Tampilkan postingan dengan label Puisi Nita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Nita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 11, 2013

Kumpulan Puisi RQ


14 Februari 2005

“Aku berharap semua hariku seperti hari ini.”
Happy Valentine Days

16 Maret 2005
19:54:09

Bila malam ini terasa sepi,
Biarkanlah begitu adanya!
Karena suatu saat,
Aku ingin kamu yang menghilangkan rasa sepi ini!

Hari-hari ini adalah lukisan kerinduan kita,
Dan biarkanlah terasa indah…

Selasa, Desember 09, 2008

Cobaan

Detak-detak terdengar sayup-sayup
Melewati penginderaan di antara pepohonan
Menghijau bersama semilir kepastian
Berjantung ditatap sinaran akal …

Roda-roda berputar terbalik
Perjalanan jauh makin menjauh
Melampiaskan angan bercampur emosi
Berlambaian langkah-langkah semu

Di atas akar-akar menjalar
Lubang-lubang terkuak berkuasa
Bayangan tercermin dari sinaran
Merelungi hati walau membiru

Deraian serta leraian hadir
Silih-silih dalam hari yang tertunda
Hadapi …
Namun ia tetap menghadirkan kembali

Dan, bersama senyum dan semangat
Cobalah ucapkan!
Hadiri bunga-bunga kehidupan itu
Dengan ikhlas dan lapang dada

(22 Oktober 1999)

Mawar Merah

Mawar merah yang manis
Di sana di sudut meja rias
Anggun tak tersentuh siapapun
Tapi, semilir anginpun mengalun
Menggodamu untuk bergoyang
Kau tersenyum …

Mawar merah yang harum
Kau hadapi hidup dengan tegar
Kau tetap mekar dan segar di dalam vas
Walau badai menerpamu
Walau rintik debu menyelimutimu
Walau aromamu terus menguap

TEGAR!!!
Sepertinya itu kau teriakkan padaku
SEMANGAT!!!
Sepertinya itu kau sorakkan padaku

Aku tersadar lewat itu
Aku terbangun dari mimpi
Mimpi-mimpi ketakutan dan khayalan
Ku buka tirai jiwaku yang tertidur
Ku kuakkan jendela di dalam otak kecilnya
Membiarkan naluri berjalan

Terima kasih mawar merah
Kau menjadi teladan baru bagiku
Aku akan menyambutnya, mawar
Menyambut cita dan cinta abadi

The Truth Rose

(31 Oktober 1999)

Harapan

Senja merah
Burung-burung terbang di langit
Daun cemara berguguran
Di sana hijaunya masih terlihat
Namun kuningnya melaut …
Tatap dan lihatlah
Lalu, temukan!
Secercah asa di jiwaku
Yang terkabut dalam kejenuhan
Sahabat …
Ku ingin kau merubahnya
Jangan biarkan ku menunggu
Gantilah, bereinkarnasi
Menjadi satu tautan yang suci

(Nita '98)

Cintaku


Aku suka kamu …
Ungkapan hanya terjerit di hatiku
Perasaan yang terkunci sangat kelam
Siapapun kamu, mustahil tuk tahu

Suatu rasa membunga
Hidup di atas pegunungan tinggi
Tersiram hujan dan tersinar matahari
Terhisap olehnya, kumbang …

Bagai ungkapan orang awam
Jadilah matahari, mawar, dan melati
Berbagai maksud dan arti
Si pintar mengerti dan memahami

Namun, ketika bunga layu
Dan ketika kumbang pergi
Tinggal batang kerontang berdiri
Sepi di dalam keramaian

Hati mati tersindir
Beribu penderitaan mencabik
Mengoyak tabir kalbu
Menumpahkan air di pelupuk mata

Kumbang pergi melupakan
Kesediaan bunga memberi
Namun tak berbalas
Walau hayat hidup, hati terasa asing

Samakah cerita itu …
Dengan jalan hidupku?
Aku menyukainya, kuberikan cintaku sepenuhnya
Namun, apa yang kudapat?

Dia pergi tanpa kata
Dia berdalih untuk membenci
Seribu asa masih tersimpan di hati
Kunanti saat kau memahami, cintaku

(21 Desember 1998)

Kasih Putih


Malam hitam dan lembab
Gemerisik angin menambah dingin
Rintik-rintik hujan terdengar
Di kebisuan sepi hati ini

Kuteringat peristiwa masa lalu
Kenangan-kenangan manis antara kita
Senyum, debar, tawa, ceria
Kan selalu tersimpan di hatiku

Kasih putih …
Apakah itu terjalin di antara kita?
Hanya senyuman ikhlas
Serta tatapan malu dan ingin

Hanya itu yang tercipta
Tak adakah kata-kata manis terucap?
Yah, hanyalah suatu yang tersimpan
Tersimpan dalam hati kita sendiri

Kasih putih …
Ku mohon satukan kami, aku ingin …

(21 juni 1998)

Sabtu, Desember 06, 2008

Asa Hidupku

Kupandang cermin
Terbias senyum kecilku
Tersungging di sudut bibirku
Kegetiran …

Kumenerawang jauh
Terkabut jiwa kelamku
Tergores di sudut hatiku
Kepedihan …

Roda kehidupan terus berputar
Waktu bergulir kian menjauh
Meninggalkan masa lalu
Menuju masa depan

Di sini kulihat kerapuhan
Tak mampu mengisi hari
Karena ancaman dan siksaan
Terus membelenggu diri

Di sana kuharap kekuatan
Mampu membuatku berdiri
Menghadapi kenyataan
Bahwa harapan indah, selalu ada menantiku

(3 Desember 1998)

Ragu

Aku sendiri tutupi awan yang hitam
Memandangi sekumpulan bunga yang kelam
Meniupi angin yang berlalu, kasih…

Di hati tertanam kebencian yang dalam
Aku bersanding di perkuburan yang rapuh
Hatimu hancur bergetar di pegunungan

Kita hanyalah makhluk yang hina
Yang penuh dengan kekurangan dan hasrat
Walau seribu nafsu terhembus di raga dan nyawa

Hanya sebuah rumput yang bergoyang
Hanya sepasang mata yang memandang
Hanya kibaskan tirai jiwa yang terkoyak

Aku tak tahu apa artinya cinta
Kau tak mengerti apa artinya sayang
Kalian tak peduli dengan apa yang kami rasakan!

Kau sendiri ucapkan sumpah yang putih
Menjalani lautan penderitaan hidup yang retak
Menangkap bintang yang tinggi, kasih….

Apa yang kau dan aku rasa?
Dapatkah dunia menjawab?
Suatu kepalsuan yang kelabu
Yang kita sendiri tidak akan pernah tahu

(nita ’99)

Jumat, Desember 05, 2008

Rautku

Hembusan bayu menarikan lilinku
Di tengah rintikan dan hitam
Di kala aku terdera, dirasuki, dan terdiam
Masihku terbisu, kosong, dan galau

Pantulan bayang rautku terbersit lagi di sana
Ku coba tuk tersenyum, aneh!
Senyumku berbeda dari kisahku yang dulu
Tatapan cekungku pun tertuju palsu

Masih di sudut cermin itu
Ia menawarkan sisi gelap hidupku
Sungguh aku ingin menjualnya
Sungguh aku ingin kembali

Tapi, aku belum gembira
Aku masih berduka…..

Raih Bahagia


Titian sunyi merangkak menjauhi
Jauh… ke tangisan rindu yang sunyi
Kepak-kepak asa yang mengadu
Aku menari… dengan segumpal pelik.. pedih..

Pintu dan pintu terkatup
Erat dan tak kunjung menguap
Buih-buih rindu yang mengais masih terkais semu
Biru itu kelabu…

Hingga, udara pagi menyerbu tengkuk
Bunga-bunga tidur yang nyata…
Berteriak:
“Itu isi jiwamu yang bergolak?!!”

Tertatih, meski coba mengerti
Tersentak, saat mentari tertidur lagi
“Inikah yang tersembunyi???”
Derak-derak langkah terseret menggeram

Hidup hanya sandiwara guratan Tuhan
Tuhan yang Adil….
Kini, tinta hitam yang turut menari
Tersenyum di sudut runcingnya nestapa
“Kau harus menjemput BAHAGIA…”

Bahagia – bahagia – bahagia…!!!
Bahagia…….???
Yah, SELAMAT BERBAHAGIA…


Yogyakarta yang cuacanya aneh…, 23 Agustus 2002
Nita…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...