil kesimpulan: pemahaman penonton cukup terkesan dengan empati mereka pada penderitaan Frida, penikmatan penonton cukup bergolak dengan visualisasi cerita yang penuh bumbu keromantisan, serta penggabungan unsur film yang seimbang, dan penghargaan penonton akan muncul dengan keberhasilan film dalam menghidupkan tokoh Frida, nilai hidup yang gigih mampu membawa kita tetap survive dalam menjalani hidup. ***

(Note: Nih, dari tugas mata kuliah Sinematografi pas kuliah D3 PR UGM, Tahun 2003)

Iklim Kontrol Bank Sentral Asahi di Film "Jubaku"

Jubaku merupakan film produksi negara Jepang yang sarat dengan nilai khas Jepang yang keras, santun, dan berani. Diceritakan bahwa pada tahun 1997 telah terjadi korupsi besar-besaran, hingga 30 milyar yen, di dalam tubuh perbankan Jepang, khususnya Bank Sentral Asahi (ACB), akibat pemerasan yang dilakukan oleh Sokaiya. Sokaiya sebenarnya merupakan perusahaan penerbitan yang menyediakan berbagai media dan jasa publikasi seperti majalah, koran serta badan periklanan. T.K. adalah pimpinan gembong pemeras Sokaiya, dan kaki tangannya, Odajima adalah Direktur Penerbit Sokaiya. Sejak UU 1982 Anti Pemerasan, penampakan Sokaiya kian berkurang. Tapi sebenarnya Sokaiya melakukan kegiatan bawah tanah. Dr. Albert Meadows, seorang Antropolog mengatakan, “Di tahun 1920, gembong Sokaiya menamakan diri mereka Banzai. Nama ini diambil dari kebiasaan berteriak ‘Banzai’ saat pesta. Saat ini, gerakan mereka kian berkembang secara diam-diam, dan semakin berani melebarkan sayap.”
Korupsi yang sangat merugikan sejak bertahun-tahun lalu itu, baru kini berani diselidiki oleh jaksa karena dianggap hal seperti itu sangat mengerikan dan belum pernah diekspos di Jepang. Para jaksa dari Kantor Penuntut Umum terus maju dengan berani, meski ada pertentangan internal dan mungkin juga akan menimbulkan kehancuran finansial bagi Jepang. Jaksa pun menyelidiki ACB atas berbagai pinjaman ke Sokaiya. Diasumsikan bahwa ACB dikelola oleh tiran dengan memberikan pinjaman tak terbatas. ACB menyalahgunakan prosedur seleksi dan tidak memfungsikan secara benar para regulatornya sehingga selalu memperpanjang waktu pembayaran atau bahkan melakukan penghapusan pinjaman. Kejaksaan menganggap peristiwa ini merupakan aksi pembersihan bidak “Jubaku”, dan Sokaiya adalah bidak menterinya.
Gejolak di tubuh ACB pun terjadi. Adanya perdebatan antara masalah hukum dan moral sebagai bankir digulirkan dalam rapat pertama sejak skandal ACB itu tersingkap. Para manager menengah ACB, seperti Kitano, Matsubara, Katayama dan Ishii sangat mengecam terjadinya penggelapan pinjaman Sokaiya tersebut. Hingga pada suatu ketika, para jaksa penyidik menyerbu ACB untuk menggeledah seluruh gedung karena ACB dituduh telah melanggar UU Niaga, situasi genting di ACB pun dimulai. Ketegangan terjadi di semua lapisan elemen di ACB, mulai dari atas (CEO, Dewan, Direktur), menengah (Kepala Departemen, Manager Menengah), hingga bawah (karyawan).
Hebatnya, usaha para eksekutif ACB untuk mengatasi krisis tersebut berlangsung cepat. Hanya dalam hitungan jam, mereka kemudian melakukan konferensi pers untuk melakukan aksi minta maaf, dan mengumumkan pergantian jajaran tertinggi ACB, yakni Imai dan Sakamoto menjadi Yoshino dan Ota. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pergantian itu saja tidak cukup. Diyakini hanya dengan pemberontakan di dalam, yakni para manager menengah, yang bisa menyelamatkan ACB. Mereka harus mengambil alih kekuasaan dari atasan yang sejak awal menyetujui pelanggaran. Terlebih tak lama dari itu, para atasan ACB pun ditangkap, kecuali Sasaki yang bisa menghindar dengan alasan sakit.
Mengatasi semua krisis itu, sekelompok manager menengah kemudian bekerjasama dengan para pengacara melakukan penyidikan internal untuk menyingkap kebenaran dan membuang praktek bisnis tak etis di ACB. Hingga akhirnya permasalahan pun menjadi jelas, setelah sebelumnya Konsultan Eksekutif ACB, Takashi Hisayama melakukan harakiri di kantornya dan memberikan surat terakhir kepada Kitano. Di dalam surat tersebut terungkap bahwa Mantan CEO, Sasaki, yang juga mertua Kitano, meminta Kawakami untuk membantunya menjadi bankir terbaik tahun itu. Sebagai imbalan Sasaki akan menyetujui pinjaman kepada Sokaiya. Rinciannya ada di dalam surat. Di sana tertulis surat Sasaki kepada Kawakami tertanggal 18 Oktober 1993. Odajima membuat salinannya dan mengirim ke Ketua Hisayama. Hal ini merupakan fakta bahwa Sasaki telah melakukan tindakan kolusi dengan pemeras Sokaiya.
Satu persatu langkah penyelesaian permasalahan dapat dilakukan oleh jajaran baru ACB dengan menunjukan sikap kerja yang totalitas dan bertanggung-jawab. Mulai dari pengunduran diri para dewan yang lama, dipilihnya CEO yang baru: Nakayama, pengeluaran surat pemutusan hubungan kerjasama dengan penerbitan Sokaiya, memprotes intereogasi pihak kejaksaan terhadap orang-orang ACB yang tak kunjung selesai, hingga sukses melaksanakan Rapat Tahunan Pemegang Saham ACB ke-35. Meski awalnya rapat berlangsung panas tapi setelah adanya ketulusan pendapat oleh salah satu pemegang saham asli yang mendukung keberadaan ACB, suasana pun menjadi dingin dan terkontrol kembali. Hal ini pun menjadi momentum awal bagi ACB untuk memulai kembali perbaikan dan pengembangan di dalam tubuh ACB menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.
Di lain pihak, pihak media pun, seperti Miho Wada dari Bloomberg Tokyo sukses menulis buku mengenai “Jubaku” tersebut. Departemen Kehakiman juga menyatakan perang dengan Departemen Keuangan: suap dan kolusi, yang mengakibatkan 112 pejabat Departemen Keuangan ditahan.

Iklim Kontrol di Film Jubaku
Kemitraan yang tak berorientasi keuntungan, dikembangkan untuk menunjukkan bahwa sebuah komunitas yang sedang hancur bisa diperbaiki – bukan secara fisik melainkan dalam semangatnya – dan bank bisa melahirkan sesuatu yang berbeda. Kemitraan seperti ini yang menjadi salah satu kegiatan yang dapat dilakukan Bank Sentral Asahi (ACB) untuk mengatasi masalah “Jubaku”.
Bila dilihat dari iklim kontrol (proses pendistribusian wewenang melalui komunikasi) yang terdapat 3 jenis, yakni :
a. Dehumanizing Climate
b. Happines for Lunch Bunch Climate
c. Open Climate
Maka, pada kasus ACB dalam film “Jubaku” iklim kontrolnya termasuk dalam jenis Open Climate karena sesuai dengan kriteria-kriteria, seperti tersebut di bawah ini :
1. Pegawai ACB didorong untuk mengerjakan pekerjaan dengan asistensi dari atasan.
2. Pegawai ACB berkomunikasi satu sama lain, juga pengawas mereka, dan melaporkan segala masalah ke pengawas.
3. Pekerja ACB sebagai bagian manajemen, diharapkan mengerjakan tugas dengan baik dan terbuka atas ide-ide baru dan perubahan yang terus terjadi.
Kemudian, bila dilihat dari 4 status (suatu posisi yang dimiliki secara sadar oleh seseorang dalam kelompok atau organisasi), yakni :
a. ↑ = Status Differential Increases
↓ = Communication Decreases
b. ↓ = Status Differential Decreases
↑ = Communication Increases
c. ↑ = Solidarity Increases
↓ = Status Differential Decreases
d. ↑ = Solidarity Increases
↑ = Communication Increases
Maka, dalam film “Jubaku” proses komunikasi yang terjadi pada ACB lebih banyak terjadi pada status b dan d. Awalnya yang b, yakni ↓ = Status Differential Decreases : ↑ = Communication Increases. Terlihat saat takutnya para manager menengah dan pengacara ketika melakukan penyidikan internal pada salah satu mantan CEO, Sasaki. Namun, cukup berani ketika dengan atasan yang lain, seperti Hisayama dan Ota. Kemudian status/situasi utama berubah menjadi d, yakni ↑ = Solidarity Increases : ↑ = Communication Increases saat para manajer menengah ACB yang berhasil melakukan kudeta hingga semua dewan yang lama tergantikan dengan yang baru, yakni Nakayama (CEO ACB).

(Note: Nih, tugasku di mata kuliah Internal Relations, D3 PR UGM, 2004)

Apresiasi Film Gung Ho dari Sudut Pandang Manajemen Krisis

Film Gung Ho ini sangat menarik dalam memberikan pemahaman mahasiswa mengenai mata kuliah manajemen krisis. Pemeran utama film ini dimainkan oleh Michael Keaton sebagai Hunt Stevenson, penghubung antara pihak manajemen Assan Motor Company dengan para buruh dan Gedde Watanabe sebagai Takahara Kozihiro yang berperan sebagai direktur manajemen perusahaan. Peristiwa yang terjadi di kota kecil negara Amerika, yakni Hadleyville ini mengisahkan tentang sebuah pabrik mobil yang telah berdiri sejak 35 tahun, namun sejak 9 bulan lalu pabrik ini ditutup. Meski demikian, pabrik ini telah diperbaiki 2 tahun yang lalu dengan peralatan baru sehingga kondisi pabrik dalam keadaan prima. Para pekerja pabrik mobil ini adalah penduduk kota yang semuanya mengandalkan hidup dari pabrik tersebut. Sehingga demi dibukanya kembali pabrik tersebut, Hunt Stevenson dikirim ke Jepang untuk mencari investor. Pencarian Hunt berhasil dengan kehadiran Assan Motor Company sebagai manajemen yang baru di pabrik mobil Hadleyville tersebut.
“Kita harus membangun semangat. Kita harus menjadi sebuah tim. Dengan hanya sebuah tujuan. Semua hanya memikirkan perusahaan.” Begitulah spirit awal yang ditanamkan oleh pekerja Jepang kepada para pekerja Amerika. Kepentingan perusahaan harus berada di atas segalanya. Adanya perbedaan budaya kerja di antara pekerja Jepang dan Amerika seringkali menimbulnya permasalahan di pabrik ini. Budaya kerja Jepang lebih menitikberatkan pada kinerja tim dan loyalitas pada perusahaan, sedangkan Amerika dengan segenap keegoisan dan kesombongan mereka lebih mengutamakan kerja individual, dalam arti ingin selalu dianggap spesial. Meski demikian pada akhirnya, keduanya dapat memahami kelebihan budaya masing-masing. Saat Hunt menyadari bahwa pekerja Jepang memang bisa bekerja lebih cepat, lebih baik, dan lebih lama, setidaknya dapat mengubah budaya kerja buruh Amerika yang terkesan semaunya. Begitu pula, saat Takahara menyadari bahwa ia begitu penurut seolah hidup hanya untuk kerja dan perusahaan tanpa memperdulikan hal yang lebih penting, yaitu orang-orang yang dikasihi, setidaknya ia dapat mengatasi kecemasan hidupnya.
Banyak hal yang bisa dipelajari dari film Gung Ho ini. Namun jika dikaitkan dengan manajemen krisis maka hal yang sangat erat adalah saat adanya tuntutan buruh Assan Motor Company untuk kenaikan gaji dari 8 dolar 75 sen per jam menjadi 11 dolar 50 sen per jam. Sesuai kesepakatan lewat Hunt, pihak manajemen Assan Motor Company akan memenuhi tuntutan tersebut jika pekerja dapat memenuhi produksi sebanyak 15.000 mobil dalam sebulan. Namun akibat kebohongan Hunt, masalah lain pun timbul dan mengancam tertutupnya kembali pabrik mobil tersebut.
Jika ditinjau dari kategorinya, maka diantara 4 kategori krisis (Exploding Crisis, Immediate Crisis, Building Crisis, dan Continuing Crisis) krisis di atas termasuk ke dalam Building Crisis, yakni krisis yang terjadi lebih terfokus pada persoalan internal. Perlu diingat bahwa meskipun perusahaan memiliki peraturan kerja tersendiri, namun akibat dari suatu kebijaksanaan yang diambil berdasar peraturan itu kadang-kadang dipandang merugikan kelompok orang-orang tertentu. Akibatnya, apapun kebijaksanaan barunya, tetap saja akan melahirkan pendapat publik yang bisa jadi tidak sejalan dengan keteguhan perusahaan dalam menerapkan peraturan-peraturannya. Sehingga, penggiringan pembentukan opini publik yang positif dalam hal ini sangat dibutuhkan. Akhir film Gung Ho ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan Hunt Stevenson dalam berkomunikasi dengan seluruh publiknya sehingga krisis yang terjadi dapat diatasi dengan baik dan sempurna, tapi juga menyusupkan pesan moral untuk menghormati perbedaan budaya yang ada di tiap kawasan dunia. ***

(Note: Nih, tugas individual mata kuliah Manajemen Krisis, D3 PR UGM, 2004)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...