Tampilkan postingan dengan label Tokoh Nita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Nita. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 20, 2016

Menyambut Harbolnas Dengan Menjadi Narasumber Publika - TVRI Sumsel

Jam tangan saya masih menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika handphone saya berdering dari nomor asing. Saya yang sudah berada di Jurusan Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka pagi itu, masih juga sibuk dengan materi borang jurusan yang deadline hari ini. Lima belas menit kemudian, dering telepon itu berbunyi lagi. Sepertinya penting, kalau orang kembali menelfon dengan jeda wajar 15 menit seperti saat ini. Saya pun mengangkatnya, “Hallo?”

“Hallo, assalamualaikum, Nita?”
“Iya, waalaikumsalam. Ini siapa yaa?”
“Nita, ini Mbak Rika – TVRI.”
Weeeh... Ada apa ya, tumben Mbak Rika menelfon. “Eh, Mbak Rika... Apa kabar, Mbak? Ada yang bisa dibantu?”
“Nita, Mbak mau undang untuk acara Publika sore ini. Kita mau angkat tema tentang Harbolnas. Nita nanti bicara dari aspek media mewakili akademisi. Nanti ada Yan, dia mengangkat dari sisi konsumen.”
Wah, tawaran luar biasa ini, saya harus ambil kesempatan yang mesti gak akan datang dua kali. Dan tentu saja, saya langsung menyanggupinya. Meski ketika Mbak Rika mengatakan saya harus sudah berada di TVRI Sumsel pada pukul 15.30 WIB karena syuting live untuk acara Publika itu berlangsung di pukul 16.00-17.00 WIB.

Rabu, Oktober 14, 2009

Lady Gaga vs Miyabi


Lady Gaga vs Miyabi? Menarik sekali untuk membandingkan keduanya. Dua-duanya sama-sama cantik, muda, dan eksotis. Namun yang patut kuacungkan jempol untuk keduanya adalah keberanian mereka untuk tampil eksentrik di panggung media. Mungkin akan ada banyak nama lain yang memiliki profesi yang sama dengan mereka. Namun nyatanya, mereka lah yang paling banyak menarik perhatian orang, baik yang pro maupun yang kontra.

Lady Gaga


Aku tahu pertama kali tentang Lady Gaga dari koran langgananku di rumah, Kompas, bulan September kemarin. Di sana diberitakan bahwa kala itu banyak sekali orang-orang yang mendownload lagu-lagu Lady Gaga. Penasaran, di kantor aku pun sibuk mencari lagu-lagunya melalui situs http://www.4shared.com/. Ada 7 lagu yang ku download saat itu, kayak Poker Face, Love Game dan Paparazzi. Awalnya denger biasa aja, tapi setelah diulang-ulang ternyata bagus juga, energik! Esoknya, cari lagi, tapi kali ini video klip dalam bentuk 3gp-nya. Wow, aku suka video klipnya! Apalagi yang Poker Face. Unik banget!
Lady Gaga memiliki nama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta. Ia lahir di Yonkers, New York pada tanggal 28 Maret 1986. Ia menulis lagu untuk Interscope Records, selain itu ia sendiri juga menyanyi. Mula-mulanya ia menyanyi di klub-klub di kota New York. Lagu keduanya, yang bertitel "Poker Face" berhasil menjadi posisi pertama di Billboard Hot 100 selama satu minggu. Lagu keduanya ini memiliki kesuksesan yang lebih tinggi dibanding lagu sebelumnya, dan mendapatkan posisi puncak di 25 negara di dunia. Banyak yang bilang, dia adalah Lady Pop Music pengganti Britney Spears. Woo…

Miyabi

Nah, kalo ini mah udah tahu sejak kuliah S1 dulu di Solo. Jadi, udah lama, sekitar tahun 2005. Pas tahu mah, biasa aja. Yang jelas, wajahnya emang baby face. Walau di beberapa foto lain, dia terlihat cukup dewasa. Pas tahu, dia bakal ke Indonesia untuk syuting film ”Menculik Miyabi”, aku sempet terkejut. Masalahnya, dulu ada temenku yang bilang kalo Miyabi udah meninggal karena AIDS. Yaelah, ternyata Miyabi masih sehat wal afiat tho?
Miyabi yang memiliki nama asli Maria Ozawa ini dilahirkan di Hokkaido, Jepang pada 8 Januari 1986 (gak beda jauh sama Lady Gaga ya, umurnya?). Ia bertinggi badan 1,62 meter dan berat 48 kg. Perjalanan karirnya di dunia film porno dimulai dari B-Open, sebuah agen artis terkenal di Jepang. Lalu di bulan Oktober 2005, Miyabi dikontrak oleh S1, sebuah Production House film dewasa Jepang. Di perusahaan inilah, Miyabi pertama kali membintangi "New Face", video porno yang membuat namanya melesat dan terkenal seperti sekarang ini. Di S1, Miyabi membintangi satu judul setiap bulannya sampai Februari 2007. Judul-judul video Miyabi sempat menjuarai kompetisi penjualan terbanyak film-film porno se-Jepang. Ampun, dah! :)

Dari keduanya sebenarnya kita bisa belajar banyak. Aku sendiri, belajar tentang pilihan hidup. Iya, jadi, apa yang terjadi pada kehidupan dua wanita muda ini adalah pilihan hidup mereka sendiri. Untuk menilai baik dan buruk, aku memilih untuk tidak memilih. Berdasarkan moral dan agama, jelas opsi baik tidak untuk kelakuan mereka. Namun, bila berdasarkan kemanusiaan, aku sih tetap menghargai pilihan hidup mereka. Kadang nurani kita sendiri yang mampu menjawab, sekeras apa kita ingin menghujat mereka sehingga kita akan dinilai sebagai sang pembela kebenaran? Aku sendiri ketika menulis ini, memilih untuk tidak membela siapa-siapa. Untuk kali ini, bolehlah kalo aku mo dibilang golput! Huhuhu...
Aku pikir hidup yang mereka jalani justru lebih keras dari apa yang kita lihat. Okelah, tubuh mereka bisa menutupi kekelaman jiwa-jiwa itu. Orang boleh saja syirik dengan tubuh mereka, tapi aku sih percaya, sebagai manusia biasa mereka justru lebih banyak menginginkan hal yang biasa-biasa saja. Nyatanya, mereka terlanjur tercipta di dunia yang demikian. Menjadi icon-icon dunia hiburan yang terus dimanipulasi sebagai bentuk perlawanan dari apa yang sudah menjadi kebiasaan. Dan andaikan waktu bisa diputar balik pun, kita tentunya akan kehilangan contoh tentang nilai-nilai kehidupan yang terdiri dari estetika-estetika yang begitu beragam.
Well, ini hanya sebuah tulisan yang juga biasa-biasa aja. Satu kata yang ingin kutulis sebagai penutup, "Andaikan semua bunga di taman itu berwarna kuning, sungguh betapa tidak menariknya. So, di luar keterbatasan kita untuk menghukum pilihan hidup dan karakter seseorang lebih baik kembalilah memperbaiki diri kita sendiri dulu." Hm, kayaknya itu jauh lebih bernilai untuk dilakukan. Ya gak? Hee... Peace!!! (sba)

Rabu, Januari 21, 2009

Heboh Barack Obama

Hm... Akhirnya Barack Obama dilantik juga ya, jadi Presiden Amerika yang ke-44. Tadi pagi sempet lihat beritanya di TV. Semua berita di TV memberitakan tentang sosok fenomenal satu ini, yang heboh juga disebut "Si Anak Menteng". Duileh, emang doi masih inget Menteng itu dimana???
Dibanding Mc Cain, aku emang lebih milih Obama sih... Tapi, pas tadi lihat berita di TV... Hm...
Yups! Kalo dibilang Obama adalah sejarah perubahan pertama di Amrik, aku setuju. Aku suka dengan kata-kata warga dunia yang muncul setelah dia dilantik, "Anything is possible!" Wih, keren banget kan! Bikin orang termotivasi. Iya, kalo Obama aja bisa jadi presiden (tentunya dengan kapasitas yang ia miliki, sih...), aku juga bisa dong menjadi apa yang aku mau...
Hm... Jadi pengen tahu, kenapa Obama bisa keukeuh terus melaju menjadi orang nomor 1 di USA. Aku yakin, gak mudah menuju itu. Tapi apa ya, yang bisa buat dia bertahan???
Kalo Pak Yo, bosku, pernah bilang kenapa ia terus bertahan untuk melanjutkan mimpinya membesarkan Super Bimbel GSC adalah karena satu kata.... Apa itu??? Ya, KOMITMEN.
Jadi, kalo kita sudah punya mimpi, kita harus berkomitmen untuk terus melanjutkan langkah menuju mimpi itu sampai ia bener-benar terwujud. Pak Yo punya mimpi Super Bimbel GSC ada di seluruh propinsi Indonesia dan ia terus berkomitmen untuk itu. Obama punya mimpi menjadi Presiden Amerika Serikat, ia berkomitmen, hingga akhirnya berhasil.
Well, so cool... Denger dia berpidato juga bagus banget deh! Sukarno aja kalah kalee... Hee! Hm, beda zaman aja mungkin. Jadi, karena Obama hidup di masa sekarang, jadi aku lebih suka memilih Obama sebagai orator ulung ketimbang Bung Karno. Tapi, suer lho, kalo baca buku Pancasila karya Bung Karno, tuh kita juga bener-bener jadi mikir, oya ya, Pancasila itu emang cucok banget jadi dasar negara Indonesia.
Btw, kembali ke Obama. Yups! Kayaknya aku tidak mo ikut-ikutan dalam euforia atas dilantiknya Obama menjadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Salut sih, iya! Tapi untuk mengelu-elukannya? Gak ah... Apalagi setelah liat pidato dia di TV tadi tentang masalah Palestina-Israel. Kenapa??? Iya, jadi mentang-mentang Israel adalah penyokong dana cukup besar untuk kampanye Obama, jadilah Amerika yang emang sekutu Israel terang-terangan akan menjadikan Israel sebagai penjajah sejati Palestina. Di pidatonya itu juga, Obama secara berapi-api menyatakan Yerussalem akan menjadi milik Israel. Dia akan membela kedaulatan Israel.
Duileee.... Kedaulatan Israel apaan sih maksudnya? Setahuku, tuh negeri, ya negeri miliknya Palestina. Kok, mo jadi milik Israel? Capek deh... Hehehe!

Selasa, Januari 06, 2009

Caleg DPR-RI Hj. Mala Fatma

Suatu peristiwa kadang tidak kita rencanakan dari awal. Hal seperti itu terjadi lagi padaku pada hari Minggu, 4 Januari 2009 kemarin. Yups! Pulang dari nikahannya salah satu tentor GSC Sudirman, Nurul, aku menyempatkan untuk tidur. Badanku sudah gak enak, tapi untuk berobat emang gak kepikiran. Bangun tidur, nonton TV sebentar, lalu Rudi ngajak nyari tahu tentang usaha daur ulangnya Bu Padang di kawasan Sekip. Bu Padang itu temennya ibuku di IKBP (Ikatan Keluarga Besar Purworejo).
Nah, kebetulan, ibu lagi arisan IKBP sekarang, tapi di rumahnya Pak Surip, pengusaha panglong kayu di kawasan Jl. Telunjuk Palembang. Awalnya Rudi gak mau kalo gak langsung ke Sekip, tapi kapan lagi mo ketemu Bu Padang kalo gak sekarang di arisan IKPB di rumah Pak Surip? Kan Rudi harus balik lagi ke Jakarta besok Senin. Ya udah, kami pun menyusul ibu pake motor.
Sampe di sana acara arisan sudah berlangsung. Aku sih sok akrab aja dengan orang-orang di sana. Sebagian udah tahu sih wajah-wajahnya, tapi namanya gak tahu... Hehehe!
Rudi sih milih duduk di luar sambil merokok. Tau tuh anak, pemalu banget sih... :) Aku sih langsung mendekati ibu aja di ruang tengah. Eh, ternyata pas aku masuk, lagi giliran acara sosialisasi salah seorang Calon Legislatif DPR-RI asal Sumatera Selatan, Hj. Mala Fatma Husein. Pernah sih liat foto nih ibu di baliho-baliho pinggir jalan, beliau lagi gendong bayi gitu... Dari awal aku emang udah suka dengan balihonya (hehehe... ketahuan banget ya, korban iklan?), eh kebetulan bisa ketemu langsung dengan beliau di acara arisan IKBP yang sebenarnya gak ada niat untuk dateng.
Cara bicara ibu Mala ke audiens menarik. Pertama dia izin, tapi juga terus terang kalau dengan hormat dia meminta audiens untuk memilihnya. Ternyata juga, ibu Mala ini adalah ayuk tertua dari Gubernur Sumsel, Ir. Alex Noerdin. Jadi yaah... agak nepotisme juga, tapi saya tahu, orangnya memang pintar. Semoga, kalau nanti beliau menang, yang ada adalah bahu-membahu untuk membangun Sumsel. Program yang katanya dicanangkan Alex: Kesehatan Gratis (per Februari 2009) dan Pendidikan Gratis (per Juni 2009) semoga benar-benar dijalankan dengan baik.
Untuk memilih ibu Mala? Kenapa tidak... Pendekatannya dengan masyarakat juga bagus. Keluarga besar IKBP juga dikasih kalender, jilbab, dan kartu nama beliau. Tapi... kalo aku sih, bukan karena hadiah-hadiah itu, aku mau memilih dia. Aku sih, karena dia calon dari Partai Demokrat, jadi dia akan mendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk kembali menjadi calon presiden. Setelah itu karena dia cewek! Hahaha, gender ya? Oke, ngaku, emang iya! Aku ingin, pemerintahan Indonesia jangan cuma didominasi oleh cowok. Kan emang ada jatah 30% untuk cewek. Yah, semoga ibu Mala dapat ter-include di dalamnya...
Sukses ya, Bu Mala.... :)

Rabu, Desember 31, 2008

Rakha Lucu Banget!!!

Ya ampun Rakha... Kamu kok lucu banget sih? Tante Nita sayang banget lho ma Rakha...
Iya, kemaren selama 4 hari (27-30/12) Rakha surprise dateng ke Palembang bersama bunda (Yuk Empit) dan ayahnya (Kak Yaddy). Ya ampun, kayak dapet durian runtuh aja, kedatengan malaikat mungil satu ini. Setiap dapet kesempatan pasti aku yang gendong Rakha, sambil nyiumin pipinya yang super tembem. Duh, gemesnya...
Sebagai tanda sayang, aku membelikan Rakha sebuah maenan kreatifitas otak yang warna-warni dan terbuat dari kayu. Semoga Rakha jadi anak yang cerdas dan pinter yaa... I love u much, Rakha.... :)

Kamis, Desember 18, 2008

Bapak Tercinta

Hari ini, biarkan aku mengenang sosoknya. Sosok yang begitu kurindukan untuk hadir dalam hidupku detik ini. Atau, datanglah ke dalam mimpiku. Bercerita atau sekedar menatapku. Sejak Bapak pergi 4 bulan lalu, aku baru sekali memimpikan Bapak. Itu pun sangat biasa. Aku mimpi Bapak sedang mengendarai motor. Entah apa maksudnya. Aku bukan ahli nujum yang tahu makna-makna mimpi. Tapi, setidaknya satu kali mimpi itu sudah membuatku gembira, aku bisa kembali mengenang Bapak di luar kenangan-kenangan Bapak semasa hidup.
Aku tahu tentang semua perjuangan Bapak untuk keluarga. Kalau Bapak gak berjuang, mungkin kami yang ditinggalkan sekarang akan berjuang lebih keras. Namun, seolah Bapak sudah mempersiapkan semua. Alhamdulillah, apa yang kami butuhkan masih bisa kami penuhi. Mungkin ini yang membuatku sangat berat meninggalkan Palembang. 5 tahun lebih merantau ke Jawa untuk kuliah, benar-benar mengurangi waktu kebersamaanku dengan keluarga. Dan kini, setelah lulus, aku kembali, Bapak malah pergi.
Gak, aku tidak akan pernah menyalahi takdir. Aku cuma menunjukkan bahwa diriku hanyalah manusia biasa. Yang sedih saat kehilangan. Yang rindu saat terkenang kembali masa-masa indah dengan orang yang kita sayangi.
Kini, aku cuma bisa menarik nafas berat untuk mencoba melegakan diri. Senyum Bapak, nasehat Bapak, semua ada di hati. Setidaknya aku jadi "tahu", hidup ada yang mengatur. Jadi, saat segala sesuatu yang hadir itu tak sesuai dengan harapan, ikhlaskan saja... Selalu ada hikmah atas segala sesuatu. Pasti...

Sabtu, Desember 06, 2008

Dra. Wien Sukarsi, Sang Melati SMU Plus Negeri 17 Palembang

Bilamana ia berwujud…
Saat kedisiplinan memolesnya tampak keras
Sayup-sayup ungkapan otoriter berbisik
Menatap mata-mata tajam yang berkilau
Mengokohkan jiwa-jiwa peragu yang kelam
Bilamana ia berwujud…
Suatu waktu saat sang fajar menyeruakkan hari
Saat awam tersenyum karena keanggunan
Saat cerdik pandai mengangguk-angguk atas kemampuan
Saat yang tak kenal menyegani, dan yang kenal sangat menyayangi…
Apabila wujudnya terbentuk…
Dia lah sosok sang ibu, sang pemimpin dan sang pengabdi
Ia bersifat penuh cinta, pintar, kuat, putih dan tulus
Hanya dengan gabungan semuanya ia dikenali
Kejujuranlah yang membuatnya selalu mewangi
Ia selalu ada dalam jejak-jejak sejarah yang terukir
Berwujud sebagai sang melati SMU Plus Negeri 17 Palembang
Merekah abadi dalam namanya, Dra. Wien Sukarsi

(Solo, 21 Maret 2006)

Kiranya puisi di atas dapat melukiskan imajinasi saya tentang sosok Ibu Dra. Wien Sukarsi, tokoh panutan yang saya idolakan hingga detik ini. Saya menikmati secara langsung kepemimpinan beliau sebagai Kepala Sekolah SMU Plus Negeri 17 Palembang selama 3 tahun, sejak saya terdaftar menjadi peserta didik di tahun ajaran 1999/2000 hingga masa kelulusan saya di tahun ajaran 2001/2002. Meski sudah 4 tahun tidak berada dalam satu hierarki, namun tidak sulit menentukan bagaimana peran Bu Wien dalam sejarah SMU Plus Negeri 17 Palembang sekarang ini. Terlebih karena saya masih bisa merasakan nuansa penuh warna SMU Plus Negeri 17 Palembang dalam wadah kealumniannya di organisasi IA+17 Palembang.
Berbagai kenangan indah dan penuh wibawa bersama beliau selalu tampak segar dalam ingatan saya. Mulai dari yang memalukan, seperti: saya pernah kena marah Bu Wien karena menggunakan komputer sekolah yang penuh “rahasia” untuk mengetik karya tulis, saya pernah dicuekin Bu Wien karena “ngotot” ketika mau menerbitkan Marella 17 namun akhirnya berhasil, saya juga pernah dihukum kolektif bersama teman-teman yang lain “kaki ayam” seharian karena tidak pakai sepatu wajib, dan dihukum “berjemur selama 3 jam” di lapangan basket karena ribut ketika seminar. Hingga pada hal-hal yang mengesankan bagi saya ketika berada dalam pelukannya yang hangat dengan tatapan yang penuh cinta dan rasa bangga atas prestasi yang saya ukir di bidang karya tulis, seni lukis, dan jurnalistik. Ia seolah menjadi pengawas agar diri ini menjadi lebih baik sekaligus motivator untuk terus berprestasi. Diri seolah merasakan sensasi yang sangat luar biasa saat pujian-pujian itu mengalir dari bibir beliau yang juga manis bila tersenyum.
Bila dikaitkan antara pengalaman pribadi saya dengan memberikan pendapat tentang gaya kepemimpinan Bu Wien, jelas bahwa gaya kepemimpinan Bu Wien sangat profesional dan penuh dedikasi. Hal ini karena kepemimpinan berhubungan dengan bagaimana melontarkan wawasan dan memotivasi orang lain. Ia terbukti dapat memotivasi saya dan juga peserta didik yang lain untuk berprestasi. Data tentang berapa persen siswa yang diterima di PTN-PTN setiap tahunnya adalah sebuah bukti otentik. Charles K. Keating mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Di sini Bu Wien, beserta para guru, karyawan. dan peserta didik yang tergabung dalam sistem SMU Plus Negeri 17 Palembang mampu melakukan perannya masing-masing sehingga tujuan utama dapat tercapai.
Tak heran bila setelah Bu Wien berhenti jadi Kepada Sekolah bulan Februari 2006, arus sejarah tidak cenderung menanggalkan atribut kebesaran yang telah dilekatkan dan disandangnya selama tahun-tahun masa kepemimpinannya. Kehebatannya yang telah dituliskan dalam beberapa artikel mengenai sejarah keberadaan SMU unggulan pertama di Sumatera Selatan, menjadi konsep yang menetapkan bahwa Bu Wien adalah kunci sukses hadirnya SMU Plus Negeri 17 Palembang yang berdiri pada tanggal 17 Juli 1997 silam.
Pada dasarnya dalam kepemimpinan memiliki dua tugas utama yang harus dilakukan, yaitu task function (tugas yang berhubungan dengan pekerjaan) dan relationship function (tugas yang berhubungan dengan kekompakkan kelompok). Dalam hal ini, Bu Wien harus diakui dapat menjalankan keduanya dengan baik. Bila tidak, mana mungkin ia terus dipertahankan menjadi Kepala Sekolah selama 2 periode berturut-turut bahkan sampai kelebihan beberapa bulan. Di mata saya, Bu Wien juga memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang kuat, sebagaimana unsur-unsur yang diungkapkan oleh Warren Bennis dapat terpenuhi, yakni kepribadian yang kokoh, visi dan tujuan yang jelas, serta berjiwa pemimpin yaitu komunikator ulung, mampu bekerja sama serta manusia yang aktif.
Saya menulis ini, tidak hanya ingin merangkai untaian manik-manik kenangan antara saya, Bu Wien, dan SMU Plus Negeri 17 Palembang, akan tetapi juga sebagai sebuah kesempatan untuk menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam menduduki jabatan struktural asalkan ia memenuhi kriteria kapabilitas (kemampuan), kredibilitas (kepercayaan), dan integritas (moral). Bu Wien telah menjadi lambang sekaligus simbol sebuah kepemimpinan perempuan yang berhasil. Ia juga merupakan sumber inspirasi sekaligus motivasi bagi orang lain yang mengenalnya maupun yang berusaha mengenalnya. Maka dari itu, tak salah kiranya bila saya memberanikan diri untuk menobatkan beliau sebagai Sang Melati SMU Plus Negeri 17 Palembang. Di mana pun dia berada, jejak-jejak sejarah itu akan tetap ada, wanginya prestasi akan tetap terkenang, dan semoga setiap amal perbuatannya akan mendapat ganjaran pahala yang setimpal dari Sang Maha Besar, Allah SWT. Amin ya robbal alamin… ***

(Note: Tulisan ini disusun atas permintaan Bapak Drs. Yudi Saroso lewat SMS yang dikirim pada hari Jumat, 24/3/2006 kepada saya untuk penerbitan Buku Biografi Dra. Wien Sukarsi.)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...