Tampilkan postingan dengan label Diary Nita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Nita. Tampilkan semua postingan

Minggu, September 01, 2019

Empat Tahun Menjadi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka (10 September 2015 - 10 September 2019)

Selamat datang bulan September! Tak terasa detik-detik pergantian struktural di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka akan dilaksanakan. Pergantian yang kini dilaksanakan setiap 4 tahun sekali. Iya, tak terasa ini sudah tahun ke-4 saya menjadi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka Periode 2015-2019. Maka, dalam kesempatan yang sangat baik ini, izinkan saya mendokumentasikan tentang sejarah yang sempat saya ukir selama kepemimpinan saya. Kamu juga mau tahu? Ayo, kita sama-sama membaca yaa…

Sabtu, November 10, 2018

Saya Jatuh Cinta dengan Koko Black & X2 Stardust

Kamu tidak pernah tahu kapan kamu jatuh cinta, sampai pada akhirnya kamu merasakan untuk takut kehilangannya. Itu betul. Tidak hanya ketika kita dekat dengan seseorang. Saya juga merasakan itu ketika mencoba produk dari Exoticon, spesial untuk model Koko Black dan X2 Stardust.

Jujur, saya beruntung mendapatkan kesempatan mencoba 2 produk dari Exoticon ini. Sudah sebulan produk ini dikirimkan ke saya. Namun baru 2 minggu terakhir saya keranjingan menggunakannya di moment-moment khusus saya.

Selasa, Agustus 14, 2018

Review Mizzu Blush Me Up : Rosy Tint 802

Siapa yang tidak mau tampil fresh dan terlihat cantik dalam setiap moment? Saya juga ingin tampil lebih muda setiap saat. Maka ketika ada teman instagram @anitashiva88 yang pangling melihat foto saya dengan mengatakan, “Kayak usia 25-an Mbak Nita.” Saya jadi tersenyum sumringah. Padahal usia tetap berjalan tentunya. Rahasia utamanya hanya di perawatan kulit wajah dan penggunaan make up yang tepat.

Bagi saya make up memang harus dilakukan sebelum keluar rumah untuk beraktivitas. Namun, make up yang ringan itu adalah pilihan utama. Terlebih karena make up yang berlebihan justru akan menyebabkan lebih mudah terpapar jerawat. Cara mudah untuk bersimulasi dengan tampilan wajah yang lebih ceria adalah dengan penggunaan blush on.

Minggu, Mei 06, 2018

Senangnya Menggunakan Softlens X2 Bio Glaze

Mata adalah jendela hati. Melalui mata kita bisa melihat segala hal yang indah di hadapan kita. Melihat bunga, makanan, gedung yang tinggi, atau apapun itu yang membuat kita bersyukur memiliki panca indra utama ini. Buat orang Indonesia, mata, yang dalam hal ini bagian irisnya, rata-rata berwarna hitam atau coklat tua. Kadang, keinginan untuk mencoba iris warna lain tentu menghinggapi untuk tampil beda, termasuk saya.

Ketika mendapatkan kesempatan mencoba softlens X2 Bio Glaze dari Exoticon, saya langsung tertarik. Hal ini karena saya pikir, kapan lagi bisa tampil beda, meski kekhawatiran yang kemudian hinggap adalah, “Ah, nanti mata saya cepat kering.” Atau “Aduh, bahaya gak yaa pakai softlens lama-lama?” ikut melanda.

Jumat, Maret 17, 2017

Keseruan ASPIKOM Sumsel Berpetualang ke Goa Putri Baturaja

Hari masih gelap, saat saya minta tolong sepupu yang juga mahasiswa saya di STISIPOL Candradimuka, Horia Oktaviyana untuk mengantar saya ke Dunkin Donuts Demang Lebar Daun Palembang, Rabu, 15 Maret 2017. Usai menunaikan sholat subuh kami langsung berangkat dengan menggunakan motor ke titik pertemuan para pengurus Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) itu.

Jarak rumah ke Dunkin Donuts memang tidak terlalu jauh, sekitar 7 menit kami sudah tiba. Di Dunkin Donuts sudah ada Ketua ASPIKOM Sumsel, Rahma Santhi Zinaida, M.I.Kom (Universitas Bina Darma) di atas mobil Avanza yang juga akan membawa kami menuju Baturaja hari itu. Menyusul kemudian datang rekan sesama dosen STISIPOL Candradimuka, Herfriady, MA dan Andri Farid, M.Si (Universitas Bina Darma). Sepupu saya sudah langsung pulang sambil berpesan agar dia yang mengantar dan menjemput Fafa sekolah hari itu.

Kamis, Juli 14, 2016

My Heart is You

Mengumpulkan sesuatu yang aku tidak tahu apa. Untuk mulai menulis lagi. Melakukannya. Bukan sekedar berniat melakukannya. Berfikir tentang apa yang bisa membuatku tersenyum lagi. Mencari alasan untuk tersenyum. Tidak untuk berputar-putar, tapi untuk melanjutkan hidup yang lebih baik. Memberi makna terbaik untuk orang-orang yang kucintai... Dan itu kamu.

Ya, alasan terbaik itu selalu saat kita mulai menyadari pentingnya sesuatu itu untuk hidup kita. Bagi orang lain mungkin bukan apa-apa tapi bagi kita dia adalah dunia kita. Pernah tidak ingin berurusan dengan hal-hal yang seperti ini lagi, namun, kita sama-sama tahu itu tidak akan pernah bisa. Dan Allah sangat mengerti itu. Kita diciptakan-Nya dengan pasangan kita, kuatkan hati untuk mencarinya. Meski harus dilalui dengan kesalahan-kesalahan untuk bertemu dan patah hati dengan mereka yang kita pikir adalah jodoh kita. Padahal bukan.

Senin, Februari 22, 2016

Instagram Diantara Dunia Media Sosial


Minggu-minggu ini saya sedang keranjingan sesuatu. Sebenernya ini sangat telat untuk saya yang ngaku-ngaku sebagai blogger. Hahaha, ya sudahlah, blogger bagi saya juga bukan profesi tapi salah satu kegiatan menyalurkan hobi menulis. Jadi, kalo mo disebut blogger abal-abal juga gak apa-apa. Jadiiii, ketika dibilang saya telat ngikutin trend media sosial juga saya gak terlalu ambil pusing. Hehehe...

Iyaaah! Saya lagi suka maen Instagram nih! (Kalo mo follow, find me @anitashiva88. Kalo mo minta folbek, tulis komen di salah satu foto yaa..). Helloooow, Instagram itu kan udah lama buangeeeet, kok baru heboh sekarang? Hahaha... Ya, mungkin pembelaan saya, saya ini udah lama punya akun Instagram lhooo...

Iya, liat aja tanggal saya upload foto pertamanya. Itu, persis hari pertama saya beli hape Xiaomi 2 dan saya langsung buat akun Instagram. Diajarin mantan mahasiswa saya, sih, Cinta (@chintamomon) namanya, sekarang lagi ambil S2 Komunikasi di UGM.

Jumat, Juli 05, 2013

Galau

Begitu akrab dengan konsep itu akhir-akhir ini. Galau. Kosakata yang pertama kali muncul di sebuah acara gegap gempita di prime time TransTV yang kemudian tutup dengan segera. Mungkin acaranya terlalu heboh sehingga justru tidak menimbulkan kesan yang berarti bagi penonton. Nama acaranya sendiri, aku lupa. Hee..

Yah, lebih baik kembali membahas tentang galau. Saking riuhnya istilah itu, ia sanggup mengalahkan konsep resah, bingung, kacau, ataupun serba canggung. Padahal istilah galau sebenarnya hanya sebuah konsep tentang keberadaan seseorang yang sedang berdiri di persimpangan untuk memilih, memilih ke kiri atau ke kanan, memilih untuk tetap menikmati kondisi yang sekarang atau mengubahnya, atau kata orang Palembang, “Galau itu... Gelisah Antara Lajuke Apo Urungke...” Haha!

Jadi, itulah kondisinya... Saat orang belum bisa fokus dengan tujuan hidupnya, diapun galau. Akan bertambah galau saat kenangan masa lalu yang ada terlintas dalam benak, ataupun saat rencana masa depan yang lagi-lagi gagal. Puncaknya, mungkin ia akan bersedih, marah dengan kondisi yang ada, hingga terdiam. Yah, akhirnya... Lagi-lagi, ia harus menyadari kehambaannya, bahwa pasrah atas garis Tuhan untuk hidupnya adalah yang terbaik.

Selasa, Februari 05, 2013

Curhat di Suatu Malam

Malam ini begitu sendu. Sekarang pukul 22.30 WIB, dan mataku enggan tertutup. Sedikit bercerita, semoga bisa melegakan isi hati ini. Kau juga ingin tahu kenapa aku tak jua bisa tertidur?

Yah, aku senantiasa berusaha untuk menyukuri hidupku. Berusaha untuk tidak pernah menyesali langkah yang sudah kuambil. Berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk buah hati tersayangku, Fafa. Berusaha untuk tenggelam dalam kesibukanku di dunia kerja agar tak selalu teringat dengan masa laluku.

Tapi, kau tahu, ternyata aku ini hanya seorang manusia biasa. Semua orang yang mengenalku, selalu mengatakan aku hebat, kuat, tangguh. Tapi, aku sendiri tidak tahu, aku merasa tak ada yang hebat, kuat, ataupun tangguh. Aku biasa-biasa saja. Aku hanya menjalani hidup, mengalir, seperti yang Tuhan inginkan untuk kujalani.

Senin, April 09, 2012

Ello, My Lovely Blog...

Hm, ud lama banget gak update nih blog, rasanya kangeeeeen banget... Kebiasaan untuk menceritakan apa yang terjadi dalam hidupku tiba-tiba terhenti, oleh satu, dua, upss banyak hal. Tapi, harus kukatakan bahwa apa yang terjadi dalam hidupku akhir-akhir ini, benar-benar membuatku merasakan apa sebenarnya arti hidup. Dan kau tahu, wow, ini hidup yang benar-benar hidup, luar biasa!!!

Butuh banyak bantuan dari orang-orang terkasih sehingga aku bisa berada di titik ini sekarang. Sebuah kata-kata dari sinema bioskop tanah air mungkin benar juga dan bisa kukutip di sini. Bahwa seni kehidupan adalah kita tetap hidup berdampingan bersama sakit hati itu namun setiap hari kita masih bisa tersenyum. Yaah, it’s me... It’s my life... And I still have my big smile.

Kata-kata si Olga, si presenter tengil itu juga bisa juga bikin aku terngiang-ngiang. Doi bilang cinta itu bukan bikin orang mo mati, tapi justru sebaliknya, cinta bikin orang bahagia dan mau terus hidup untuk selama-lamanya. So, kalo kamu merasa cintamu sudah bikin kamu gak betah hidup, waspada aja, mungkin emang bukan cinta lagi yang bersarang di hati dan pikiranmu saat ini.

Senin, Januari 16, 2012

Fighting for WISUDA!

Baru sekarang bisa merasa lega. Coz, tadi pagi udah ngumpulin proposal tesis ke jurusan Kajian Budaya dan Media UGM. Semalem tidur jam 2 jee... Biasa, kalo udah mepet otak makin rapet alias makin tokcer! Hahaha...

Sebenernya blom bisa merasa puas dengan hasil sementara ini. Ya iyalah, masih njelimet sebenernya. Tapi setidaknya emang udah jauh lebih jelas arahnya ketimbang pas pertama kali presentasi pas kuliah seminar. Gimana gak, di detik-detik terakhir mo ngeprint buat dikumpul pun sempet-sempetnya kembali mengubah judul. Judul tesisku apaan? Hee... Biasalah, tabu kalo menyebutkan judul tesis kalo bukan ke orang yang tepat sasaran. Tepat sasaran = dosen pembimbing, narasumber untuk diwawancara, ato rekan diskusi...

Yang jelas temen-temen sekelas pasti tau. Dan sebaliknya, saya juga tahu tesis mereka apaan. Yang jelas juga gak pada sama. Smua pada nyari keunikan masing-masing. So do I!

Selasa, Maret 02, 2010

Agenda Ungu Axis-nya Nita


Yang namanya gratisan, siapa sih yang gak mau??? Makanya, ketika Nike (salah satu anggota blogger wongkito.net) ngasih woro-woro kalo yang kemaren belum sempet ikut gathering wongkito.net - Axis di Hotel Novotel bakal dapet agenda Axis, aku termasuk yang buruan ambil kesempatan. Cara mendapatkannya cukup mudah, tinggal ambil di rumah Nike di Jl. Anggrek No. 6 Palembang. Hm...

Tapi masalahnya, walau aku pernah denger nih jalan, cuma ternyata aku gak bener-bener tahu di mana letaknya. Alhasil, setelah hari pertama gagal menemukannya, esoknya, aku "rela" untuk tanya-jawab lagi di milist anggota wongkito.net untuk memastikan di mana letak Jl. Anggrek tersebut. Abis, sampe ada yang respon, ”Malu bertanya sesat di jalan.” Aku mah santai, kujawab aja, ”Malu bertanya, pulang ke rumah. Sampe di rumah, makan ikan. Kenyang deh...” Hehehe...

Senin, Desember 07, 2009

Kalo Lagi Jutek...


Kalo lagi jutek, pasti aku tidak peduli dengan apapun. Lebih memilih untuk diam. Kemarin, aku malah seharian di kamar, tidur. Kalopun keluar, itu hanya untuk makan. Jadinya, aktivitasku cuma makan-tidur-dan bernyawa.
Sore, aku kembali terbangun dari tidur. Suasana habis hujan terasa lembab di udara. Aku memilih untuk ke halaman depan. Berjalan tanpa alasan kaki dan menuju gundukan batu-batu putih. Kulihat satu batu yang ukurannya berbeda dengan yang lain, ukurannya terlalu besar. Kuputuskan untuk mengambil batu itu, membawanya ke kamar.
Di kamar, lagi-lagi hanya mampu membuatku menyandarkan tubuh di tempat tidur. Sesekali mengubah posisi untuk memperhatikan barang-barang yang tergeletak di lantai. Mataku kembali kosong. Seirama dengan hatiku. Tak tahu apa yang benar-benar ingin kulakukan kini.
Terasa bahwa hidup begitu membosankannya. Kutahu ini hanya masalah mental, bukan momentnya. Andaikan aku mau mengubahnya, dalam sekejap pasti juga bisa... Tapi entahlah, serasa kesepian itu begitu menarik untuk kurasakan saat ini...
Hidup memang bukan hanya tentang kesenangan, tapi juga tentang lara. Saat seperti itu, yang kumau hanya senyuman yang lembut. Mengertilah aku, jangan egois padaku... Tak takutkah, kau akan kehilanganku?
Tak mau lagi berujar. Mungkin file ini pun suatu waktu akan kuhapus untuk menghilangkan jejak kehampaan. See u day, see u in happy time...

Jumat, Juli 10, 2009

Meretas Mimpi yang Terkunci

Semua manusia punya masa lalu. Sebagian disembunyikan, sebagian lagi dikeluarkan bahkan diblow-up. Saat kegagalan ada, saat kesedihan menghampiri, saat keburukan yang muncul, manusia berusaha membelenggu diri bahwa itu bukanlah bagian dari hidupnya. Semua sisi negatif itu berada di luar, sisi eksternal yang tak berhak bahkan hanya untuk meresap.
Sesosok tua pun berujar, sudah sewajarnya. Sudah sewajarnya manusia bangga dengan kesuksesan dan mengubur sisi gelap dirinya. Well, karena begitulah yang kulihat akhir-akhir ini. Lihat sosok-sosok manusia yang saat ini rajin berseliweran di media massa, SBY, Michael Jackson, Antasari Azhar, Manohara... Semua menonjolkan sisi positif, namun di pihak lawan, semua meracaunya dengan sisi negatif. Aku sendiri, lebih memilih untuk menjejali pikiranku dengan hal-hal yang positif. Biarlah yang negatif menjadi bagian pihak lain yang akan sedikit demi sedikit mengurangi aura kebahagiaan di senyum yang akan ia tawarkan kepada dunia.
Saat ini, di tengah serbuan cacian dan teriakan kebencian, senyum itu selalu menjadi penawar. Banyak peristiwa yang berusaha mengguncang, membuatku terdiam, namun aku percaya, saat tarikan nafas paling panjang telah terhembus, dan bibirku tertarik ke atas untuk tersenyum, maka semuanya akan baik-baik saja.
Hari demi hari telah berlalu. Sangat menyenangkan bila ada mimpi yang akan dikejar. Namun, bila kini semua mimpi itu hilang? Hidup terasa sangat datar. Tak ada yang menjadi alasan untuk terus berlari dengan kencang. Kini, hanya berjalan pelan, sambil sesekali melepaskan pandangan yang juga pelan... Ritme suara hidupku tak penuh warna lagi, semua menjadi berwarna biru.
Hanya ada satu alasan yang membuatku terus bertahan. Aroma udara itu. Aroma pertemuan dan memaafkan. Sama seperti beberapa waktu lalu, saat dunia sedikit berbaik hati, untuk mempertemukanku kembali dengan seorang teman lama. Ada sisi gelap yang menyelimuti lingkunganku saat itu, saat aku mengenal dia. Namun, sisi gelap itu dibiarkan menjadi masa lalu. Ia tak mengingatnya. Ia hanya menanyakan kabar, dan apa pekerjaanku sekarang.
Mimpi dan mimpi... Begitu banyak mimpi, namun begitu banyak alasan pula yang membuatnya hanya selalu menjadi mimpi. Dunia, sedikit banyak, aku ingin berterima kasih atas apa yang kujalani saat ini, yang kumiliki saat ini. Sungguh, aku berbahagia atas itu... Namun, sesosok tua itu pun berujar, manusia takkan pernah merasa terpuaskan atas apa yang ada. Dan jujur pula kukatakan aku butuh sebuah mimpi lagi yang membuatku merasa hidup ini penuh warna.
Satu mimpi saja... tentang harapan. Jangan biarkan aku menjadi layaknya mumi yang bisa tersenyum namun tak mengerti kepada apa dan siapa senyum itu kutujukan... Aku ingin satu saja mimpiku bisa terbangun, tak hanya terkunci dalam alam bawah sadarku. Sampai kutemukan satu alasan yang benar-benar bisa menyadarkanku tentang pentingnya mengejar mimpiku yang malu untuk kuraih, aku hanya ingin bisa bernafas normal. Tak pendek-pendek, dan tersengal. Tuhan... Bisakah Kau ciptakan lagi keajaiban untukku, sebuah jalan, untuk takdir, agar mimpi itu tak hanya sekedar mimpi...

Sabtu, Januari 31, 2009

Akhirnya Bejo' Married Juga

(Gedung Kecamatan Perumnas yang penuh warna)
(Aku dan Mike sedang berfoto mendampingi Bejo' dan suaminya, Indra)
(Adegan ranjang Bejo' dan Indra. Hehehe...)
(Bejo' dan Indra usai akad nikah. So sweet...)
(Kado untuk Bejo' dan Indra dari aku, Mike, dan Hilal)

Akhirnya, Bejo' Married juga... Hehehe! Gak bermaksud apa-apa sih, cuma mo bilang, "Aku kapan???"
Oya, nih mo cerita sedikit pas ke nikahannya Bejo'. Jadi, aku ke sana bareng Mike. Dia udah nunggu aku di depan eks PD Abadi. Jadi, kami berdua berMio ria menuju rumah Bejo' jam 7.30 WIB. Sampe di sana, Bejo' barusan saja berijab kabul dengan suaminya. Yah, lewat deh... Tapi, gak pa-pa sih, asal event makan-makannya nggak. Hahaha!
Pasca akad nikah, para tamu dikasih makan celimpungan, lontong, ma srikaya, ma bolu. Lumayan enak untuk mengganjal perut. Dan kami pun makan, sambil si Bejo' sibuk ganti kostum untuk resepsi. Tak berapa lama, aku dan Mike ngintip-ngintip kamar pengantin Bejo'. Yups, dia udah ganti warna pake baju pengantin adat Palembang.
Sempetlah beberapa kali jepret, mengabadikan foto kami bertiga, trus berempat (plus si Indra). Bejo' terlihat anggun. Hohoho, agak susah sebenarnya ngomong ini. Tapi, gak pa-palah, sekali-sekali. Hee...
Beberapa kejadian lucu sempet terjadi. Kayak Bejo' kelamaan nunggu di mobil sampe akhirnya boleh menuju gedung kecamatan, tempat resepsi berlangsung. Dan beberapa kejadian lain, yang kayaknya gak usah diceritain di blog. (Sst..., Mike, diem-diem yaa.... Hehehe!)
Oya, aku suka dengan menu makanan di acara resepsinya Bejo'. Enak, Jo! Aku suka daging sapinya. Ayam suwir jamur cabe ijonya juga enak. Yummy...
Agak kritik dikit tentang souvenir. Hehehe! Kok, jepitan rambut? Tapi, ya gak pa-palah... Aku tahu yang milih itu pasti bukan dikau, tapi your mother. Oke deh, buat Bejo', met nikah, met bermalam pengantin.... Semoga bahagia untuk selama-lamanya. Amiiin....

Kamis, Januari 15, 2009

Kado Untuk Bejok

*Sahabatku Bejok ntar lagi mo nikah, jadi kami (aku, Hilal, Mike) pun sokongan untuk beli kado. Kebetulan yg kena jadi tukang beli ya aku. Bukan aku sih, aku minta tolong ibuku untuk beli. Hehehe... Nih, artikelnya nyambung besok aja, yaaa... Yang penting aku terbitkan sekarang! Cos Hilal gak mo transfer duit urunannya kalo belum liat foto spreynya.... Hehehe!*

Besoknya, 16 Januari 2009
Nyambung nih, tulisannya! Tapi biarlah, tulisan kemaren tetap terpublikasi. Hee!
Oya, Bejok itu cewek, lho! Nama aslinya Marisa Syamsi. Tapi, entah darimana asalnya, dia jadi dipanggil Bejok. Bejok sih fine-fine aja, pas tahu arti nama Bejok itu adalah beruntung. Aku kenal Bejok di SMA, tepatnya di SMA Plus Negeri 17 Palembang. Jadi, pas aku duduk di kelas 2 SMA, tiba-tiba kami jadi akrab. Keakraban itu gak cuma terbentuk antara aku dan Bejok, tapi dengan 4 cewek centil lainnya, yakni Hilal (Hilalliyah Aspihani), Mike (Mike Vitria Anom Sari), Rei (Riana Sari), dan Pepen (Fenny Rosa Indah).
Usai lulus SMA, kami yang menamakan diri "Budax Cantiq Ganks" pun menyebar ke mana-mana. Aku ke UGM - Yogyakarta, Hilal ke IPB - Bogor, Bejok ke USU - Medan, Rei ke STP - Jakarta, Pepen ke UMS - Solo, dan Mike ke UNSRI - Palembang. Persahabatan yang seperti kepompong itu pun berusaha terus dijalin.
Pendewasaan pun dimulai, pernikahan pertama dijalani Pepen dan kedua disambung oleh Rei. Nasib orang yang sudah menikah kali yaa, maka perhatian lebih ke suami dan anak. Tinggal kami berempat yang masih terus eksis dengan kecentilannya masih berusaha tetap di wilayah kebersamaan. Sedih sih, tinggal berempat, tapi mo gimana lagi?(Hahaha... Foto muka semua! Pengennya masukin yang laen, tapi aku gak punya pilihan. Hik, hik, hik!
Ini foto ketika nganter Bejok ngurus tiket pesawat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang)

Akhirnya, pernikahan ketiga akan segera berlangsung, yakni pernikahannya Bejok, yang rencananya mo dilangsungkan tanggal 24 Januari 2009 ini di Gedung Kecamatan Perumnas Palembang. Bejok bilang, habis nikah, dia akan langsung menuju Batam dan berdomisili di sana. Hm... Detik-detik perpisahan itu pun akan terjadi lagi...
Walau gitu, kami berusaha untuk bahagia. Setidaknya sebuah kado tulus nan empuk sudah kami siapkan untuk Bejok. Awalnya Bejok minta bed cover. Tapi, tiba-tiba, Tomi bilang dia sudah beli bed cover untuk Bejok. Jadinya, kami pun mengalah untuk membelikan kado jenis lain. Yups! Akhirnya, dengan meminta bantuan my mom, dia yang nyari tuh sprey di Pasar 16 Palembang. Hehehe, yah, aku mana sempet ngubek-ngubek pasar, secara kerja dari jam 8 pagi sampe jam 6 sore.
Terakhir, untuk Bejok... Wah, gak nyangka, ternyata dikau duluan yang nikah. Met menempuh hidup baru, ya, Jok! Moga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah.

Rabu, Desember 31, 2008

Terompet Tahun Baru

Hari ini sudah tanggal 31 Desember 2008. Nanti malam adalah detik-detik pergantian tahun baru menjadi tahun 2009. Di rumah sendiri, kami sudah merencanakan akan ada sedikit pesta. Yah, sedikit bakar-bakaran di teras lantai 2. Sedikit daging kambing, sedikit sosis, atau sedikit jagung. Aku juga gak tahu detilnya, yang jelas Dian ma yang laen lagi ke PS sekarang untuk beli bahan-bahan untuk ntar malem...
Yang jelas, kemaren (30/12), aku udah membeli sebuah terompet berwarna ungu. Kebetulan ada yang jual di depan GSC Sudirman. Ya udah, pas Mbak Deasy, mantan adm-ku, beli satu untuk anaknya, aku jadi ikut-ikutan beli. Harganya lumayan murah, cuma Rp 10.000,- Sesuailah sama bentuknya. :)
Hm... ngomong-ngomong tentang tahun baru, jadi inget resolusiku tahun 2008 kemarin. Yaelah, banyak banget yang belum dicapai. Jadi hutang untuk tahun 2009 nih! Yang jelas, di tahun 2008, aku udah bisa menyelesaikan kuliah S1-ku, sehingga kalo sebelumnya bernama Sumarni Bayu Anita, A.Md, sekarang jadi Sumarni Bayu Anita, S.Sos. Trus, udah balik lagi ke kampung halaman, Palembang dan bekerja di sini sejak bulan April 2008 kemarin.
Yang belum tercapai? Wah, banyak banget.... Nih, aku kasih bocoran mimpi-mimpiku yaa... Kalau aja, pas kalian baca, kalian juga bantu doa buatku agar mimpiku terwujud... Hee...
1) Pengen jadi penulis yang bukunya dijual di Gramedia, dll... Hahaha... (Ide udah banyak, tapi kebanyakan setengah jalan, lalu macet).
2) Pengen kuliah S2 di luar negeri... Hee! (Pengennya ke Liverpool, Inggris. Biar sekalian ketemu ma Owen! Huekekek!)
3) Pengen punya usaha sendiri... (Masih bingung nentuin pilihan, buka kafe apa toko buku yaa? Tai sebenernya sih masih bingung gak ada modal. Hahaha! Ngumpulin dari gaji gak ngumpul-ngumpul...)
Yah... itu mimpi-mimpi besar dalam hidupku saat ini. Untuk masalah married, hee... Lagi direncanain juga... Mungkin itu termasuk resolusi tahun 2009. Oow, jadi ketahuan deh... Hee!

Selasa, Desember 09, 2008

Pintu Hati


“Setiap pintu keluar merupakan pintu masuk ke tempat lainnya.” (Tom Stoppard)

Kadang mentari pagi ini meredup, mengelabukan langit yang mulai membiru. Kadang mentari pagi ini mulai bersinar. Menghangatkan jiwa yang masih membeku. Ingin rasanya tetap dalam kebekuan, sehingga tak perlu mengatasi semua perubahan cuaca yang terjadi. Panas dan dingin, hangat dan sejuk… Walau mati yang menemani dan kesenyapan yang abadi menjadi pilihan, dunia cinta yang kumiliki tetap menyatu dalam serpihan yang tersisa.
Sisa-sisa kerinduan yang dulu pernah tercipta. Saat lelah untuk menghapus semua lara dan meninggalkan semua pedih. Penyesalan yang hadir tak menyurutkan agar cinta masih bersemi di dalam jiwa. Namun tak kupungkiri, diri bagai kura-kura yang berlindung dalam tempurung saat luka serasa mulai menjumpai. Salahkah diri yang hanya ingin merasakan kebahagiaan? Kutahu, tak adil bila yang kupilih hanya itu. Akan selalu ada keseimbangan dalam hidup ini. Kebahagiaan dan kesedihan… dua teman yang akan selalu bersama.
Hari ini, saat aku memutuskan diri untuk kembali menutup pintu hati, aku merasakan gejolak perih yang tak terkira. Siapa yang harus disalahkan saat cinta yang ada serasa tak berbalas tiba-tiba hadir. Sesak bila harus selalu memaklumi semua keterbatasan. Bayangan penolakan yang selalu menari-nari untuk mengajakku tertawa. Mentertawakan diriku sendiri.
Aku hanya bisa menatap mata sendu itu, membalas senyum itu, tapi tak bisa memiliki hati itu. Kutahu tak semua bentuk keindahan akan turut terasa indah saat dimiliki. Aku resah, hanya hembusan nafas berat yang membantu sejenak untuk melegakan perasaan ini. Apa yang terjadi, Tuhan?
Kenapa cinta bagiku selalu begini. Kadang aku yakin, kadang aku ragu, dan terlalu sering buatku untuk memutuskan melupakan semua perasaan itu. Sudahlah, biar langit yang kan menuntunku meraih sinar mentari pagi ini. Kemana diri harus berjalan. Disana ada sebuah pintu yang terbuka. Aku tinggal meraih gagangnya untu k masuk, menutupnya, dan aku akan tiba di dunia yang baru. Dunia yang penuh harapan, cinta, dan cita.
“Selamat pagi, dunia!” Aku bahagia dalam hari-hariku. Cinta yang ada dalam hatiku serasa ingin terbang menikmati keindahan sinar dan warna taman yang turut bersuka cita. Lihat ada dia di sana, tersenyum. Lihat, dia melambaikan tangannya, mengajakku untuk mendekatinya. Aku berlari menuju pemilik senyum itu, dan senyum itu makin merekah. Aku terus berlari dengan sumringah, lalu menjatuhkan diri ke dalam kedua tangannya yang terbuka. Aku merasakan kehangatan itu saat dadanya yang lebar mampu menampung diri ini yang tiba-tiba erat memeluknya.
Hangat… sehangat mentari hari ini. Aku tak ingin lepas, biarkan aku di sini. Saat ini, besok, besok lusa, dan selamanya. Rengkuh kebahagiaan sejati, selalu bersama dalam suka dan duka… (28 September 2004)

Bertapa ya, Mbak?

Siang itu, jadwalku kosong. Bosen bengong, aku nekat pergi sendirian ke Gramedia, di lower ground Malioboro Mall, Yogyakarta. Seperti biasa, aku suka ke bagian buku-buku yang berbau mistis, lihat covernya sekali lewat, jika ada yang bagus baru kubaca. Mungkin karena lagi jutek, tak ada satu pun buku misteri yang menarik perhatianku. Aku malah teringat surat pacarku yang kuterima sebelum aku berangkat tadi. Di surat itu dia curhat tentang hubungan ortunya yang hampir cerai. Ibunya malah sudah ditalak tiga. Entah apa artinya, aku baru ngeh saat aku nemuin sebuah buku Islami tentang Perceraian. Lantaran itu, aku jadi khusyuk banget bacanya. Heran juga, belum nikah kok baca gituan, jadi pengen ketawa. Tapi aku begitu tertarik, kalau-kalau saja aku bisa bantuin dia. Usai baca buku itu, hatiku aneh. Entah, sepertinya aku baru ngerti kalo membina rumah tangga itu tidak semudah seperti cerita di komik. Yang tiba-tiba kawin, punya anak, lalu hidup bahagia selamanya. Aku kembali teringat orang tua pacarku. Kemudian, aku memejamkan mataku, berdoa agar hubungan mereka bisa diperbaiki lagi sehingga pacarku mungkin bisa lebih bahagia. Aku begitu khusyuk, sambil berdiri lalu kupusatkan mataku ke satu titik, menurutku dengan begitu doaku akan cepat didengar Tuhan. Tapi, tiba-tiba aku ngerasa terusik, “Eh, lihat deh mbak itu…” Aku menoleh ke sumber suara, ada seorang anak SD, cowok, yang rupanya memperhatikan aku. Aku malu banget. Apalagi dia terus ngomong sama temannya, “Gila, pasti mbak itu punya kekuatan, pasti tadi dia sedang semedi. Kamu liat gak?” Oh, my God!!! Aku malu banget, aku segera menghindar dari situ sementara anak SD itu terus memandangku takjub.***

Buat Rio

Aku heran kenapa aku harus berfikir malam ini. Kenapa jadi susah memejamkan mata. Kenapa harus melegakan perasaan dengan terisak di dalam gelap. Kenapa tidak cukup dengan menghembuskan nafas berat seperti biasanya atau tersenyum saja seraya menyipitkan mata untuk menganggap semuanya hanya angin lalu. Angin lalu, lalu takkan pernah diingat lagi…
Namun dari sudut manapun, aku sulit menemukan jawaban yang mampu menjawab semua pertanyaanku.
Ini sepertinya bukan tentang cinta. Hanya rasa aneh yang mencoba mendobrak ruang kelam di suatu tempat. Sebuah renungan, seperti hujan yang terusik dengan jatuhnya rintik di beranda rumah yang sederhana. Tik.. tik.. tik…..
Perlahan aku mengais kenangan yang sesungguhnya tak pernah kuanggap ada. Kenangan yang biasa-biasa saja. Takkan membuat manusia lain merasa kagum.
Kutahu itu buruk. Tapi aku tidak peduli. Kuanggap itu hanya kondisi yang lumrah. Sakit hati? Aku berfikir aku takkan pernah punya pengalaman itu lagi. Karena……. Karena sepengetahuanku… yah, hati ini sudah mati.
Hee… pasti ada bantahan, Tidak Mungkin!
Tapi, sepertinya begitu. Aku hanya melihat dan mendengar, tapi untuk merasakan semua hanya rasionalitas. Perasaan hanya untuk penghargaan, penghormatan, masa lalu…
Namun, rasa menyukai?
Semua biasa-biasa saja. Aku ingin dekat, aku ingin jauh… semua bisa dilakukan kapan pun aku mau. Seandainya ada yang ingin memberikan itu dengan tulus, saat aku tak bisa membalas dengan hal yang sama, aku takkan menyalahkan diri. Batinku, siapa suruh menyukai aku?
Keanehan yang kumiliki, kupikir hanya aku yang punya. Aku yang takut untuk berinteraksi dengan leluasa. Aku yang tidak mengenal waktu tiba-tiba merasa berdosa. Tertekan dengan semua yang ada. Pemberontakan yang ada hanya justru ingin aku lebih menikmati kesendirianku. Mengurung diri. Membuat kesibukan sendiri. Atau malah tidur…
Hingga suatu senja, aku hanya bisa tertegun. Saat sebuah bumerang mendarat tepat di jidatku. Pletak!!!
Heeh.. Aku bukannya meringis kesakitan, justru malah ingin tertawa terbahak-bahak. Kok bisa? Hingga berbagai pertanyaan yang sebelumnya mengusik, kembali mengusik benakku dan akan terus begitu…

NB: Btw, Thanks Rio. Walau bikin benjol, tapi aku jadi tahu benjol itu sakit… Hee..

02.16 WIB/26-06-03
Nita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...