Tampilkan postingan dengan label Film Nita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Nita. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 13, 2009

Kerennya Film The Curious Case Of Benjamin Button


Huhuhu! Setelah sekian lama gak nonton film, akhirnya kemaren nyempetin mampir ke Video Ezzy dan pinjem 4 film new release. Salah satunya, ya, film ini: “The Curious Case Of Benjamin Button”. Sebelumnya, aku gak pernah tahu film ini gimana. Gak pernah baca resensinya, maupun direferensi orang yang udah nonton. Aku pilih karena liat covernya bagus, huhuhu... Dan pemain utamanya adalah Brad Pitt. Dan... ada bintang-bintang di cover itu yang kayaknya menunjukkan nih film telah menjuarai sesuatu.
Dan ternyata... Nih, film bener-bener menawarkan cerita yang beda dengan film lain-lainnya. Aku hampir percaya, kalo cerita ini bener-bener ada yang kemudian difilmkan. Gaya berceritanya emang rada mirip dengan film Titanic, yups ada seorang wanita tua yang menceritakan masa lalunya. Tapi... masa lalu wanita ini aku jamin gak kalah keren dengan film Titanic.
Ada 3 vcd yang akan membawamu ke dunia Benjamin Button sehingga waktu 166 menitmu serasa hanyut ke alam imajinasi yang spektakuler. Film yang memenangkan berbagai award dan nominasi, diantaranya 5 penghargaan Golden Globe, 8 dari Broadcast Film Critics, 3 dari National Board of Review, 2 Satellite Awards, 2 dari Graham Burt and Tom Reta serta menjadi -Won Best Art Director- dari perkumpulan pengkritik film Washington DC ini bergenre film fiksi ilmiah romantis.


Tokoh utama di film ini adalah Benjamin Button yang diperankan oleh Brad Pitt dan Daisy yang diperankan oleh Cate Blanchett. Film ini diangkat dari cerita pendek dengan judul yang sama yang terbit pada tahun 1921 karya F. Scott Fitzgerald yang mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang Benjamin Button di New Orleans Louisiana yang mempunyai perkembangan fisik terbalik dari manusia normal. Dari tua manjadi muda.
Film hasil besutan sutradara David Fincher ini, terus berjalan maju-mundur antara cerita sang nenek dengan gambaran masa lalunya. Awalnya, film ini bercerita tentang seorang pembuat jam yang sengaja membuat arah jarum jamnya berjalan mundur. Sang pembuat jam seolah ingin mengembalikan waktu yang sudah terlewat. Tak lama, lahirlah Benjamin Button di masa berakhirnya Perang Dunia I tahun 1918.
Kehidupan Benjamin cukup berliku, setiap kisah hidupnya dibuat detil, terutama tentang kisah percintaannya dengan Deasy. Film ini diceritakan dari sebuah buku harian yang dimiliki oleh Daisy tua yang terbaring di rumah sakit menjalang datangnya badai angin topan Katrina pada tahun 2005 yang kemudian dibacakan oleh anak perempuannya Caroline. Dari buku harian tersebut hadir cerita tentang Benjamin Button.


Benjamin Button lahir dengan tampilan fisik menyerupai orang yang berumur 80 tahun dengan kulit berkerut-kerut. Karena fisiknya yang tidak normal tersebut, maka ayahnya yang seorang pengusaha perusahaan kancing ”The Button Button’s” kemudian berencana untuk membuangnya, namun kemudian menaruhnya di tangga sebuah rumah jompo dengan meninggalkan uang sebanyak 18 dollar.
Di rumah jompo tersebut Benjamin diangkat anak dan diasuh oleh Queenie yang bekerja di panti jompo tersebut. Benjamin tumbuh menjadi anak yang mempunyai penampilan seperti orang jompo dan kemudian bertemu dengan Daisy kecil, cucu seorang penghuni rumah jompo tersebut. Ketika dewasa, Deasy kemudian menjadi penari balet di New York, sedangkan Benjamin menjadi pekerja di sebuah kapal.
Dalam perkembangan hidupnya, Benjamin menjadi semakin muda secara fisik ketika umurnya sudah semakin tua. Akhir cerita dikisahkan bagaimana Daisy menjadi semakin tua dan menjadi nenek-nenek sedangkan Benjamin menjadi semakin muda seperti anak kecil namun mengalami pikun. Akhirnya Benjamin tua menjadi bayi lagi yang kemudian meninggal dalam pelukan hangat Daisy.
Kisah ini, merupakan cara Deasy untuk memberitahu Carolina bahwa Benjamin Button adalah ayah kandungnya. Sebuah kisah yang sangat menyentuh hati. Aku sendiri sempet menangis di salah satu adegan di vcd 3. Well, silahkan tonton kisah yang menarik ini. Banyak sekali pembelajaran yang akan kamu peroleh seusai menontonnya. Dijamin! (sba)

Sabtu, Maret 28, 2009

I Love This Movie: The Kite Runner

1) Identitas Singkat Film
Pemeran The Kite Runner : 
- Khalid Abdalla (Amir Dewasa)
- Atossa Leoni (Soraya)
- Shaun Toub (Rahim Kahn)
- Zekeria Ebrahimi (Amir Kecil)
- Ahmad Khan Mahmodzada (Hassan Kecil) 
Sutradara : Marc Forster 
Durasi : 2 jam 25 menit 
Distributor : Paramount Vantage 
Tanggal Rilis : 14 Desember 2007 (US), Februari 2008 (Indonesia)

2) Alur Cerita Film yang Menarik
I love this movie!!! Aku paling suka lihat aktingnya si Hassan kecil (Ahmad Khan Mahmodzada), sang peraih "Best Young Actor" di ajang anugerah film versi Critics Choice Award. The Kite Runner adalah sebuah film produksi Paramout Picture yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Khaled Hosseini. Film ini sendiri diproduksi tahun 2007 yang lalu. Sementara novel aslinya terbit tahun 2003. Untuk novelnya yang berada dalam Bahasa Indonesia, penerbit Mizan sudah menerbitkannya tahun 2008. Tapi harganya cukup mahal sih, Rp 63.000,-

(Adegan Hassan Kecil ketika mendapatkan hadiah ulang tahun dari tuannya, sebuah layang-layang)

Film ini dimulai dari adegan kota pinggiran Amerika yang didiami oleh para imigran Afganistan. Amir dewasa yang tinggal di Amerika itu tiba-tiba mendapat telfon dari rekan ayahnya di Afganistan. Negara asalnya, yang ia tinggalkan bertahun-tahun. Usai adegan telfon itu, barulah film bergerak mundur, yakni bercerita tentang masa kecil Amir dan sahabat kentalnya, Hassan. Diceritakan bila Amir adalah anak seorang politikus di Afganistan, dan Hassan adalah anak pembantu di rumah Amir. Namun, persahabatan mereka sangat kental. Perlombaan layang-layang menjadi ajang tahunan menjadi bukti betapa kompaknya persahabatan mereka. Apalagi ketika mereka memenangkan perlombaan tersebut. Adegan dimana layangan melayang-layang di udara sangat fantastis. Sangat artistik kalau aku boleh membandingkannya dengan anak-anak yang main di dekat rumahku. Hee... Mereka hampir seperti menari! Seru banget!
  
(Adegan ketika Hassan dengan jelas dapat menentukan kemana layangan akan jatuh ke tanah)

Namun sayang, persahabatan itu tidak berlangsung lama. Ketika Hassan berjanji untuk membawakan layangan yang berhasil diputus Amir dari lawannya, Hassan dihadang oleh 3 orang anak berandalan. Aku benci banget adegan ini! Hik, hik, hik, habis, bikin mataku jadi banjir. Walau gak diberikan adegan yang vulgar, meski itu sebuah hal yang vulgar... *apa ini? hehehe!* Tapi adegan darah menetes di tanah itu cukup menggambarkan semuanya. Sumpah deh, pengen aku tinju aja rasanya muka Amir itu. Bukannya nolongin, tapi dia pura-pura gak tahu ketika Hassan memberikan layangan yang dengan hal paling rendah itu ia pertahankan. Amir pun malah ingin Hassan yang pergi dari kehidupannya karena tidak kuat menahan rasa bersalah. Gak salah-salah, Hassan ia fitnah dengan menaruh jam tangannya di kamar Hassan.
  
(Hassan kiri yang memegang ketapel. Ia sangat mahir menggunakan ketapel, dengan ketapellah ia melindungi Amir dari gerombolan berandalan. Di adegan lain, nanti Sohrab, anak Hassan, juga akan menolong Amir dari kelompok garis keras Afganistan) 

Cerita di film ini memang mengalir dengan bagusnya. Tapi, aku emang terbuai dengan adegan ketika mereka masih kecil, bukan ketika mereka sudah besar dan didewasakan oleh waktu. Ketika kecil, Amir yang bercita-cita ingin menjadi penulis selalu membacakan karyanya kepada Hassan. Dan itu adalah hal yang terbaik! Sebuah ajaran tentang pendidikan. Meski Hassan tidak mengikuti sekolah formal, tapi dengan tekadnya ingin menulis surat untuk Amir, ia pun belajar membaca dan menulis. Kesalahan Amir ia tebus ketika ia sudah dewasa. Karena peperangan di Afganistan, maka ketika kecil mereka pun terpisah. Amir mengungsi ke Amerika bersama ayahnya. Dan Hassan tetap di Afganistan. Oya, sebelumnya ada adegan Hassan pergi dari rumah Amir. Dan ini pun kembali menguras air mataku. :)
  
(Adegan ketika Hassan dan Amir tengah bersiap-siap menuju arena perlombaan layang-layang) 

3) Nilai Pesan Film yang Berharga
Lalu, film pun kembali ke masa kini. Sebuah telfon dari Afganistan untuk Amir yang menyuruhnya kembali ke Afganistan. Demi menebus kesalahannya, ia pun pergi menemui sang paman yang sebenarnya rekan kerja ayahnya. Di usia yang tua, sang rekan ayah Amir itu menceritakan bila Hassan sudah meninggal. Dan ternyata terungkap bahwa Hassan sebenarnya adalah adik tiri Amir. Hassan sudah menikah dan mempunyai anak bernama Sohrab. Namun kini, Sohrab tengah ditawan oleh kelompok garis keras di Afganistan. Singkat cerita, Amir berhasil menemukan Sohrab. Dan ia pun membawa anak Hassan yang sudah menjadi bulan-bulanan para anggota kelompok garis keras itu ke Amerika untuk tinggal bersama Amir dan istrinya. Awalnya, Sohrab lebih banyak bersikap diam. Namun, ketika mereka ada di lapangan dan bermain layang-layang, Amir pun bisa memecahkan kebekuan suasana di antara mereka dengan menceritakan kembali tentang Hassan yang sangat mahir bermain layang-layang. "Untukmu, aku akan mengejarnya 1000 kali," ujar Amir menirukan perkataan Hassan, ketika ia mengejar layang-layang yang sudah berhasil diputus oleh Sohrab.

Selasa, Maret 17, 2009

Suka Nonton Film?

Yups! Aku suka banget nonton film. Setelah sekian lama mencari tempat rental film original di Palembang, akhirnya aku menemukannya juga: Video Ezzy yang ada di Jl. Veteran Palembang. Tau ya, kayaknya di Palembang gak ngasih peluang besar untuk bisnis ini. Padahal setahuku dulu cukup banyak rental-rental film. Ada Odiva di Jl. Mayor Salim Batubara, tapi sekarang tutup. Juga Video Ezzy yang ada di Patal, sekarang juga tutup. Fiuh, kenapa ya?
Ini pun, bisa ketemu Video Ezzy di Veteran juga karena gak sengaja! Tempatnya kurang strategis, tertutup sama pepohonan. Emang, kalo orang yang gak gila banget nonton film, rasanya sayang banget buang-buang duit cuma untuk minjem 2 VCD untuk menghibur diri. Yeah, aku perhatiin, orang Palembang itu lebih sukanya nonton ke bioskop! Padahal kalo dihitung-hitung jatuhnya lebih mahal. Dan bioskop kadang gak muter film-film new release alias udah lama banget!
Sistem peminjaman di rental original emang tergolong agak memberatkan, coz peminjam harus pake uang jaminan segala. Di Video Ezzy sendiri jaminannya Rp 50.000,- Udah gitu pake sistem pulsa. Jadi, kita isi duit dulu, trus kalo mo pinjem, tinggal ngurangi pulsa kita tadi. Satu film biaya pinjamnya Rp 5.000,- Tapi ada paket-paket lain yang bisa bikin 1 film cuma Rp 2.500 s/d Rp 3.000 sih...
Trus, yang memotivasi sebenarnya ada sistem poinnya. Jadi makin banyak poin, bisa ditukar dengan hadiah-hadiah menarik. Hahaha! Di UGM, aku member Odiva. Trus, di UNS, aku member Moviezone. Dan di Palembang sekarang, aku member Video Ezzy! Sebenarnya masih ada beberapa rental film lain, tapi gak terlalu loyal. Hue'e'e....
Aku suka berbagai jenis film. Tapi paling suka emang drama, baru kemudian komedi, trus thriller, baru action, baru Indonesia. Hm... Aku gak terlalu suka horor, juga film India, ato film Taiwan. Gak banget deh! Terakhir aku suka banget nonton film Sex and the City Movie sama Eagle Eye. Hueee... Gak nyesel nonton film itu. Nilai yang terkandung di kedua film itu, bisa bikin aku merenung sampe berjam-jam... :)
Well, nih, aku sebentar lagi mo ke Video Ezzy! Balikin film. Harus on time memang, kalo nggak bisa kena denda. Makanya, kalo belum sempet ditonton filmnya, suka disimpan dulu di laptop. Hee... Oke, aku pergi dulu yaa... Bye! :)

Rabu, Desember 31, 2008

Dongeng 3 Doa 3 Cinta

Demi menonton Nicholas Saputra - Dian Sastro Wardoyo lagi, aku dan Rudi bela-belain nonton film 3 Doa 3 Cinta di PIM 21 malam Rabu (30/12) kemaren. Kami ambil yang jam 19.30 WIB di Studio 4 dengan harga nomat Rp 15.000 per orang. Hehehe!
Dari rumah jam 6 teng! Aku buru-buru pulang dari GSC jam 5.30, langsung mandi dan berangkat! Padahal migrenku kumat lagi waktu itu. Sakit banget! Udah, pas sampe langsung ke PIM 21, pesen tiket, kita ambil kursi paling atas. Aku males aja ambil posisi tengah. Ternyata masih ada waktu 1,5 jam, ya udah, turun lagi, nyempetin sholat Magrib dulu trus maem di A&W. Sempet ditawarin kalender dan kartu Platinum juga ma karyawan A&W-nya. Tapi gak aku ambil, gak ada hepeng, ouy... Hehehe!
Kami masuk bioskop di saat yang tepat. Film belum dimulai. Iyalah, males banget kalo udah dimulai, walau cuma sedikit. Kayak gak nonton aja rasanya. Hahaha... Segitunya! Tapi, emang bener lho...
Yups, filmpun dimulai. Hm, jujur, awal-awalnya nih film bagus lho... Nyantrinya kena banget. Apalagi beberapa lokasi syuting, kayak RS Dr. Yap itu aku familiar banget! Itu kan deket kostku waktu di Yogya. Trus, Rudi juga cerita kalo suasana kayak gitu mirip banget kayak si Dab, temennya nyantri trus keluar karena gak betah.
Kita sempet ketawa ngakak waktu si bencong menegur para santri untuk semangat maen rebana, waktu si bencong mendekati santri malem-malem, trus saat si kyai mo ML pake doa dulu, trus... Eits, kok adegan yang gitu-gitu aja ya yang menurutku lucu? Abis, siapa yang nyangka kan, di lingkungan yang kita kira agamis ternyata "nafsu" juga penting. Hee...
Trus, salut juga ma Dian Sastro yang ternyata bisa bergoyang. Dan aku juga harus ngakuin, Dian cantik banget waktu di adegan foto-foto di atas jembatan.
Tapi di luar itu, apalagi pas film udah berakhir, deg, duh... Kok nih film begitu ya? Banyak adegan yang jelek, yang aneh, yang gak nyambung! Adegan si Dian yang tiba-tiba nyium Nicholas itu jelek-aneh-dan gak nyambung sama sekali. Buat apa si Dian tiba-tiba nyium bibir Nicholas? Trus, langsung udah begitu aja... Tuh anak kan anak pesantren, diceritain merasa berdosa kek, ato gimana kek! Ini mah gak, ciuman, ya udah... Kayak udah biasa aja ciuman gitu...
Kehadiran Dian juga kayak numpang lewat. Sebel banget, kenapa si Nicholas harus berakhir nikah dengan anak Pak Kyai yang culun itu. Bener deh, nih film mo cerita tentang cinta, tapi dia gak memperjuangkan cinta sejatinya. Trus, nih film mo cerita tentang doa tapi doa apa yang dibuat eksklusif untuk jadi kebahagiaan di film ini? Sama sekali gak ada...
Akhirnya, aku dan Rudi pulang dengan kecewa, sambil mengkritik nih film gak digarap dengan serius, gak maksimal. Ceritanya terlalu banyak, tapi gak ada yang tuntas. Mana nyoba mengkait-kaitkan dengan kasus WTC, kasus Bom Bali 1 dan kasus Bom Bali 2. Maksudnya apa? Mo bilang kalo si Sahid (Yoga Bagus) itu adalah siluet dari pelaku Bom Bali or what??
Well, ketimbang sebel sampe rumah, akhirnya, kami pun mencoba menenangkan diri dengan membeli roti bakar keju. Hehehe...

Selasa, Desember 09, 2008

ORIGINS OF THE DA VINCI CODE, Perang Suci antara Fiksi dan Non Fiksi


Sejak awal pembuatannya, novel dan film The Da Vinci Code telah menuai kritik hebat. Ia perpaduan sempurna antara kontroversial dan hal yang sensitif, dibungkus dengan thriller dan alur cerita yang memikat. Untuk itu, Michael Bott juga mengeluarkan film dokumenter bertajuk Origins of The Da Vinci Code, sebagai penyeimbang nalar manusia antara sastra, seni dan agama, sekaligus sebagai perang suci antara fiksi dan non fiksi.

Setelah beredarnya novel The Da Vinci Code (DVC, 2003) karya Dan Brown yang penuh kontroversi, berbagai karya versi oposisinya bermunculan untuk meng-counter berbagai tulisan yang dianggap tidak sepenuhnya benar oleh beberapa pihak. Film Origins of The Da Vinci Code berupa dokumentasi perjalanan penulis Simon Cox ke beberapa tempat dan sumber yang menginspirasi Brown dalam novelnya itu menjadi salah satu pilihan.
Origins of The Da Vinci Code dibuat oleh Michael Boot dengan featuring Henry Lincoln, penulis buku “Holy Blood, Holy Grail”, dirilis pada 25 Oktober 2005 oleh Ryko Distribution. Film ini berisi fakta-fakta yang tidak ditampilkan secara penuh pada novel maupun film The Da Vinci Code yang dikatakan Brown sebagai karya yang telah didahului oleh riset dan penelitian. Namun tak pelak masih banyak pertanyaan yang kiranya muncul setelah orang-orang menonton The Da Vinci Code (2006), --Bener nggak ya kayak gitu?--, maka pada film ini sangat dimungkinkan semua pertanyaan itu akan terjawab.
Film ini dapat menjadi sumber pengekplorasian lebih dalam tentang seperangkat fenomena budaya sekaligus misteri yang terisolasi di desa puncak bukit, Rennes-le-Château. Tampaknya, Origins of the Da Vinci Code tercipta sebagai penuntun (guide) terjauh menuju kebenaran dan sejarah yang tersembunyi di balik The Da Vinci Code. Film ini juga memaparkan tentang perkembangan hipotesis The Holy Bloodline (Garis Keturunan Suci) sebelum novel Dan Brown dipublikasi, juga bagaimana Henry Lincoln menemukan kode-kodenya, penemuan the Rennes-le-Château geometry (ilmu ukur bidang), serta penemuan-penemuan baru yang mengejutkan tentang landscape geometry di seberang Pegunungan Pentacle, dan kebenaran luas tentang “Invisible Temple”.

Fiksi Vs Non Fiksi
Apa yang ditawarkan dalam Origins of The Da Vinci Code mencoba menjadi penyeimbang --membantah-- The Da Vinci Code, sekuel dari Angels and Demons (2000), yang menggabungkan gaya thriller detektif dan teori konspirasi. Adapun kisahnya sendiri terpusat pada usaha Robert Langdon, profesor ilmu tentang simbol agama di Universitas Harvard, untuk mengungkap terbunuhnya kurator terkenal Jacques Saunire di Museum Louvre, Paris. Posisinya saat terbunuh seperti posisi dalam lukisan terkenal Leonardo Da Vinci, Manusia Vitruvia, telanjang dan mengepakkan tangan seperti elang. The Da Vinci Code menjadi kontroversi karena menyinggung banyak hal seperti Piala Suci (Holy Grail) yang digunakan Yesus dalam Jamuan Terakhir, peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, komunitas rahasia Priory of Sion, organisasi Katolik Roma Opus Dei (Latin: Karya Tuhan) yang didirikan oleh Santo Josemari Escriv pada 2 Oktober 1928, sampai keturunan Yesus yang masih hidup di Paris.
Menjadi kontroversi mungkin sebuah harapan dari orang-orang yang ada dibalik layar The Da Vinci Code yang merupakan gabungan antara sastra, pemahaman seni, dan baluran keyakinan agama yang penuh misteri. Selain Vatikan, sejumlah profesor dan pakar teologi pun geram dengan film dan novel tersebut. Namun aksi penolakan mereka tidak sebatas pengecaman berupa pelarangan untuk mengkonsumsi The Da Vinci Code namun juga usaha kreatif. Kehadiran film ini misalnya, dan masih banyak film tandingan yang lain, seperti The Way oleh Opus Dei, pembuatan situs Da Vinci Outreach, kehadiran buku The Da Vinci Code Decoded, dan lain-lain. Namun harus diakui bahkan kehadiran film dokumenter, Origins of The Da Vinci Code, ini pun seolah tenggelam dalam rasa penasaran penonton yang berbondong-bondong ingin membaca novel Brown ataupun melihat film yang disutradarai oleh Ron Howard dan dibintangi Tom Hanks tersebut.
Wajar bila The Da Vinci Code lebih menarik perhatian karena ia dipaparkan secara fiksi yang apik, ketimbang dokumenter atau non fiksi yang seolah bahan kuliah di kampus yang seringnya terkesan menggurui dan kaku. Sejak awal Studio Sony Pictures yang memproduksi film The Da Vinci Code, Jim Kennedy mengatakan bahwa film itu adalah kisah fiksi bukan kisah berpesan agama dan jelas tidak dimaksud mengkritik grup manapun. Namun tak pelak hal ini juga tampaknya yang akan membangkitkan daya nalar umat Kristiani itu sendiri dalam mencari kebenaran ajaran agamanya, dan Origins of The Da Vinci Code mencoba membantunya. (Nee-tha)

Profil Film 'Origins the Da Vinci Code'Released : Oct 25, 2005
Release Company : Ryko Distribution
Runtime : 80 minutes + 90 minutes bonus footage
Category : Documentary Movies, Docudrama Movies, Education Movies, Religion
Movies, Media Arts Movies, Based On A True Story Movies, France Movies,
Religious Beliefs Movies
Director : Michael Bott
Featured : Henry Lincoln.

Menilai Etika Komunikasi pada Setting Film “Wag the Dog”

Sinopsis
Ketika minggu-minggu kampanye pemilu presiden hampir berakhir, Presiden Amerika Serikat terlibat pada sebuah skandal seks, itulah waktu yang tepat bagi penasehat Gedung Putih, RONNIE BREAN (Robert de Niro) untuk menutupinya. Dalam waktu yang singkat, Ronnie bekerja sama dengan seorang produser Hollywood berdarah dingin, STANLEY MOSS (Dustin Hoffman) dalam keputusasaan mereka berusaha agar perhatian warga negara Amerika Serikat teralih dari skandal seks sang presiden.
Mereka memutuskan untuk menyedot sorotan media ke sebuah berita perang yang direkayasa. Para artis “palsu” dipanggil untuk melakukan adegan selayaknya situasi sedang perang dan bintang rock pun dilibatkan untuk meluncurkan lagu hit mengenai kebebasan. Isu “perang” secara cepat menjadi perhatian dan warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya ricuh dengan skandal seks sang presiden, kini malah mendukung tindakan presidennya atas perang palsu tersebut.
Masalah datang ketika Senator WILLIAM TAYLOR (Craig T. Nelson) mulai menangkap keganjilan dari isu perang tersebut. Hal itu pun membuat Ronnie dan Stanley harus berpikir cepat untuk mengubah taktiknya dengan yang lebih nekat. Saat itu moral telah pergi entah kemana, diburu oleh perselisihan ego dan ketegangan yang semakin dekat dengan waktu pemilihan. Akhirnya, mereka berhasil melakukan tipu daya yang lebih kreatif dan licik tersebut yang mengakibatkan melonjaknya suara bagi sang presiden. Hingga pada detik terakhir, rekayasa tersebut tetap terpeti es dengan keironisan dibunuhnya sang produser oleh si penasehat Gedung Putih.

Pilihan Setting
Saat “Old Shoes” menjadi trend. Padahal tidak ada yang namanya perang, terlebih lagi prajurit yang tertawan yang kemudian dianalisir sebagai mahluk suci yang berjasa dalam menegakkan citra bangsa Amerika Serikat dalam melawan terorisme. Diceritakan bahwa rencana pertama Ronnie dan Stanley menjadi berantakan akibat dipecundangi oleh pihak CIA, sehingga mereka pun melanjutkan dengan rencana kedua yang lebih menyimpan kebohongan yang luar biasa, yakni memunculkan sosok pahlawan perang “palsu”.
Sosok pahlawan tersebut diumumkan sebagai “Old Shoes”. Lucunya, tokoh “Old Shoes” sendiri belum diketahui siapa dan apa pekerjaannya. Hingga diketahui faktanya, bila sang “Old Shoes” adalah narapidana kasus pemerkosaan. Dukungan warga negara yang meminta dipulangkannya “Old Shoes” menjadi berkah sendiri bagi perancang muslihat, Ronnie dan Stanley, saat “Old Shoes” tidak sengaja mati tertembak. Kebohongan pun menjadi sempurna karena “Old Shoes” mati yang kemudian diperlakukan seolah-olah memang sebagai pahlahwan bangsa.

Penilaian Etika Komunikasi
Sejak awal etika komunikasi/kehumasan yang digambarkan dalam film “Wag the Dog” ini sama sekali tidak ada. Padahal dalam dunia kehumasan, kredibilitas itu mutlak penting. Terlebih pada sosok seorang presiden, ia tidak hanya harus dipercaya oleh rakyatnya, tapi juga harus senantiasa mengemukakan segala sesuatu seperti apa adanya, sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Kebohongan dalam bentuk apapun tetap akan menjadi sisi gelap dalam kehidupan. Meski peristiwa “Old Shoes” ternyata mampu mendongkrak suara sang presiden dan berhasil membawanya kembali ke kursi kekuasaannya.
Peristiwa “Old Shoes” sangat dekat dengan propaganda dan memang memaksakan ide-ide tertentu —sosial dan politik—kepada masyarakat. Ia pun tidak menunjuk pada perbaikan citra atau image sang presiden, namun jauh ke manipulasi calon pemilih untuk kembali memberikan suaranya. Padahal dalam dunia humas, kita bertanggung jawab untuk menyajikan informasi faktual secara akurat, tanpa pengurangan atau penambahan. Para penerima informasi itulah yang kemudian berhak menentukan sikap atau memberi komentar terhadapnya.
Oleh karena itu, seandainya saja pihak majikan (dalam film “Wag the Dog” adalah Presiden AS) meminta para praktisi humas (dalam film “Wag the Dog” adalah tim kampanyenya) untuk melakukan sesuatu yang tidak etis, mereka harus mau dan mampu menolaknya karena hal itu jelas bertentangan dengan kode etik profesional yang harus mereka anut dan junjung tinggi. Meski dalam buku Public Relations – Frank Jefkins (Hal.165-Erlangga-2002) pun dikatakan “Kode etik IPRA memang punya permen karet untuk dikunyah, tapi tidak memiliki gigi untuk mengunyahnya.” Artinya, selama pelanggaran etika tersebut tidak diketahui oleh publik meskipun sudah ada kode etiknya, tetap saja akan cenderung diabaikan karena sampai sejauh ini belum ada tindak pelanggaran yang dikenai sanksi nyata.
Kesimpulannya, dari film “Wag the Dog” yang ditonton sebagai salah satu cara pemahaman mahasiswa D-3 Public Relations tentang etika kehumasan, dapat diasumsikan bahwa sangat sulit bagi praktisi PR dalam bertindak “benar” pada tugasnya. “Benar” disini, bila dikaitkan antara moral dan kepentingan pihak yang memberikan salary bagi praktisi PR tersebut. Nilai sebuah keidealisan yang seharusnya dapat dijunjung tinggi menjadi hilang seketika saat perusahaan pun tengah menghadapi peristiwa genting (manajemen krisis) yang harus segera diselamatkan meski dengan cara apapun.
Ada tujuh hal yang seharusnya dapat diterapkan dalam etika komunikasi/kehumasan dalam peristiwa “Old Shoes” film “Wag the Dog”, yakni :
1) Integritas Komunikasi; Tim kampanye harus senantiasa berusaha keras untuk tidak menerbitkan suatu informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.
2) Kerahasiaan Informasi; Setiap anggota wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diterima atau dipercayakan kepadanya selama melangsungkan kegiatan-kegiatan profesionalnya, sehingga ia tidak sepantasnya menerbitkan, menyebarluaskan, atau membuka informasi tersebut, kecuali atas perintah pengadilan.
3) Kerugian terhadap Anggota Lain; Masing-masing anggota tidak diperkenankan melakukan suatu hal yang dapat mencemarkan atau merugikan reputasi profesional dari anggota lainnya.
4) Reputasi Profesi; Tidak melakukan sesuatu hal yang semata-mata atas dasar kemauannya sendiri sehingga akan merusak reputasi Asosiasi atau nama baik dari praktek penyelenggaraan komunikasi-komunikasi yang bersifat internal di suatu perusahaan/organisasi (Gedung Putih).
5) Syarat-syarat Legal; Media komunikasi yang dimiliki sudah sesuai dengan persyaratan hukum yang berlaku.
6) Tindak Pelanggaran
7) Penegakan Kode Etik

(Tugas Mata Kuliah Etika Kehumasan, D3 Public Relations UGM, Tahun 2004)

Sabtu, Desember 06, 2008

Opini Publik Film "Mad City"

Film “Mad City” merupakan film yang menggambarkan betapa luar biasanya dampak dari sebuah opini publik. Versus antara opini pro dan kontra ternyata dapat dibangun dengan mudahnya oleh media massa. Max Brackett yang mengusahakan citra positif Sam Baily melawan Hollander yang mencoba menarik perhatian massa dari sisi negatif pada akhirnya harus mengaku kalah karena terjadinya peristiwa puncak, kematian Cliff Williams.
Kisah awal dimulai ketika Max Brackett (Dustin Hoffman), reporter KXBD News meliput tentang krisis anggaran di sebuah musium bersama rekannya Laurie (Mia Kirsner). Kebetulan saat berada di toilet, Max mengintip Sam Baily (John Travolta), satpam musium yang dipecat tengah menodongkan senjata kepada Ny. Banks (Blythe Danner), pengelola musium. Atas ide Max, peristiwa itu kemudian disiarkan secara langsung oleh stasiun televisinya. Terjadinya kecelakaan penembakan Cliff Williams (William Atherton), satpam musium makin membuat liputan Max menjadi heboh. Rencana awal Sam Baily yang hanya ingin berbicara pada Ny. Banks untuk mendapatkan pekerjaannya kembali berkembang menjadi aksi penyanderaan karena secara kebetulan juga pada hari itu ada kunjungan musium oleh beberapa anak sekolah dasar.
Max akhirnya bersimpati dan mencoba membantu Sam dalam menciptakan citra positif dirinya. Max melakukan wawancara eksklusif dengan Sam lewat izin Chief Lemke (Ted Levine) dan Lou Potts (Robert Prosky) redaksi KXBD Nesw Madeline, California yang menceritakan siapa Sam sebenarnya. Berdasarkan polling opini publik, wawancara itu menyebabkan 59% warga Amerika berpihak pada Sam. Pemekaran masalah kemudian terjadi di sana-sini, opini publik pun rentan berubah. Kedatangan Hollander (Alan Alda), pembaca berita saingan Max pun membuat keadaan berbalik. Isu rasial dimunculkan, akibatnya Sam terdesak. Kematian Cliff setelah 3 hari penyanderaan berlangsung membuat Sam kalah total. Ia harus menyudahi aksinya dan menyerahkan diri. Namun, Sam tidak kuasa menghadapi publik dan akhirnya melakukan aksi bunuh diri dengan dinamit.

Dialog Max Bracket kepada Sam Baily Tentang Pembentukan Opini Publik :
“Aku tak bilang kau gila. Kau hanya orang awam yang hilang kesabaran. Tapi kau harus bisa berhubungan dengan mereka. Mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan. Atau mereka tahu orang yang pernah kehilangan pekerjaan. Mereka akan mengerti jika kau beri mereka kesempatan untuk itu. Satu hal yang mungkin mau kau lakukan sebelum menyerah adalah memberi tahu orang siapa kau sebenarnya. Caranya, jika aku menayangkan gambarmu dan mewawancaraimu dan kau menceritakan kejadian yang sebenarnya kukira mereka ingin tahu. Kelompok jurimu di luar sana.”
Pernyataan Menarik Dalam Film “Mad City” :
- Max Brackett, Reporter KXBD News, “Dengan tidak membawa kamera kita tak bisa membuat liputan yang takkan bisa dibuat orang lain. Kita harus putuskan untuk ikut menjadi bagian dari berita atau merekam beritanya.”
- Sam Baily, penyandera, “Banyak hal yang ingin dikatakan : tentang mabuk sehingga terlambat masuk kerja esok harinya, dinosaurus yang salah peletakannya, tapi bukan itu yang penting. Yang penting untuk dikatakan : Ny. Banks bilang, “Kita punya 2 satpam, kita tak membutuhkan mereka karena anggaran dikurangi. Kita hanya butuh satu, jadi Cliff, yang lebih lama kerja di sini dan dia, kau tahu..” Lalu kubilang, “Baiklah, tak apa-apa. Kurangi saja gajiku atau jam kerjaku.” Tapi ia tak mau mendengarkan.”
- Ny. Banks, pengelola musium, “Kau pernah terpikir bahwa aku menghadapi masalah yang jauh lebih besar dari masalah keuangan pribadimu? Bahwa tugasku adalah mengelola musium bukan karir pegawaiku? Kau hanya ingin segalanya sesuai keinginanmu.”
- Hollander, “Aku tidak mau menyampaikan berita yang tidak aku ketahui.”

Proses Editing Pembentukan Opini Publik :
Sam Baily’s Former Principal mengatakan : “Ia bukan murid yang pandai. Kuyakin kau akan menemukan orang yang bilang kami gagal mengajar Sam Baily. Sistem pendidikan tak dibuat untuk menyelamatkan orang seperti dia. Tapi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas situasi ini adalah Sam Baily.”
Diubah Max Brackett menjadi : “Kami gagal mendidik Sam Baily. Sistem pendidikan tak dibuat untuk menyelamatkan orang seperti dia.”

(Tugas Mata Kuliah Opini Publik, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Persepsi Pribadi Atas Wacana Narkotika di Film "Traffic"

PENGERTIAN PERSEPSI
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Sehingga hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderati, 1976:129)
Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. David Krech dan Richard S. Crutchfield (1977:235) menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural. Selain itu, faktor lain yang sangat mempengaruhi persepsi adalah perhatian. Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen, 1972:46). Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra kita, dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra yang lain.
A.1. Faktor-Faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang pertama: Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Mereka memberikan contoh pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi.
A.2. Faktor-Faktor Struktural yang Menentukan Persepsi
Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Hal ini memunculkan Teori Gestalt yang bila kita mempersepsi sesuatu itu secara keseluruhan.
Persepsi kedua: Medan Perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
Persepsi ketiga: Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Hal ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.

PERSEPSI ATAS MEDIA FILM
Film adalah salah satu media yang dapat memunculkan persepsi atas tiap individu yang menontonnya. Dengan menonton film individu melihat sebuah rangkaian gambar yang diatur sedemikian rupa sehingga memunculkan sebuah cerita dengan berbagai adegan yang terdiri dari berbagai konflik, peredaman, dan akhir yang menimbulkan persepsi tersendiri.
Bila dihubungi dengan film “Traffic” yang diproduksi original oleh Carnival Films untuk Channel 4 Television (U.K.) ini merupakan film menarik yang bercerita tentang narkotika, umumnya individu akan memiliki persepsi yang berbeda. Karena gambaran yang diberikan pada film ini cukup kompleks. Ia menyajikan tidak hanya dari satu pihak saja, namun banyak pihak. Seperti pengedar (kartel Juarez oleh Porfio Madrigal dan Obregon bersaudara), pihak berwenang (polisi), penegak hukum, pemerintah, pusat rehabilitasi, masyarakat umum, dan pihak sekolah.

BIODATA FILM
A Bedford Falls/Laura Bickford Production
An Initial Entertainment Group Presentation In association with USA Film
Executive Producers : Richard Solomon, Mike Newell, Cameron Jones, Graham King, Andreas Klein
Based on “Traffic” created by Simon Moore
Originally produced by Carnival Films for Channel 4 Television (U.K.)
Directed : Steven Soderbergh
Screenplay by Stephen Gaghan
Produced by Edward Zwick, Marshall Herskovitz, Laura Bickford
Photographed by Peter Andrews
Edited by Stephen Mirrione
Production Design by Philip Messina
Costume Design by Louise Frogley
Music by Cliff Martinez
Casting by Debra Zane C.S.A.

PERSEPSI TERHADAP ISI FILM “TRAFFIC”
Film “Traffic” mengungkapkan bila suatu bisnis narkotika itu tidak hanya melibatkan suatu pihak tertentu. Rangkaiannya menarik setiap elemen masyarakat untuk ikut dalam lingkaran hitam itu. Baik itu, pengedarnya, pemberi izin ilegal, juga penggunanya. Tak ada yang dapat menduga bila peredaran narkoba ternyata dilakoni oleh pebisnis besar yang dari luar terlihat bersih bahkan mendukung untuk menghancurkan narkoba.
Dari film “Traffic” diceritakan tentang peredaran narkoba yang terjadi di dua negara, Amerika Serikat dan Mexico. Keduanya ternyata memiliki keterkaitan secara langsung. Awal cerita digambarkan tentang penyergapan sebuah truk oleh Javier Rodriguez (Benicio Del Toro) bersama sahabat karibnya Manolo Sanches (Jacob Vargas) yang ternyata membawa sejumlah narkoba yang dikelola oleh salah satu kartel besar di Mexico, Juarez-Scorpion. Namun, kemudian muncul Jenderal Salazar yang lebih memiliki kekuatan untuk mengambil alih penyergapan itu. Jenderal Salazar (Tomas Milian) ini, berikutnya dinobatkan sebagai tsar narkotika Mexico. Namun pada akhirnya dia disuntik mati karena ternyata diketahui mendukung salah satu kartel lain, yakni Tijuana untuk mengedarkan narkotika di Mexico. Namun hal inipun dilakukan oleh Javier Rodriguez yang semula mendukung Jenderal Salazar lantaran ia dikhianati. Sahabatnya, Manolo Sanchez dibunuh di hadapannya oleh kaki tangan Jenderal Salazar lantaran ingin membocorkan kebusukan Jenderal Salazar kepada Agen DEA.
Dari pihak Amerika Serikat, tsar narkotika yang dipilih adalah Robert Hudson Wakefield (Michael Douglas). Ia seorang pejabat pemerintahan yang bersih, dan selalu berusaha memerangi narkotika. Namun, di sisi lain, putri tunggalnya, Caroline Wakefield (Erika Christensen) ternyata seorang pengguna narkotika bersama teman-teman sekolahnya. Ia yang awalnya bersikukuh untuk menganggap kotor setiap elemen yang ada dalam lingkaran hitam narkotika, tidak dapat membohongi hati nuraninya. Bila ia memerangi narkotika, tak ayal akan banyak individu yang memerangi keluarganya sendiri, termasuk ia sendiri. Hal ini sangat sulit dimengerti, bahwa ternyata keberadaan narkotika itu benar-benar licin. Ia tidak melihat siapa. Bahkan Caroline yang dimaksud, merupakan pelajar teladan di sekolahnya. Pada akhirnya, Robert memilih untuk mengundurkan diri dari penokohan dirinya sebagai tsar narkotika Amerika Serikat dan lebih memilih untuk ikut serta dalam pemulihan kondisi putrinya agar kembali hidup normal dengan keluarga yang saling peduli.
Di sisi lain, dimunculkan tokoh Helena Ayala yang diperankan oleh Catherine Zeta-Jones yang awalnya sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik-baik namun kemudian menjadi berwatak buruk lantaran menginginkan suaminya, Carlos Ayala (Steven Bauer) dibebaskan dari penjara. Hidup orang yang terbiasa mewah dan serba ada itu tidak akan bisa terbiasa untuk hidup dengan kekurangan. Meskipun ia menyadari bahwa uang yang ia peroleh untuk kemewahan itu tidak benar. Digambarkan bahwa manusia itu selalu merasa aman dengan adanya uang yang cukup untuk memuaskan hidupnya. Tanpa itu, meskipun terpaksa, apapun akan dilakukan. Meski diceritakan pula Helena tengah mengandung 6 bulan dan telah mempunyai anak, David Ayala (Alec Roberts).
Padahal sesungguhnya, suami Helena, yakni Carl Ayala, adalah benar seorang pebisnis yang memberikan jalan agar narkotika dapat terus beredar di Amerika Serikat dan Mexico. Namun, ia memperoleh kebebasan lantaran saksi yang akan memberatkannya, Eduardo Ruiz (Miguel Ferrer) dari kartel Juarez mati diracun atas permintaan Helena kepada kartel Obregon bersaudara, Juan Obregon dan Pablo Obregon. Saat Carl telah dibebaskan, ia bahkan dengan mudah membunuh rekan sekerjanya, dan tetap menjalankan proyek narkotika terbarunya, yakni Proyek Boneka Anak yang ternyata wujud narkotika itu dipadatkan dan dibentuk seperti boneka tanpa dapat dideteksi baunya, bahkan oleh seekor anjing pelacak narkotika pun.
Di pihak lain, diceritakan tentang dua orang polisi narkotika Amerika Serikat yang selama Carlos Ayala masih dalam status terdakwa, bertugas untuk mengawasi Helena Ayala dan melindungi saksi penting, Eduardo Ruiz. Dengan berbagai konflik, salah satu polisi itu akhirnya mati karena masuk dalam mobil yang telah dipasangi bom. Akhir yang menggantung, namun sepertinya ada gambaran bila akhirnya Carlos Ayala akan tertangkap, karena polisi yang masih hidup itu telah menaruh alat penyadap di meja kerja Carl Ayala saat Carl Ayala akan melakukan pesta kebun atas kebebasan dirinya.
Secara keseluruhan, dari segi sinematografi film, film “Traffic” ini sudah cukup baik dalam pengemasan ceritanya. Namun, butuh berulang kali menontonnya agar lebih memahami jalan ceritanya. Saya pribadi bahkan perlu menontonnya sebanyak 3 kali baru kemudian sangat mengerti apa yang terjadi. Bila awalnya, saya berpersepsi ganda bahkan tidak teratur, pada akhirnya malah setuju bila film “Traffic” ini sangat sistematis dan detil dalam memaparkan apa yang terjadi. Namun tentu saja, ada bagian-bagian yang dipersingkat karena banyaknya aspek yang diangkat.
Dari segi kemanusiaan, isi film “Traffic” ini menurut persepsi saya sangat manusiawi. Semua digambarkan mirip seperti kenyataan. Namun, semenariknya dan senikmat-nikmatnya penggambaran tentang orang yang menggunakan narkotika, saya tidak akan pernah tertarik untuk menggunakannya. Lebih baik beli es teler 77 atau ayam goreng Mbok Berek yang terjamin halal dan mengenyangkan. Bila dikaitkan dengan pribadi saya yang dinilai banyak teman sebagai sosok yang idealis, menurut saya narkotika hanyalah pelarian orang-orang yang kelebihan uang. Narkotika hanya untuk mereka yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan hidup dengan jalan yang kreatif, iman, dan ilmiah. Narkotika no, Psikologi Komunikasi yes!

KESIMPULAN
Persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sehingga, bila melihat film “Traffic”, persepsi yang dapat ditangkap adalah : kita tidak hanya mendapatkan pengalaman tentang film “Traffic” itu sendiri, tapi juga pengalaman bagaimana cara, alasan, serta tujuan mengapa kita menontonnya.
Cara saya mendapatkan, yakni dengan menyewa VCD Original “Traffic” Video Rental Chainshop “Odiva” yang terletak di lantai II KFC depan Mirota Kampus dengan harga Rp 4.000,- dan masa peminjaman selama 5 hari. Saya menontonnya dengan menggunakan fasilitas komputer, yakni CD Room, dengan meluangkan waktu sekitar 4 jam untuk konsentrasi memperhatikan jalan cerita dari film “Traffic” itu sendiri.
Cukup dikalikan bila akhirnya saya harus menontonnya sebanyak 3 kali untuk memahami benar isi film tersebut agar berdampak pada hasil tulisan yang akan dikumpulkan menjadi tugas Mata Kuliah “Psikologi Komunikasi”. Namun, meskipun demikian, sedikitpun saya tidak merasa rugi karena film “Traffic” benar-benar memberikan pesan yang penting.
Pesan yang dapat saya tangkap, yakni pemahaman bahwa dalam setiap individu itu pasti memiliki unsur dan motif yang berbeda karena adanya pengaruh dari luar manusia itu sendiri sehingga menyebabkan ia berpersepsi dan berperilaku yang sesuai ataupun yang tidak sesuai dari prinsip kebenaran. Bahkan kadang terjadi sekalipun ia tahu bahwa tindakannya itu salah, melanggar norma, bertentangan dengan kelaziman, namun ia tetap bertindak yang tidak sesuai dengan nuraninya sendiri akibat keadaan yang memaksanya demikian. ***

(Tugas Mata Kuliah Psikologi Komunikasi, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menganalisa Sosiologi Komunikasi dari Film "Erin Brockovich"

Global isi cerita film
Film yang diambil dari kisah nyata yang berjudul “Erin Brockovich” ini menceritakan tentang perjuangan seorang janda beranak tiga dalam membela hak warga Hinkley yang secara tersembunyi telah mengalami keracunan Chromium Hexavalent 0,58 bagian per milium dari sebuah perusahaan elektrik besar seharga $ 28 milyar, PG & E. Chromium yang bermanfaat untuk mengurangi karat pabrik lewat air tanah ini telah mengkontaminasi air yang dipergunakan sebagai kebutuhan hidup 300 orang warga Hinkley sehari-hari. Akibatnya hampir seluruh warga menderita pusing, kanker, tulang kropos, keguguran, infeksi pernapasan, dan lain-lain, meski kenyataan itu memang baru bisa dilihat 1 tahun kemudian.
Erin Brockovich, awalnya adalah seorang pengangguran yang bekerja di sebuah firma hukum kecil milik Ed Masry. Suatu ketika saat ia memeriksa file kantornya, tak sengaja ia menemukan kejanggalan dari klaim milik Donna Jensen kepada PG & E. Klaim yang sebenarnya hanya penolakan untuk menjual tanah & rumah itu turut pula disertai dengan daftar pemeriksaan kesehatan Donna Jensen. Atas dasar itulah, Erin Brockovich kemudian mulai menyelidikinya. Selama hampir 2 tahun ia bekerja keras dengan caranya yang khas dan melewati berbagai hambatan dan masalah, akhirnya ia memenangkan kasus terbesar di Amerika Serikat, yakni 333 juta dollar, ia sendiri mendapatkan 2 juta dollar ditambah bonus yang lain.

Karakter pemeran utamanya
Erin Brockovich yang dimainkan oleh Julia Roberts ini berkarakter kuat, selalu bertindak berdasarkan intuisi dan keyakinannya, pantang menyerah, berani menghadapi resiko, keras, pintar bergaul, cepat memahami suatu permasalahan, jiwa sosialnya tinggi, dan selalu mengeluarkan sikap dan tindakan yang sesuai dengan nuraninya saat itu. Meski cenderung brutal (ucapannya kadang tidak sopan, pakaiannya sexy), di lain sisi ia pun memiliki semacam koin keberuntungan dalam menghadapi problematika hidupnya.

Cara pemeran utama menjalin komunikasi dengan lawan bicara
Erin Brockovich sangat baik dalam menjalin komunikasi dengan lawan bicaranya. Ia selalu berusaha untuk tidak mengenal kulit luarnya saja akan tetapi juga berusaha untuk menyelami pribadi orang lain sehingga orang lain tersebut merasa dihargai atau malah sebaliknya, dilecehkan. Sehingga dalam prakteknya ia bisa bersikap dalam berbagai tindakan. Ia menjadi baik dan mengikuti norma bila berhadapan dengan orang yang dibela dan membelanya, namun ia pun bisa menjadi temperamental saat berhadapan dengan orang yang ingin menjatuhkannya. Sehingga dengan kata lain, ia berkomunikasi dan kemudian melakukan tindakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Konteks komunikasi
Bila Erin Brockovich berhadapan dengan 1 orang, ia dapat berbicara lebih dekat sehingga mengena dalam hati lawan bicaranya. Misalnya, saat berbicara dengan atasan sekaligus partnernya, Ed Masry. Saat ia tersinggung dengan adanya pengacara “hebat” menyusup di dalam kasusnya, ia langsung menyatakan keberatannya. Ed Masry otomatis langsung memahami keinginan Erin. Begitu pula saat Erin berhadapan satu persatu dengan warga Hinkley, secara tidak langsung ia turut menggunakan perasaanya dalam berkomunikasi.
Di dalam kelompok, Erin lebih bersikap wajar karena di dalam kelompok meski memiliki tujuan yang sama namun karakter personalnya tidak demikian. Maka, Erin cenderung mengurangi emosionalnya dan bersikap umum sebagaimana biasanya.
Berhadapan dengan orang banyak, Erin lebih bersikap netral. Ia hanya berusaha mengungkapkan pendapatnya, namun cenderung tidak ngotot untuk memenangkannya. Ia lebih banyak membiarkan orang lain untuk memiliki pandangan sendiri-sendiri, meski pada dasarnya ia tetap ingin orang-orang tersebut memahami keinginannya.

Pesan utama film
Pesan utama film ini banyak berkaitan dengan bagaimana kita menjalin komunikasi dengan orang lain. Tidak semua orang mendapat perlakuan komunikasi yang sama. Kita harus memahami situasi dan kondisi yang dihadapi. Bila tidak, kegagalan komunikasi bisa saja terjadi dan hal itu akan merugikan diri kita pribadi.

Menyebutkan 5 pemain dan menunjukkan masing-masing persepsi mereka tentang konflik yang mereka hadapi
Erin Brockovich, Ed Masry, George, Donna Jensen, dan pengacara PG & E.
o Erin Brockovich adalah seseorang yang amatiran, meski demikian ia mampu menjalankan perannya dengan baik karena semata-mata ia memiliki persepsi bila ia harus melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Karena ia pemeran utama, maka konflik yang ia hadapi cukup banyak, yakni dengan anak-anaknya, pacarnya, partnernya, rekan sekantornya, warga Hinkley (kliennya), musuhnya (pengacara PG & E). Secara garis besar, Erin memiliki pandangan yang positif terhadap konflik yang ia hadapi.
o Ed Masry, seorang pengacara yang telah berjuang membangun firma hukum selama 15 tahun ini, cenderung lebih banyak melakukan pertimbangan dalam memenangkan kasus Hankley. Ia berusaha untuk melakukan tindakan rasional, tidak hanya menggunakan intuisi seperti Erin. Hal inilah yang mendasari ia melakukan kerjasama dengan pengacara “hebat” dari luar.
o George, tetangga Erin yang maniak Harley Davidson ini juga bertindak sebagai pacar bagi Erin dan pengasuh bagi anak-anak Erin. Meski hubungan romantika mereka tidak bersatu, namun mereka tetap menjalin komunikasi dengan baik. Konflik George lebih ditekankan pada keputus-asaannya dalam menghadapi kesibukan Erin.
o Donna Jensen, salah satu warga Hinkley yang menderita kanker payudara dan rahim ini, banyak memberikan dukungan pada Erin untuk terus berjuang dalam memenangkan kasus Hinkley. Ia berkeinginan kuat untuk mencoba mengambil apa yang sudah menjadi haknya dari perusahaan PG & E, yakni jaminan hidup layak.
o Pengacara PG & E, menunjukkan persepsi bahwa apa yang diinginkan Erin & warga Hinkley berada di luar batas karena jumlah yang dituntut sangat besar. Namun ditunjukkan pula, meski membela nama perusahaannya dan menyanggah setiap bukti yang menyudutkan mereka, para pengacara itu pun tidak mau mengambil resiko saat Erin dengan lugasnya mengatakan bahwa minuman yang ia sediakan untuk para pengacara itu diambil dari Hinkley.

Menjelaskan bagaimana pengertian dijalin diantara 5 pemain tadi
George meski awalnya meminta Erin untuk berhenti dari kesibukan dan lebih memfokuskan diri pada anak-anaknya, namun akhirnya bisa memahami Erin setelah diberi pengertian bahwa Erin tidak akan mungkin melepaskan kesibukannya itu, sesuatu dimana ia merasa dihargai pertama kalinya, serta Erin pun merasa bahwa anak-anaknya suatu hari akan memahami dengan apa yang ia lakukan.
Erin pun sempat mengalami stagnasi dan keraguan, namun atas dorongan tidak langsung dari Donna Jensen, saat Donna menangis karena rahim dan payudaranya harus diangkat karena kanker yang dideritanya, Erin kembali berjuang keras untuk memenangkan kasusnya.
Ed Masry dan Erin terus melakukan negosiasi dengan pihak pengacara PG & E, meski harus melewati berbagai ketegangan urat syaraf namun akhirnya pihak pengacara itu dapat memahami meski mereka lakukan dengan berat hati.
Pengertian diantara mereka dilakukan dengan melakukan komunikasi yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan yang mendukung komunikasi yang telah mereka lakukan sebelumnya. * * *

(Tugas Mata Kuliah Sosiologi Komunikasi, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menganalisa Unsur Film "Josie and The Pussycats"

Film ini diangkat dari salah satu komik terkenal Amerika, ARCHIE Comics. Meski demikian ia hanya sebatas karakter watak dan pola alur cerita yang meremaja dan berunsur komedi yang unik. Film yang umumnya dimainkan oleh para artis muda Hollywood ini cukup mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam berakting.
Film yang bernuansa remaja ini bercerita tentang perjalanan karir sebuah band dari kota Riverdale, Pussycats yang naik super sangat cepat lantaran diolah oleh label rekaman MegaRecords yang ternyata punya kedok dibalik itu.
Awalnya Pussycats, grup band yang beranggotakan tiga orang cewek; Josie, Melody dan Val cuma bisa manggung di tempat permainan bowling, tanpa seorang pun yang mau memperhatikan permainan musik mereka. Bahkan mereka diejek oleh para remaja di sekitar mereka yang sangat menggandrungi Dujour, grup band di bawah label MegaRecords sebelumnya. Hingga di tengah menghilangnya band terkenal Dujour secara misterius, Pussycats dikontrak oleh Wyatt Frame, tangan kanannya direktur MegaRecords.
Di bawah MegaRecords, Pussycats yang kemudian berganti nama jadi Josie and the Pussycats hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menduduki posisi 1 tangga lagu MTV. Meski sempat curiga, namun karena terlalu senang mereka jadi tidak ambil pusing dengan keanehan itu.
Ternyata ada kejahatan terselubung yang dilakukan oleh MegaRecords terhadap musisi yang mereka kontrak. Dujour dan Josie and the Pussycats dijadikan alat sebagai iklan TV raksasa. Dengan merekam lagu Jossie and the Pussycats melalui sebuah prosesor canggih Megasound 8000, jaringan musik itu juga dimasuki suara Mr. Moviefone yang mengajak para generasi muda Amerika untuk terhipnotis dalam trend terkini.
Di bawah perintah Fiona, Direktur MegaRecords, Mr. Moviefone melakukan proses cuci otak bagi generasi muda Amerika. Hingga setiap orang yang mendengarkan musik Josie and the Pussycats disamping akan tergila-gila dengan Josie and the Pussycats, otomatis mereka juga terobsesi untuk membeli segala macam barang yang diiklankan secara terselubung itu. Dimulai dari barang berupa baju, sepatu, minuman, snack hingga warna favorit dan bahasa gaul.
Hingga akhirnya kebusukan itu terkuak, Fiona dan Wyatt pun ditangkap atas tuduhan bersekongkol melawan generasi muda Amerika oleh Agen Federal yang sebenarnya juga terlibat di dalamnya. Rupanya Fiona melakukan itu lantaran masa lalunya yang memalukan. Ia selalu diolok sebagai Lisa cadel dan bergigi hitam. Ternyata Wyatt pun mempunyai masa lalu yang serupa, bahkan mereka satu sekolah di SMU Huntington. Wyatt sendiri diolok sebagai Wally pantat putih karena ia albino. Sisi positifnya, Fiona dan Wyatt lalu menjadi pasangan aneh yang saling menyukai.
Josie and the Pussycats sendiri kemudian melakukan konser di atas panggung dengan jumlah pengikut yang super besar. Meski sebelumnya para penonton itu hadir karena pengaruh dari Megasound 8000, mereka tetap menyukai musik yang ditampilkan oleh Josie and the Pussycats. Tentu saja itu tanpa bantuan Megasound 8000 plus Headphone Josie 3DX yang hancur lantaran tidak sengaja dipukul Fiona dengan gitar.
Di dalam film ini cukup bertaburan sejumlah merk terkenal, seperti Revlon, Target, Mc Donals, Adidas, Puma, dan lain-lain. Juga para orang terkenal Amerika seperi Mike Tyson, Spice Girls, Christina Aguilera, TLC, Eddie Murphy, Bill Cosby bahkan Chris Rock yang ikut muncul dalam pengucapan dialog. Bisa dikatakan film ini sangat kaya akan nuansa Amerika yang serba modern dan gila penampilan.
Uniknya, moral cerita yang disampaikan film ini dikatakan sendiri oleh salah satu pemainnya, yakni Alexander Cabot III. Ia mengatakan bahwa, “Moral cerita fil ini adalah kita harus bahagia dengan diri kita apa adanya. Selama ini kita habiskan uang untuk pakaian mahal demi mengesankan orang. Aku tak pernah bahagia. Bahagia ada di dalam diri. Aku bukan ini. Aku bukan apa yang kupakai.” Meski selanjutnya, ia membuka seluruh pakaiannya, dan kembali konyol lagi.

A. Ide Cerita
Ide cerita film “JOSIE and the PUSSYCATS” muncul dari fenomena musik pop yang sangat digandrungi remaja saat ini, khususnya para remaja yang berada di Amerika, yang umumnya juga cenderung terjebak dalam trend mode. Dalam film ini kedua fenomena itupun digabung. Di samping mengandrungi satu band musik tertentu, dengan mendengarkan lagu band itu para remaja itu pun terpengaruh untuk membeli merk-merk dagang tertentu.
Ide cerita film ini fiksi belaka. Namun, ide karakter para pemerannya disadur dari ARCHIE Comics.

B. Skenario
Skenario film ini boleh dikatakan cukup bagus. Penulis skenario mampu membuat pemahaman yang memadai mengenai materi pesan yang akan disampaikan. Meski diikuti kekonyolan yang luar biasa, film ini disertai juga dengan pengetahuan yang kuat mengenai teknik-teknik atau bahasa film yang memadai.

C. Sutradara
Film ini disutradarai oleh tiga orang sekaligus, yaitu Kenneth Edmons, Michael Silberkleit, Richard Goldwater dengan Grace Gilroy sebagai Co-Producer.

D. Pemeranan (Aktor/Aktris)
Film ini cenderung bertipe Interpretor atau Komentor. Tipe yang karakter pemainnya mirip dengan dirinya sendiri. Film remaja Amerika memang sering mirip dengan kenyataan.
Misalnya, Rachael Leigh Cook yang berperan sebagai Josie McCoy memiliki karakter yang kuat dan cerdas, juga Tara Reid sebagai Melody Valentin yang manja dan kekanak-kanakan, ataupun Rosario Dawson sebagai Valerie Brown yang perasa dan merasa didisriminasi lantaran ia kulit hitam.

E. Tata Artistik
Tata artistik film ini sangat menarik. Teknik pengambilan gambar dilakukan sempurna dengan menjaga estetikanya. Kostum pemain dibuat se-real mungkin dengan fakta yang ada. Misalnya bila sebuah band harus memiliki ciri khas, maka film ini sangat mendukung hal itu.

F. Sinematografi
Sinematografi yang diartikan sebagai seluruh hal yang berkaitan dengan gambar sebagai unsur visual, bila dikaitkan dengan analisa film “JOSIE and the PUSSYCATS” maka boleh dikatakan cukup baik.
Ada banyak bagian yang disyuting secara beda. Hal ini menciptakan variasi yang sangat kreatif. Misalnya saja, ada gambar menyorot kota secara tiga dimensi, ada gambar yang terdiri dari dua situasi yang ada dalam waktu yang sama tapi tempat yang berbeda, ada pula gambar seperti video klip, dan masih banyak variasi yang lain.

G. Editing
Secara keseluruhan proses editing film ini juga cukup baik.

H. Tata Suara
Selain suara dialog pemain, tata suara film ini juga memperhatikan musik dan lagu yang dinyanyikan. Sejumlah lagu pop yang ada dalam ini bukanlah lagu yang disadur dari penyanyi tertentu. Meski demikian, seluruh lagu itu terdengar sangat harmoni. Contoh tata suara yang juga terdapat dalam film ini, seperti suara pesawat yang melaju, suara shower yang hidup, bahkan suasana konser yang bergemuruh.

I. Visual Efek
Banyak bagian dari film ini yang menggunakan visual efek, hasilnya ia makin mempercantik gambar.

Secara keseluruhan, menurut saya film ini sangat bagus. Baik dari segi cerita, segi sinematografi, maupun kekonyolannya. Pesasa film ini sangat baik bagi remaja agar tidak terjebak dalam trend mode. Mereka diharapkan mampu menunjukkan diri mereka apa adanya. Film ini juga sangat baik untuk mengurangi stres karena selain mengajak kita untuk berfikir, ia juga mengundang kita agar tersenyum lebar.

(Tugas Mata Kuliah Sinematografi, D3 Public Relations UGM, Tahun 2003)

Menilai Ide Cerita Film "My Wife is 18"

Cheung adalah mahasiswa abadi di salah satu universitas di London. Hingga usianya yang ke-30 tahun, ia tidak pernah mendapatkan kelulusan skripsi meski sudah yang ke-6 kalinya. Alasannya adalah ketidaksinkronan isi skripsi dengan pengalamannya. Ia mengambil penelitian tentang wanita, namun saat ditanya wanita itu bagaimana, ia sama sekali tidak bisa menjawabnya. Di saat yang sama, Yoyo, seorang pelajar SMU di Hongkong yang berusia 18 tahun sengaja pergi ke London untuk memenuhi keinginan orangtuanya yang ingin menikahkan dirinya dengan Cheung.
Demi membahagiakan nenek Cheung yang hampir meninggal, Cheung dan Yoyo kemudian menikah. Namun, pernikahan itu tidaklah murni dilandasi cinta maupun keinginan untuk berumah tangga. Cheung hanya ingin menjadikan Yoyo sebagai objek penelitian skripsinya. Yoyo sendiri hanya ingin meredam kejenuhan rutinitasnya sebagai pelajar SMU. Mereka berdua pun lalu menuliskan kesepakatan untuk mengontrak pernikahan mereka selama 1 tahun, setelah itu mereka akan bercerai tanpa ada tuntutan dari pihak manapun.
Perjalanan hidup bersama mereka dipenuhi warna yang cukup memercik. Cheung tinggal di kost milik Yoyo di Hongkong karena Yoyo masih harus bersekolah. Untuk lebih memahami wanita, Cheung kemudian menjadi guru pria kedua di sekolah Yoyo yang khusus wanita. Ternyata, ada seorang guru wanita yang tertarik pada Cheung. Melihat itu, Yoyo cemburu dan menyadari perasaannya pada Cheung sesungguhnya. Di antara sifat remajanya yang kental, ia berusaha menjadi dewasa untuk sepadan dengan diri Cheung. Yoyo nekat menggunakan pakaian ala wanita dewasa dengan dandanan menor dan seksi saat menemui Cheung yang tengah berkumpul dengan rekan-rekan sebayanya.
Cheung pun akhirnya menyadari bahwa sesungguhnya ia mencintai Yoyo. Ia juga nekat mengakui Yoyo sebagai istrinya di hadapan dewan guru dan murid-murid di SMU Yoyo. Namun, Yoyo malah merobek surat pernikahan mereka, dan meninggalkan Cheung begitu saja. Hal ini karena Yoyo menyadari bahwa perbedaan mereka sangat jauh. Cheung yang kecewa kemudian kembali ke London untuk ujian skripsi. Saat tegang menghadapi pertanyaan para dosen penguji, tiba-tiba Yoyo datang menemui Cheung. Yoyo meminta para dosen penguji Cheung agar memberikan Cheung kelulusan dengan alasan Cheung harus menjaga dirinya sebagai suami yang baik. Akhirnya, Cheung pun mendapatkan kelulusan.

Penilaian Ide Film "My Wife is 18"
Ide film “My Wife is 18” benar-benar rekaan atau fiksi belaka. Ia tidak didasari oleh pengalaman seseorang, tidak mengutip dari novel maupun komik, tidak juga mengambil setting dari suatu masa tertentu. Film “My Wife is 18” sepertinya dikembangkan dari kekreatifan pembuat film untuk menyajikan sesuatu yang mungkin saja terjadi dan mengira-ngira hal apa saja yang mewarnai hal itu.
Pernikahan dengan keterpautan usia yang cukup jauh (12 tahun jika di film “My Wife is 18”) memang akan menimbulkan peristiwa-peristiwa berbeda dan cukup bertolak belakang karena perbedaan masa tumbuh. Ide ini cukup menarik untuk ditawarkan kepada penonton bila dibandingkan dengan cerita pernikahan dari usia yang tidak beda jauh meskipun di dalamnya juga penuh intrik yang hebat.
Jalinan kisah yang dirangkai dalam film “My Wife is 18” mengantarkan pesan penting kepada penontonnya. Setidaknya, film “My Wife is 18” yang cenderung drama romantik komedi ini menyampaikan bila usia yang beda jauh bukanlah halangan untuk menyatukan diri dalam ikatan pernikahan. Asalkan keduanya memiliki kesamaan persepsi dalam memandang hidup.
Bahasa dan gaya yang ditampilkan dalam film “My Wife is 18” ini menyesuaikan dengan apa yang terjadi dengan style remaja Hongkong sekarang. Penuh daya pikat, kepraktisan, kebebasan bersikap dan menentukan pilihan, to the point, namun budaya Tionghoa tetap digambarkan dengan adanya adat perjodohan oleh orang tua yang kala itu masih juga gemar berbusana khas Tionghoa klasik.***

(Note: Nih, dari tugas mata kuliah Sinematografi, pas kuliah D3 PR UGM, tahun 2003)

Mengapresiasikan Film "Frida"

Usai menonton film yang mengangkat tema dengan menitikberatkan pada kehidupan pelukis legendaris Meksiko, Frida Kahlo (Salma Hayeek) serta pahit manis hubungan asmara dengan suaminya, Diego Rivera (Alfred Molina) ini, kita mesti hanyut dengan nuansa artistik Meksiko yang kental. Meliputi bahasanya yang unik, busana khas Meksiko yang ceria, serta keadaan kota Meksiko tahun 1922 yang masih bisa tergambar jelas.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini diawali dengan pengangkutan Frida yang berada di atas tempat tidur untuk naik ke atas truk. Frida yang lumpuh total itu akan pergi untuk membuka pameran lukisannya, yang pada akhirnya menjadi moment buatnya dalam menghembuskan nafas terakhirnya.
Film ini kemudian memulai flash back-nya dengan penggambaran keusilan masa sekolah Frida bersama teman-temannya dalam mengintip seorang pelukis, Diego Rivera (Alfred Molina) yang tengah melukis perempuan bugil. Padahal pelukis inilah yang kelak menjadi suami Frida. Terpengaruh dengan aksi mengintip tadi, membuat Frida nekat melakukan hubungan seks untuk pertama kali bersama kekasihnya.
Kebersamaan dengan sang kekasih pun harus berakhir karena ia harus pindah kota dan meninggalkan Frida yang tengah terbaring di tempat tidur karena lumpuh akibat kecelakaan di bus. Kecelakaan itu membuat cita-cita Frida berubah menjadi seorang pelukis. Selama berdiam diri di dalam kamarnya dengan segala kekakuan tubuh, ayah Frida memberikannya kanvas dan alat lukis. Hal ini membuat Frida menjadi sangat bahagia. Salma Hayeek sangat pintar dalam memperlihatkan itu.
Kemudian, Frida pun beranjak sembuh. Lalu, demi mengetahui kualitas lukisannya, ia pun pergi menghubungi orang yang pernah diledeknya, Diego Rivera. Ternyata, Diego pun menjadi tertarik dengan lukisan Frida yang memiliki karakteristik tersendiri. Diego bahkan mengunjungi Frida ke rumahnya. Lambat laun kehadiran Diego dalam membantu Frida melukis menimbulkan perasaan cinta pada diri Frida.
Hal yang menimbulkan pertentangan berbagai pihak, terutama keluarganya, adalah saat Frida memutuskan untuk menikahi Diego Rivera. Tentu saja, adegan seks telah mendahului upacara ritual tersebut. Mungkin, di sinilah letak keartistikan dari film Frida. Tapi tentu saja, masih ada point yang menarik lainnya. Di segi tata suara, film Frida sangat unik, terutama ketika Frida digambarkan tengah bingung dengan dilema hidupnya. Dilema terberatnya yakni ketika suami yang dikiranya setia tertangkap basah tengah selingkuh dengan saudara kandungnya. Dilema lain, yakni saat ia kecelakaan hingga lumpuh total, ditinggalkan kekasihnya saat lumpuh, kehilangan bayinya karena keguguran, dan kematian ibunya. Selain unsur musikal, film inipun memasukkan unsur animasi. Misalnya, saat Frida belum sadar dari koma, digambarkan beberapa tengkorak hidup tengah melakukan operasi penyembuhan.
Film yang disutradarai oleh Julie Taymor ini cukup jelas dalam menggambarkan latar belakang kehidupan Frida. Tentunya hal ini sangat dibantu oleh penulis naskah, Hayden Herrera. Penggambaran itu tampak detil pada Frida dengan kemelut dunia bakat melukisnya, dunia cintanya, keluarganya, negaranya, hingga perilaku seksnya yang kadang mengejutkan.
Film ini seharusnya bisa meraih nominasi Oscar 2002, terutama pada permainan Alfred Molina (Diego Rivera). Dengan hasil peredaran $20 juta, film inipun dinilai memiliki kemiripan bintang sebesar 7/10 (Salma Hayeek) dan rating film juga sebesar 7/10.
Film yang didukung oleh pemain berbakat lainnya, seperti Mia Maestro, Valeria Golino, Geoffrey Rush, Roger Rees, Diego Luna, Patricia Reyes Spindola, dan Margarita Sang ini makin menguatkan aroma Meksiko yang kental.
Dari sisi individual, film ini menggambarkan ketabahan serta kegigihan seorang wanita dalam mengisi hidupnya. Wanita yang berprinsip, keras, namun digambarkan pula kerapuhan dalam menghadapi tiap terpaan masalah hidup. Salma Hayeek cukup apik dalam memainkan perannya. Dari sisi sosial, film ini menceritakan kisah hidup yang penuh intrik dan tekanan. Yang menggembirakan, di antara berbagai kisah sedih, film inipun berakhir tenang, bisa digolongkan happy ending. Karena meski di tengah kelumpuhannya, Frida masih mendapatkan cinta yang tulus dari suaminya, dan sempat pula menghadiri pameran lukisannya yang akan menjadi salah satu peristiwa penting di dunia seni lukis Meksiko.
Film ini murni drama, tanpa ada adegan komedi maupun action di dalamnya. Secara keseluruhan, dapat diambil kesimpulan: pemahaman penonton cukup terkesan dengan empati mereka pada penderitaan Frida, penikmatan penonton cukup bergolak dengan visualisasi cerita yang penuh bumbu keromantisan, serta penggabungan unsur film yang seimbang, dan penghargaan penonton akan muncul dengan keberhasilan film dalam menghidupkan tokoh Frida, nilai hidup yang gigih mampu membawa kita tetap survive dalam menjalani hidup. ***

(Note: Nih, dari tugas mata kuliah Sinematografi pas kuliah D3 PR UGM, Tahun 2003)

Iklim Kontrol Bank Sentral Asahi di Film "Jubaku"

Jubaku merupakan film produksi negara Jepang yang sarat dengan nilai khas Jepang yang keras, santun, dan berani. Diceritakan bahwa pada tahun 1997 telah terjadi korupsi besar-besaran, hingga 30 milyar yen, di dalam tubuh perbankan Jepang, khususnya Bank Sentral Asahi (ACB), akibat pemerasan yang dilakukan oleh Sokaiya. Sokaiya sebenarnya merupakan perusahaan penerbitan yang menyediakan berbagai media dan jasa publikasi seperti majalah, koran serta badan periklanan. T.K. adalah pimpinan gembong pemeras Sokaiya, dan kaki tangannya, Odajima adalah Direktur Penerbit Sokaiya. Sejak UU 1982 Anti Pemerasan, penampakan Sokaiya kian berkurang. Tapi sebenarnya Sokaiya melakukan kegiatan bawah tanah. Dr. Albert Meadows, seorang Antropolog mengatakan, “Di tahun 1920, gembong Sokaiya menamakan diri mereka Banzai. Nama ini diambil dari kebiasaan berteriak ‘Banzai’ saat pesta. Saat ini, gerakan mereka kian berkembang secara diam-diam, dan semakin berani melebarkan sayap.”
Korupsi yang sangat merugikan sejak bertahun-tahun lalu itu, baru kini berani diselidiki oleh jaksa karena dianggap hal seperti itu sangat mengerikan dan belum pernah diekspos di Jepang. Para jaksa dari Kantor Penuntut Umum terus maju dengan berani, meski ada pertentangan internal dan mungkin juga akan menimbulkan kehancuran finansial bagi Jepang. Jaksa pun menyelidiki ACB atas berbagai pinjaman ke Sokaiya. Diasumsikan bahwa ACB dikelola oleh tiran dengan memberikan pinjaman tak terbatas. ACB menyalahgunakan prosedur seleksi dan tidak memfungsikan secara benar para regulatornya sehingga selalu memperpanjang waktu pembayaran atau bahkan melakukan penghapusan pinjaman. Kejaksaan menganggap peristiwa ini merupakan aksi pembersihan bidak “Jubaku”, dan Sokaiya adalah bidak menterinya.
Gejolak di tubuh ACB pun terjadi. Adanya perdebatan antara masalah hukum dan moral sebagai bankir digulirkan dalam rapat pertama sejak skandal ACB itu tersingkap. Para manager menengah ACB, seperti Kitano, Matsubara, Katayama dan Ishii sangat mengecam terjadinya penggelapan pinjaman Sokaiya tersebut. Hingga pada suatu ketika, para jaksa penyidik menyerbu ACB untuk menggeledah seluruh gedung karena ACB dituduh telah melanggar UU Niaga, situasi genting di ACB pun dimulai. Ketegangan terjadi di semua lapisan elemen di ACB, mulai dari atas (CEO, Dewan, Direktur), menengah (Kepala Departemen, Manager Menengah), hingga bawah (karyawan).
Hebatnya, usaha para eksekutif ACB untuk mengatasi krisis tersebut berlangsung cepat. Hanya dalam hitungan jam, mereka kemudian melakukan konferensi pers untuk melakukan aksi minta maaf, dan mengumumkan pergantian jajaran tertinggi ACB, yakni Imai dan Sakamoto menjadi Yoshino dan Ota. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pergantian itu saja tidak cukup. Diyakini hanya dengan pemberontakan di dalam, yakni para manager menengah, yang bisa menyelamatkan ACB. Mereka harus mengambil alih kekuasaan dari atasan yang sejak awal menyetujui pelanggaran. Terlebih tak lama dari itu, para atasan ACB pun ditangkap, kecuali Sasaki yang bisa menghindar dengan alasan sakit.
Mengatasi semua krisis itu, sekelompok manager menengah kemudian bekerjasama dengan para pengacara melakukan penyidikan internal untuk menyingkap kebenaran dan membuang praktek bisnis tak etis di ACB. Hingga akhirnya permasalahan pun menjadi jelas, setelah sebelumnya Konsultan Eksekutif ACB, Takashi Hisayama melakukan harakiri di kantornya dan memberikan surat terakhir kepada Kitano. Di dalam surat tersebut terungkap bahwa Mantan CEO, Sasaki, yang juga mertua Kitano, meminta Kawakami untuk membantunya menjadi bankir terbaik tahun itu. Sebagai imbalan Sasaki akan menyetujui pinjaman kepada Sokaiya. Rinciannya ada di dalam surat. Di sana tertulis surat Sasaki kepada Kawakami tertanggal 18 Oktober 1993. Odajima membuat salinannya dan mengirim ke Ketua Hisayama. Hal ini merupakan fakta bahwa Sasaki telah melakukan tindakan kolusi dengan pemeras Sokaiya.
Satu persatu langkah penyelesaian permasalahan dapat dilakukan oleh jajaran baru ACB dengan menunjukan sikap kerja yang totalitas dan bertanggung-jawab. Mulai dari pengunduran diri para dewan yang lama, dipilihnya CEO yang baru: Nakayama, pengeluaran surat pemutusan hubungan kerjasama dengan penerbitan Sokaiya, memprotes intereogasi pihak kejaksaan terhadap orang-orang ACB yang tak kunjung selesai, hingga sukses melaksanakan Rapat Tahunan Pemegang Saham ACB ke-35. Meski awalnya rapat berlangsung panas tapi setelah adanya ketulusan pendapat oleh salah satu pemegang saham asli yang mendukung keberadaan ACB, suasana pun menjadi dingin dan terkontrol kembali. Hal ini pun menjadi momentum awal bagi ACB untuk memulai kembali perbaikan dan pengembangan di dalam tubuh ACB menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.
Di lain pihak, pihak media pun, seperti Miho Wada dari Bloomberg Tokyo sukses menulis buku mengenai “Jubaku” tersebut. Departemen Kehakiman juga menyatakan perang dengan Departemen Keuangan: suap dan kolusi, yang mengakibatkan 112 pejabat Departemen Keuangan ditahan.

Iklim Kontrol di Film Jubaku
Kemitraan yang tak berorientasi keuntungan, dikembangkan untuk menunjukkan bahwa sebuah komunitas yang sedang hancur bisa diperbaiki – bukan secara fisik melainkan dalam semangatnya – dan bank bisa melahirkan sesuatu yang berbeda. Kemitraan seperti ini yang menjadi salah satu kegiatan yang dapat dilakukan Bank Sentral Asahi (ACB) untuk mengatasi masalah “Jubaku”.
Bila dilihat dari iklim kontrol (proses pendistribusian wewenang melalui komunikasi) yang terdapat 3 jenis, yakni :
a. Dehumanizing Climate
b. Happines for Lunch Bunch Climate
c. Open Climate
Maka, pada kasus ACB dalam film “Jubaku” iklim kontrolnya termasuk dalam jenis Open Climate karena sesuai dengan kriteria-kriteria, seperti tersebut di bawah ini :
1. Pegawai ACB didorong untuk mengerjakan pekerjaan dengan asistensi dari atasan.
2. Pegawai ACB berkomunikasi satu sama lain, juga pengawas mereka, dan melaporkan segala masalah ke pengawas.
3. Pekerja ACB sebagai bagian manajemen, diharapkan mengerjakan tugas dengan baik dan terbuka atas ide-ide baru dan perubahan yang terus terjadi.
Kemudian, bila dilihat dari 4 status (suatu posisi yang dimiliki secara sadar oleh seseorang dalam kelompok atau organisasi), yakni :
a. ↑ = Status Differential Increases
↓ = Communication Decreases
b. ↓ = Status Differential Decreases
↑ = Communication Increases
c. ↑ = Solidarity Increases
↓ = Status Differential Decreases
d. ↑ = Solidarity Increases
↑ = Communication Increases
Maka, dalam film “Jubaku” proses komunikasi yang terjadi pada ACB lebih banyak terjadi pada status b dan d. Awalnya yang b, yakni ↓ = Status Differential Decreases : ↑ = Communication Increases. Terlihat saat takutnya para manager menengah dan pengacara ketika melakukan penyidikan internal pada salah satu mantan CEO, Sasaki. Namun, cukup berani ketika dengan atasan yang lain, seperti Hisayama dan Ota. Kemudian status/situasi utama berubah menjadi d, yakni ↑ = Solidarity Increases : ↑ = Communication Increases saat para manajer menengah ACB yang berhasil melakukan kudeta hingga semua dewan yang lama tergantikan dengan yang baru, yakni Nakayama (CEO ACB).

(Note: Nih, tugasku di mata kuliah Internal Relations, D3 PR UGM, 2004)

Apresiasi Film Gung Ho dari Sudut Pandang Manajemen Krisis

Film Gung Ho ini sangat menarik dalam memberikan pemahaman mahasiswa mengenai mata kuliah manajemen krisis. Pemeran utama film ini dimainkan oleh Michael Keaton sebagai Hunt Stevenson, penghubung antara pihak manajemen Assan Motor Company dengan para buruh dan Gedde Watanabe sebagai Takahara Kozihiro yang berperan sebagai direktur manajemen perusahaan. Peristiwa yang terjadi di kota kecil negara Amerika, yakni Hadleyville ini mengisahkan tentang sebuah pabrik mobil yang telah berdiri sejak 35 tahun, namun sejak 9 bulan lalu pabrik ini ditutup. Meski demikian, pabrik ini telah diperbaiki 2 tahun yang lalu dengan peralatan baru sehingga kondisi pabrik dalam keadaan prima. Para pekerja pabrik mobil ini adalah penduduk kota yang semuanya mengandalkan hidup dari pabrik tersebut. Sehingga demi dibukanya kembali pabrik tersebut, Hunt Stevenson dikirim ke Jepang untuk mencari investor. Pencarian Hunt berhasil dengan kehadiran Assan Motor Company sebagai manajemen yang baru di pabrik mobil Hadleyville tersebut.
“Kita harus membangun semangat. Kita harus menjadi sebuah tim. Dengan hanya sebuah tujuan. Semua hanya memikirkan perusahaan.” Begitulah spirit awal yang ditanamkan oleh pekerja Jepang kepada para pekerja Amerika. Kepentingan perusahaan harus berada di atas segalanya. Adanya perbedaan budaya kerja di antara pekerja Jepang dan Amerika seringkali menimbulnya permasalahan di pabrik ini. Budaya kerja Jepang lebih menitikberatkan pada kinerja tim dan loyalitas pada perusahaan, sedangkan Amerika dengan segenap keegoisan dan kesombongan mereka lebih mengutamakan kerja individual, dalam arti ingin selalu dianggap spesial. Meski demikian pada akhirnya, keduanya dapat memahami kelebihan budaya masing-masing. Saat Hunt menyadari bahwa pekerja Jepang memang bisa bekerja lebih cepat, lebih baik, dan lebih lama, setidaknya dapat mengubah budaya kerja buruh Amerika yang terkesan semaunya. Begitu pula, saat Takahara menyadari bahwa ia begitu penurut seolah hidup hanya untuk kerja dan perusahaan tanpa memperdulikan hal yang lebih penting, yaitu orang-orang yang dikasihi, setidaknya ia dapat mengatasi kecemasan hidupnya.
Banyak hal yang bisa dipelajari dari film Gung Ho ini. Namun jika dikaitkan dengan manajemen krisis maka hal yang sangat erat adalah saat adanya tuntutan buruh Assan Motor Company untuk kenaikan gaji dari 8 dolar 75 sen per jam menjadi 11 dolar 50 sen per jam. Sesuai kesepakatan lewat Hunt, pihak manajemen Assan Motor Company akan memenuhi tuntutan tersebut jika pekerja dapat memenuhi produksi sebanyak 15.000 mobil dalam sebulan. Namun akibat kebohongan Hunt, masalah lain pun timbul dan mengancam tertutupnya kembali pabrik mobil tersebut.
Jika ditinjau dari kategorinya, maka diantara 4 kategori krisis (Exploding Crisis, Immediate Crisis, Building Crisis, dan Continuing Crisis) krisis di atas termasuk ke dalam Building Crisis, yakni krisis yang terjadi lebih terfokus pada persoalan internal. Perlu diingat bahwa meskipun perusahaan memiliki peraturan kerja tersendiri, namun akibat dari suatu kebijaksanaan yang diambil berdasar peraturan itu kadang-kadang dipandang merugikan kelompok orang-orang tertentu. Akibatnya, apapun kebijaksanaan barunya, tetap saja akan melahirkan pendapat publik yang bisa jadi tidak sejalan dengan keteguhan perusahaan dalam menerapkan peraturan-peraturannya. Sehingga, penggiringan pembentukan opini publik yang positif dalam hal ini sangat dibutuhkan. Akhir film Gung Ho ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan Hunt Stevenson dalam berkomunikasi dengan seluruh publiknya sehingga krisis yang terjadi dapat diatasi dengan baik dan sempurna, tapi juga menyusupkan pesan moral untuk menghormati perbedaan budaya yang ada di tiap kawasan dunia. ***

(Note: Nih, tugas individual mata kuliah Manajemen Krisis, D3 PR UGM, 2004)

Rabu, Desember 03, 2008

17 Film Terbagus Versi Nita

Weleh-weleh, nih postingan tulisan yang paling lama yang aku bikin selama 4 hari ini. Why? Coz harus masukin 17 gambar. Tapi, gpp! Aku puas dengan hasilnya. Oya, jadi lupa... Pada tulisanku kali ini, aku mo berbagi ttg film-film yang menurutku "wajib" kamu tonton. Ada 17 film yang bisa aku kasih rekomendasi sama kamu. Besok-besok, aku kasih lagi yang laen... Tapi yang ini, dilunasin dulu nontonnya yah... Hahaha, apa coba! Yuks, kita pantengin film-film apa aja!
1) Tom Hanks is Forrest Gump
Nih, film bercerita tentang keberuntungan dalam menjalani hidup yang apa adanya. "Hidup seperti sekotak coklat. Kamu tidak tahu bakal dapat yang mana." Intinya, kita tuh gak pernah tau gitu lho ttg apa yang bakal terjadi ma kita besok. Jadi, kalo udah gitu, tenang sajalah, Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita jalani saat ini dan nanti.
2) Turtles Can Fly
Deuh, asli! Film ini bikin aku nangis... Sedih banget! Gara-gara perang sekelompok anak-anak harus berjuang untuk hidup. Latar belakang film ini diambil sebelum penyerangan tentara Amerika ke Irak. Serius, kamu mesti nonton film ini utk ngecek masih bfungsi gak sih rasa humanisme kamu. Hee...
3) Idiocracy
Nih, film paling ngawaks sedunia. Bisa gak kbayang ma kamu ttg masa depan dg orang-orang yang bukannya btambah pinter tapi btambah bodoh? Dan si Luke Wilson yang sebenarnya orang biasa-biasa aja zaman sekarang, tapi kelempar ke masa depan mjd orang paling jenius di masa itu. Walah-walah, gila abiz deh...
4) Laskar Pelangi
Nih, jujur aku belum pernah baca novel Laskar Pelangi. Tapi, begitu filmnya keluar, aku duluan nonton di PIM 21. Baguusss!!!! Gak nyangka aja, ternyata di daerah yang kita kira orangnya "dusun-dusun" tapi pada intelektual semua terhadap pendidikan. Salut!
5) Little Manhattan
We'e'e... Kebayang gak sih dengan cinta pertama kamu pas masih SD? Nah, ini dia filmnya yang bercerita tentang suka duka cinta anak kecil. Tapi, anak kecil di luar negeri emang luar biasa. Kecil-kecil udah kissing lips. Huu... Aku sendiri ciuman udah umur berapa yaaa? Waaah, kalah jauh deh... Hehehe!
6) Original Sins
Nih, film tersensual yang pernah aku tonton! Baru sadar kalo Angelina Jolie itu sexy abis... Wajar aja deh, Brad Pitt tergila-gila sama dia. Mo puas, ya nonton DVD-nya. Aku aja nontonnya numpang nonton di Odiva Yogya. Maklum om, tante, dulu komputerku gak bisa DVD-an. Kacian yee... Hee...
7) Pirates Caribbean 2
Pertama nonton PC1 di bioskop, asli, gak ngerti apa bagusnya film ini. Tapi pas nonton yang kedua, asyik... Ngakak-ngakak sendirian aja di kamar liat tingkah laku pemeran utamanya. Lucu deh! Teknik pembuatan filmnya juga luar biasa...
8) Saving Private Ryan
Nih, Tom Hanks lagi yang maen. Cerita sangat dramatis. Tentang mencari tentara Ryan. Jadi ceritanya Ryan tuh 4 bersaudara. Dia anak bungsu. Mereka berempat ikut perang. Nah, semua saudaranya mati, tinggallah si Ryan. Trus, si Tom Hanks dan serdadunya disuruh Presiden USA untuk menjemput si Ryan biar keluarganya gak mati semua. Hue'e'e... Cerita nyari si Ryan itu yang seru, coz untuk nyelamatin 1 orang harus mengorbankan banyak orang. Hik, hik, hik!
9) Thank You For Smoking
Nah, sodara-sodara, kalo mo belajar tentang negosiasi, debat argumentasi, tonton nih film. Anjrit, keren banget, deh! Jadi kamu gak harus memiliki sesuatu yang benar. Asal kamu bisa membuat pendapat orang lain itu salah, maka kamu sudah menjadi benar. Hm...
10) The Blue Lagoon
Nah... Nih, buat kamu-kamu yang penasaran cerita Adam dan Hawa. Mungkin nih film berupaya memvisualisasikannya. Kebayang gak sih, dua orang anak kecil, cowok & cewek, terdampar di sebuah pulau kosong. Trus, mereka tumbuh bersama sampai mereka besar dan muncul rasa saling ketertarikan di antara mereka. Hm....
11) DOA
Yups! Nih, silat-silatan. Tapi, silatnya silat kayak PS gitu lho. Sip deh, banyak banget gerakannya. Yang suka, mungkin orang-orang tertentu saja. Tapi, kalo liat teknik visualisasi filmnya, nih film patut diacungi jempol.
12) Titanic
Aha! Nih, film keluar pas aku masih SMP. Tapi, sampe sekarang tetap aja gak bosen nontonnya. Jadi boleh dibilang nih film Box Office sepanjang zaman. Yang belum nonton, keterlaluan banget deh! Hehehe!
13) The Devil Wears Prada
Pertama kali nonton, langsung tpikir, whuu... pengen! Kerja di tempat yang menting style gitu kayaknya keren banget yaa? Tapi kemudian, film ini bikin kita ngerti, kenapa sih harus begitu? Masa hakikat kita dinilai dari apa yang kita pake, kita gunakan. Hh... Manusia emang gila ma nilai-nilai yang gak penting kayak gitu yaa.... (Nilai: Merk barang)
14) The Butterfly Effect
Whoo.... Film sip banget buat kamu tonton! Nih, tentang, apa yang kita lakukan hari ini, berdampak besar untuk kita besok. Asli, kena banget untuk membuat kita tersadar, dan mengiyakan kata mutiara, "Jika Anda tidak mempersiapkan diri sejak HARI INI, maka HARI ESOK bukan milik Anda!"
15) Bruce Almighty
Cerita filsafat yang komedi. Cara mudah menegur kita tentang betapa sayangnya Tuhan sama kita. Yaah... gak masuk diakal. Tentu! Tapi, kalo diliat dari sudut pandang lain, ada hal yang bisa kamu petik. Makanya, tonton aja... Sip deh!
16) Ada Apa Dengan Cinta
Nih, film Indonesia pertama yang keren! Aku nonton pas SMA. Lagi seru-serunya ngurus mading sekolah lagi, jadi serasa mirip gitu lho! Huekekek! Suka banget ma Nicholas Saputra. Tapi... cuma dia sebagai Rangga di AADC. Pas dia maen di Janji Joni ma 3 Hari Untuk Selamanya, asli, gak suka! Mungkin karena filmnya gak asyik bagi aku ato jalan ceritanya aneh... Kalo untuk Dian Sastro, hoo... temen-temen cowokku pasti semua suka dia. Kata mereka, Dian itu sangat menarik! Hm...
17) Flight of The Phoenix
Nah, nih film tentang kerjasama, tentang profesional karir juga! Keren banget! Aku suka banget ide film ini. Gimana caranya orang-orang yang memiliki keahlian tertentu bekerja sama untuk menerbangkan pesawat yang hancur di tengah padang pasir. Weii.... happy ending, selalu jadi terbaik untuk aku setiap habis nonton film. Hee...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...